Episode 37: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Bertemu Kembali

“Apakah itu perasaan? Apakah itu cinta? Semakin lama memperhatikan sekitar, mendengar, mencatat, berpikir, maka semakin banyak definisi, versi, pengorbanan dan kisah cinta yang kita ketahui. Cinta mengambil bentuk yang amat beragam, dan di satu titik paling mencolok, apakah kau bisa memaksa perasaan se-istimewa itu tumbuh di hati? Jawabannya: bisa. Tentu saja bisa. Kau bisa memaksa seseorang mencintai kau meski dia tak cinta, bahkan benci sebelumnya.” Pak Tua takjim memulai kisah amoy Singkawang. Aku dan Andi macam anak SD, duduk rapi mendengarkan.

“Sebut sajalah keluarga Han, punya tujuh anak, bekerja serabutan, terakhir dia jadi kuli kasar di pabrik tahu. Istrinya ibu rumah tangga yang repot mengurus anak-anak sekaligus repot bekerja sebagai babu separuh hari di rumah orang kaya. Keluarga Han tinggal di pinggiran Singkawang, daerah kumuh lazimnya di kota-kota yang sedang berkembang, timpang sana, gusur sini. Tidak sedap dilihat, tidak enak dicium. Jauh lebih baik gang sempit tepian Kapuas milik kita.

“Dari tujuh anak mereka, adalah Sie Sie anak tertua, gadis remaja usia enam belas. Mekar menjadi kembang daerah kumuh itu, rambutnya panjang, tinggi semampai, berkulit putih, berlesung pipit dan amboi manis sekali senyumnya. Kalau kau bertemu dengan Sie Sie di oplet, tidak akan menyangka dia amoy dari keluarga miskin, atau gadis remaja tangguh yang setiap hari bekerja keras, mengurus enam adik sejak shubuh buta sampai larut malam saat adiknya yang masih bayi jatuh tertidur.

“Kalau saja Sie ditakdirkan lahir di keluarga berada, lemari di rumah mereka pasti penuh dengan piala-piala, gadis itu pintar, supel, rajin dan tidak suka mengeluh. Sejak kecil sudah terbiasa membantu orang-tuanya mengurus apa saja. Lihatlah, dia bisa ditemukan di rumah sedang menggendong adiknya yang paling kecil, sekaligus menyuapi dua adiknya yang lain, meneriaki adiknya yang cukup besar agar berhenti bertengkar, sambil menjahit pakaian dengan singer tua berkarat. Sayangnya Sie tidak sekolah, tidak berpendidikan. Satu-satunya keahlian dia adalah membuat baju pesanan yang dipelajarinya sendiri, itupun untuk membantu beban orang-tuanya.

“Keluarga Han bertahan hidup dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga cobaan besar itu datang. Semua baik-baik saja hingga suatu ketika Ibu Sie Sie jatuh sakit. Apalagi yang diharapkan dari pemukiman kumuh, air bersih terbatas, ventilasi rumah buruk, lantai lembab? Semua mengundang banyak penyakit, Ibu Sie kena paru-paru basah, penumonia. Kondisinya dengan cepat memburuk, parah karena tidak segera mendapat pengobatan yang baik.

“Sejak Ibu mereka sakit, separuh penghasilan keluarga hilang, sialnya harus ditambah dengan pengeluaran baru, uang untuk membeli berbagai obat tradisional yang tidak kunjung menyembuhkan. Semua beban itu jatuh pada Sie Sie, selain mengurus enam adik-adiknya, dia juga harus merawat Ibunya, ditambah masih harus bekerja hingga larut malam menyelesaikan pesanan baju yang bayarannya tidak seberapa. Tidak terbayangkan, gadis usia enam belas harus memikul beban fisik dan pikiran sebanyak itu. Dan situasi semakin rumit saat Ayah mereka dipecat dari pabrik tahu, ketahuan mencuri brankas uang—tidak tahan dengan kesulitan yang ada, Ayah mereka mengambil jalan pintas.” Pak Tua berhenti sejenak, meneguk teh aroma melati di atas meja. Andi melihat gelas teh tidak sabaran.

