kesurupan (1): meeeting point dan kemacetan

Ini adalah kisah perjalanan sekelompok manusia yang menyebut kelompoknya dengan Ngeteng-Mania. Perjalanan penaklukan puncak Jawa Tengah, Gunung Slamet.

*******

Terminal Kampung Rambutan, tempat datangnya ribuan penumpang yang akan meninggalkan jakarta dan kota-kota di sekitarnya, ramai selalu, hiruk pikuk menanti kedatanganku dan rombongan. Segala jenis kendaraan memenuhi seluruh sudut terminal ini. Bus dan angkutan kota silih berganti keluar masuk terminal menaik-turunkan penumpang.

Aku dan adikku meninggalkan Pasar Jum’at bersama 2 orang temanku menuju terminal kampung rambutan. Taxi yang sedang berhenti kami naiki. Taxi putih dengan reputasi yang lumayan baik, Express. Dengan harapan supaya lebih cepat sampai, karena hari sudah cukup sore.

Adiku (perempuan) duduk di depan, sedang aku dan kedua temanku duduk dibelakang. Baru saja berjalan, kami sudah disambut kemacetan. Biasa saja. Daerah ini (Ps. Jum’at – Lb. Bulus) memang selalu begitu. Dengan harapan lebih cepat lagi sampai, kami memutuskan untuk masuk pintu tol Ciputat. Terminal Kp. Rambuatan hanya berjarak 11.8 km dari Lb. Bulus.

Kemacetan malah semakin menjadi-jadi ketika kami sudah masuk tol. Ribuan kendaraan berjubel didalam tol, saling berebut jalur untuk sampai paling pertama ditujuan masing-masing. Lampu-lampu kendaraan saling sorot, menerangi jalur yang basah tertimpa hujan. Bunyi klakson kendaraan sahut-menyahut memekanan telinga. Kebanyakan kendaraan pribadi ber-plat B yang (mungkin) hendak keluar kota mengisi libur akhir pekan.

Hari sudah mulai gelap. Taxi masih saja tersendat, bukan karena beban yang berat. Tapi memang jalanan masih macet. Tapak di samping tol jalanan umum sangat menggoda. Kendaraan lalu-lalang dengan cukup lancar, kontras dengan yang kami alami di dalam tol. Godaan untuk pindah jalur tidak kami pedulikan. Dengan harapan macet segera sirna berganti perjalanan yang lancar jaya.

“tetap istiqomah pak” kataku kepada pak sopir yang mungkin sudah mulai galau. “semoga sebentar lagi lancar”. Perjalanan kami sudah hampir memakan waktu satu jam, tapi kami baru sampai di sekitaran Cilandak. Bunyi handphoneku sudah mulai sering terdengar, pertanda SMS masuk. Beberapa kawan rombongan ternyata sudah ada yang sampai di meeteng point. Masjid terminal Kp. Rambuatan.

Perjalanan dalam tol tidak juga berubah, macet makin menjadi-jadi. Kami hanya pasrah. Untuk mengisi kepasrahan, kami mencoba mangakrabkan diri (kembali) dengan obrolan-obrolan ringan seputar kemacetan.

“Ku kabulkan satu permintaanmu” kataku kepada kawan-kawan mengikuti salah satu dialog iklan rokok yang gampang sekali terrekam dalam memori setiap yang endengarnya. “Semua mobil pribadi hilang dari muka bumi” adikku spontan menjawab dari kursi depan. “heh, nanti bapakmu di rumah kelabakan dong, tetiba mobil digarasi lenyap?” timpalku di barengi grrrrr dari kami.

“coba kalo orang-orang yang punya mobil ini mengikuti saran ustadz YM, mungkin jalanan akan sedikit lebih lancar” kataku, “sedekah mobil”. “wah, bahaya itu, jalanan akan tambah macet lagi, bayangkan sedekah mereka di ganti 10 kali lipat saja. kalo yang sedekah mobil 1000 orang. akan nambah 10.000 mobil di jalanan. tambah macet bro” sanggahan temanku yang duduk di tengah, disebelahku. Jawaban yang tentunya hanya guyon, mengusir penat. hampir dua jam kami tertahan dalam taxi ditengah kemacetan jalan tol.

Teman-teman rombongan sudah hampir semua kumpul di meeteng point. kami pun sudah hampir sampai disana. Jalanan lancar kami temukan menjelang keluar dari tol.

tak berapa lama pun kami sampai di depan masjid kampung rambutan. bersamaan dengan itu telepon dari pihak bus masuk ke hp-ku. ternyata waktu sudah menunjukan pukul 19.30. sesuai dengan jadwal keberangkatan yang tertera pada lembar tiket.

“mas, sudah di mana?” tanya mba dari pihak bus. “ini sudah di terminal, segera menuju ke loket mba” jawabku. semua rombongan pun segera bergegas, sambil mengecek barang dan rombongan. Kami segera berjalan ke dalam terminal. ternyata masih 3 orang dari rombongan kami yang masih berlum bergabung, masih dalam perjalanan.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s