Episode 39: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Bertemu Kembali

Kami pulang ke Pontianak dua hari kemudian, menumpang bus, duduk bersempit-sempit dua-tiga. Andi jatuh tertidur bahkan sebelum bus bergerak dan angin semilir nina-bobo masuk lewat jendela buram, dia lelah, tidak berselera menggangguku (dan kuganggu). Pak Tua juga santai bersandar, meletakkan topi pandan di tangan, meminjam istilah Ijong si penjaga SPBU yang asli Jawa, status mata Pak Tua adalah ‘merem melek’. Bus bergerak cepat meninggalkan gerbang kota, aku menatap jejeran rumah yang mulai merenggang, pepohonan yang mulai merapat. Selamat tinggal Singkawang, kota dengan penduduk dua pertiga orang China. Di kota ini, wajah Melayu-ku justeru terlihat berbeda. Sepert saat acara pernikahan si kembar kemarin, tidak banyak tamu yang berkulit gelap.

Aku (malu-malu) dan Andi (malu-maluin) diajak Pak Tua menyalami Sie Sie. Aku sungguh sungkan, gugup, malu, perasaan semacam itulah bertemu dengan seseorang yang kisah hidupnya begitu menakjubkan. Kupikir apa yang dilakukan almarhum bapak dulu sudah hebat, ternyata ada yang lebih keren. Wajah tua Sie Sie terlihat riang, bisik Pak Tua, sejak Wong Lan berubah seratus delapan puluh derajat, wajah Sie Sie memang nampak lebih muda sepuluh tahun dibanding umur sebenarnya. Sedangkan Andi, malu-maluin, justeru sejak tiba di tempat acara membujuk-bujuk Pak Tua agar segera merapat ke kursi depan, menyapa keluarga mereka, “Siapa tahu ada amoy cantik, Pak. Ayolah, bergegas.” Aku menyikut Andi, melotot, tidak bisakah dia punya sopan-santun sedikit, “Apa salahnya?” Andi mengangkat bahu, “Kau tahu, jangan-jangan malah ada amoy dari Taiwan. Si sendu menawan kau itu bisa putus tak berbilang dibanding artis sana.” Aku menatap Andi jengkel. Pak Tua tersenyum menengahi, akhirnya melangkah mendekati keluarga besar itu—enam adik Sie Sie datang bersama keluarga lengkap, belum terhitung kerabat dekat.

“Kalian tidak diceritakan cerita yang tidak-tidak dari Pak Hidir, bukan?” Sie Sie tersenyum, selintas sisa kecantikan masa lalunya terlihat.

Aku menggeleng, sopan membalas senyum. Andi di belakangku sibuk melirik pendamping mempelai wanita, hampir terpintal jatuh di karpet, nyengir menepuk-nepuk celana.

“Ah, kuceritakan separuh saja, itu sudah berlebihan untuk nalar mereka yang masih hijau sekali, Sie.” Pak Tua terkekeh, bergerak menyalami Wong Lan, “Bagaimana kabar kau, Wong Lan? Kudengar kalian membeli kembali pabrik tekstil dan rumah besar itu?”

“Kabar baik, Pak Hidir,” Wong Lan tersenyum, mengangguk, “Pabrik dan rumah itu penuh kenangan, Sie yang memutuskan membelinya.”

Aku menelan ludah, ikut menyalami Wong Lan. Ragu-ragu bersitatap dengannya, astaga, kisah kejahatan dia masih mengiang-ngiang di kepalaku, laki-laki inilah yang dulu melempar asbak, menjambak, menginjak, menghinakan seorang gadis belasan tahun. Aku berusaha bertingkah sama ramahnya seperti Pak Tua yang bersalaman hangat dengan Wong Lan—bahkan aku tidak mudah memaafkan Wong Lan hanya karena satu jam mendengar cerita tabiat buruknya, lihatlah Sie Sie yang lima belas tahun hidup dengan cerita itu.

“Dua anak muda keren ini cucu, Pak Tua?” Wong Lan bertanya.