“Di tengah situasi kacau-balau, Ayah mereka masuk bui, sakit Ibunya tambah parah, harus segera dibawa ke rumah sakit, Sie mendengar kabar ada pemuda Taiwan yang datang ke Singkawang mencari istri, menginap di hotel pusat kota. Sie tentu sering mendengar percakapan, bisik-bisik tetangga tentang ‘nikah foto’. Dua orang teman dekatnya di pemukiman kumuh itu, setahun silam dipaksa orang-tua mereka menikah dengan lelaki separuh baya dari Hongkong. Sie Sie sendiri yang menyaksikan dua temannya itu menangis hingga kering air-mata menolak pernikahan, Sie Sie sendiri yang memeluk, menghibur, melakukan apa saja untuk dua temannya yang tidak punya kekuatan menolak. Sie benci dengan pernikahan itu, sebenci dia dengan kemiskinan dan kebodohan yang menjerat keluarga dan daerah kumuh itu.

“Sayangnya, kebencian yang besar terkadang tidak cukup untuk melawan sesuatu. Malam itu, Ibu Sie Sie jatuh pingsan, tubuh membiru, dan dengus nafas mulai habis. Ayah mereka yang masih di penjara tidak bisa berbuat banyak. Sie Sie sendirian, menumpang oplet, susah payah membawa Ibunya ke rumah sakit, pihak rumah sakit menolak tanpa jaminan pembayaran. Sie terjepit, sementara adik-adiknya di rumah mengamuk karena belum makan, tetangga sudah berusaha membantu untuk urusan adik-adiknya, tetapi perongkosan rumah sakit, semua menggeleng, tidak ada kenalan, sahabat, tetangga yang kalau pun bersedia, punya cukup uang.

“Ibunya sekarat, butuh pertolongan segera. Sie Sie menjaminkan apa saja agar rumah sakit mau merawat Ibunya, dia berjanji akan datang membawa uang. Di tengah situasi darurat itu, di tengah kalut pikiran dan terdesak, Sie Sie memutuskan mengambil pilihan yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya, pilihan yang amat dia benci dan menyakitkan: dia bersedia menjadi istri belian.

“Berangkatlah Sie Sie ke hotel itu, tempat terbetik kabar datang pemuda dari Taiwan mencari amoy Singkawang. Sudah ada lima amoy pendaftar di lorong hotel, entah orang-tua mereka, entah agen pernikahan foto, berbisik-bisik, silih-berganti masuk kamar, memperlihatkan foto amoy calon mempelai wanita pada pemuda itu, bercakap sebentar, tanya ini, tanya itu. Pemuda Taiwan itu ditemani salah-satu karyawan hotel, yang memberikan saran ini, saran itu—sepertinya sudah terbiasa dengan proses mencari amoy yang tepat. Ke sanalah Sie Sie pergi, mendaftar menjadi calon istri belian.”

Pak Tua berhenti sejenak, memainkan sumpit, menghela nafas.

Aku dan Andi ikut menghela nafas.

Malam semakin larut, meja restoran tempat kami menghabiskan choi pan tinggal berisi satu-dua pengunjung. Pelayan restoran terlihat asyik mengobrol dengan bahasa China.

“Adalah Wong Lan, anak semata wayang dari keluarga kelas menengah di pinggiran kota Taiwan. Keluarga mereka punya pabrik tekstil kecil, hidup makmur, berkecukupan. Sejak usia Wong Lan menginjak kepala tiga, Bapak Ibunya sudah sibuk mengingatkan agar dia segera menikah, mencari gadis pilihan, membina keluarga sendiri. Sebaliknya, sejak usia tiga belas tahun, kelakuan Wong Lan jauh bumi jauh langit dari harapan orang tuanya. Dia malas sekolah, lebih suka keluyuran, belajar merokok, berkenalan dengan minuman keras, berjudi, berteman dengan orang-orang salah. Tabiatnya buruk, suka berteriak, suka marah, dan kadang memukul pembantu di rumah. Bapak Ibunya berharap, kalau Wong Lan akhirnya menikah, maka perangainya akan sedikit berubah. Maka tidak terhitung anak gadis kenalan, kolega bisnis, tetangga yang diajak ke rumah, berkenalan dengan Wong Lan, sia-sia, anak semata wayang mereka lebih suka hidup bebas se-bebasnya.

“Saat usia Wong Lan tiga puluh lima, orang tua-nya meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang di atas Laut China Selatan. Dari jasad yang tidak pernah ditemukan, orang tua Wong Lan mewariskan pabrik tekstil kecil dan semua harta benda pada anak semata wayang mereka. Karena besar sekali harapan dan keyakinan Ibunya bahwa Wong Lan akan berubah setelah punya istri dan anak, maka surat warisan yang dipegang pengacara keluarga mensyaratkan dia harus telah menikah untuk memperoleh semua harta-benda. Sayang, itu harapan yang keliru, anak muda itu cerdas, tidak hilang akal, dia tahu tentang amoy Singkawang, maka berangkatlah dia ke Indonesia, mencari istri yang bisa diatur, dan tidak banyak tingkah.

