Tag Archives: pontianak

Episode 36: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Bertemu Kembali

“Kau mau teh dingin?” Andi menyikut lenganku.

“Boleh.” Aku mengangguk.

Terminal Pontianak gerah, sopir bus yang tega tetap nge-tem meski penumpang sudah hampir penuh membuat langit-langit bus tambah gerah. Apalagi melihat kelakuan kondekturnya, “Singkawang! Singkawang berangkat!” Kondektur berteriak, jamak menipu calon penumpang, bilang ‘berangkat’ atau ‘langsung’, tapi tetap saja roda bus tidak bergerak.

Andi menyerahkan teh botol dingin-berembun, ditarik dari ember berisi bongkahan es tukang asong. Aku menyeringai, bilang terima-kasih, lantas menghirup pipet putih, kerongkongan terasa segar.

“Harusnya petugas timer di terminal ini belajar dengan Om petugas di dermaga sepit. Tidak penuh, kalau waktunya habis, sepit tetap harus jalan.” Aku menyeka peluh di pelipis.

Andi mengangguk-angguk setuju.

“Kursi sebelah kau kosong, hah?” Kondektur yang sepertinya berhari-hari tidak mandi itu mendekat, di belakangnya berdiri bapak-bapak gendut, membawa koper besar, mencari bangku nganggur.

“Ada orangnya.” Andi yang menjawab.

“Mana orangnya? Kosong ini, geser, kasih tempat yang lain, dua-tiga, dua-tiga!” Kondektur melotot, dari tadi sibuk dia bilang dua-tiga, dua-tiga. Dua penumpang di kursi sebelah kiri, tiga di sebelah kanan. Anak kecil harus dipangku, tidak dipangku dianggap bayar. Alamak, mana ada aturan macam ini di sepitku, lebih satu penumpang saja Bang Togar mengirimkan surat peringatan, melanggar standar keselamatan.

Sebelum aku bersitegang dengan kondektur itu, dia tetap ngotot nyuruh bergeser, sementara aku tetap meletakkan tas ransel di kursi kosong, Pak Tua naik, berjalan di sepanjang lorong bus.

“Nah, itu ada penumpangnya.” Andi mengacungkan telunjuk.

Kondektur bersungut-sungut berlalu ke belakang.

“Ah, ternyata kalian sudah beli minuman dingin juga.” Pak Tua mengambil posisi, duduk. Mengangkat kantong plastik di tangan, tertawa kecil. Tadi Pak Tua pamit sebentar ke toilet terminal, “Ya sudahlah, buat bekal di jalan.”

Adalah setengah jam lagi menunggu ketika akhirnya bus itu benar-benar bergerak. Itu pun setelah sepuluh menit pakai acara maju-mundur dulu, biasalah, lagi-lagi trik menipu calon penumpang agar bergegas naik—kalau kalian suka naik bus, oplet atau angkutan umum pasti tahu maksudnya.

“Sebenarnya Pak Tua ada keperluan apa di Singkawang?” Andi memecah lengang, pukul sepuluh pagi, bus melesat cepat di jalan raya, semilir angin melewati jendela kaca kusam, membuat penumpang terkantuk-kantuk.

“Nah, terima-kasih akhirnya ada yang bertanya.” Pak Tua terkekeh, “Kupikir kalian terlalu asyik dengan perjalanan ini, jadi tidak ingat untuk bertanya apa pasal kita ke sana.”

Aku dan Andi saling lirik, nyengir, merasa disindir.

“Kita berplesir, Andi. Hitung-hitung agar kalian berdua lebih damai, tambah akrab lepas kejadian vespa orisinil ‘62 itu.” Pak Tua melepas topi pandan, mengusap uban, tertawa lagi.

Aku dan Andi saling lirik lagi, nyengir kaku.

Pak Tua hanya bergurau, tentu saja, kejadian heboh itu sudah hampir sebulan lalu.

Heboh? Dua malam Andi mengungsi ke rumah Pak Tua karena amuk bapaknya. Bayangkan, saat kembali dari dermaga ferry, saat bersiap mengembalikan vespa itu, yang ada justeru hamparan onderdil dan bodi motor. Belum ditambah Andi dengan tampang polos malah bertanya balik pada bapaknya, “Bukankah bapak yang nyuruh bongkar, ya?”

