Category Archives: Perjalanan

Rafting Citatih with Ngeteng Mania

Part 1

Part 2

Advertisements

Naruto Dari Gua Siluman

Hampir setahun yang lalu…. (23-24 maret 2012)

560336_384470724908776_1452256081_n

Hari sudah sore, kira-kira waktu ashar, ketika rombongan kami berkumpul di stasiun Bogor. Stasiun yang mula beroperasi tahun 1873 untuk menghubungkan Jakarta dengan  Buitenzorg (nama Bogor dahulu). Tampak penumpang hilir mudik turun dari kereta yang datang dan menaiki kereta yang hendak berangkat. Stasiun bogor memang selalu sibuk. Hampir 35 ribu penumpang diangkut menggunakan KRL setiap harinya.

Tampak di salah satu jalur, kereta diesel Bumi Geulis sudah menanti penumpangnya. Kereta yang akan membawa kami menuju Sukabumi. Harga tiketnya Rp. 8000,-. Teman-teman yang sudah tidak ada keperluan naik terlebih dahulu untuk ngetag tempat bagi kami semua. Sedang yang lain masih sibuk melengkapi bekal dan menunaikan kewajiban sholat ashar.

Sekitaran pukul 17.00 WIB kereta mulai meninggalkan stasiun Bogor. Perjalanan memakan waktu tiga setengah jam, melewati hutan, sawah, dan perkampungan dengan beberapa insiden seperti bau kentut dan tersemprot air dari cucian motor. Dalam perjalanan memang kami dapati rumah-rumah penduduk dan bangunan yang letaknya persis sekali di samping rel kereta api. Entah siapa yang ada terlebih dahulu disana.

Continue reading

Yamaha Vega ZR, Teman (Perjalanan) Yang Asyik

Kehidupan dewasa ini hampir membuat semua manusia bergerak. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Untuk urusan pekerjaan, berangkat pagi, pulang petang. Akhir pekan, jalan-jalan meninggalkan rutinitas untuk menyegarkan pikiran. Manusia selalu bergerak dan terus bergerak.  Karenannya, dibutuhkan dua faktor utama untuk menunjang kelancaran kegiatan kita setiap hari. Yang pertama tentunya fisik yang sehat dan mumpuni. Sedangkan yang kedua adalah fasilitas kendaraan yang kuat dan tagguh.

Dalam kesempatan ini, saya mencoba menceritakan salah satu perjalanan liburan akhir pekan saya di Sukabumi. Rafting di sungai Citatih, memacu adrenalin diiringi deburan jeram sungai. Tapi, yang akan saya bahas di sini adalah perjalanan saya mamacu sepeda motor Yamaha Vega ZR, perjalanan pulang pergi Jakarta-Sukabumi.

Sebelumnya akan saya ceritakan terlebih dahulu kisah dibalik perjalanan kenapa saya bisa touring sendirian Jakarta-Sukabumi dengan Yamaha Vega ZR. Sedangkan yang lain naik mobil bareng-bareng.

Bahasan tentang traveling ke Sawarna bersama teman-teman alumni kampus sudah semingguan terpampang di wall group facebook. Tetapi tanggal yang ditetapkan kurang bersahabat dengan saya. Jum’at sampai minggu yang dipakai untuk perjalanan terhalang di hari sabtu bagi saya. Sudah ada agenda yang tidak bisa ditinggalkan. Rencana perjalanannya adalah susur pantai Sawarna, kemudian pulangnya (hari minggu) diisi rafting di Citatih, Sukabumi.

Dengan pemetaan hari yang seperti itu, saya masih bisa gabung dengan rombongan di hari minggu. Ikut raftingannya saja. Maka saya mencoba sampaikan keinginan saya kepada ketua rombongan. Cukup lama saya menunggu sebelum akhirnya dikabulkan. Ini adalah pengalaman pertama saya mengarungi jeram sungai dengan perahu karet, Rafting.

Sebelumnya saya sudah pernah touring (sedirian) ke sukabumi. Tepatnya ke objek wisata Situ Gunung. Jadi sudah tidak asing lagi dengan jalur Sukabumi. Hanya tinggal belok dari Cibadak ke jalur arah pelabuhan ratu yang saya masih belum tahu. Tapi tidak terlalu masalah, karena saya touring pagi hari. Petunjuk jalan masih terlihat jelas dan banyak orang untuk ditanyai.

Hari sabtunya, saya mengikuti agenda wajib saya yang tidak bisa ditinggal. Dan terjadilah insiden tertabrak metromini. sehingga sepeda motor yang biasa saya kendarai agak meriang, sangat riskan untuk dibawa perjalanan jauh. Setelah sampai rumah, ada Yamaha Vega ZR yang masih memungkinkan untuk dibawa hari minggu. Maka pilihan tersebut saya jalani, walau penuh dengan kekhawatiran terkait performa motor tersebut. Saya belum pernah bawa Yamaha untuk perjalanan jauh.

