Category Archives: Jurnal Pagi

Pujian dan Bersyukur

Beberapa waktu lalu seorang kawan berkunjung ke tempat tinggal saya (rumah orang tua). Dia membawa seorang kawan lama yang sudah lama pula tak jumpa. Alhamdulillah… lewat dia pertemuan bisa kembali terjadi dengan kawan lama tersebut. Tahu kabar berita dan kondisinya sekarang.

Memang kebiasaanya akhir-akhir ini, kalau sedang libur dari kerja yang dia lakukan adalah berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Mengunjungi kawan-kawan lamanya. Tapi, bukankah itu petuah agama? Memperpanjang umur dan Membuka pintu rizki katanya. Dan dari banyak kejadian dan cerita memang begitu adanya. Banyak hikmah dari silaturahim.

Seperti halnya pertemuan-pertemuan lainnya. Bila sedang kumpul dengan teman-teman. Obrolan pun mengalir begitu saja. Mulai dari bertukar kabar, menceritakan kesibukan, dan hal yang tak luput dari obrolan para bujang adalah tentang pasangan hidup. Kapan mau nikah? Kriteria? tentang rasa, dan sebangsanya.

Tapi, hal yang sedikit membuat saya berfikir adalah obrolan tentang pujian. Mungkin hampir semua kita pernah mendapatkan pujian. Entah dari siapa, tapi insyaAllah hampir semuanya pernah (saya anggap begitu). *maksa

Bagaimana respond kita ketika mendapat pujianlah mungkin yang berbeda-beda. Kebanyakan yang saya temui, atau bahkan saya sendiri alami, adalah ketika kita mendapatkan pujian, entah dari siapa, seringkali kita merendah, bilang “ah biasa aja” atau “nggak segitunya kok” atau juga “yah lumayan” dan respon-respon sejenis.

Teman saya memberikan padangan yang berbeda tentang pujian. Dia bilang, bahwa pujian itu hal positif, maka lebih baik kita serap dulu kebaikan itu (terima pujiannya). Karena pujiannya itu membawa aura positif terhadap diri. Baru setelah itu mengembalikan kepada yang Maha Terpuji, Allah Yang Maha Tinggi, dengan berucap Alhamdulillah. Jadi kita bisa menyerap energi positif dari pujian yang diberikan oleh orang-orang sekitar kita, dan kemudian merendah kepada Dzat yang pantas untuk diri kita merendah di hadapanNya.

Ya, sering kali kita lalai untuk bersyukur kepada Sang Pencipta kita, Penguasa Alam Semesta. Allah SWT. Ampunilah segala dosa hamba-hambamu ya Allah…

Advertisements

Sup Krim

Walaupun bisa dibilang tidak sukses, tapi Sup Krim malam ini masih dalam batas kewajaran… terasa enak dimulut dan diperut (kenyang).

kekurangannya:

  1. Aroma bawang putih ternyata tidak nyaman untuk sup. Tadi pas buat dipakein bawang putih
  2. Salah pada step awal, harusnya semua bahan gak usah ditumis, maklum amatir… langsung aja dicelupin ke kuah kaldu
  3. Kuah terlalu banyak..
  4. Pengentalan kurang mantabb.. jadinya terlalu gimana gitu…

Selain ke-4 hal diatas, semuanya OK! next eksperiment kudu berhasil… #SemangatMasak

Surat Izin Keliru

Makin banyak saja persoalan yang dizinkan di Indonesia, termasuk kekeliruan.  Dari kekeliruan relatif sampai superlatif. Jika sebuah terminal mangkrak karena salah perencanaan, itu sekedar kesalahan relatif. Menjengkelkan tetapi masih mungkin dimaaafkan.

Tetapi jika seorang penggelap pajak dengan  status tahanan kedapatan berkeliaran di tempat rekreasi, lalu membuat paspor palsu, lalu piknik ke luar  negeri, ini sungguh kesalahan superlatif. Super sekali kesalahan ini sehingga sulit membayangkan bisa dilakukan seorang diri.

Menjadi pengemplang pajak saja mustahil  sendirian. Kerumitannya mengepung dari  segenap jurusan: atas, bawah, kanan kiri, depan samping, jauh dekat. Semua harus dijinakkan. Padahal ini baru putaran pertama dari sebuah permainan. Untuk bisa keluar masuk tahanan jelas  butuh makin banyak teman. Makin jauh jarak yang harus ditempuh, makin rumit persoalan. Teman-teman baru harus dilibatkan. Jika jarak itu tidak cuma ke luar pulau tetapi malah luar negeri, jauh lebih banyak lagi teman yang dibutuhkan. Jangan lupa, masukkan pula di antara daftar teman-teman ini adalah peñata rambut palsu, pemilih kacamata, penambal gigi dan konsultan penampilan.

