Episode 40: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Kita Pontianak!

Amboi, aku kehabisan kata. Jangan tanya sepitku, langsung meliuk kembali ke bibir steher, tidak peduli seruan kaget dan protes sebal penumpang yang hampir jatuh ke air. Aku mendongak menatap Mei, yang walau ngos-ngosan tetap tersenyum manis bukan kepalang.

“Nah, akhirnya kutemukan kau di sini, Borno.”

Eh? Kenapa suara Mei jadi berat?

Aku menutupkan telapak tangan di dahi, berusaha melihat lebih baik, matahari membuat silau.

Itu bukan suara Mei, itu suara Bang Togar, dia tertawa lebar, wajahnya macam menang lotere berhadiah sebuah jembatan Kapuas, tiba-tiba sudah berdiri di sebelah petugas timer, dan di depan Mei.

“Aku cari kau kemana-mana, Borno.” Bang Togar loncat ke atas perahu—sebelum Mei melakukannya. Bang Togar tidak segera duduk, dia jongkok, lantas menarik lenganku agar berdiri.

Sial, aku yang masih kaget, terkejut, terkesima, terpana, terpukau, mematung (menilik permainanku dengan Andi dulu, entah ada berapa belas sinonim kata untuk menunjukkan perasaanku saat ini), tidak sensitif, tidak cepat bereaksi atas apa yang akan dilakukan Bang Togar. Tubuh besar itu sudah memelukku erat sekali, macam pasangan kekasih yang lama tidak berjumpa. Bang Togar mencium pipiku, mencium keningku, mengacak-acak rambutku, menepuk-nepuk bahuku, tidak peduli sepit jadi oleng kiri-kanan. Membuat penumpang tambah berseru-seru sebal.

“Aku minta maaf, Borno.” Bang Togar mengatakan kalimat itu dengan suara bergetar, menyeka ujung mata, berkaca-kaca, “Aku minta maaf atas semua perangai burukku selama ini. Kau tahu, selain pada Unai dan dua anak-anakku, kau berada di urutan pertama orang yang paling sering kuzalimi. Lihat, jamban itu, tega sekali aku setahun lalu menyuruh kau menge-catnya. Menyuruh kau menyiramnya pagi, siang dan sore. Membentak-bentak macam sedang memarahi romusha, padahal Ibu kau sendiri tidak pernah membentak dan menyuruh kau membersihkan kakus. Tak kurang pula kuhina kau bagai anak tidak tahu diri, anak tidak tahu untung. Maafkan abang kau ini, Togar.”

Dan, astaga, sekali lagi Bang Togar memeluk badanku, mencium pipi, kening, mengacak-acak rambut, menepuk-nepuk bahu, tidak peduli dua penumpang sudah turun dari sepit—sambil mengomel panjang lebar, bilang mau pindah ke sepit lain saja. Petugas timer tidak bisa mencegah, dia sendiri sibuk, setengah menahan tawa, setengah bingung, menonton kejadian di atas perahuku. Apalagi Mei, yang keduluan sepersekian detik menyapa dan loncat ke perahu, mata sipitnya membesar, dahinya terlipat (masih ngos-ngosan). Entah apa yang ada di pikiran Mei melihatku dicium-cium Bang Togar, tangannya terjulur, hendak memisahkan, wajahnya bingung.

“Tak kurang di warung makan Tulani, Acung, rumah Pak Tua, dermaga ini, rumah sakit, polres, di mana-mana, aku selalu menganggap kau remeh, Borno. Tak sekalipun aku membanggakan kau. Dan lihatlah, apa balasannya? Kau justeru orang yang paling sering membezukku di penjara setelah Unai dan anak-anakku. Kau ringan kaki mengantar Pak Tua, Ibu kau, siapa saja di sepanjang gang kita yang ingin membezukku. Kau bahkan menemaniku saat bertemu bapak Unai yang sakti itu…. Maafkan abang kau ini, Borno. Sungguh maafkan.”

Dan, sekali lagi Bang Togar seperti hendak menangis memeluk badanku.

Kali ini aku bereaksi, aku menahan dada Bang Togar, buru-buru mengangguk, memasang wajah serius, “Iya, Bang, aku maafkan. Sudah kumaafkan jauh-jauh hari malah.”

Gerakan tangan Bang Togar terhenti, dia memegang bahuku, terpana, menatapku sejenak, “Ya Tuhan, dengarlah.” Bang Togar menoleh ke petugas timer, “Dia bahkan sudah memaafkanku jauh-jauh hari. Dia…. Aku merasa amat bersalah, Borno. Kau benar-benar anak yang baik.” Suara Bang Togar semakin serak, lantas tanpa bisa kulawan, tubuh tinggi-besar itu sudah memelukku erat-erat ketiga-kalinya.

