Category Archives: Novel Tere Liye

Novel terbaru Tere Liye, berjudul “Kau, Aku & Kota Kita”. Dipostingkan oleh Tere Liye di laman Facebook-nya. Diedarkan secara umum dan gratis…

Episode 34: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kembali Membumi

Seperti banyak suku pedalaman di seluruh dunia, suku Dayak juga punya cerita-cerita hebat (bahkan menjurus seram). Yang paling seram adalah Ngayau, memburu kepala musuh, tradisi kaum Dayak Iban dan Dayak Kenyah. Menurut hikayat yang disampaikan tetua di Rumah Panjang, semakin banyak kepala musuh yang dipotong, maka semakin tebal aura kekuasaan seorang pemuda Dayak, pemenggalan kepala juga bisa untuk menyelamatkan kampung dari wabah penyakit, serta simbol kesuburan seluruh suku. Tetapi tradisi ini sudah lama tidak ada, walau sering terbetik kabar, mulai dari kerusuhan Sampit dulu hingga berbagai kabar burung tentang ditemukannya mayat tanpa kepala belakangan. Lagipula apa serunya membicarakan tradisi penggal kepala?

Dalam versi yang lebih ringan, yang lebih enak jadi bahan percakapan diatas balai-balai bambu sambil main kartu adalah tentang Pangkalima perang suku Dayak yang masyhur. Bayangkan sebuah sampan melaju lembut di hulu lubuk Kapuas, seorang laki-laki gagah Dayak duduk takjim di atasnya, hutan rimba lengang, menyisakan dengking binatang hutan, kabut turun mengungkung. Di tengah takjimnya suasana, seekor burung besar terbang di langit-langit lubuk, berkwaw-kwaw tiga puluh meter di atas kepala. Laki-laki gagah Dayak itu mengangkat tangan, jari telunjuknya macam pistol terarah, zapp! Terdengar desir angin pelan, dan macam ditembak pistol dengan peredam suara, burung besar itu jatuh berdebam ke permukaan Kapuas. Laki-laki gagah itu mengambil burung montok, bakal lezat dibakar nanti malam.

Peserta obrol-obrol santai di balai bambu terperangah. Takjub. Meski sejenak saling bantah tidak percaya, separuh bilang itu berlebihan, mana ada orang sakti di jaman secanggih ini, separuh yang lain dengan yakinnya bilang teman-teman-temannya dia pernah lihat dengan mata kepala sendiri di kerusuhan Pilkada mana-lah, di keributan manalah, saat Pangkalima Dayak turun dari gunung, membuat parang-parang terbang, meniti udara, peluru petugas tak tembus kulit.

“Selalu begitu, Borno.” Pak Tua yang ikut dalam obrol-obrol menghela nafas, “Orang-orang kota selalu senang mendengar cerita-cerita hebat seperti ini. Dan sebaliknya, boleh jadi orang-orang pedalaman juga punya cerita-cerita seram tentang kita. Mungkin di sana, anak-anak mudanya mendengar cerita kalau di Pontianak ini banyak wabah penyakit, berbahaya, seram, jangan coba-coba pergi ke sana. Kalau dipikir-pikir adil juga jadinya, untuk menakuti anak-anak atas orang asing.”

“Tetapi Pak Tua percaya tidak Pangkalima itu ada?” Andi menyela.

Pak Tua diam sejenak, mengusap uban, “Kalaupun ada, dia tidak akan merendahkan kehidupan supranaturalnya dengan turun-turun gunung saat rusuh Pilkada, Andi. Memangnya dia anggota parpol? Dipinjami jaket warna biru atau kuning?”

Gantian Andi yang terdiam.

Nah, lantas kenapa tiba-tiba aku jadi teringat percakapan beberapa tahun lalu itu?

Karena tiba-tiba ruang bezuk penjara ramai. Petugas berbisik-bisik, pengunjung menoleh, tahanan yang sedang menemui pembezuk ikut mengangkat kepala. Di pintu masuk, melangkah tiga-empat orang dengan tampilan gagah macam tetua suku Dayak pedalaman. Aku terbatuk, ikut menonton antusias. Kenapa aku ada di ruang bezuk penjara? Ini jadwal rutin selama sebulan terakhir Bang Togar ditahan polisi terkait kasus KDRT-nya. Aku sudah setengah jam menemani Pak Tua membezuk Bang Togar, lebih banyak bosannya karena Bang Togar sekarang pendiam sekali.

“Itu mertua Togar, Borno.” Bisik Pak Tua, menyikut lenganku.

