Category Archives: Quote

Dialog Sains dan Keimanan

Suatu waktu, sains berkata kepada keimanan:
“Mataku dapat melihat segala sesuatu yang ada di dunia ini.
Seluruh dunia berada dalam jangkauanku.
Aku hanya terkait dengan benda-benda materi.
Pernahkah kulakukan hal spiritual?
Aku dapat menabuh seribu melodi.
Dan secara terbuka nyatakan segala rahasia yang telah kupelajari.”

Keimanan berkata:
“Dengan sihirmu, gelombang di laut berkobar
Kau cemari atmosfir dengan kotoran dan gas beracun.
Ketika kau bersatu denganku, kau adalah cahaya.
Ketika kau jauh dariku, cahayamu menjadi api.
Kau berasal dari Illahi.
Tapi kau telah terjerat dalam perangkap setan.
Kemarilah, jadikan tanah gurun ini jadi taman lagi.
Berikan sebuah kehidupan baru pada dunia yang merana ini.
Pinjamlah dariku secercah kegembiraanku.
Dan bangunlah Firdaus di dunia ini.
Sejak hari penciptaan, kita bersatu
Kita adalah nada rendah dan tinggi dari satu melodi.”

(sumber >> Allah pun Tersenyum: Kisah-kisah Unik, Aforisma, Alegori Muhammad Iqbal)

Taken from: Leaves of Life

Advertisements

Tanda Kebahagiaan

Di antara tanda kebahagiaan dan keberuntungan, tatkala ilmu seorang hamba bertambah, bertambah pulalah sikap tawadhu’(rendah hati) dan kasih sayang yang dimilikinya, setiap kali bertambahamalnya, bertambah pula rasa takut dan waspada di dalam dirinya, tatkala bertambah umurnya, berkuranglah ketamakannya terhadap dunia. (Ibnul Qoyyim rahimahulloh)

Tentang Hasan Al Banna

“…..seandainya Syaikh Hasan Al Banna –rahimahullah- tidak memiliki jasa dan keutamaan terhadap para pemuda muslim selain bahwa beliau menjadi sebab yang mengeluarkan mereka dari tempat-tempat hiburan, bioskop dan kafe-kafe yang melalaikan, lalu mengumpulkan dan mengajak mereka di atas dakwah yang satu, yakni dakwah Islam, -seandainya beliau tidak memiliki lagi keutamaan kecuali hanya perkara ini-, maka ia sudah cukup sebagai satu keutamaan dan kemuliaan. Ini saya katakan bersumber dari sebuah keyakinan, dan bukan untuk mencari muka dan tidak pula sekedar basa-basi”. (Lihat Mudzakarah Al Watsaiq Al Jaliyyah, Hal. 50)…..” (Syaikh Al Albani Rahimahullah)

Ini tentang Kalian

Dee (Dewi Lestari)

Dalam ranah yang mereka sebut keabadian
Aku bersemayam bersama ingatan tentang kalian
Kudekap dan kuucap namamu satu demi satu
Sebelum lautan cahaya melarutkan kita dan waktu
Walau tiada aksara di sana
Walau tiada wujud yang serupa
Tanpa pernah tertukar aku menemukanmu semua
Sebagaimana engkau semua menemukanku
Empat, lima, dan enam
Berapapun banyaknya kita tersempal
Perlahan lebur menjadi tunggal
Dua, satu, dan kosong
Bersama kita lenyap menjadi tiada

Dalam ranah yang mereka sebut kehidupan,
Aku dan kalian menangis dan meregang di antara ruang
Aku dan kalian tersesat dalam belantara nama dan rupa
Masihkah kau mengenali aku?
Masihkah aku mengenalimu?
Jiwa kita tertawa dan berkata:
Berjuta kelahiran dan kematian telah kita dayakan,
Berjuta kata dan sabda telah kita ucapkan,
Berjuta wadah dan kaidah telah kita mainkan,
Hanya untuk tahu tiada kasih selain cinta
Dan tiada jalinan selain persahabatan
Meski tak terkira banyaknya nama dicipta
Meski tak terhingga rasa menjadi pembeda
Aku akan menemukanmu semua, sebagaimana engkau semua menemukanku
Sahabat, jika kita berpecah raga
Satu, jika kita memadu raga
Tiada, jika hanya jiwa

Inilah kenangan yang kucuri simpan
Saat kubersemayam dalam ranah yang mereka sebut keabadian

Inilah kenangan yang kusisipkan di sela-sela mentari dan bulan
Yang kelak mereka bisikkan saat kucari kalian
Dalam belantara yang dinamai kehidupan

Ingatan pertama dan terakhir
Yang mengikuti saat aku terlahir
Yang bersembunyi hingga kalian semua hadir
Yang menemani saat udara usai mengalir

Cinta dan sahabat
Sahabat dan cinta
Itulah jiwa yang terpecah dengan sederhana

Sisanya fana

(Dibacakan pada acara Dove “Real Beauty Real Friends”, 4 Okt 2006)