Episode 41: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Kita Pontianak!

“Kenapa wajah kau sedih macam induk beruang kehilangan anak?” Aku nyengir, duduk sembarang di antara tumpukan mesin rusak, ban motor dan sebagainya.

“Memangnya kau pernah lihat induk beruang?” Andi menatapku datar—sebenarnya sebal tiba-tiba melamunnya diganggu.

“Belum, sih.” Aku menggaruk kepala.

“Nah, bagaimana kau tahu tampang beruang lagi sedih? Sok tahu.”

Aku menahan tawa, “Itu kan sekadar istilah, pemanis kalimat, Kawan. Biar asyik ngobrolnya. Jarang-jarang orang ngobrol pakai peribahasa. Coba kalau semua orang bicara seperti Pak Tua, kaya dengan perumpamaan, penuh kiasan, lebih damai rasanya. Sekarang orang malah suka disingkat-singkat, langsung pada maksud, terkadang kasar.”

“Terserah kaulah.” Andi tidak berselera, sembarang melempar kunci nomor 12.

“Bagaimana kemajuannya? Motornya sudah beres?” Aku mendekat.

Andi mengangkat bahu, “Semakin rungsing.”

Aku benaran tertawa, melihat tampang masam Andi. Sudah dua hari dia berkutat dengan motor rusak yang sama, “Itulah tabiat buruk kau. Bagaimana mungkin selesai masalahnya kalau sedikit-sedikit dibuat pusing. Sedikit-sedikit kesal, mudah menyerah. Ayolah, bergembiralah sikit, montir itu pekerjaan yang menyenangkan.”

Andi tidak menjawab, menyumpal mulut.

“Sini biar kubereskan.” Aku beranjak mengambil obeng yang terserak di sebelah Andi. “Tenang saja, aku tidak akan bilang bapak kau kalau telah membantu.”

Andi tidak membantah seperti kemarin. Bapak Andi belakangan memang sering uring-uringan padanya, motor itu sengaja diserahkan sepenuhnya pada Andi, pesannya satu: jangan dibantu, biarkan saja dia berusaha sendiri.

Lima belas menit berlalu tanpa terasa, tanganku kotor terkena oli motor.

Gang sempit tepian Kapuas sepi dari pejalan kaki atau motor yang lewat.

“Kenapa kau mau-maunya belajar jadi montir?” Andi bertanya, memecah senyap.

Aku menoleh, menyeka dahi dengan belakang telapak tangan, bukankah ini seru?

“Apanya yang seru? Tidak ada masa depan jadi montir. Lihatlah, bapakku sudah dua puluh tahun punya bengkel, hanya begini-begini saja jadinya. Dan dia terus memaksaku melanjutkan bengkel tua, jelek dan kotor macam pembuangan sampah ini.”

Aku menyeringai, “Setidaknya, lebih tidak ada masa depan kalau hanya jadi pengemudi sepit, Kawan.”

Andi terdiam. Meraih kunci nomor 12 yang dia lempar tadi.

“Aku tidak suka jadi montir.”

Aku nyengir, “Lah, lantas kau mau jadi apa?”

Andi menggaruk kepala, sedikit ragu-ragu, “Aku ingin punya toko besar seperti koh-koh China di pasar Pontianak. Luasnya tak berbilang, penuh onderdil, peralatan, semuanya, serba canggih. Karyawan toko belasan, hilir-mudik membantu pembeli, mobil box datang bergantian mengantarkan pesanan, terkenal di seluruh Pontianak.”

“Bukan main.” Aku benar-benar menghentikan gerakan tangan memperbaiki motor, menatap Andi, “Nah, kalau semua sudah dikerjakan pegawai, kau sendiri mengerjakan apa di toko itu?”

“Menghitung uang-lah. Cengklang! Sekian ratus ribu masuk laci. Cengklang! Sekian belas ribu jadi kembalian. Cengklang! Beli ini, beli itu. Cengklang! Macam Kokoh China itu-lah.”

“Haiya, Kawan, kalau begitu, siapa pula yang tidak mau?” Aku tertawa, “Kau mau cepat jadi seperti itu? Bantu saja Koh Acung di toko kelontongnya. Beli laci uang yang bisa bunyi cengklang! Cengklang! Beres.”

Andi menatapku sebal, kembali menunduk, sibuk memainkan kunci nomor 12.

“Kau habis dimarahi bapak kau lagi?” Aku bertanya, agak menyesal telah tertawa.

Andi tidak menjawab.

“Aku paling tidak tahan melihat wajah kau macam pengungsi perang seperti ini, Andi. Kusut, terlipat empat. Ayolah, bergembiralah sedikit.”

Andi tetap menunduk, tidak menanggapi.