Aduh, rumit nian masalah ini. Aku mengutuk dalam hati, bagaimana aku menghentikan kelakuan aneh Bang Togar, menggeliat berusaha melepaskan pelukan Bang Togar. Pengemudi lain sibuk tertawa—apalagi Jauhari, dia memukul-mukul pinggir perahunya, terpingkal-pingkal. Penumpang lain menoleh, berbisik satu sama-lain, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

“Cukup, Bang Togar. Cukup!” Petugas timer akhirnya melibatkan diri, berusaha menarik tangan Bang Togar.

Yang ditarik menoleh, akhirnya melepas pelukan, sibuk menyeka mata, “Kau tahu, Sambas, anak ini, Borno, adalah anak paling berhati mulia sepanjang tepian Kapuas. Anak yang paling kubanggakan, bukan karena bapaknya mati mendonorkan jantung, tapi karena dia mewarisi seluruh kebaikan itu. Hulu Kapuas, hilir Kapuas, tak ada yang sebaik anak muda ini.”

“Iya, Bang. Iya.” Petugas timer masih dengan sisa tawanya, berusaha serius, “Tetapi anak paling berhati mulia sepanjang tepias Kapuas ini harus narik sepit. Lihat, penumpangnya kabur semua.”

Bang Togar seperti baru siuman dari pingsan, melihat sekitar, terkaget-kaget, menepuk jidat, “Ah iya, astaga, apa yang telah kuperbuat, aku sekali lagi menganggu kau, Borno. Alangkah kurang ajar abang kau ini, membuat sepit kau kosong-melompong. Maafkan aku—“

“Aku maafkan, Bang. SUNGGUH!” Aku bergegas berkata tegas, “Tetapi aku harus narik, Bang. Bisa dilanjut nanti-nanti?”

Bang Togar mengangguk-angguk, menyeringai, “Iya, iya, baiklah. Kalau begitu, aku kembali ke steher. Terima-kasih banyak, Borno.” Tubuh tinggi besar itu loncat ke dermaga kayu.

Tinggallah aku yang berdiri salah-tingkah membalas tatapan penumpang dan pengemudi lain, mengangkat bahu, menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Boleh aku naik sekarang?” Mei bertanya ragu-ragu pada petugas timer.

“Silahkan. Silahkan.” Petugas timer buru-buru menyingkir, memberi jalan.

Mei gesit loncat ke atas sepit, duduk di papan melintang dekat buritan, tersenyum kepadaku (yang sudah duduk kembali dan bersiap memegang tuas kemudi).

“Woi!! Separuh ke sini, naik ke sepit Borno.” Petugas timer segera berteriak, membuyarkan kerumunan penumpang yang menonton, “Ayo, semua naik. Bergegas, terlambat sekolah, telat ngantor jangan salahkan sepit.”

Perahu tempelku segera penuh.

“Nah, silahkan berangkat, Borno.” Petugas menepuk ujung perahuku, mengedipkan mat, “Hati-hati, Kawan, penumpang spesial kau sudah duduk rapi.”

Aku balas menyeringai, perlahan menarik pedal gas.

***

Setidaknya ada satu hikmah tersembunyi atas kelakuan norak, ganjil bin aneh Bang Togar tadi. Rasa gugup setiap kali bertemu Mei dikalahkan rasa jengah dan malu jadi tontonan massal. Hei, aku bisa tersenyum normal pada Mei, balas menatapnya, sepit sudah meluncur di permukaan Kapuas.

“Abang lihat apa?” Mei nyengir, berseru berusaha mengalahkan suara mesin dan gelembung air.

“Tidak lihat apa-apa.” Aku balas nyengir.

Kami tertawa satu sama lain.

“Apa kabar, Bang?” Mei bertanya.

“Buruk.” Aku pura-pura memasang wajah buram, “Siapapun yang habis dipeluk-peluk Bang Togar pastilah buruk kabarnya.”

Mei tertawa riang, memperbaiki anak rambut di dahi.

“Kau apa kabar?” Aku berseru, bertanya riang. Hei, barusan aku ternyata bisa bergurau dengan Mei, tidak grogi, tidak malu-malu.

“Buruk.” Mei ikut memasang wajah masam.

Eh, aku melipat dahi, buruk apanya? Dia terlihat sehat wal’afiat. Cerah wajahnya mengalahkan cerah kota Pontianak pagi ini, sungguh.

“Siapapun yang habis menonton dua laki-laki dewasa saling berpelukan, berciuman di tempat terbuka, pastilah buruk kabarnya, bukan?” Mei mengangkat bahu, nyengir, lantas tertawa.

Aku ikut tertawa, “Enak saja. Berpelukan itu kalau aku ikut memeluknya. Bang Togar saja yang belingsatan…. Begitulah, dia baru saja dibebaskan dari penjara.”