Aku menelan ludah, ternyata ketua suku Dayak pedalaman sungguhan. Menatap gentar rombongan itu, teringat cerita-cerita seram, tato menyembul dibalik baju rapi yang mereka kenakan, aku takut-takut melirik pinggang mereka, jangan-jangan ada mandau (pisau) disana. Alamak, mereka datang pastilah terkait urusan Kak Unai, jangan-jangan akan ada pertumpahan darah di ruang bezuk penjara.

Pak Tua justeru terlihat sebaliknya, berdiri menyambut, tertawa lebar,”Apa kabar Tetua Medang?”

Orang paling depan, si wajah tegas dan keras itu sejenak menatap PakTua, mengingat-ingat, lantas ikut tertawa, memeluk Pak Tua erat-erat, “Astaga, ternyata bertemu kau di sini, Hidir. Kabar baik, Kawan.”

Continue reading

Advertisements

Episode 33: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kembali Membumi

Selamat pagi, Pontianak!

Aku merapatkan sepit ke steher, dahiku terlipat, entah hendak tertawa, bingung, menggaruk kepala, atau menepuk dahi. Alamak, apa yang telah terjadi di kota Pontianak selama aku dan Pak Tua pergi ke Surabaya satu minggu (termasuk perjalanan laut)? Apapula maksudnya ini? Dari jarak puluhan meter, aku sudah melambatkan sepit dengan tatapan ganjil, suara apa yang terdengar membahana? Seperti kenal, akrab di telinga? Ada yang menggelar acara di dermaga kayu? Memakai sound system atau tape besar diputar kencang-kencang? Semakin dekat, semakin jelas, lihatlah, ternyata belasan pengemudi sepit sedang melakukan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) macam dulu sering diajarkan di SD atau SMP, te-te-to-tet-tet, te-te-te-te-tet. Dibaris terdepan dekat tape, penuh semangat, Jupri patah-patah, ingat-ingat lupa, memimpin gerakan. Sementara petugas timer dan beberapa pengemudi lain berdiri di belakang, ikut gerakan apa saja yang dilakukan Jupri.

“Woi, kau masih lama antri, kan? Nah, masuk ke barisan belakang,Borno!” Petugas timer berteriak, sambil membungkuk-bungkukkan badan, semangat betul dia.

Aku tertawa, menggeleng.

“Ayo, Borno. Kau wajib ikut!” Petugas timer melotot.

Aku ragu-ragu melangkah.

Penumpang sibuk memperhatikan, satu-dua menahan tawa, lebih banyak yang terbahak panjang. Masih ingat gerakan senam SKJ jaman bahuela itu? Dengan musik khasnya? Aku lupa-lupa ingat, setidaknya waktu aku SD dan SMP ada dua versi yang dikeluarkan Depdiknas. Beberapa penumpang menonton tidak sabaran, mendesak agar sepit mulai melayani, petugas timer menyeka peluh, bilang, “Lima menit lagi, Kak. Sebentar, kami selesaikan dulu gerakan pendinginan.”

Bukan main. Hari pertama narik sepit, setidaknya ada dua kejutan, pertama Bang Togar, sebagai Ketua PPSKT, membuat banyak peraturan baru bagi anggotanya.

“Dia sepihak saja menulis aturan itu, main tempel di dermaga.”Salah-satu pengemudi mengeluh ketika bincang-bincang di warung pisang Pontianak.

“Bagaimana mungkin dia menulis: dilarang merokok saat mengemudi sepit? Memangnya sepit kita itu macam bus ber-AC? Asap rokoknya tidak bisa kemana-mana? Lama-lama dia akan melarang kita merokok di dermaga ini.” Yang lain bersungut-sungut, keberatan.

“Togar tidak akan melakukannya, Muslih.” Salah-satu pengemudi senior memotong, “Lagi pula tidak ada salahnya dengan peraturan itu? Biar penumpang tidak terganggu dengan kepul asap rokok kau. Aku juga merokok, tidak keberatan. Togar juga merokok, malah dia yang membuat peraturan. Kita tetap boleh merokok di dermaga ini, sepanjang tidak dekat penumpang. Susah sekali menjelaskan pada kau.”

“Nah, lantas kenapa dia juga tulis peraturan dilarang mengirim sms, menelepon, main internet saat mengemudi sepit, memangnya itu mengganggu penumpang? Apa ada asap mengepul dari HP?” Muslih sengit, tidak mau kalah.

“Astaga, tentu saja itu mengganggu penumpang! Perhatian kau bukan dikemudi sepit, tapi di HP, mata kau di layar HP bukan sungai Kapuas, perahu bisa oleng, membuat celaka semua orang.” Pengemudi senior melotot, “Lagipula, memangnya kau punya HP? Hanya satu-dua saja penghuni gang tepian Kapuas ini yang punya HP?”