Aku sembarang melempar obeng, beranjak duduk di depannya, “Pak Tua selalu bilang padaku, sepanjang kau punya rencana, maka jangan pernah berkecil hati, Borno…. Aku dulu tidak suka dengan kalimat itu, itu hanya kalimat hiburan. Apalah yang diharapkan dari kita ini? Hanya lulus SMA. Modal tak punya, keahlian tak ada, kesempatan minus, jaringan nol, yang tersisa cuma mimpi, cita-cita…. Dulu aku bermimpi bisa kuliah sambil bekerja, lihat, sudah tiga tahun sejak lulus SMA, hanya itu-itu saja kemajuan mimpiku. Jadi pengemudi sepit, penghasilan pas-pasan. Sementara lihat teman-teman SMA kita dulu, sibuk dengan kuliah mereka, sibuk dengan masa depan. Ada yang hendak jadi PNS, ada yang mau jadi karyawan swasta necis.”

“Bukan hanya kau, Andi, aku juga sering berpikir, sepuluh tahun lagi, jangan-jangan mereka semakin jauh di depan, sedangkan kita semakin jauh tertinggal. Terus-terang saja, aku tidak mencemaskan soal mereka punya rumah, punya mobil, hidup hebat, tidak. Tetapi aku lebih mencemaskan jangan-jangan sepuluh tahun lagi Borno tetap jadi seorang pengemudi sepit. Nasibku sama seperti Bang Jau, Jupri, dan yang lain. Dari kecil sudah jadi pengemudi sepit. Bang Togar masih lumayan, dia pernah bertualang ke hulu Kapuas, punya masa muda yang berbeda. Pak Tua apalagi, menjadi pengemudi sepit hanya hobi, bahkan kupikir dia amat menikmatinya setelah berpuluh-puluh tahun berkeliling dunia, kaya meski hidupnya sederhana. Sedangkan aku? Tidak ada hal hebat yang pernah kulakukan.

Andi perlahan mengangkat kepala.

“Sepanjang kau punya rencana, maka jangan pernah berkecil hati…. Kau tahu, aku dulu tidak mengerti maksud kalimat itu. Hari ini aku paham benar maksudnya. Nah, tadi kau bertanya, kenapa aku mau-maunya jadi montir? Aku punya rencana, Kawan. Tidak besar, juga tidak hebat, tapi rencana ini lebih dari cukup untuk mengusir jauh-jauh perasaan rendah diri, kecil hati itu. Aku memang tidak kuliah, dan mungkin tidak akan pernah berkesempatan kuliah, tetapi enam bulan terakhir aku membaca lebih banyak buku tentang mesin dibanding mahasiswa tahun terakhir. Kita memang tidak punya modal, tapi itu gampang, pasti ada jalan keluarnya. Kita juga tidak punya jaringan, kenalan, tapi itu bisa dibangun perlahan-lahan. Jangan bilang bengkel ini tidak ada masa depannya, Andi. Tentu Bapak kau marah besar, tersinggung, bengkelnya dibilang tempat sampah. Bukankah nafkah keluarga kau dari bengkel ini, selain jualan jengkol dan sebagainya itu. Aku pun tersinggung mendengarnya.

Andi diam, menatapku lamat-lamat.

“Percayalah,” Aku menepuk bahu Andi, “Sepanjang kita punya mimpi, cita-cita yang lantas dikongkritkan dengan sebuah rencana yang walau kecil tapi masuk akal, maka tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datang menganggu pikiran. Dan ingat ini, seandainya kau tidak punya rencana itu, kau gagal melaksanakan rencana kau itu, kau tenang saja, rencanaku cukup besar untuk kita berdua. Masa depan yang lebih baik. Masa depan kita yang lebih cerah.”

Aku membalas tatapan Andi dengan ekspresi wajah mantap, meyakinkan.

Andi menelan ludah, “Ini horor, Borno.”

“Horor apanya?” Dahiku terlipat, bingung.

“Lama-lama kau mirip Pak Tua. Ini menakutkan.”

***

Sial, atas nasehat dan petuahku yang bernas dan hebat itu, Andi justeru membalas memberikan nasehat dan petuah yang membuatku malu tidak kepalang.

Selepas mood-nya membaik, kuceritakan pada Andi soal masalah pertemuanku dengan Mei sebulan terakhir, bertemu 15 menit, menunggu 23 jam 45 menit. Andi, tidak seperti jamak mentertawakan, manggut-manggut takjim, lantas dengan wajah bersimpati bilang, “Itu mudah, Kawan. Mudah saja.” Wajahku langsung cerah, astaga, apakah Andi benar-benar punya cara baik agar frekuensi dan waktu pertemuanku dengan Mei jadi meningkat.