Aku juga ketiban pulung, dua hari penuh bapak Andi menungguiku merakit ulang vespa itu. Tidak boleh meleset satu baut pun, tidak boleh lecet se-mili pun. Di mana seni-nya jadi montir kalau ada mandor monster dengan wajah masam duduk mengawasi, berdehem-dehem galak setiap aku sedikit kasar meraih plat bodi motor. Semua memang bisa diperbaiki, pemilik vespa juga reda marahnya setelah melihat motornya kembali utuh tanpa lecet, tetapi aku menyadari, gurauanku berlebihan, maka dua malam berturut-turut berangkat dengan wajah memelas ke rumah Pak Tua, meminta pengampunan dari Andi, membujuknya pulang ke rumah.

Continue reading

Advertisements

Episode 33: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kembali Membumi

Selamat pagi, Pontianak!

Aku merapatkan sepit ke steher, dahiku terlipat, entah hendak tertawa, bingung, menggaruk kepala, atau menepuk dahi. Alamak, apa yang telah terjadi di kota Pontianak selama aku dan Pak Tua pergi ke Surabaya satu minggu (termasuk perjalanan laut)? Apapula maksudnya ini? Dari jarak puluhan meter, aku sudah melambatkan sepit dengan tatapan ganjil, suara apa yang terdengar membahana? Seperti kenal, akrab di telinga? Ada yang menggelar acara di dermaga kayu? Memakai sound system atau tape besar diputar kencang-kencang? Semakin dekat, semakin jelas, lihatlah, ternyata belasan pengemudi sepit sedang melakukan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) macam dulu sering diajarkan di SD atau SMP, te-te-to-tet-tet, te-te-te-te-tet. Dibaris terdepan dekat tape, penuh semangat, Jupri patah-patah, ingat-ingat lupa, memimpin gerakan. Sementara petugas timer dan beberapa pengemudi lain berdiri di belakang, ikut gerakan apa saja yang dilakukan Jupri.

“Woi, kau masih lama antri, kan? Nah, masuk ke barisan belakang,Borno!” Petugas timer berteriak, sambil membungkuk-bungkukkan badan, semangat betul dia.

Aku tertawa, menggeleng.

“Ayo, Borno. Kau wajib ikut!” Petugas timer melotot.

Aku ragu-ragu melangkah.

Penumpang sibuk memperhatikan, satu-dua menahan tawa, lebih banyak yang terbahak panjang. Masih ingat gerakan senam SKJ jaman bahuela itu? Dengan musik khasnya? Aku lupa-lupa ingat, setidaknya waktu aku SD dan SMP ada dua versi yang dikeluarkan Depdiknas. Beberapa penumpang menonton tidak sabaran, mendesak agar sepit mulai melayani, petugas timer menyeka peluh, bilang, “Lima menit lagi, Kak. Sebentar, kami selesaikan dulu gerakan pendinginan.”

Bukan main. Hari pertama narik sepit, setidaknya ada dua kejutan, pertama Bang Togar, sebagai Ketua PPSKT, membuat banyak peraturan baru bagi anggotanya.

“Dia sepihak saja menulis aturan itu, main tempel di dermaga.”Salah-satu pengemudi mengeluh ketika bincang-bincang di warung pisang Pontianak.

“Bagaimana mungkin dia menulis: dilarang merokok saat mengemudi sepit? Memangnya sepit kita itu macam bus ber-AC? Asap rokoknya tidak bisa kemana-mana? Lama-lama dia akan melarang kita merokok di dermaga ini.” Yang lain bersungut-sungut, keberatan.

“Togar tidak akan melakukannya, Muslih.” Salah-satu pengemudi senior memotong, “Lagi pula tidak ada salahnya dengan peraturan itu? Biar penumpang tidak terganggu dengan kepul asap rokok kau. Aku juga merokok, tidak keberatan. Togar juga merokok, malah dia yang membuat peraturan. Kita tetap boleh merokok di dermaga ini, sepanjang tidak dekat penumpang. Susah sekali menjelaskan pada kau.”

“Nah, lantas kenapa dia juga tulis peraturan dilarang mengirim sms, menelepon, main internet saat mengemudi sepit, memangnya itu mengganggu penumpang? Apa ada asap mengepul dari HP?” Muslih sengit, tidak mau kalah.

“Astaga, tentu saja itu mengganggu penumpang! Perhatian kau bukan dikemudi sepit, tapi di HP, mata kau di layar HP bukan sungai Kapuas, perahu bisa oleng, membuat celaka semua orang.” Pengemudi senior melotot, “Lagipula, memangnya kau punya HP? Hanya satu-dua saja penghuni gang tepian Kapuas ini yang punya HP?”

“Sekarang belum. Esok lusa aku akan punya HP, dua sekaligus.” Muslih tidak mau kalah gertak.