“Sekarang belum. Esok lusa aku akan punya HP, dua sekaligus.” Muslih tidak mau kalah gertak.

“Nah, berarti bagus. Togar punya visi, dia atur sebelum kalian semua punya HP.”

Diam sejenak, menyeringai satu sama lain.

“Dia juga menyuruh pengemudi sepit men-cat steher, mempermanis tampilan sepit-sepit, memasang umbul-umbul. Kau lihatlah, terlihat menarik sekali dermaga kita sekarang, bukan?” Jauhari berbisik.

Aku mengangguk-angguk, itu benar, perahu kayu warna-warni, dermaga cerah dengan bendera-bendera, hanya jamban yang tidak disentuh perbaikan, itupun karena sudah ku-cat delapan bulan lalu, masa-masa plonco.

“Aku sih tidak keberatan dengan peraturan baru Bang Togar,” Demikian Jauhari berbisik lagi, “Tapi soal senam SKJ? Alamak, dia sepertinya sedang kesurupan jin Kapuas. Apa pula perlunya kita setiap Jum’at pagi senam SKJ. Jengah ditonton anak-anak SD yang mau menyeberang, malah di foto-foto turis pula. Tadi Mamak-ku kebetulan lewat, tertawa tidak henti melihat aku senam. Entahlah apa yang ada di kepala Bang Togar, jangan-jangan besok kita disuruh senam dengan seragam mencolok. Mati aku.”

Aku tertawa, memang lucu melihat pengemudi sepit merentangkan tangan, mengangkat-angkat kaki, bungkuk, ada yang nungging, berusaha sebaik mungkin mengikuti gerakan SKJ, sial, Jupri sang komandan senam salah-salah melulu.

Continue reading

Episode 32: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Saat kembali ke hotel, aku tidak cerita tentang kejadian di rumah Mei pada Pak Tua. Lagipula dia sudah tertidur kelelahan, tidak tega membangunkan. Habis mandi, berganti pakaian, aku tidur telentang menatap seekor cicak didekat lampu, berpikir. Suara desing pendingin memenuhi langit-langit kamar.

Urusan ini sedikit tidak adil, bukan? Almarhum Bapak dulu selalu bilang, “Borno, jangan pernah menilai sesuatu sebelum kau selesai urusan dengannya.Sebelum mengenal baik. Sebelum cukup mendengarkan atau membaca.” Ibu yang sambil merangkai ikan hasil tangkapan menyela, “Itu lebih mudah dikatakan,Borno. Kelak saat kau dewasa, banyak sekali pongah orang sebaliknya, disadari atau tidak olehnya. Padahal dia yang selama ini berkoar-koar jangan menilai sesuatu dari kulitnya, lah dia sendiri cepat ceplas-ceplos kasih komentar atas banyak hal, menilai sebelum kenal, sebelum selesai sama sekali.”

Aku menatap kaos hitam Mei yang tergantung rapi di pegangan lemari. Tadi buru-buru kuganti saat tiba di kamar—khawatir kotor. Lepas memperkenalkanku dengan Papa (yang terpaksa menerima juluran tanganku), Mei riang mengantarku kembali ke taksi, tidak tahu apa yang telah terjadi.

Aku mendesah pelan, apalah dosaku? Apa aku berniat jahat? Aku bukan macam Pak Tua yang bijak menyikapi hidup, aku juga tidak seperti almarhum Bapak yang pahit getir di akhir hidupnya tetap memiliki kebaikan bercahaya, aku sekadar Borno, anak muda menjelang dua satu, tidak berpendidikan tinggi, hanya pengemudi sepit. Apalagi yang bisa kupikirkan selain sedih, ragu-ragu, bingung dan entahlah. Kejadian mengantar Mei tadi mempengaruhiku banyak. Membuatku berpikir ulang, menimbang-nimbang, menata hati, lelah, lalu jatuh tertidur.

***

Continue reading

Episode 31: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Esok hari tiba, hari plesir keliling kota.Mei tiba pukul delapan, saat aku dan Pak Tua sudah selesai sarapan dan menunggu sebentar di lobi hotel. Dia mengenakan kaos hitam padu-padan dengan celana jeans, rambutnya ditutup topi kuning. Dia membawa dua buah payung besar, “Cuaca panas seperti ini, Surabaya sering hujan siang-siang.” Mei menyeringai, menyerahkan satu payung padaku. Aku menerimanya, selalu gugup setiap bertemu dengannya—entah sampai kapan aku akan terbiasa.