“Wong Lan tidak bertampang tidak jelek, apalagi buncit. Dia tampan, kacik sedikit dibanding ketampanan kau, Andi.” Pak Tua bergurau, tertawa, “Tetapi perangainya buruk. Dan celakanya, dari awal, niat pernikahan itu sudah tak lurus. Dia mencari istri yang bisa dibeli, sekadar memenuhi syarat agar harta warisan jatuh padanya. Pemuda itulah yang ditemui Sie Sie di kamar hotel. Karyawan penginapan yang menemani wawancara berbisik kalau yang satu ini sepertinya memang masih gadis, bukan amoy tipuan seperti yang sebelumnya. Berbisik ini, berbisik itu.

“Dalam pertemuan lima belas menit itu, Sie hanya sekali menatap wajah Wong Lan, dan sekujur tubuhnya berontak, dia hampir muntah menahan rasa benci atas apa yang telah dilakukannya. Hanya karena bayangan wajah Ibu-nya yang sekarat, adik-adiknya yang kepalaran, membuat Sie tetap bertahan di tempat. Mendengar syarat-syarat yang disampaikan karyawan hotel, ini-itu, dipotong oleh pemuda Taiwan itu, yang sepertinya berkenan melihat Sie Sie, ikut menambahkan penjelasan ini-itu.

“Sie Sie hanya mengangguk, menunduk, mencegah orang melihat dia menahan tangis. Wawancara itu ditutup dengan angka nominal harga pernikahan tersebut. Sie Sie mati-matian menahan air-mata tumpah, mencengkeram pahanya agar tidak gemetar, dia mengangguk, sepakat. Sekian ratus ribu di bayar saat pernikahan dilangsungkan, sekian puluh ribu akan dibayar setiap bulan untuk keluarga Sie selama setahun ke depan. Kalau semua sudah oke, apakah pembayaran bisa dilakukan sekarang? Sie Sie dengan suara bergetar bertanya. Karyawan hotel yang membantu Wong Lan tertawa, bilang, mana ada pembayaran sebelum menikah. Sie Sie menahan tangis bilang dia butuh uang segera, berharap kalau memang memungkinkan, pernikahan dilangsungkan hari itu juga. Astaga, dengarlah, Sie yang dulu benci sekali dua temannya dipaksa menikah dengan pria Taiwan, hari itu, siang itu, di kamar hotel, justeru meminta pernikahannya dilaksanakan sesegera mungkin.

“Kalian tahu, Borno, Andi,” Pak Tua menghela nafas panjang, ikut tertunduk dalam-dalam, menekuri meja makan restoran, “Dalam hidup ini, kita masih beruntung, karena kita selalu punya banyak pilihan. Hendak sekolah atau kuliah tersedia pilihan di sekolah A, B, atau C. Hendak makan malam, ada restoran A, B, atau C. Hendak pakai baju ini atau itu, menggunakan kendaraan ini atau itu. Apapun masalah kita, tetap saja banyak pilihan solusi yang tersedia. Kau misalnya, saat bapak kau marah gara-gara vespa itu, kau masih bisa mengungsi ke rumahku. Andaikata aku juga ikut marah, kau bisa mengungsi ke rumah Tulani atau Acung. Sie Sie tidak punya…. Dia sungguh tidak punya pilihan. Ayahnya di penjara, Ibunya menunggu sekarat, adik-adiknya butuh makan, pernikahan ini akan memberikan jalan keluar. Jaman itu, uang ratusan ribu terbilang besar, dan pembayaran bulanan yang dijanjikan pemuda Taiwan nilainya tiga kali lipat dari penghasilan keluarga mereka setiap bulan selama ini.