Topik itu lantas menjadi bahan pembicaraan kami hingga sepit merapat di dermaga kayu seberang. Penumpang melipat payung, meletakkan lembaran uang di dasar perahu, berdiri, bersiap loncat ke steher. Alamak, aku sungguh berharap lebar Kapuas itu seperti selat Karimata. Jadi aku bisa berbincang dengan Mei lebih lama. Tetapi baru sepuluh menit sudah mentok, sepitku sudah merapat. Mei bergegas berdiri, menyandang tas besar penuh buku.

“Senang bertemu Bang Borno lagi.” Dia menyeringai, iseng, “Anak muda paling baik hatinya sepanjang tepian Kapuas.” Dia tertawa.

“Ya, ya…” Aku nyengir, dalam hati mengutuk Bang Togar, “Aku juga senang bertemu Mei kembali.”

“Sampai ketemu besok pagi, Bang. jangan lupa antrian sepit nomor tiga belas seperti biasa, jangan terlambat seperti pagi ini, jangan pula terlalu cepat.” Mei mengulum senyum.

Wajahku memerah, salah-tingkah, mengangguk.

Gadis itu gesit loncat, melambaikan tangan, menghilang di antara kerumunan penumpang.

***

“Oh, ribuan kilo panjang Kapuas,

Bermuara di depan rumah,

Oh, malam beranjaklah lekas,

Agar kami segera berjumpa”

“Astaga, ini sajak apa?” Andi tiba-tiba muncul di bingkai jendela, sembarang merampas kertas yang sedang kutulis, berlari menyelamatkan diri dari kejaranku, memalang pintu depan, lantas membacanya kencang-kencang.

“Kembalikan!” Aku menggeram.

“Tidak mau.” Andi tertawa, “Pantas saja kau tidak ada di rumah Pak Tua, tidak juga di balai bambu bermain gitar, ternyata kau sibuk menulis sajak. Ada sesuatu yang aku tidak tahu? Ayolah ceritakan pada teman baik kau ini.”

“Kembalikan!” Aku melotot, berusaha mendobrak pintu, terkunci kokoh. Baiklah, aku bergegas melangkah ke jendela, berusaha lompat keluar.

Andi sudah berlari ke kolong rumah, tertawa melambaikan kertas itu, membiarkan dibawa angir terbang ke permukaan sungai. Aku menyumpah-nyumpah. Bersungut-sungut kembali ke kamar.

Sudah pukul sepuluh malam, harusnya aku beranjak tidur, tapi mataku tidak bisa diajak bekerja-sama. Sebenarnya bukan mata, hatikulah yang memerintah otak, lantas otak mengendalikan mata: jangan tidur. Bagaimana aku akan menghabiskan malam? Tidak sabaran menunggu esok pagi datang. Itu pertanyaan terbesarku lepas bertemu Mei tadi pagi. Oh nasib, ternyata kalimat bijak itu benar adanya, perasaan semacam ini bisa membuat kau tidak bisa tidur.

Aku menatap bosan seekor cicak di langit-langit kamar.

***

Mataku baru terpejam pukul tiga dini hari, bangun kesiangan.

Tanpa sempat sarapan, tanpa sempat berganti baju, jangan tanya mandi atau tidak, aku pontang-panting berlari ke kolong rumah. Menghidupkan BORNEO, tanpa dipanaskan, langsung menekan pol gasnya. “Woi, anak durhaka! Kau membuat sabunku hanyut lagi!!” Masih ingat Pak Sihol? Riak gelombang air dari sepitku membuat kotak sabunnya jatuh dari batang kayu, tenggelam ke sungai Kapuas, dia bergegas naik ke pematang sungai, memakai handuk, mencak-mencak.

Inilah Kawan apa yang kulakukan setiap pagi.

Kembali ke masa setahun silam. Antrian sepit nomor tiga belas. Tak sabar duduk di buritan—macam duduk di atas tungku. Membaca buku tentang mesin selintas lalu, kubuka, kubaca, tapi tidak ada yang masuk kepala. Terlonjak senang ketika melihat Mei datang di gerbang dermaga. Beda dengan dulu, kali ini Mei pasti naik sepitku. Petugas timer memberikan keleluasaan antri padanya, “Astaga, tak usah marah-marahlah, Bu!” Petugas timer mengangkat tangan, “Macam tak pernah muda saja. Ini spesial, gadis ini penumpang istimewa Borno.” Menjawab gerutuan Ibu-Ibu yang dipaksa mengalah.