Kami naik angkot (demikian menyebutnya di kota ini).”Aku ingin melihat jembatan besar itu.” Pak Tua menjawab takjim saat ditanya lokasi pertama yang hendak dituju. Mei mengangguk, mengerti. Aku menyentuh lutut Pak Tua pelan, berbisik, “Jembatan besar apa?” Takut di dengar Mei dan penumpang angkot lain, belum mengerti maksudnya. “Kau bikin malu saja.” Pak Tua mendengus, berseru kencang, membuat yang lain menoleh, “Tidak ada orang di negeri ini yang tidak tahu Jembatan Surabaya-Madura. Makanya baca koran, tonton teve.” Aku menatap Pak Tua sebal. Mei menutup mulut, menahan tawa.

Itu tujuan pertama, sesuai permintaan Pak Tua.”Panjangnya tak kurang lima kilometer,” Demikian Mei menjelaskan, setengah jam kemudian kami sudah berdiri di pangkal jembatan, “Menghubungkan Bangkalan Madura dengan Surabaya. Lebih besar dibanding jembatan Kapuas, bukan?”

Aku mengangguk, Pak Tua manggut-manggut tipis, “Kau tahu, Borno. Aku ingin Togar ikut kita sekarang.” Aku menatap Pak Tua tidak mengerti, mengganti tangan kiri memegang payung—cuaca panas membakar ubun-ubun. Kenapa pula Pak Tua tiba-tiba menyebut nama ketua PPSKT itu.”Karena dengan berdirinya jembatan gagah ini, maka kapal ferry Ujung Kamal Madura ke Tanjung Perak Surabaya tersingkir, tinggal angkutan tanpa gigi. Di sini nasib pelampung buruk.” Pak Tua menjelaskan.Aku bergumam, benar juga, di Pontianak, kedatangan pelampung menyingkirkan sepit Kapuas, di sini sebaliknya, nasib pelampung buruk setelah jembatan jadi, kapal-kapalnya dipindahkan ke rute lain, bahkan ada yang terancam menjadi besi tua. “Begitulah hidup, ” Pak Tua menatap takjim tali-temali dan pucuk jembatan, “Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang berjaya, kadang terhina. Esok lusa boleh jadi jembatan ini tidak sakti lagi, entah oleh apa.”

Tidak lama kami di jembatan besar itu, tidak bisa melintas (karena tidak ada jalur pejalan kaki, “Ah, apa susahnya mereka bangun dulu? Coba tengok jembatan-jembatan raksasa di seluruh dunia, semua ada jalur pejalan kakinya.” Pak Tua mendengus sebal), kami segera pindah ke lokasi berikutnya.”Terserah Borno.” Pak Tua menjawab pertanyaan Mei.”Eh, terserah aku?” Aku menyeringai, duduk bersempit-sempit di angkot.”Ya, sekarang giliran kau menentukan tujuan kedua.”Aku menyeringai bingung, mana aku tahu hendak kemana? Kenal pun tidak dengan kota ini. Pak Tua balas menyeringai, “Kau tidak akan bilang ke bonbin saja, kan?””Bonbin?””Kebon binatang.” Pak Tua terkekeh. Mei ikut tertawa.Aku menyumpahi Pak Tua (dalam hati), dia pasti sengaja membuatku bingung di depan Mei.”Aku ingin melihat gedung tertua itu.” Aku setelah diam sejenak, berkata mantap pada Mei.”Gedung tertua apa?” Pak Tua menyela.”Pak Tua jangan bikin aku malu saja. Tidak ada orang di kota ini yang tidak tahu gedung tertua Surabaya.” Aku mendengus, sengaja meniru intonasi Pak Tua tadi pagi.”Macam kau tahu saja, Borno.” Pak Tua tertawa.”Memang. Mana aku tahu gedung apa.” Aku nyengir, ikut tertawa.Gereja Santa Maria, itu bangunan yang dipilih Mei. Gereja tua itu terlihat menawan dengan panel gelas dan serena di sekelilingnya. “Sebenarnya, aku juga tidak tahu apakah ini bangunan tertua di Surabaya, Bang.” Mei berkata dengan kepala mendongak, menatap atap gereja, “Ada banyak bangunan tua di kota ini, peninggalan jaman penjajahan.”