“Besok hari Sabtu, bukan? Nah, besok pagi-pagi, saat di atas sepit, kau ajak si sendu menawan kau itu jalan-jalan keliling Pontianak. Mau sekolah silat, sekolah debus, apalagi sekolah SD, SMP, semua libur hari minggu, ajaklah dia lusa besok. Seharian penuh, beranjangsana naik perahu tempel, berdua saja. Alamak, pastilah romantis dan eksotis.”

Jenius! Aku bersorak dalam hati, benar sekali, kenapa aku tidak terpikirkan tentang itu. Dulu waktu di Surabaya, Mei juga pernah bilang, nanti giliran Bang Bonro yang menemani Mei keliling Pontianak. Tetapi, aku segera meneguk ludah, menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Kenapa? Ada masalah lain?” Andi bertanya.

“Bagaimana caranya?”

“Caranya? Apa susahnya? Tinggal jalan-jalan berdua. Perlu kukasih tips pula?” Andi macam konsultan percintaan, mengangkat bahu, memasang gaya norak.

“Bukan jalan-jalannya, tapi bagaimana cara mengajaknya. Bagaimana bilang padanya di atas sepit?” Aku menyeringai kecut. Itu tidak mudah, bukan? Mei, maukah kau besok jalan-jalan bersamaku? Tidak mau. Mei, eh, cerah sekali pagi ini, besok sepertinya juga cerah, maukah kau pergi bersamaku? Tidak mau. Mei, besok kau libur, kan? Yuk, jalan-jalan. Tidak mau. Bagaimana kalau jawaban Mei hanya itu? Mau ditaruh di mana mukaku.

Andi tertawa kecil (lagi-lagi bukan mentertawakan, tapi macam tawa dukun sakti yang ditanya masalah remeh, cara ngupil misalnya), “Itu mudah, Kawan. Tentu saja, sebelum kau ajak dia, sebelum kau pepet dia dengan permintaan itu, kau harus mengondisikan terlebih dahulu. Pasang skenario dua lapis, nah, lantas barulah skak-mat, pasti sukses, gadis manapun tidak akan bisa menolak.”

Aku terpesona. Masuk akal, penjelasan Andi berikutnya kutelan mentah-mentah.

***

Esok hari, di atas sepit yang melaju (lambat)—sengaja kulambatkan karena aku butuh waktu lebih lama, sampai Ibu-Ibu yang sering naik sepitku melotot, protes, aku mengangkat bahu, “Propeler-nya lagi agak ngadat, Bu. Jadi sepitnya tak bisa cepat-cepat. Ayolah jangan protes, nanti malah mati sekalian di tengah Kapuas.” Ibu-ibu itu diam, jerih membayangkan perahu mengapung macam sabut kelapa di Kapuas yang mengalir deras.

Saat sepit sudah sepelemparan batu meninggalkan dermaga, aku mulai dengan skenario pertama: semua wanita suka cokelat.

“Aku punya hadiah buat kau?” Aku memasang wajah senormal mungkin.

“Hadiah? Sungguh?” Mata Mei membesar, wajahnya riang.

Beberapa hari lalu dia memberiku buku sejarah tentang mesin, masih terbungkus rapi dari toko. Dihubungkan dengan saran ‘Master Cinta’ Andi kemarin sore, maka aku bisa mengarang kalimat berikut, “Hitung-hitung membalas hadiah Mei. Tak enak rasanya hanya menerima. Tak lengkap jika tidak dipasangkan dengan memberi.”

“Aih, Bang Borno sudah macam pujangga.” Mei tertawa renyah, memperbaiki anak rambut, “Mana hadiahnya, Bang?” Antusias.

Aku agak gugup mengeluarkan bungkusan dari saku baju.

“Ini apa?” Mei tidak sabaran.

“Buka saja.” Aku menelan ludah—aku membelinya di toko perempatan besar kota, sengaja memilih yang paling pas, paling menarik, dibungkus dengan kertas terbaik.

“Ini cokelat, ya?” Mei bingung.

“Eh, kau tidak suka?” Aku cemas.

“Sebenarnya suka, Bang.” Mei nyengir, menghela nafas pelan, “Tetapi Mei kan mengajar anak kelas 1 SD. Seminggu ini kami belajar tentang kesehatan mulut, mengundang dokter gigi ke sekolah. Mei bahkan memasang wajah galak agar mereka tidak makan cokelat, permen, gula-gula. Dan ini ternyata cokelat—”

Lima belas detik terdiam.

“Ma-af.” Aku jadi salah-tingkah—sambil mengutuk Andi dalam hati.

