Surat Izin Keliru

Makin banyak saja persoalan yang dizinkan di Indonesia, termasuk kekeliruan.  Dari kekeliruan relatif sampai superlatif. Jika sebuah terminal mangkrak karena salah perencanaan, itu sekedar kesalahan relatif. Menjengkelkan tetapi masih mungkin dimaaafkan.

Tetapi jika seorang penggelap pajak dengan  status tahanan kedapatan berkeliaran di tempat rekreasi, lalu membuat paspor palsu, lalu piknik ke luar  negeri, ini sungguh kesalahan superlatif. Super sekali kesalahan ini sehingga sulit membayangkan bisa dilakukan seorang diri.

Menjadi pengemplang pajak saja mustahil  sendirian. Kerumitannya mengepung dari  segenap jurusan: atas, bawah, kanan kiri, depan samping, jauh dekat. Semua harus dijinakkan. Padahal ini baru putaran pertama dari sebuah permainan. Untuk bisa keluar masuk tahanan jelas  butuh makin banyak teman. Makin jauh jarak yang harus ditempuh, makin rumit persoalan. Teman-teman baru harus dilibatkan. Jika jarak itu tidak cuma ke luar pulau tetapi malah luar negeri, jauh lebih banyak lagi teman yang dibutuhkan. Jangan lupa, masukkan pula di antara daftar teman-teman ini adalah peñata rambut palsu, pemilih kacamata, penambal gigi dan konsultan penampilan.

Jadi, betapa rumit jalan menuju sebuah paspor palsu. Di balik buku kecil  itu, tersimpan berderet-deret gerakan lintas elemen, lintas bubungan, lintas koneksi yang bekerja secara intens, separtan dan bahu-membahu. Kerapihannya mengalahkan  sistem kerja organiasasi, efektivitasnya mengalahkan birokrasi dan kepastiannya mengalahkan hukum resmi. Bayangkan jika energi seperti ini dipakai utnuk membangun negara. Tetapi apa jadinya jika energi ini dipakai untuk menegakkan kekeliruan.

Hasilnya jelas, banyak sekali kekeliruan di negeri ini begitu mulia kedudukannya, disokong dari sana-sini dan dipacak di tempat yang tinggi. Maju tak gentar membela yang bayar bersatu padu membela yang keliru adalah slogan yang mereka kibarkan sebagai  panji-panji. Akibatnya juga jelas, aneka kebenaran menjadi rendah diri. Ia minggir, menepi, tahu diri. Untuk melamar menjadi pegawai negeri, tidak cukup  lagi percaya hanya dengan modal prestasi. Di dalam benak banyak orang telah diajarkan untuk mempercayai, bahwa hukum yang sedang berjalan adalah kekeliruan. Maka cuma dengan menjadi keliru, engkau akan lancar berjalan.

Di sebuah negara, tempat kekeliruan mendapat  begitu banyak dukungan, tak sulit membayangkan jumlah ironi dan penderitaan. Itulah tempat di mana sepak bola jauh lebih seru keributannya katimbang prestasinya. Itulah negara pengimpor garam sementara tujupuluh persen wilayahnya adalah lautan. Itulah negara dengan biaya pendidikan begitu tinggi sementara kebodohan tetap berserak di sana-sini.  Terminologi pendidikan setiap kali berganti-ganti, dari murid yang simpel, menjadi peserta didik yang ribet. Dari SMA yang klasik berganti SLTA yang spekuklatif. Dari SLTA berganti SMU yang terdengar ganjil. Apaboleh buat dari SMU terpaksa kembali ke SMA karena meskipun telah berganti-ganti nama persoalan pendidikan toh tetap ada di sana, tak berubah juga. Ketika kekeliruan memiliki banyak pemuja, masyarakat yang sakit akan merasa baik-baik saja.

#Parodi Prie GS (Kolom Suara Merdeka) di ambil dari laman facebook beliau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s