“Nah, berarti bagus. Togar punya visi, dia atur sebelum kalian semua punya HP.”

Diam sejenak, menyeringai satu sama lain.

“Dia juga menyuruh pengemudi sepit men-cat steher, mempermanis tampilan sepit-sepit, memasang umbul-umbul. Kau lihatlah, terlihat menarik sekali dermaga kita sekarang, bukan?” Jauhari berbisik.

Aku mengangguk-angguk, itu benar, perahu kayu warna-warni, dermaga cerah dengan bendera-bendera, hanya jamban yang tidak disentuh perbaikan, itupun karena sudah ku-cat delapan bulan lalu, masa-masa plonco.

“Aku sih tidak keberatan dengan peraturan baru Bang Togar,” Demikian Jauhari berbisik lagi, “Tapi soal senam SKJ? Alamak, dia sepertinya sedang kesurupan jin Kapuas. Apa pula perlunya kita setiap Jum’at pagi senam SKJ. Jengah ditonton anak-anak SD yang mau menyeberang, malah di foto-foto turis pula. Tadi Mamak-ku kebetulan lewat, tertawa tidak henti melihat aku senam. Entahlah apa yang ada di kepala Bang Togar, jangan-jangan besok kita disuruh senam dengan seragam mencolok. Mati aku.”

Aku tertawa, memang lucu melihat pengemudi sepit merentangkan tangan, mengangkat-angkat kaki, bungkuk, ada yang nungging, berusaha sebaik mungkin mengikuti gerakan SKJ, sial, Jupri sang komandan senam salah-salah melulu.

Continue reading

Episode 21: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

Halaman luas Istana Kadariah lengang. Tukang kebun asyik memangkas rumput di bawah bayangan bangunan, sekalian berteduh. Tidak ada tanda-tanda gadis itu di sini, terlihat beberapa pengunjung, asyik berfoto, tapi bukan Mei. Aku mendongak, matahari terik membakar kepala. Aku sudah bertanya ke penjaga gerbang Istana, tidak membantu.
“Bapak tadi melihat gadis seumuranku datang ke sini?”
“Gadis? Tadi pagi banyak.” Penjaga menjawab santai.
“Yang rambutnya panjang tergerai, Pak.”
“Mau rambut panjang, rambut pendek, banyak, Dik. Hanya yang botak saja, saya tidak lihat.”
“Maksudku, yang cantik.”
“Ah, kau macam tidak tahu saja, gadis Pontianak itu rata-rata cantik, Dik. Mau Amoy, Dayak, Melayu, semuanya cantik-cantik.” Penjaga Istana tertawa.
“Yang datang sendirian, maksudku yang terlihat sendirian, seperti menunggu seseorang.” Aku menelan ludah, berusaha memperbaiki pertanyaan (atau jangan-jangan aku salah tempat bertanya).
“Ah, mana sempat kuperhatikan mereka datang sendirian atau beramai-ramai, yang kutahu, orang datang ke Istana ini untuk plesir, bukan tempat janjian bertemu. Kau ini macam wartawan saja, banyak tanya, ada apa sebenarnya?”
Aku meninggalkan penjaga gerbang.
Tidak ada tanda-tanda atau pesan yang ditinggalkan. Tukang kebun juga menggeleng saat ditanya. Petugas dalam Istana menggeleng. Tukang asong yang menjual minuman dan makanan kecil juga tidak tahu. Sepertinya gadis itu datang, lantas pergi ketika aku tidak kunjung muncul. Aku menggaruk kepala, memaki diri sendiri, meminjam istilah Pak Tua, apalah yang kuharapkan? Setelah dia bersedia melupakan soal olok-olok nama, bagaimana mungkin aku lupa janji sepenting itu?
Harusnya kalau aku tetap mau menunggui Pak Tua, aku bisa datang sejenak, lantas membatalkan janji belajar mengemudi sepit, diganti di kesempatan lain, ia pasti mengerti. Kalau sudah lacur begini, jangan-jangan dia akan menyimpulkan aku suka ingkar janji (selain suka sok-lucu, sok kenal sok dekat). Apalah sisa harga diri seorang pria kalau wanita sudah menilainya suka ingkar janji? Untuk urusan sepele saja ingkar, apalagi urusan yang lebih penting, urusan yang butuh pengorbanan. Aku menyisir rambut dengan jemari, berusaha mengusir kecemasan jauh-jauh, teringat Pak Tua kemarin bilang: sembilan dari sepuluh kekhawatiran adalah imajinasi.
Dalam situasi ini, kira-kira apa yang akan disarankan Pak Tua? Solusi bijak. Aku mendongak, menatap kubah Istana. Baiklah, Pak Tua sedang tidak bisa kutanya-tanya, aku akan memperbaiki situasi secepat dan sebisa yang kulakukan. Aku akan menemui gadis itu, di manapun dia berada, menjelaskan kenapa aku tidak bisa datang tepat waktu. Soal dia mau memaafkan atau tidak, itu urusan belakangan.