Dari gereja itu kami menuju balai kota Surabaya, turun dari angkot berganti menumpang becak, kami menuju Masjid Ceng Ho. “Jangan mimpi ber-becak bersama Mei,” Pak Tua menyeretku, menyuruh naik becak lain. Aku bersungut-sungut, siapa pula yang mau ber-becak berdua? Dulu saja tidak sengaja memegang tangannya agar tidak terjungkal dari sepit rasanya malu sekali. Aku justeru mau naik becak sendirian, rasanya eksotis melintas di tengah kota dengan becak. Dua becak melintas jalanan panas Surabaya (aku duduk nyempil di sebelah Pak Tua yang duduk santai dengan tongkatnya), lima menit tiba di halaman mesjid ber-arsitektur indah khas China. Langit kota semakin gerah, membuat berkeringat, aku menyeka peluh di pelipis. Mei membeli tiga botol air mineral di tukang asong depan Mesjid.”Ini Masjid Laksamana Ceng Ho, Bang.” Mei menjelaskan.”Dia paling juga tidak tahu siapa si Ceng Ho itu.” Pak Tua nyengir.”Ada banyak peranakan China di kota ini. Kampung China di Surabaya tidak kalah dibanding Pontianak, Bang.” Mei lanjut menjelaskan, “Ada tempat yang terkenal sekali di kampung China, Kembang Jepun. Malam hari area itu berubah menjadi pasar jalanan dan warung makan tenda dengan pertunjukan budaya peranakan China, tidak kalah suasananya dengan di Pontianak. Apalagi saat imlek dan cap gomeh. Puluhan naga turun ke jalan.””Naga?” Aku melipat dahi.”Barongsai, Bang.” Mei tersenyum—bukan mentertawakanku seperti yang dilakukan Pak Tua.Langit berubah drastis menjadi mendung saat kami turun dari angkot satu jam kemudian, di tujuan berikutnya, Pasar Ampel.”Kenapa kita ke sini? Pak Tua hendak membeli karpet atau permadani?” Aku bertanya pada Pak Tua, menatap toko-toko dengan jualan seragam—dia yang memilih tujuan ini.”Nostalgia, Borno.” Pak Tua melambaikan tangan, tertawa, “Ini pasar Arab terbesar di kota Surabaya, dulu waktu masih muda seumuran kau, aku pernah bekerja di salah-satu tokonya. Nah, toko yang itu, sayang pemiliknya sudah lama pindah, jadi tidak ada lagi yang kukenal.”

Adalah setengah jam berkeliling Pasar Ampel. Aku sebenarnya menikmati berjalan di lorong-lorong pasar Arab itu, menyimak motif, menyentuh permukaan karpet, dan terperangah mendengar harganya.”Di ujung lorong ini ada mesjid dan makam salah satu dari sembilan sunan tanah Jawa, Bang.” Mei berbisik, “Sunan Ampel.”Aku mengangguk-angguk, ternyata tempat ini tidak kalah spesial.Gerimis mulai turun saat Pak Tua bilang perutnya lapar. Mei cekatan memilih lokasi makan yang cocok dengan diet Pak Tua, warung soto Madura, tidak jauh dari Pasar Ampel. Nikmat sekali menghirup kuah soto di tengah gerimis yang mulai menderas. Pak Tua mendecap-decap, aku tidak jahil mengingatkannya tentang diet, hanya semangkok soto, tanpa potongan daging atau jeroan berbahaya. Aku sedang asyik melirik Mei yang tengah menghabiskan mangkok sotonya. Lihatlah, wajahnya, gerakan tangannya, sekali dua memperbaiki anak rambut (topi kuning sudah dilepas), kepedasan, meminta kecap (aku mengambilkannya), meniup-niup permukaan mangkok, meminta sambal (aku meraihnya), meminta tissue (aku mendorong tempat tissue). Amboi, dengan Mei ada di depanku, makan siang ini terasa nikmat sekali, duduk di kursi panjang, berhadap-hadapan. Jalanan ramai, mobil dan motor bergegas menerobos gerimis yang semakin deras. Suara klakson dan rintik air menjadi latar.”Sotonya tidak dimakan, Bang?” Mei menyeka ujung mulut, bertanya.”Bagaimanalah dia akan makan kalau sejak tadi curi-curi pandang menatap Mei.” Pak Tua yang menjawab, terkekeh.Wajahku merah padam (juga wajah Mei), aku buru-buru meniup mangkok soto. Dasar orang tua perusak suasana, tidak bisakah dia berhenti menggangguku?

***

Continue reading

Episode 30: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Dia mengenakan kemeja kuning lengan panjang, celana kain gelap, rambutnya diikat dengan sesuatu berwarna hijau. Dia selalu pandai memadu-padan pakaian, tidak mewah, tidak berlebihan, tetapi terlihat cantik. Dia tersenyum keluar dari ruangan terapi, mendekat, lantas duduk di hadapanku, kursi panjang ruang tunggu. Bersitatap sejenak, menyeringai padaku.