“Benar, Oom.” Andi yang menjawab, semangat mendekat, “Kami nih bujangan, belum menikah, Oom. Terima-kasih sudah bilang keren.”

“Si-a-pa?” Aku mendesis pelan, mencengkeram lengan Andi.

“Siapa apa?” Andi melotot, balas berbisik.

“Siapa yang bertanya kau sudah menikah atau belum?”

“Mereka bukan cucuku, Wong Lan.” Suara Pak Tua meningkahi bisik-bisik kami, “Mereka teman-temanku di Pontianak.”

“Alangkah menyenangkan, kalau begitu,” Wong Lan tersenyum, ramah memegang lenganku, “Ada banyak ilmu dari Pak Hidir, Nak. Kau bisa belajar kebijakan hidup, rasa sakit, rasa kehilangan, banyak hal seperti itu dari beliau tanpa perlu mengalaminya sendiri. Jangan sia-siakan. Ah, sayangnya waktu aku muda dulu, aku tidak seberuntung kau, punya teman sebijak dia.”

Aku mengangguk, tersenyum lebih lebar (dan lebih tulus) pada Wong Lan.

Prosesi pernikahan si kembar dilaksanakan dengan tradisi lengkap penduduk China Singkawang. Sama megah, khidmat dan lamanya seperti kebiasaan orang-orang Melayu, Bugis, Jawa dan sebagainya. Warna merah dan keemasan ada di mana-mana. Makanan tradisional terhampar di meja-meja, Andi sudah sibuk makan tahu Singkawang (yang kebetulan mejanya dijaga dua amoy). Aku enggan mendekat, memilih berdiri di pojok, sendirian menatap keramaian. Kepalaku memperhatikan sekaligus berpikir banyak hal: menatap Sie Sie, menatap Wong Lan, usia mereka enam puluh lebih, menatap pasangan pengantin, barongsai, amplop merah angpao, anak-anak berlarian, pakaian cerah para undangan, anak-anak menangis, pertunjukan seni, suara tepuk-tangan, prosesi pernikahan, gelak-tawa, cerita Pak Tua tadi malam, pelayan yang sibuk hilir mudik, anak-anak menangis, lampu kristal, dan…. Mei.

Aku mengusap peluh di pelipis, hanya soal waktu pikiranku bermuara ke Mei. Apa kabar dia? Sedang apa? Wajah Mei yang riang menaiki sepit terbayang, disusul tawanya saat belajar mengemudi sepit, senyumnya, cara bicaranya di rumah makan Pasar Ampel, gerakan memperbaiki anak rambut di dahi, menyeka percik air hujan saat berdiri di depan rumah Fulan-Fulani. Aku mendesah, tidak mengapa mengenang sedikit, tidak mengapa teringat sebentar. Itu sehat dan tidak berbahaya, apalagi di tengah keramaian macam ini, gadis berwajah China ada di mana-mana. Ah, sudahlah, aku menghela nafas perlahan, sejak sembuh dari sakit aku telah memutuskan melupakannya.

“Woi, kau tidak makan?” Andi tiba-tiba berdiri di depanku.

Aku menggeleng, tidak berselera.

“Ayolah, Kawan. Tampang kusut kau ini tidak pantas berada di ruangan penuh suka-cita, nanti kau membawa feng shui buruk bagi pengantin baru, tahu.” Andi tertawa, “Nah, aku tadi berkenalan dengan dua amoy, cantik-cantik, kupikir kacik sedikitlah dengan si sendu menawan kau.”

Aku tetap menggeleng, tidak tertarik.

“Ye lah, ye lah…. Tetap lebih cantik gadis kau itu. Aku pergi lagi, Kawan.” Andi nyengir, menghilang di antara tamu undangan.

Aku akhirnya jatuh tertidur di bus yang melaju kencang menuju kota kami, Pontianak.

***

Satu bulan sejak perjalanan dari Singkawang.