Continue reading

Episode 18: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

“Akhirnya, Borno. Setelah sekian lama tidak kelihatan batang hidungnya, kupikir kau sudah lupa rumah papan milik orang tua sebatang kara ini.” Pak Tua tersenyum hangat, walau wajahnya terlihat pucat, berpangku tongkat membukakan pintu, “Lama sekali kau tidak main ke sini, mungkin barang satu-dua minggu, ya? Atau macam drama radio RRI, berbilang episode-episode aku tak muncul dalam cerita. Seperti penulisnya lupa dengan tokoh utamanya.”
“Maaf, Pak. Borno sibuk.” Aku menyeringai, merasa sedikit bersalah. Benar, sudah lama aku tidak mampir, biasanya seminggu bisa dua-tiga kali berkunjung. Bercakap sambil menatap kesibukan malam Kapuas dari bingkai jendela, membicarakan banyak hal. Pak Tua seperti aliran air sungai, tak habis-habis ilmu dan filosofi hidupnya—meski kadang aku juga tidak sependapat dengannya. Mengunjungi Pak Tua selalu menyenangkan.
“Bagaimana kabar Saijah? Sehat?” Pak Tua bertanya.
Aku mengangguk, “Kabar baik, Pak. Ibu bahkan menitipkan ini.” Aku menjulurkan kantong plastik berisi makanan.
Pak Tua membukanya, tersengih lebar, “Astaga, gulai kepala kakap. Amboi, lezat sekali nampaknya. Tunggu sebentar, aku habis menanak nasi, akan sedap sekali kalau langsung dimakan.” Pak Tua sambil tertawa segera membawa kantong plastik itu ke belakang. Meninggalkanku sendirian, berbengong ria di ruang depan. Tidak ada yang istimewa dari ruang tamu Pak Tua, kecuali secuil foto buram di dinding, kekuningan, dan ujungnya dimakan rayap. Foto itu memperlihatkan pose Pak Tua yang sedang berpelukan bahu dengan pencetus ‘Amerika kita setrika, Inggris kita linggis’ itu. Nampak akrab, tertawa lebar. Waktu usia enam-tujuh tahun, saat diajak almarhum Bapak berkunjung ke rumah Pak Tua, aku selalu bertanya siapa orang berpeci hitam, membawa tongkat komando itu, Pak Tua hanya tertawa melambaikan tangan, tidak menjawab. Saat sekolah, ketika akhirnya tahu siapa orang itu, lebih banyak lagi pertanyaanku, ini foto kapan? Apakah Pak Tua teman dekat? Kenapa? Mengapa? Seperti mitraliur. Sayangnya, Pak Tua lagi-lagi hanya tertawa, tidak menjawab, sampai aku bosan bertanya.

Continue reading

Episode 17: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

Rekap Episode2 sebelumnya: Pernah naik angkot? Kereta? Pesawat? Kapal laut? Atau kendaraan umum lainnya? Nah, bayangkan di sebelah kalian duduk seorang pemuda usia 20-an. Selintas dilirik, sekilas lalu, lantas asyik kembali melihat keluar jendela. Tiba di tempat tujuan, bertemu sanak-kerabat-kolega, sibuk dengan aktivitas, benar2 tidak akan ingat siapa pemuda tadi. Tidak penting, tidak signifikan. Itulah Borno, pemuda Melayu, yatim sejak usia 12 (Ayahnya mati disengat ubur2, lantas mendonorkan jantungnya di detik terakhir), dibesarkan di gang sempit tepian Kapuas kota Pontianak. Wajahnya pas2an, tidak tinggi, tidak pendek, tidak gemuk, cenderung kurus, kulit cokelat terbakar, dan rambut pendek dua senti (kalau panjang sedikit jadi aneh). Bedanya dengan bujang kebanyakan, malam berikutnya (saat kalian bahkan lupa pernah naik angkot pergi kemanalah dua hari lalu), Borno akan mengetuk pintu, lantas malu-malu bertanya, “Eh, apakah ini punya, Kakak? Ketinggalan di angkot?”
Itulah Borno, tumbuh bersama Pak Tua (70 thn, ras tidak diketahui, masa lalu tidak terdefinisikan), Cik Tulani (50thn, Melayu tulen), Koh Acung, Bang Togar, dan tentu saja teman setianya, Andi si Bugis. Suatu hari dia menemukan sepucuk amplop merah di dasar perahu persis di hari pertamanya menjadi pengemudi sepit (setelah dua tahun berganti-ganti pekerjaan). Dan pemilik amplop merah itu ternyata adalah ‘kakak’ berbaju kurung kuning dengan rambut panjang tergerai, si sendu menawan. Apakah ini akan jadi kisah cinta yang berakhir bahagia, atau sebaliknya, penuh air-mata? Kalian akan ikut ‘bertanggung-jawab’ atas jalan hidup Borno.