“Kenapa?” Satu menit terus dipandang, aku sedikit bingung, memaksakan bertanya—meski perasaan grogi sudah menyentuh leher, hampir membuatku tersedak.

“Tidak ada apa-apa.” Gadis itu tertawa kecil, memperbaiki anak rambut di dahi.

Aku entahlah sebaiknya harus ikut tertawa atau ikut memperbaiki anak rambut—eh, mana ada anak rambut menggangu di dahiku, terlanjur, pura-pura menyeka pelipis.

“Kenapa kita selalu bertemu ya, Bang?” Mei memainkan kaki menjuntainya perlahan, “Dulu waktu Mei berangkat mengajar, selalu saja naik sepit Bang Borno. Bahkan saking seringnya bertemu, saat tiba di dermaga kayu, Mei sering berpikir, jangan-jangan nanti naik sepit Bang Borno lagi. Dan ternyata benar. Seperti disengaja, ya?”

Aku nyengir, macam kopral sendirian menjaga benteng dikepung musuh, berusaha bertahan habis-habisan memasang wajah normal. Mana mungkin aku mengaku,bukan? Alamak, itu akan membuat semua urusan jadi terang-benderang. Malu-lah awak.

“Tidaklah, tidak sengaja. Mei bukannya selalu tiba di dermaga pukul 07.15. Dan aku setiap hari selalu berangkat narik di jam yang sama. Jadwalnya kebetulan sama, jadi ada kemungkinan selalu bertemu.” Saat ini, aku ingin sekali punya keahlian mengarang macam Bang Togar—bodo amat masuk akal atau tidak.

“Dari mana Abang tahu Mei selalu berangkat pukul 07.15? Nah, Abang Borno jangan-jangan sengaja hafal, ya? Biar selalu bertemu Mei?” Gadis itu tertawa renyah.

Aku macam Kasparov kena skak-mat, nyengir mirip kuda sakit perut, kehilangan kata. Tetapi gadis itu sekadar bergurau, tidak lebih tidak kurang, sudah lanjut bertanya santai, “Bagaimana kabar Pontianak enam bulan terakhir,Bang? Rasa-rasanya Mei amat rindu ingin kembali.”

“Pontianak? Eh, masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah. “Aku berusaha menegakkan bahu, ikut (memaksa diri) santai.

“Sudah musim buah, Bang? Durian? Jeruk? Rambutan? Mei ingin sekali berjalan-jalan di pasar induk, membeli buah segar yang baru diangkut dari pedalaman. Tawar-menawar, memilih yang paling ranum, paling elok.”

“Oh kalau itu, iya, sudah mulai musim buah.” Aku buru-buru menjelaskan,”Tapi masih buah pertama, belum bagus, itupun baru satu-dua perahu dari hulu Kapuas yang bawa. Durian masih mahal, satu yang besar bisa dua puluh ribu, kalau yang kecil dapat sepuluh ribu, beda kalau sudah musim-musimnya. Jeruk juga belum terlalu manis, masih buah awal-awal, di pasar induk sekilo masih lima belas ribu—”

Gadis itu tertawa, yang menghentikan kalimatku, kenapa? Aku menyeringai bingung.

Continue reading

Episode 29: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Walau tak tahu angka pastinya, orang Pontianak tahu persis kalau penduduk kota mereka mayoritas terdiri dari: China, Melayu, dan Dayak, ditambah dengan jumlah yang lebih sedikit orang-orang dari Bugis dan Jawa.

Suku bangsa Melayu otomatis tiba saat pendiri kota, Sultan Abdurrahman Alqadrie mengalahkan si hantu pontianak, mendirikan istananya. Suku Dayak datang berhiliran dari hulu Kapuas, sementara Bugis dan Jawa tiba di kemudian hari sebagai perantau tangguh.