“Kau kemana seminggu terakhir, Borno? Macam cerbung di koran, kau ini banyak yang nanyain, Borno. Tidak narik sehari, tak terhitung ibu-ibu, bapak-bapak, remaja tanggung penggemar sepit kita ini nanyain kau.” Jauhari menegurku, menguap, santai mengucek mata, nampaknya tanpa mandi dulu, dia langsung berangkat narik sepit. Perahu tempel-nya ada di antrian depanku.

“Malas narik, Bang. Sepi penumpang.” Aku menjawab sambil menambatkan tali ke tonggak kayu, “Kemarin aku lebih banyak di bengkel bapak Andi, seharian di sana, bapak Andi sedang banyak serpis motor.”

“Anak-anak sekolah libur panjang, mau dibilang apa, Borno. Penumpang jadi berkurang separuh. Kemarin saja aku hanya dapat enam rit, separuhnya hanya berisi dua-tiga penumpang.” Jauhari manggut-manggut, “Tetapi tenang saja, hari ini sudah masuk lagi mereka, kau lihat, dermaga kayu ramai, bukan?”

Aku ikut mengangguk, menatap Oom petugas timer yang sibuk berteriak, celoteh anak-anak sekolahan dengan seragam baru, senang bertemu satu sama lain lepas libur panjang. Dermaga kayu ramai kembali. Cahaya matahari pagi lembut menerpa permukaan Kapuas, beberapa elang sungai terbang rendah, bersiap mengintip mangsa, menyambar ikan.

“Nggak mau!! DEDE NGGAK MAU!!” Terdengar lengkingan suara.

“Ayolah naik, anak manis.” Petugas timer nampak repot membujuk, ada keributan kecil di steher, “Ayolah, tidak apa-apa. Jangan takut.”

Anak kecil berseragam TK itu justeru semakin berteriak-teriak, dicengkeram Ibu-nya yang mengantar, berusaha menenangkan. “Dede nggak mau naik sepit! Dede mau naik oplet!”

“Kau lihat, Sayang, itu yang mengemudi sepit namanya Pilot Jupri. Sepitnya bisa terbang, loh” Petugas timer yang mulai bingung, kehabisan akal membujuk, mulai mengarang sekenanya.

“Iya, Ma?” Anak berseragam TK itu menatap Ibunya.

Ibunya yang repot sejak tadi nyengir, mengangguk, berkongsi ikut berbohong.

“Nah, ayo, ayo sini Oom bantu naik ke pesawat terbang sepit kita. Ayo.” Petugas timer memasang wajah lucu, meraih tangan si kecil, “Selamat pagi, Pilot Jupri. Ada satu penumpang spesial mau naik, awas, hati-hati, ya, loncat, hup, hebat!”

Nampaknya petugas timer untuk kesekian kali berhasil menyelesaikan masalah. Anak kecil berseragam TK itu sudah duduk rapi di samping Ibunya. Wajahnya tetap tegang, masih takut-takut, memegang erat-erat lengan Ibunya, jerih mendengar suara gemeretuk motor tempel, riak sungai Kapuas yang membuat perahu bergoyang-goyang. Anak kecil itu sepertinya baru pertama kali naik sepit, juga berangkat ke sekolah barunya—ah, jangankan anak kecil, orang dewasa saja ada yang gugup naik sepit untuk pertama kali. Aku menyeringai, beranjak duduk di buritan perahu, meluruskan kaki, membuka buku tebal yang kubawa, bersiap menunggu antrian sambil membaca.

“Itu buku apa?” Jauhari tertarik, bertanya.

“Biasa, Bang. Buku tentang mesin. Aku pinjam dari perpustakaan daerah.”

“Bukan main,” Jauhari berdecak kagum, “Rajin sekali kau belajar, Borno.”

Aku menyeringai, mengangkat bahu, daripada bengong menunggu.

Matahari pagi dengan cepat terasa terik, dermaga kayu semakin ramai, sudah lepas pukul tujuh, petugas timer meneriaki sepit agar maju dua sekaligus. Biar antrian penumpang segera menyusut.

“Kau sudah bertemu Bang Togar, Borno?” Jauhari bertanya, memutus bacaanku.

Aku mengangkat kepala, Bang Togar?