***
Aku mendongak menatap biru langit Pontianak. Matahari sebentar lagi persis di atas kepala—meskipun di tempat kalian setiap tengah hari bolong matahari seolah-olah di atas kepala, kota Pontianak jelas lebih istimewa; matahari benar-benar di atas kepala, ini kota garis khatulistiwa, Kawan, di mana jejak matahari persis melintas di atasnya; boleh jadi ksatria gagah yang mengalahkan hantu pontianak dulu sengaja benar memilih tepian Kapuas menjadi pusat kerajaannya. Aku mengelap peluh di leher dengan handuk—tetapi kstaria itu lupa, dengan demikian, kota ini selalu panas, panas, dan panas.

Andi dan rombongan turis dari Serawak sudah masuk ke ruang depan Istana Kadariah, dari kejauhan bisa kulihat gaya Andi yang tunjuk sana, tunjuk sini, lambai sana, lambai sini, menggaruk kepala, memegang ujung hidung, lantas entah apalagi gaya dia sebagai guide amatiran—sayang, sepertinya tamu dari negeri jiran itu lebih asyik berfoto-foto daripada mendengarkan Andi, termasuk menyuruh-nyuruh Andi mengambil gambar mereka bertujuh.

Aku menghela nafas, berusaha mengendalikan perasaan, lupakan Andi dan calon besan keluarganya, ada urusan penting yang harus kupastikan, loncat turun dari sepit, melangkah mendekati boat fiberglass. Jika kapal putih ini ada, maka jangan-jangan gadis itu juga ada. Ah, bukankah baru tadi pagi dia naik sepitku, senyumnya mengembang, menyapa riang. Aku lagi-lagi menyeringai sendiri, sekali lagi menyeka peluh. Di mana orang-orang? Tengok sana, tengok sini, kepala melongok, kapal putih ini sepertinya kosong, bahkan awak kapalnya pun entah pergi kemana. Celingak-celinguk, lima belas detik senyap, aku memberanikan diri menaikinya, siapa tahu ada orang di ruang kemudi. Siapa tahu ada dia di—
“Bang Borno?”
Kakiku hampir terpeleset, bergegas berpegangan di pagar boat.
Gadis itu sempurna berdiri di belakangku.
“Eh, kau?” Hanya itu yang keluar dari mulutku, sial, bukankah aku tadi berharap bertemu dengannya? Kenapa setelah bertatap-muka macam ini, aku malah jadi salah-tingkah, gugup sekali.
“Bang Borno hendak kemana?” Gadis itu tersenyum—tidak tertawa melihat wajahku yang mungkin mirip anak kecil ketahuan mengompol.
“Mencari kau—, eh bukan, maksudku mencari tahu secanggih apa kapal ini. Kau ingat, internal combustion engine macam itulah.” Aku tertawa tanggung, menunjuk-nunjuk boat firberglass, menyumpahi mulut yang salah-ucap. Astaga, bagaimana mungkin aku bilang ‘mencari dia’.
“Oh, kapal ini milik Yayasan, Bang, canggih memang. Ada pejabat dari Jakarta berkunjung ke sekolah kami, tahulah apa mereka menyebutnya, studi banding, akreditasi. Pengurus yayasan mengajak mereka jalan-jalan keliling Pontianak.” Gadis itu berkata santai, sepertinya tidak terlalu mendengarkan salah-ucapku barusan. Respon baik yang tetap membuatku gugup, aku menunjuk bangunan Istana Kadariah.
“Yeah, mereka ada di dalam sekarang. Saya malas ikut-ikutan masuk, menemani bertukar basa-basi, memasang wajah sok ramah, jadi saya menunggu di halaman saja. Dan ternyata, ada Bang Borno. Kejutan yang menyenangkan.” Gadis itu tertawa.
Aku ikut tertawa (hanya itu yang ada di kepalaku, mana sempat berpikir skenario berikutnya seperti yang dikuasai playboy kelas kampung ketika menggoda gadis).
“Bang Borno kenapa ada di sini? Tidak narik?”
“Eh, tidak.” Aku menggaruk kepala, “Aku menemani Andi, kau tahu Andi? Tukang bengkel di bengkel bapaknya, Malaysia, ada keluarga besan bapaknya datang, Serawak, menumpang sepit berkeliling, kuajak kemari, bangunan bersejarah mereka bilang, asyik foto-foto sekarang.” Aku bergumam cepat, entah kalimatku sesuai kaidah percakapan atau tidak, belepotan.
“Bang Borno bawa sepit kemari?” Syukurlah, gadis itu mengerti bahasa anehku.
Aku mengangguk, menunjuk ke steher.
“Daripada kita sama-sama menunggu, saya punya ide baik.” Gadis itu tertawa renyah.
“Ide baik?”
“Ayo, Bang.” Gadis itu sudah melangkah ke steher, melintas cepat di atas dermaga, kemudian riang loncat ke atas sepitku.
Aku bingung, ikut loncat ke atas sepit.
“Mereka baru keluar dari istana setengah jam lagi paling cepat. Saya bosan melihat pejabat itu sok mengangguk-angguk paham penjelasan. Juga bosan melihat pengurus yayasan mencari muka. Nah, Bang Borno belum menjawab pertanyaanku tadi pagi.”
“Pertanyaan apa?” Aku menelan ludah, tambah bingung—kenapa aku tiba-tiba jadi bodoh dan pelupa.
“Seberapa sulit mengemudikan sepit, Bang.” Gadis itu mengingatkan. “Sulit tidak?”
“Oh itu,” Aku menepuk dahi, kupikir pertanyaan lain, “Gampang, tidak sulit.”
“Bang Borno mau mengajariku?”
Aku menatap gadis dengan topi kuning, kaos putih, celana training senada, rambut tergerai di bahu, senyum mengembang penuh harap. Aku pelan-pelan meneguk ludah, Ibu, apa yang dia bilang? Mengajarinya mengemudikan sepit? Siapa yang akan menolak?