Lantas bagaimana kota ini dihuni begitu banyak China? Pak Tua punya teori, akhir abad ke-19, daratan China dilanda perang sipil dan wabah kemiskinan, “Perang silat macam film-film kolosal Jet Li itu, Pak Tua.” Jupri, yang suka sekali nonton televisi, nyeletuk. Yang lain, yang khidmat mendengarkan cerita Pak Tua menyikut bahunya, “Berisik. Bisa diam tidak kau?” Melotot. Pak Tua melambaikan tangan, melanjutkan, perang dan kemiskinan tadi membuat ribuan penduduk China mengungsi keluar dari negerinya, salah-satu tujuan mereka adalah Pontianak yang dekat dengan Laut China Selatan, strategis, serta ramah terhadap pendatang. Kebanyakan sub-etnis di Pontianak sekarang datang dari orang-orang Teochew, Hakka dan sebagian kecil orang Kanton (“Wah,Kanton? Macam pula film-film Jet Li di Hongkong, Pak.” Jupri menyela lagi, kali ini Bang Togar memukul peci kupluknya). Kalian tahu, ada kota kecil, berjarak tiga jam perjalanan dari Pontianak dengan jumlah penduduk China lebih mayoritas lagi, di mana-mana China. Dikenal dengan sebutan ‘kota seribu kelenteng’ atau yang lebih terkenal dengan ‘kota amoy’—amoy dalam dialek Hakka artinya gadis. Itulah kota Singkawang.

Nah, walaupun tiga suku bangsa ini punya kecenderungan hidup homogen,berkelompok, punya kampung sendiri, kampung China, kampung Dayak atau kampung Melayu, kehidupan di kota Pontianak berjalan damai. Cobalah datang kesalah-satu rumah makan terkenal di kota Pontianak, kalian akan menemukan tiga suku ini sibuk berbual, berdebat, lantas tertawa bersama—bahkan saling traktir satu sama lain. Yang tidak bertenggang rasa dan saling menghormati sebagai sesama manusia itu justeru: pemerintah. Sudah bukan rahasia, anak-anak keturunan China, bertahun-tahun repot mengurus SKBRI. Selembar surat keterangan bukti kewarganegaraan itu menjadi sesaji wajib saat mengurus semua dokumen, mulai dari surat akte lahir, tinggal, hidup,menikah, hingga surat mati, peduli amat Koh Acung misalnya, sudah generasi keempat yang dilahirkan di gang sempit tepian Kapuas.

Siapa di sini yang berani bilang Koh Acung bukan penduduk asli Pontianak? Demikian Pak Tua bertanya takjim, semua peserta obrol santai dibalai bambu malam-malam itu menggeleng. Nah, lantas kenapa dia harus dipersulit dengan omong-kosong SKBRI? Binatang ternak macam sapi saja baru diminta surat saat melintas perbatasan provinsi. Akibatnya, jaman itu lumrah penduduk China punya dua nama, satu nama asli, satu lagi nama nasional. Kalian mau tahu nama nasional Koh Acung? Bambang Susilo—huss, kalian dilarang tertawa, umur Koh Acung lebih uzur dibanding presiden berkuasa. Siapa di sini yang pernah memanggil Koh Acung dengan Pak Bambang atau Pak Susilo? Pak Tua bertanya takjim, semua peserta obrol santai menggeleng, penghuni tepian Kapuas lebih suka memanggilnya Koh, sama sukanya seperti memanggil orang Melayu dengan Bang, orang Jawa dengan Mas. Nah, lantas kenapa dia harus dibedakan? Berani-beraninya kalian mendiskriminasi Pak Bambang Susilo?

Itu dulu, sebelum undang-undang SKBRI dihapuskan. Sekarang? Pada prakteknya kadang masih ada pegawai pemerintahan yang berpikiran jahiliyah, mempersulit sesama manusia. Akan tetapi secara umum, bertahun-tahun sejak jaman reformasi, budaya China amat welcome di kota ini, datanglah ketika Imlek atau Cap Gomeh, maka seluruh kota akan terlihat berbeda. Semarak, penuh suka-cita, tidak kalah dengan perayaan hari besar suku atau agama lainnya.

Aku mengelus dahi, kenapa di tengah terik kota Surabaya, aku jadi membahas tentang sejarah orang-orang China Pontianak? Amboi, apalagi penyebabnya kalau bukan mataku tertuju pada halaman yang baru saja kubuka. Bosan menunggu Pak Tua tidak kunjung keluar dari ruang terapi, aku meraih buku telepon super tebal di bawah meja, sembarang membuka, langsung terpentang dua halaman penuh dengan nama dimulai dari huruf S, mataku menyipit: Sulaiman. Kalian pernah membuka buku telepon? Coba saja, ada berapa halaman orang-orang dengan nama Sulaiman?

Aku termangu, menatap baris Sulaiman-Sulaiman-Sulaiman. Bukankah aku pernah mendengar nama ini? Nama yang penting? Dekat sekali dengan pencarianku beberapa hari terakhir. Di mana? Siapa yang menyebutnya? Astaga? Otakku berpikir super cepat, aku ingat, bukankah nama itu disebut Bibi yang bekerja dirumah Mei? ‘Keluarga besar Sulaiman pindah ke Surabaya’. Itu pasti nama nasional Ayah Mei.