Continue reading

kesurupan (1): meeeting point dan kemacetan

Ini adalah kisah perjalanan sekelompok manusia yang menyebut kelompoknya dengan Ngeteng-Mania. Perjalanan penaklukan puncak Jawa Tengah, Gunung Slamet.

*******

Terminal Kampung Rambutan, tempat datangnya ribuan penumpang yang akan meninggalkan jakarta dan kota-kota di sekitarnya, ramai selalu, hiruk pikuk menanti kedatanganku dan rombongan. Segala jenis kendaraan memenuhi seluruh sudut terminal ini. Bus dan angkutan kota silih berganti keluar masuk terminal menaik-turunkan penumpang.

Aku dan adikku meninggalkan Pasar Jum’at bersama 2 orang temanku menuju terminal kampung rambutan. Taxi yang sedang berhenti kami naiki. Taxi putih dengan reputasi yang lumayan baik, Express. Dengan harapan supaya lebih cepat sampai, karena hari sudah cukup sore.

Adiku (perempuan) duduk di depan, sedang aku dan kedua temanku duduk dibelakang. Baru saja berjalan, kami sudah disambut kemacetan. Biasa saja. Daerah ini (Ps. Jum’at – Lb. Bulus) memang selalu begitu. Dengan harapan lebih cepat lagi sampai, kami memutuskan untuk masuk pintu tol Ciputat. Terminal Kp. Rambuatan hanya berjarak 11.8 km dari Lb. Bulus.

Kemacetan malah semakin menjadi-jadi ketika kami sudah masuk tol. Ribuan kendaraan berjubel didalam tol, saling berebut jalur untuk sampai paling pertama ditujuan masing-masing. Lampu-lampu kendaraan saling sorot, menerangi jalur yang basah tertimpa hujan. Bunyi klakson kendaraan sahut-menyahut memekanan telinga. Kebanyakan kendaraan pribadi ber-plat B yang (mungkin) hendak keluar kota mengisi libur akhir pekan.

Hari sudah mulai gelap. Taxi masih saja tersendat, bukan karena beban yang berat. Tapi memang jalanan masih macet. Tapak di samping tol jalanan umum sangat menggoda. Kendaraan lalu-lalang dengan cukup lancar, kontras dengan yang kami alami di dalam tol. Godaan untuk pindah jalur tidak kami pedulikan. Dengan harapan macet segera sirna berganti perjalanan yang lancar jaya.

Continue reading

Misteri Gunung Papandayan

(27-28 Oktober 2012)

Hari menjelang Maghrib ketika kami menginjakakan kaki di terminal garut. Guntur namanya. Tempat yang sama seperti hari sebelumnya ketika kami menunggu kendaraan menuju Gunung Papandayan dengan di barengi guyuran hujan yang syahdu. Kami tidak tahu bahwa sampainya disana adalah awal nasib kami yang tentu saja sudah dicatatkan oleh Sang Pencipta Langit dan Bumi serta Seluruh Isinya. Sebuah ujian kesabaran.

Dihari sebelumnya, kami melakukan perjalanan yang sudah direncanakan. Mencoba mendaki Gunung Papandayan, bukan untuk menaklukan puncaknya, tapi mengeja kebersamaan. Perjalanan yang masing-masing akan menemukan kisah uniknya sendiri. Walau, tempat yang kita datangi sama.

Mulai dari kumpul di Pasar Rebo, berkali kali dilewatin bus jurusan garut –bukannya gak mau ngangkut, tapi masih menunggu anggota yang belum kumpul–, tragedi adu mulut nya kondektur bus rebutan sewa, sampe akhirnya berangkat menuju tujuan terminal Guntur di Garut. Kebingungan mulai terjadi di terminal. Tidak ada satupun dari kita yang pengalaman dengan kendaraan umum yang mesti kita pakai. Ada orang garut pun tidak jadi solusi. Karena hanya numpang ngaku saja (kali). :D.

Tapi di tengah hujan setelah waktu ashar, solusi itu datang juga. Borong elp yang sedang ngganggur di depan terminal. Sampai akhirnya kita pun sampai di meeteng point dengan sang kepala rombongan (berangkat sendiri dari Bandung) yang memang sudah pernah mendaki Gn. Papandayan.

Naik colt buntung (entah bahasa mana), dijebak untuk mendaftarkan rombongan, walau gak dijebak-jebak amat sih, sampai akhirnya kami mulai melangkahkan kaki mendaki.

Continue reading