Continue reading

Episode 11: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Pertemuan Pertama

Sudah dua kali aku menanyakan hal yang sama pada Pak Tua, dan dua-duanya dijawab sama. Kalau aku sudah khatam belajar mengemudikan motor tempel, lantas sepit siapa yang akan kubawa narik? Jaman keemasan sepit sudah berlalu, tidak banyak pemilik sepit yang punya lebih dari satu perahu tempel—seperti halnya juragan oplet. Kalaupun ada yang punya dua atau tiga, peminat pengemudi sepit lebih banyak dibandingkan perahu yang tersedia dan pemilik lazimnya membawa sendiri sepit mereka.

Pak Tua bilang, “Tak usah cemas, paling sial kau bawa sepit milikku, Borno.” Aku keberatan, lantas Pak Tua bekerja apa? “Ah, justeru sudah lama aku ingin berhenti narik. Kakiku ini sudah sering sakit karena asam urat, beginilah kalau masa muda kurang latihan fisik dan mengunyah apa saja memuaskan nafsu perut, sekarang sedikit-sedikit terasa nyilu, salah makan sedikit langsung tidak enak badan. Kau bisa pakai sepit-ku setiap hari.” Aku tetap keberatan, lantas dari mana Pak Tua mendapatkan nafkah, “Ya tentu dari setoran kau-lah.” Pak Tua tertawa lebar, “Enam puluh-empat puluh, kau ambil enam persepuluh dari penghasilan bersih sehari, aku sisanya. Cukup adil, bukan?”

Cukup adil memang, lain lagi dengan logika Bang Togar, “Kau tahu, pengkhianat, dengan jumlah sepit yang ada sekarang saja, kami harus berbagi penumpang. Sudah untung pulang bawa setoran, ada juga habis untuk beli solar. Pelampung haram itu menghabisi semuanya. Nah, kalau Pak Tua pensiun, itu lumayan mengurangi jumlah sepit di dermaga ini, ternyata kau yang menggantikannya. Kau tidak layak bergabung dengan kami, sejak awal saja sudah bikin masalah.”