Jadi, betapa rumit jalan menuju sebuah paspor palsu. Di balik buku kecil  itu, tersimpan berderet-deret gerakan lintas elemen, lintas bubungan, lintas koneksi yang bekerja secara intens, separtan dan bahu-membahu. Kerapihannya mengalahkan  sistem kerja organiasasi, efektivitasnya mengalahkan birokrasi dan kepastiannya mengalahkan hukum resmi. Bayangkan jika energi seperti ini dipakai utnuk membangun negara. Tetapi apa jadinya jika energi ini dipakai untuk menegakkan kekeliruan.

Hasilnya jelas, banyak sekali kekeliruan di negeri ini begitu mulia kedudukannya, disokong dari sana-sini dan dipacak di tempat yang tinggi. Maju tak gentar membela yang bayar bersatu padu membela yang keliru adalah slogan yang mereka kibarkan sebagai  panji-panji. Akibatnya juga jelas, aneka kebenaran menjadi rendah diri. Ia minggir, menepi, tahu diri. Untuk melamar menjadi pegawai negeri, tidak cukup  lagi percaya hanya dengan modal prestasi. Di dalam benak banyak orang telah diajarkan untuk mempercayai, bahwa hukum yang sedang berjalan adalah kekeliruan. Maka cuma dengan menjadi keliru, engkau akan lancar berjalan.

Di sebuah negara, tempat kekeliruan mendapat  begitu banyak dukungan, tak sulit membayangkan jumlah ironi dan penderitaan. Itulah tempat di mana sepak bola jauh lebih seru keributannya katimbang prestasinya. Itulah negara pengimpor garam sementara tujupuluh persen wilayahnya adalah lautan. Itulah negara dengan biaya pendidikan begitu tinggi sementara kebodohan tetap berserak di sana-sini.  Terminologi pendidikan setiap kali berganti-ganti, dari murid yang simpel, menjadi peserta didik yang ribet. Dari SMA yang klasik berganti SLTA yang spekuklatif. Dari SLTA berganti SMU yang terdengar ganjil. Apaboleh buat dari SMU terpaksa kembali ke SMA karena meskipun telah berganti-ganti nama persoalan pendidikan toh tetap ada di sana, tak berubah juga. Ketika kekeliruan memiliki banyak pemuja, masyarakat yang sakit akan merasa baik-baik saja.

#Parodi Prie GS (Kolom Suara Merdeka) di ambil dari laman facebook beliau.

1 Juta Buku Untuk Anak Indonesia

171997_1826671434716_1478201194_2009681_7784298_oAdalah buku, salah-satu cara untuk mendidik generasi berikutnya. Menanamkan kepribadian, etos kerjas dan integritas. Kami memanggil siapa saja yang ingin terlibat dalam kampanye pembagian ‘1 juta buku untuk anak-anak Indonesia’. Relawan, donatur, pendukung, penonton, siapa saja yang bermimpi melihat generasi berikutnya yang lebih baik.

Bagaimana kampanye ini bekerja?

Kami akan menjadi ‘perantara’ profesional donasi kalian. Bpk Bambang, misalnya, berniat menyumbangkan 10 buah buku ‘Serial Anak2 Mamak’, maka Bpk Bambang men-transfer ke rekening kami senilai 10 buku tersebut. Kami akan membelikannya buku, memilih salah-satu sekolah (SMP & SMA) di seluruh Indonesia yang akan menerima sumbangan tersebut. Buku itu akan ditandai ‘Sumbangan Bpk Bambang’–atau sesuai permintaan donatur.

Buy One, Get One?

Benar, inilah poin penting dari program ini. Kami akan menggandakan buku sumbangan kalian. Bpk Bambang, misalnya, kami tidak hanya mengirimkan 10 buku ‘Serial Anak2 Mamak’, tapi kami akan mengirimkan 20 buku tersebut. Kami akan melibatkan penerbit, perusahaan sponsor untuk memungkinkan itu terjadi. Termasuk menanggung biaya operasional dan pengiriman buku-buku program ini. Jadi kalian sumbang 1 buku, maka kami tambahkan 1 buku lagi yang sama atas buku tersebut.

Continue reading

Virus Sepeda

London meluncurkan program baru penyewaan sepeda dengan harapan mengurangi kemacetan di ibukota Inggris itu, yang dikenal dengan kemacetan lalu lintasnya.

Berdasarkan rencana senilai 150 juta dolar itu, yang disponsori perusahaan keuangan Barclays, 6 ribu sepeda kelak akan tersedia untuk disewa di 400 stasiun di seluruh kota.

Walikota London Boris Johnson memulai program naik sepeda itu hari Jumat. Ia tiba dengan salah satu sepeda-sepeda baru itu untuk berbicara kepada media di London Eye, salah satu landmark kota London, di sebelah Sungai Thames.

Johnson mengatakan revolusi bersepeda akan membantu menangani segala macam masalah dalam masyarakat, seperti polusi, obesitas dan kemacetan.

Direktur Barclays Marcus Agius mengatakan, London bisa memperoleh manfaat dari riset perbandingan yang dilakukan di kota-kota lain yang mempunyai rencana serupa.