Aku menunggu momen ini selama 23 jam, 45 menit. Lantas bertemu 15 menit di atas sepit, sepanjang proses dia naik ke sepit, perahu penuh, menyebrangi Kapuas, loncat ke dermaga seberang. Terpotong sana-sini oleh penumpang lain yang bertanya, mengendalikan sepit saat berpapasan dengan perahu lain, sibuk menanggapi protes penumpang karena sepitku macam kura-kura berenang, sengaja kulambatkan, dan sebagainya. Tidak mengapa, meski hanya 15 menit, itu setimpal, termasuk sebanding dengan sepanjang malam gelisahku. Semua kantuk, rasa tak sabar, gelisah, berguguran saat melihat Mei sudah duduk rapi di papan kayu. Tersenyum hangat.

Hanya 15 menit itulah waktuku bertemu Mei. Hari kedua aku tahu kalau dia memang kembali mengajar di Yayasan itu, “Terhitung mulai tahun ajaran baru ini, Bang. Sekolah di Surabaya kutinggal, lebih menantang di sini. Kota ini juga kota kelahiranku, bukan. Jadi bisa kubilang aku kembali ke kota sendiri. Kita kita.” Aku mengangguk-angguk, soal itu menjadi topik pembicaraan hari ketiga, hari keempat dan hari kelima—terpaksa bersambung mengingat waktunya terbatas.

Hari keenam, gerimis turun membungkus kota. Gadis itu beranjak duduk di dekatku, membentangkan payung hitam besar, “Nanti kalau sudah di dermaga seberang, Bang Borno yang harusnya membayar pada Mei.” Aku menoleh tidak mengerti, sedikit gugup dengan jarak sedekat itu, tadi dia sudah kutolak, sudah biasa pengemudi sepit hujan-hujan, “Anggap saja ini ojek payung, Bang. Nah, mahal kali tarifnya.” Mei tertawa riang, menunjuk penumpang-penumpang lain yang membentangkan payung. Lantas kami membicarakan hujan, berseru-seru mengalahkan suara motor tempel—padahal apa pula menariknya bicara tentang hujan saat lagi hujan-hujanan? Basah?

Hari ketujuh aku teringat sesuatu, hei, bukankah Mei pulang dari sekolah naik sepit juga? Kenapa kami tidak bertemu di siang hari? Itu bisa menambah waktu pertemuan menjadi dua kali lima belas menit setiap hari. Mei menggeleng, berkata pelan, “Mei hanya pagi naik sepit, Bang. Jalan Pontianak padat, macet di jembatan Kapuas, bisa satu jam baru tiba di sekolah. Lebih cepat naik sepit, memotong jalan. Nah, pulangnya Mei dijemput.”

“Naik mobil.” Aku bertanya, menelan ludah, teringat rumah Mei yang megah di dekat balai kota dan mobil jemputan yang mengkilap itu.

Mei mengangguk, “Bagaimana cerita Singkawang? Bang Borno berjanji melanjutkannya hari ini, bukan?” Dia sudah mengalihkan topik pembicaraan.

Hari kesekian belas, hari ke dua puluh sekian, minggu berganti, bulan baru datang, begitulah waktu kebersamaan kami, 23 jam 45 menit menunggu hanya untuk percakapan singkat 15 menit di atas permukaan Kapuas. Apakah itu cukup? Entahlah, percakapan kami tidak lebih seperti sahabat baik, bergurau, tertawa. Saling bercerita, saling mendengarkan.

Apa yang diharapkan dari 15 menit per hari? Kalau di total selama sebulan, hanya sekitar 7 jam saja. Lagipula aku bukan siapa-siapa dia? Astaga, Borno, separuh hatiku menyergah, bukankah kau sudah berjanji akan melupakan gadis itu? Tidak ingatkan kau malam-malam terbaring sakit dulu? Lupakah kau dengan ikrar tahu diri? Tahu diri siapa kau, dan tahu diri siapa gadis itu.

Hanya berteman, memangnya tidak boleh? Separuh hatiku yang lain membantah. Lagipula, aku tidak mengharapkan bertemu lagi, gadis itu saja tiba-tiba kembali. Salahku kami jadi bertemu lagi?

Ini hanya akan menyakiti kita, Borno. Separuh hatiku menghela nafas kecewa, kau tahu itu, semua ini pasti akan berakhir dengan rasa sakit. Kita hanya seorang anak-muda apa-adanya di tepian Kapuas. Cinta yang kita pahami amat sederhana. Kita—

“Woi, Borno!! Maju sepit kau!!” Petugas timer berteriak kencang, memutus lamunan.

Aku buru-buru meletakkan buku tebal, merapikan rambut, memasang wajah terbaik.

Ah, tidak ada yang mudah dalam cinta, Kawan. Separuh hatiku bersorak senang, biarkan semua mengalir bagai sungai Kapuas. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan. Lihatlah, Mei sudah tersenyum riang di bibir dermaga. Hari ini dia memakai baju lengan panjang berwarna kuning.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s