Aku memilih diam, meneruskan menyikat perahu tempel Bang Togar, tidak menanggapi. Sekali aku khatam belajar, sudah boleh membawa penumpang, masa plonco-ku usai. Esok-lusa, agar profesiku sebagai pengemudi sepit berjalan lancar, dan karena Bang Togar akan selalu berada di sekitar dermaga gang tepian Kapuas, kupikir lebih baik menganggap dia mahkluk gaib. Ada tapi tiada. Tiada tapi ada. Bodo amat dia mau berkicau apalagi. Dan pagi istimewa akhirnya tiba, hari kelulusanku. Pak Tua tertawa melihatku datang di dermaga kayu pagi buta.

“Aku tahu terlalu dini, Pak. Di rumah, Ibu sejak shubuh menyuruhku berangkat. Daripada kena omel terus, lebih baik bergegas.” Menguap.

Dermaga dengan cepat dipenuhi penumpang, bunyi suara sepit mengetem, merapat dan meluncur dari dermaga memenuhi langit-langit ditingkahi teriakan petugas timer mengatur perahu dan penumpang, “Maju lagi, dua. Maju, dua. Dan kau, Borno, sabar, kau masih lima sepit lagi.” Radio di warung pisang goreng me-relay siaran berita RRI. Tadi beberapa pengemudi menyapaku, tersenyum simpul, “Kau tidak gugup kan, Borno?” Aku berusaha tertawa, menggeleng. Aku sudah terlatih.
Akhirnya giliran perahu Pak Tua tiba, “Ya, Borno bawa ke sini sepit kau.”
Sial, saat namaku diteriakkan, pengemudi lain sibuk bertepuk-tangan.

Aku sedikit tegang menggerakkan tuas kemudi, sepit yang kukemudikan patah-patah merapat ke dermaga. Pak Tua sebaliknya, seperti pertapa takjim duduk santai di sebelahku, bersidekap, menikmati matahari pagi menerpa permukaan Kapuas, hangat nan menyenangkan.

Dua belas penumpang segera menaiki perahu, empat baris tiga-tiga. Tiga ibu-ibu (yang asyik ngobrol sedari melangkah hingga duduk rapi di kursi kayu melintang, entah sibuk membicarakan apa, seru sekali, berbisik-bisik, tertawa), dua gadis seumuranku (sepertinya hendak berangkat kuliah, terlihat rapi dan mungkin wangi), dua laki-laki setengah baya berseragam perusahaan swasta, empat anak sekolah berseragam merah putih, dan satu lagi, aku memperhatikan penumpang terakhir yang anggun menaiki sepit, duduk persis di haluan depan, memunggungi buritan. Kemudian ia mengembangkan payung tradisional berwarna merah. Rambutnya tergerai panjang, mengenakan baju kurung berwarna kuning seperti keturunan Melayu Pontianak, tapi tak pelak lagi, selintas aku lirik tadi, wajahnya China.
Sepitku penuh. Pak Tua berbisik, menyuruh segera menjalankan sepit.
“Tahan dulu, woi!” Terdengar suara khas itu.
“Dia bisa menjalankan sepit sendirian, kenapa harus ditemani, Pak Tua?” Bang Togar berkata tegas.
“Maksud kau?” Pak Tua lebih dari paham kalimat sederhana Bang Togar, itu hanya pertanyaan retoris-klarifikasi.
“Yeah, biarkan Borno menjalankan sepit sendirian, dia sudah lebih dari cakap, bukan? Sudah seminggu dia belajar. Bukankah kemarin siang dia sendirian membawa sepit berkeliling Kapuas.”
Pak Tua melipat dahi, berpikir sejenak, “Sepertinya tidak, Togar. Aku harus menemani.”
“Ah, semua pengemudi sepit juga dulu memulai hari pertamanya tanpa ditemani. Kenapa dia harus diistimewakan? Karena dia cucu kakeknya? Putra bapaknya? Hingga Pak Tua sayang sekali?” Bang Togar mengirimkan skak-mat.

Continue reading

Episode 10: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Gang Di Tepian Kapuas

“Kau tahu, Borno, kapal-kapal besar macam feri, pengangkut kontainer, kapal pesiar, tanker, kebanyakan menggunakan mesin torak, turbin uap, turbin elektrik, turbin gas, atau bahkan turbin nuklir. Nah, sepit ini hanya pakai mesin motor pembakaran dalam, bahasa sananya disebut internal combustion engine.” Pak Tua duduk di buritan, menjelaskan dengan suara kencang mengalahkan gemeretuk suara mesin dan kecipak permukaan air.