“Iya, dia sudah dibebaskan kemarin siang. Ah, wajahnya cerah sekali, memeluk erat-erat siapa saja yang ditemuinya, bahkan tempel pipi segala.” Jauhari nyengir, “Kau sudah bertemu?”

“Aku justeru baru tahu dari Bang Jau.”

“Oh, hati-hati saja, Borno.” Jauhari tertawa, “Saking riangnya, kau bisa salah-tingkah bertemu dengannya. Dipeluk-peluk, ditepuk-tepuk, mata dia berkaca-kaca terharu, bicara ini, bicara itu, tanya ini, tanya itu, minta maaf atas kelakuannya, berkali-kali bilang terima-kasih. Kelakuan Bang Togar macam dibebaskan dari Nusa Kambangan saja.”

Aku menatap Jauhari, menelan ludah.

“Apalagi kau sering bertengkar dengannya selama ini, bukan. Bisa-bisa wajah kau habis diciumi olehnya.” Jauhari tergelak.

Aku bergidik, meletakkan buku. Jauhari tidak bergurau, kan?

Satu sepit lagi merapat di antrian.

“Selamat pagi.” Suara khas itu terdengar.

Aku dan Jauhari menoleh, Pak Tua mematikan motor tempel sepitnya.

“Alangkah siangnya berangkat, Pak?” Jauhari bertanya, “Teman-teman sudah ada yang dapat satu rit. Pak Tua kesiangan?”

“Aku tidak kesiangan,” Pak Tua bersungut-sungut, menambatkan sepit di tonggak kayu, “Tadi aku mampir sebentar di warung Tulani, sungguh celaka, kabar itu benar, aku bertemu Togar di sana.”

“Bang Togar?” Jauhari sudah tertawa lagi, “Pak Tua bertemu Bang Togar?”

“Iya, habis waktuku setengah jam meladeninya. Dia menciumi tanganku berkali-kali, meminta maaf ini-itu, berjanji akan merubah tabiat, diulang lagi, mencium tanganku berkali-kali, sambil terbungkuk-bungkuk, bilang ini-itu, lagi-lagi menciumi tanganku. Astaga, enam bulan masuk bui, jangan-jangan anak itu kesurupan jin.”

“Ah, itu masih mending, Pak Tua.” Jauhari kembali tergelak, “Kudengar, Koh Acung sampai kehabisan nafas dipeluk erat Bang Togar, mana cium pipi kiri, cium pipi kanan di depan pembeli tokonya, disaksikan banyak orang.”

“Itu dia.” Wajah Pak Tua terlihat masih sebal, “Tadi dia juga hendak mencium wajahku, kupelototi, lantas dia bilang kalau begitu Pak Tua cium ubun-ubunku saja, bilang Pak Tua sudah kuanggap orang-tua sendiri, restuilah aku yang akan berubah banyak, dia mencengkeram pahaku, macam mau melamar gadis, memaksa. Mati aku dilihat orang-orang yang sarapan di warung Tulani.”

“Pak Tua cium ubun-ubunnya?” Jauhari menahan tawa.

“Enak saja. Kupukul bahunya, lantas kutinggal pergi. Sudahlah, aku mau ke warung pisang, menyeduh kopi kental. Pusing sekali melihat perangai Togar sepagi ini.”

Tubuh kurus Pak Tua loncat ke dermaga. Tetapi dia tiba-tiba menoleh, “Dan kau, Borno. Hati-hati bertemu dengannya. Tadi dia bilang mencari kau, mau ke dermaga kayu secepatnya, mau minta maaf atas banyak dosanya selama ini pada kau.”

Jauhari sudah memukul-mukul pinggir perahu, terbahak.

Aku mengusap keringat di dahi, meneguk ludah, astaga?

***

Lima belas menit berlalu, antrian sepitku bergerak maju.

Dermaga semakin ramai oleh penumpang, dengan cepat perahuku penuh. Orang-orang berangkat kerja, anak-anak sekolah (satu-dua diantar orangtua mereka), dan penumpang biasa lainnya, berebut loncat.