“Mei yang harusnya minta maaf. Aduh, harusnya Mei tidak usah bawa-bawa soal sekolah. Abang pasti sudah bela-belain beli cokelat seperti ini, terima-kasih. Nanti bisa Mei kasihkan ke siapalah, biar tidak mubazir, boleh ya?” Mei memasukkan cokelat itu ke dalam tas, berusaha kembali riang.

Aku patah-patah mengangguk. Nasib! Sudah dibela-belain beli, menghabiskan penghasilan narik dua hari, ternyata tidak dimakan Mei.

Sepit terus melaju, diam-diaman lagi, waktuku tinggal lima menit, harus bergegas.

Baiklah, saatnya mengeluarkan skenario kedua: semua wanita suka dipuji cantik.

Aku berdehem-dehem.

Mei mengangkat kepalanya.

“Ada apa, Bang?”

Aku pura-pura batuk kecil.

“Abang sakit batuk?”

Aku menggeleng. Diam sejenak. Waktuku tinggal 4 menit, 30 detik.

“Ibu Mei dulu pastilah cantik, ya?” Kalimat itu akhirnya meluncur setelah dipaksa-paksa.

“Bagaimana Abang tahu?” Mei menatapku.

“Eh, eh,” Aku menelan ludah, “Karena Mei juga cantik.” Alamak, itu kalimat paling ajaib yang pernah kuucapkan selama ini.

Cemas karena waktuku semakin sempit, akhirnya aku nekad menuruti semua skenario dialog yang disiapkan Andi kemarin, “Pasti berhasil, Kawan, yakinlah. Kujiplak dari film India. Luar biasa dampaknya, macam buruk ditembak jatuh, kelepak-kelepak.” Belum lagi saat Andi menambahkan, “Kalau kau ingin mendapatkan hati seorang gadis, maka dekatilah Ibunya, puji Ibunya, ramah dengan Ibunya, urusan akan lebih mudah. Ayahnya pun akan ikut takluk.”

Di atas sepitku, ternyata dampaknya berbeda.

Mei hanya diam, menghela nafas perlahan, “Terima-kasih sudah bilang Ibu cantik, Bang.”

“Kenapa? Ucapanku ada yang keliru, ya?” Aku bertanya cemas.

“Beliau sudah meninggal lima tahun lalu, Bang. Abang benar, wajahnya bahkan masih terlihat cantik meski sudah pergi selama-lamanya.”

Aku mematung, menatap wajah sedih Mei. Astaga, apa yang telah kulakukan?

“Ma-af.”

Mei menggeleng perlahan, “Harusnya Mei yang minta maaf, Bang. Membawa-bawa masa lalu. Ohya, terima-kasih sudah bilang Mei cantik.” Gadis itu berusaha riang.

Dasar Andi sialan! Semua sarannya berakhir seratus delapan puluh derajat dari tujuan. Tepi Kapuas semakin dekat, 15 menit waktu berhargaku musnah tak berguna, sepit akhirnya merapat ke bibir steher. Penumpang berloncatan turun, “Kau perbaiki segera sepit kau, Borno. Atau aku malas naik lagi. Macam naik kura-kura saja, lambatnya minta ampun.” Ibu-ibu yang tadi protes berseru kencang.

Aku hanya mengangguk, dari tadi menatap lamat-lamat Mei yang memasang tas besar penuh buku.

“Abang besok narik?”

Aku mengangguk.

“Oh Mei kira abang libur.”

Aku menggeleng.

“Padahal kalau abang libur, siapa tahu mau menemani Mei keliling Pontianak. Besok Mei libur mengajar, daripada bengong di rumah.” Gadis itu menatapku, tersenyum.

Aku hampir terjengkang dari buritan sepit, apa dia bilang? “Libur, Mei! Aku bisa libur narik.” Bergegas meng-anulir kalimatku sebelumnya.

“Jangan dipaksakan, Bang. Abang bisa menemani Mei saat abang libur saja.” Mei menggeleng.

Aku memasang wajah sungguh-sungguh, “Justeru itu, kalau tidak dipaksakan, mana ada pengemudi sepit yang libur. Besok aku temani Mei keliling pontianak, bila perlu aku ajari mengemudikan sepit ini. Mau?” Aku menepuk-nepuk BORNEO.

Mei tertawa renyah, “Baiklah. Besok pukul sembilan di dermaga?”

“Sepakat.” Aku menjawab mantap.

Dasar Andi sialan, ternyata aku tidak perlu semua saran kacaunya untuk mengajak Mei jalan-jalan besok. Hanya perlu bersabar, dan semua skenario baik itu tercipta sendiri. Bukankah Pak Tua pernah bilang, ah, cinta, selalu saja misterius, jangan dipaksakan, jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s