London meluncurkan program baru penyewaan sepeda dengan harapan mengurangi kemacetan di ibukota Inggris itu, yang dikenal dengan kemacetan lalu lintasnya.

Berdasarkan rencana senilai 150 juta dolar itu, yang disponsori perusahaan keuangan Barclays, 6 ribu sepeda kelak akan tersedia untuk disewa di 400 stasiun di seluruh kota.

Walikota London Boris Johnson memulai program naik sepeda itu hari Jumat. Ia tiba dengan salah satu sepeda-sepeda baru itu untuk berbicara kepada media di London Eye, salah satu landmark kota London, di sebelah Sungai Thames.

Johnson mengatakan revolusi bersepeda akan membantu menangani segala macam masalah dalam masyarakat, seperti polusi, obesitas dan kemacetan.

Direktur Barclays Marcus Agius mengatakan, London bisa memperoleh manfaat dari riset perbandingan yang dilakukan di kota-kota lain yang mempunyai rencana serupa.

Sumber: Republika.co.id

=============)|(==============

Virus sepeda menyerang saya dengan sangat akut. Sebenarnya baik sih, karena mengurangi ketergantungan terhadap sepeda motor yang selama ini saya pakai. Juga untuk program olahraga yang sudah lama sekali tidak dijalankan.

Selain itu untuk program masal seperti di London, sepertinya Indonesia perlu mencontohnya. Jumlah kendaraan bermotor yang beredar dikota-kota besar (ex. Jakarta) sudah tidak sepadan dengan kapasitas jalan yang ada. Jadi jangan mimpi ngurangin macet kalau kendaraan bermotor masih dibiarkan bertambah.

Salam Gowesssssssss……

Candy Expo

Sweet lovers..

Hadiri Candy Expo 2010, di Gading Serpong, Tangerang, yang akan diselenggarakan tanggal 7-17 agustus 2010. Pameran pertama di Indonesia produk candy, chocolate, ice cream, cake, bakery,snack, donuts.

Lokasi terletak di depan Mitra 10 searah ke Universitas Multimedia Nusantara, di sebelah pasar Modern Paramount Serpong.

Pameran akan diikuti lebih dari 200 stand dan 100.00 pengunjung. Harga tiket Rp 25.000,- bisa didapatkan di seluruh TB Gramedia sejabodetabek dan di pasar modern paramount. Harga tiket khusus mahasiswa dan pelajar hanya Rp 10.000,- dan hanya bisa dibeli di lokasi pameran.

Perusahaan yang terdaftar : School of Chocolate (TULIP), silverqueen, yupi jelly, mayora, walls, campina, du fountain choco, chocololy.

Di pameran akan dihadirkan air terjun coklat setinggi 6 meter, taman yang terbuat dari jelly dan lolipop, serta miniatur coklat batang, yang akan dimasukkan ke rekor MURI. Banyak games yang akan diselenggarakan seperti mandi permen, all you can eat coklat, sumpit permen, mengemut lolipop tercepat, dan lainnya.

Membina dengan CINTA

*RHENALD KASALI *
*Thursday, 15 July 2010*

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. *
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu
telah diberi Nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali.
Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya
dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan
itu buruk, logikanya sangat sederhana. *

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan
diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai?
Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi
nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes,
ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.*

*Budaya Menghukum*

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.
Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap
simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang
Anak-2nya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit
memberi nilai.
Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk
merangsang

Orang agar maju. Encouragement! ” Dia punmelanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak
sebesar itu, baru tiba dari Negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris,
saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan
berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat
pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut
ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan Study Saya yang bergelimang
nilai “A”, dari Program Master hingga Doktor. Sementara di Indonesia, saya
harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman “Drop out dan Para
Penguji yang siap Menerkam”. Saat ujian program doktor saya pun dapat
melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar
siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya
dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan
jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik grafik yang
saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan.
Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “Menelan” mahasiswanya yang
duduk di bangku ujian. *
Etika seseorang Penguji atau Promotor membela atau meluruskan pertanyaan,
Penguji Marah-marah, Tersinggung, dan Menyebarkan berita tidak sedap
seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami
Frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang
maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan
“Encouragement, melainkan Discouragement” .

Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya
tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan
juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana
guru-2 di Amerika berusaha “Memajukan Anak Didiknya”. Saya berpikir pantaslah
Anak-anak di sana mampu menjadi penulis Karya-karya ilmiah yang hebat,
bahkan penerima “Hadiah Nobel”.
Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan
Karakternya sangat kuat: “Karakter yang membangun, Bukan merusak”.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah
kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di
depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk
verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun
rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang
mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah
memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah
telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak
saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di
tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia
pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi
saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang
berbeda.

*Melahirkan Kehebatan*

Bisakah kita mencetak Orang Orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan
rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah Bagian dari Generasi yang dibentuk
oleh
sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur,
dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan
seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…;
Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas
kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi
lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan
mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak
statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang
didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia
dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan,
ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.*
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan
ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan
menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)