Continue reading

Episode 28: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

“Kau tahu, Borno, jaman dulu, kapal ferry besar macam ini adalah kendaraan paling romantis.” Pak Tua berdiri santai digeladak depan, tangannya memperbaiki anak rambut di dahi, berpegangan ke pagar anjungan, tongkatnya disandarkan.

Aku mengangguk, Pak Tua benar, menatap garis horizon, menyaksikan matahari bersiap tumbang, ini senja yang hebat, berbeda dengan senja di tepian Kapuas. Kapal besar yang kami tumpangi sudah dua jam meninggalkan pelabuhan Pontianak. Tadi saja aku terpesona menatap prosesi lepas sauh, kapal beringsut berangkat, suaranya klaksonnya melenguh panjang, orang-orang melambai di bibir dermaga, anak-anak kecil berlarian, dan kami ikut melambaikan tangan (padahal jelas-jelas tidak ada yang melepasku dan Pak Tua pergi di dermaga sana). Aku ingat, waktu dulu bersama Andi menumpang bus ke Entikong, atau pernah ke terminal bus jarak-jauh, tidak ada momen perpisahan se-syahdu itu.

“Coba kau hitung ada berapa lagu-lagu lama yang mengambil pelabuhan, kapal besar, atau perjalanan jauh sebagai tema, Borno.” Pak Tua memutus lamunanku, “Banyak sekali. Juga buku-buku, kisah-kisah romans legendaris. Pengarang lagu dan penulis buku seperti tidak pernah kehabisan ide cerita, entah dia mengalaminya sendiri atau sekadar imajinasi.” Dan Pak Tua kemudian santai bersenandung lagu Teluk Bayur, ber-hmm, hmm beberapa saat.

Aku nyengir, melirik gayanya, ujung baju Pak Tua melambai-lambai ditiupangin, kapal terus bergerak takjim membelah lautan. Matahari sudah setengah badan ditelan garis cakrawala, membuat kaki langit merah sejauh mata memandang.

“Ah, bukan main, kekasih pergi demi tugas mulia, si belahan hati terpisah lautan samudera, rindu tak terkira, pintar sekali pengarang lagu berbual kalimat….” Pak Tua macam pujangga amatir mengangkat tangannya, aku tertawa. “Dan atau perjalanan menemui kekasih di seberang pulau sana, ingin bertemu setelah sekian lama tidak tahu kabarnya…. Alamak!” Pak Tua ekspresif menepuk dahi, memicingkan mata, tawaku tersumpal, memerah muka, Pak Tua pasti sengaja menyindirku.

“Tetapi hari ini semakin sedikit saja orang-orang yang mau naik kapal.Semua ingin serba cepat, serba praktis, efisien. Mana ada yang mau naik kapal lagi kalau pesawat murah? Padahal mana ada romantisnya naik pesawat? Kau terkurung dalam tabung setinggi kepala, selebar lompatan, hanya bisa mengintip dari jendela tebal, kakusnya pun sempit tidak terkira. Nah, lihat, naik kapal, kau bisa melakukan ini. Cuih.” Pak Tua jahil meludah.

Aku tertawa—bukan untuk meludahnya, tapi senang karena dia tidak melanjutkan sindiran ‘perjalanan menemui kekasih’ tadi.

“Pak Tua pernah naik pesawat?” Aku memancing.

“Puh, kau jangan meremehkan orang tua ini, Borno. Aku bahkan pernah menumpang pesawat tempur, pekak telingaku, gemetaran kakiku saat turun dilandasan, jujur saja, itu bukan pengalaman yang membanggakan, membuat muntah iya.”

Aku menatap Pak Tua antusias, hendak bertanya.

“Negara ini mendaku-daku negara kepulauan, bukan? Memiliki garis pantai terpanjang di seluruh dunia, bukan? Separuh lebih luasnya adalah laut. Nenek moyangnya orang pelaut. Tetapi coba di-sensus, setidaknya pasti ada setengah penduduknya yang jangankan naik kapal, melihat laut saja tidak pernah. Apalah arti mendaku kalau tidak punya rasa memiliki? Gombal sekali.” Pak Tua lebih tertarik membahas hal lain—yang sebaliknya, aku tidak tertarik sama sekali. Beruntung sebelum panjang-lebar mendengar celoteh Pak Tua, suara sirene makan malam terdengar.

“Mari makan, Borno. Semoga mereka punya gulai kepala kambing.” Pak Tua terkekeh melihat tampang keberatanku, mengingatkan soal diet ketat Pak Tua.

Continue reading