“Cukup, cukup!” Petugas timer berseru, menahan penumpang berikutnya yang hendak loncat naik.

“Masih kosong satu, Oom.” Aku mengingatkan petugas.

“Justeru itu, cukup, jangan diisi lagi.” Petugas timer menggeleng, menyuruh anak-muda, penumpang yang hendak naik tadi pindah ke sepit di sebelahku.

“Woi? Kenapa sepitku tidak diisi penuh, Oom?” Aku melipat dahi, protes.

“Sabar, Borno. Ada penumpang spesial yang sudah memesan satu kursi khusus di sepit kau ini. Dia sudah buking.” Petugas timer melambaikan tangan, pindah, sibuk mengatur perahu yang lain.

“Kapan berangkatnya, Bang?” Ibu-ibu yang duduk di sepitku ikut protes, bingung melihat sepit di sebelah jalan duluan.

“Sabar, sabar.” Petugas timer kembali lagi, “Sepit Borno masih kurang satu penumpang.”

“Lah, kalau kurang satu, kenapa penumpang lain dilarang naik?” Bapak-bapak yang duduk di haluan depan berseru sebal, dia terlihat buru-buru.

“Sabar sebentar, Pak. Tak lama, hanya satu menit, tadi penumpang spesialnya ada keperluan sebentar.” Petugas timer celingak-celinguk ke ujung dermaga kayu.

“Siapa sih yang berani-beraninya melanggar aturang nge-tem sepit?” Penumpang sepitku ramai bersungut-sungut, berbisik satu sama lain.

“Memangnya siapa yang mau naik, Oom?” Aku ragu-ragu bertanya pada petugas timer, cemas dengan kemungkinan jawabannya.

“Ya siapa lagi?” Petugas timer tertawa, “Dia sudah mencari-cari kau.”

Astaga, aku berjengit, baiklah, aku segera meraih kemudi sepit, bersiap menekan gas. Aku tidak mau bertemu Bang Togar sekarang, setidaknya sampai kelakuan dia kembali normal. Mampus aku kalau dicium-cium di steher ini, disaksikan puluhan penumpang dan pengemudi sepit.

“Woi, sabar, Borno!” Petugas timer yang baru sadar apa yang akan kulakukan bergegas memegang ujung perahu kayu. Menahannya.

“Aku berangkat saja, Bang. Tak mengapa tak penuh.” Aku berseru panik.

“Sabar, Borno. Kau ini bebal sekali, paling beberapa detik lagi….”

“Tak apa, Bang. Aku berangkat saja.” Perahuku mulai bergetar karena gas mulai ketekan.

“Sabar, Borno!” Petugas timer melotot.

“Aku berangkat Bang.” Tekadku sudah bulat.

“Nah, apa kubilabg, hanya satu menit…. Itu dia, penumpangnya sudah datang.” Petugas timer yang bolak-balik memelototiku, menoleh ke dermaga, menahan sepitku, akhirnya berseru riang menunjuk gerbang dermaga.

Aku gemetar memutuskan menekan pol tuas gas, bodo amat petugas timer, bodo amat Bang Togar (meski dia ketua PPSKT, pemegang puncak semua peraturan), aku harus segera kabur dari dermaga. Menoleh selintas ke arah yang ditunjuk petugas timer, ke arah Bang Togar yang berlari-lari kecil.

Dan hei? Ibu, itu bukan Bang Togar.

Gerakan tanganku terhenti. Tubuhku membeku.

Lihatlah, di tengah cahaya matahari pagi yang hangat menyenangkan, di antara kesibukan steher kayu, lenguh burung elang, gemeretuk suara motor tempel, kecipak buih permukaan Kapuas, lihatlah, penumpang spesial itu datang mengenakan kemeja putih, celana kain panjang, sepatu kets, dengan tas berat oleh buku, (salah-satu buku jatuh, dia membungkuk mengambil sebentar), menyibak rambut panjang di bahu, lantas kembali berlari-lari kecil mendekati bibir dermaga. Itu sungguh bukan Bang Togar.

Penumpang spesial itu adalah Mei!

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s