Astaga? Aku memperbaiki anak rambut melambai yang mengenai mata, sepit meluncur kencang membelah Kapuas dipenuhi penumpang berseragam rapi hendak berangkat kerja. Tadi lima menit menunggu antrian, sepit Pak Tua merapat, setengah menit mengisi penumpang, setengah menit kemudian sepit sudah meluncur. Aku duduk di buritan, di sebelah Pak Tua mendengarkan pelajaran mengemudi sepit hari ini.

“Apa tadi?” Aku berseru.
“Apanya?” Pak Tua menyeringai, tetapi karena dia pandai membaca ekspresi wajah orang, tanpa ditanya dua kali Pak Tua menjelaskan, “Nah, kau ambil buku ini. Semua kalimat hebat yang kukatakan tadi ada di sini, termasuk internal combustion engine itu. Ini buku sakti bagi pemula seperti kau, kalau kau tidak malas membacanya, kau bisa tahu banyak soal mesin.” Tangan kanannya meraih buku kecil di saku, sudah kecoklatan dimakan usia, sementara tangan kiri Pak Tua sibuk menggerakkan kemudi sepit –berbentuk tuas menyambung ke mesin perahu.

Aku menyeringai, membaca sekilas judul buku: ‘Panduan Mesin Tempel’ dengan merk Jepangnya tercetak besar-besar di bawah.

“Tenang, ada bahasa Indonesia-nya. Aku tahu kau tak pandai cas-cis-cus, apalagi bahasa kampetai.” Pak Tua tertawa menggoda, tangannya sedetik melambai, sepit kami berpapasan dengan sepit lainnya yang penuh penumpang, satu-dua penumpangnya terlihat memakai payung warna-warni, terik matahari pagi menyengat permukaan Kapuas, karena sepit tidak berpenutup kepala, banyak penumpang yang sengaja membawa payung. Elok sekali melihat sepit berlalu-lalang dengan penumpang mengembangkan payung.

“Logika mesin tempel itu sederhana, Borno. Hanya terdiri dari mesin penggerak, transmisi dan propeler, itu saja. Kau lihat, kita mengemudikan sepit hanya geser kiri-geser kanan, tambah gas, kurangi gas. Nanti setelah beberapa rit, tanpa penumpang, kau boleh coba.” Pak Tua menunjuk tuas kemudi, terlihat santai menggerak-gerakkannya, sepit melaju stabil meski permukaan Kapuas sedikit bergelombang setelah berpapasan dengan sepit lain.

“Logika mengemudi sepit itu sama persis dengan mengemudi oplet, ah ya, kudengar kau pernah belajar mengemudi mobil dengan si Jaya? Bagaimana, mudah, kan?”
Aku mendengus, itu bukan belajar, itu penipuan.
Pak Tua tidak memperhatikan, melanjutkan, “Bahkan logika mengemudi sepit sama dengan mengemudikan kereta api atau pesawat terbang.”
Aku kali ini tertawa.
“Kenapa kau tertawa, hah?” Pak Tua menyeringai bingung.
“Dari mana Bapak tahu soal kereta api? Tidak ada rel kereta di seluruh Kalimantan, apalagi Pontianak?” Aku masih tertawa, kali ini terlepas dari fakta Pak Tua tahu banyak hal, sepertinya dia berlebihan.
“Kau keliru, Borno. Aku memang tidak pernah melihat kereta api, apalagi naik pesawat terbang, tetapi aku bisa membayangkannya, berimajinasi, pastilah sama logika mengemudikan benda-benda itu. Ah, kau seperti tidak tahu kata bijak itu: imajinasi jauh lebih penting dibanding pengetahuan.”
“Apanya yang sama? Satu di air, satu di darat, satu lagi di udara.” Mana aku tahu soal kata bijak itu, segera kalimat memotong Pak Tua.
“Lah? Tambah gas, kurangi gas, belok kiri, belok kanan, itu saja, bukan? Semua kendaraan hanya punya logika itu, kecuali pesawat, bisa naik-turun, selebihnya sama.” Pak Tua ikut tertawa, dia mulai mengurangai kecepatan sepit, dermaga kayu seberang Kapuas tinggal tiga puluh meter. “Percaya atau tidak, jika kau sesederhana itu membayangkan logika mengemudi, kau bahkan bisa menerbangkan pesawat tanpa perlu belajar, dan bukankah ada banyak kasus orang yang bisa seperti itu. Kebanyakan orang justeru sebaliknya, Borno, dibuat rumit, lebih banyak takut, ragu-ragu, jadilah dia hanya untuk belajar belok kiri, belok kanan butuh berminggu-minggu. Belajarlah mengemudi sepit atau hal lain seperti kau dulu belajar naik sepeda, tidak takut jatuh, tertawa riang.”
Continue reading