“Dibandingkan Sie Sie, masalah hidup kita kadang sepele saja. Harapan tidak terwujud, bertengkar dengan teman, patah-hati dan memendam rindu macam kau Borno, kehilangan sesuatu, difitnah, rugi berdagang, ditipu orang, diusir dari keluarga, dimarahi orang-tua, tidak lulus, gagal, hanya itu-itu saja. Dan kebanyakan dari kita, selalu punya pilihan jalan keluar, setidaknya bisa cerita, bisa berkeluh-kesah. Sie Sie tidak punya pilihan itu, bahkan untuk sekadar berkeluh-kesah. Itulah jalan keluar yang ada, menjadi istri belian orang asing. Bagi Sie Sie itu lebih terhormat dibanding mengemis, meminta-minta atau menjual diri seperti gadis-gadis lain. Lagi-pula, tidak ada hukum formal yang melarang membeli istri, bukan? Itu sah-sah saja, anggap saja pembayaran mahar. Sie Sie berlari sepanjang halaman hotel dengan air-mata berlinang. Dia ingin berteriak, tapi kerongkongannya kelu, dia ingin marah, pada siapa? Pada Tuhan? Keputusan itu dia ambil sendiri, tidak ada yang bisa disalahkan. Semua pilihannya sendiri, apapun resiko dan harganya.

“Surat wasiat Ibu Wong Lan mensyaratkan pernikahan resmi, maka surat-menyurat harus diurus, itu kabar baik bagi Sie Sie, karena banyak amoy lain yang tidak jelas status hukumnya. Wong Lan ingin segera membawa istri pulang ke Taiwan, Sie Sie ingin segera punya uang, tujuan yang cocok, karyawan hotel segera berangkat ke kantor pemerintahan terkait, membawa segepok uang agar urusan administrasi lancar. Menjelang malam karyawan hotel itu sudah datang ke rumah sakit, mengabarkan semua beres, semua siap. Pernikahan bisa dilaksanakan kapan saja, tinggal membubuhkan tanda-tangan.

“Dan tibalah waktunya Sie Sie bilang ke Ibu-nya tentang keputusan gila yang telah dia buat. Memberitahu adik-adiknya, memberitahu Ayahnya. Kalian bayangkan, ruangan gawat darurat, pukul sepuluh malam, hanya ada Sie Sie dan Ibunya yang terbaring lemah di ranjang. Suster jaga menunggu di sudut ruangan, dokter sudah pulang. Sie Sie gemetar, mengabarkan pada Ibunya. Perihal dia akan menjadi isteri belian, dibawa pergi orang asing ke negeri seberang lautan.

‘Sie janji, Ma…. Sie janji semua akan baik-baik saja.’ Remaja berusia enam belas itu memeluk ibunya, menangis.

‘Kau tidak boleh melakukannya, Nak.’

‘Sie janji, Ma.’ Gadis itu berbisik terisak.

‘Kau sungguh tidak boleh melakukannya, Nak.’ Ibunya terbatuk pelan, ikut menangis dengan sisa nafas dan tenaga.

‘Keputusan Sie sudah bulat, Ma. Semua sudah diatur, semua sudah selesai, Sie sudah jadi istri orang….’ Sie Sie menyeka bibir Ibunya, ‘Biarlah, Ma. Tidak mengapa. Dengan begini… dengan begini Ma bisa sembuh, kita punya uang untuk makan, adik-adik bahkan bisa sekolah.’

‘Tidak boleh, Nak. Tidak boleh. Ya Tuhan, semua ini salah kami. Kenapa Sie yang harus menanggung semua beban?’ Ibunya tersengal.

Sie Sie memeluk erat Ibunya, ‘Sie janji, Ma…. Pernikahan ini akan bahagia. Sie akan mencintai dia apa adanya. Sie janji Ma, dia juga akan mencintai Sie apa-adanya.’

Aku dan Andi tercenung, bersitatap satu sama lain.

Tentu saja Pak Tua tidak meng-adegankan kejadian itu dalam ceritanya, tidak bilang seperti apa dialognya, tetapi aku tahu, aku bisa membayangkan betapa menyakitkan kejadian itu. Mengingatkanku pada keputusan almarhum Bapak mendonorkan jantungnya, ketika aku mengamuk di lorong rumah-sakit. Itu sama menyakitkan, bedanya aku menolak pengorbanan baik Bapak, Sie Sie justeru memilih mengorbankan dirinya sendiri.

“Andi, Borno, itulah janji suci yang diucapkan seorang amoy yang masih berusia enam belas tahun. Dia berjanji, akan mencintai apa-adanya suaminya yang datang dari antah berantah. Dan dia juga berjanji, akan membuat suaminya mencintainya apa-adanya. Sie Sie berjanji akan memaksa perasaan itu tumbuh mekar di pernikahan itu.” Pak Tua menengadahkan kepala, menatap langit-langit restoran, “Ah, cinta, selalu saja misterius. Bisa apa seorang gadis tanggung enam belas tahun di negeri orang? Menikah dengan seseorang yang bertabiat buruk dan sejak awal sudah benci pernikahan itu. Bisa apa dia?”

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s