Episode 35: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kembali Membumi

Tidak sesuai harapan.

Bukannya berempati, Pak Tua malah terpingkal-pingkal mendengar ceritaku, “Kau benar-benar dikerjai Andi, Borno. Telak macam petinju kena pukul dagunya, langsung terkapar KO.”

“Dan apa yang kau lakukan? Sebentar, jangan dijawab, biarkan orang tua ini menebaknya… kau, kau hanya bisa berdiri termangu di steher, amat kecewa?” Pak Tua menepuk-nepuk meja, tertawa lagi, tidak peduli dengan wajah terlipatku.

Aku merengut sebal, agak menyesal telah bercerita.

“Tapi, tapi….” Tawa Pak Tua mereda, mungkin akhirnya kasihan melihatku, mengusap ujung-matanya yang berair, “Menurutku Andi telah mengajarkan sesuatu yang amat berharga, Borno. Tips hebat yang sering dilupakan oleh orang-orang sedang patah-hati, gulana menganyam rindu, gelisah dengan pengharapan, atau orang-orang macam kau inilah, Borno….” Pak Tua sejenak mengusap-usap ubannya,”Astaga, berarti selama ini aku keliru menilai sebelah mata Andi, meremehkan dia sebagai si banyak omong, tukang maksa dan agak lambat mengerti. Ternyata dia cerdas dan bernas, Borno. Dan di atas segalanya, yang paling penting, Andi membuktikan dia adalah teman sejati kau.”

Aku mendengus, apanya yang teman sejati? Apa pula yang disebut tips hebat orang-orang patah-hati? Kalau saja Pak Tua melihat bagaimana ekspresi wajah tak-berdosa Andi tadi pagi di dermaga, mungkin Pak Tua akan setuju denganku, Andi keterlaluan, sungguh tega, tidak termaafkan meski Kapuas kering.

Bagaimana tidak?

Tadi pagi, saat mendengar dia bilang Mei telah kembali, aku sontak loncat, sial sarungku terpintal kursi, jatuh terguling, tidak mengapa, tidak mengapa lututku terasa nyilu, air teh berhamburan mengenai baju, berusaha bangun, bergegas lari.

“Eh, kau mau kemana?” Andi menahanku.

“Menghidupkan sepit-lah, apalagi.” Aku tidak mempedulikan Andi.

“Sebentar, Kawan. Sebentar….” Andi memegang tanganku, masih berusaha mengatur nafas, “Tak elok kau hanya sarungan macam ini ke dermaga kayu.”

“Memangnya kenapa?” Aku berusaha mengibaskan tangannya. Aku harus bergegas.

“Nanti ke-tampan-an kau ini hilang sesenti, Borno. Berganti pakaianlah, yang rapi, si sendu menawan tidak akan kemana-mana lagi, Surabaya jauh dari Pontianak, tidak macam ke Singkawang atau Entikong.”

Aku menatap wajah Andi, dia mengangguk, nyengir meyakinkan. Aku berpikir sejenak, baiklah, benar juga, tidak pantas aku menemui Mei dengan sarungan, apa salahnya berganti pakaian. Rusuh dua menit membuka lemari, mengaduk-aduk, memakai celana, mengganti kaos yang basah. Lari ke kolong rumah. Andi sudah duduk takjim di sepit, menyilahkanku mengambil posisi di buritan.

Aku terburu-buru menghidupkan mesin. Motor tempel meraung kencang saat kutekan pol gas-nya, sepitku meluncur cepat meninggalkan rumah papan Ibu.

“Seharusnya kau cuci wajah dulu, Kawan.” Andi menatapku, nyengir, “Tapi tak apalah, mau cuci wajah atau tidak, sama saja hasilnya.”

Kalau saja situasinya berbeda, sudah kutimpuk Andi dengan propeler sepit untuk gurauan tidak lucunya itu.

Lima menit melaju kencang.

“Eh? Kita mau kemana?” Andi menoleh, dahinya terlipat.

“Dermaga dekat yayasan sekolah Mei.” Aku menjawab.

“Eh, buat apa ke sana?” Andi sedikit panik.

“Menyusul dia-lah. Apalagi?” Bukankah kalau benar Andi melihat Mei berangkat naik sepit, itu berarti Mei pergi ke sekolahnya. Kami sudah terlambat lima belas menit, Mei tidak akan ada lagi di steher kayu, lebih baik aku langsung ke sekolahnya.

Andi menggaruk kepala yang tidak gatal, menoleh ke arah steher sepit yang tertinggal dibelakang, menoleh ke seberang tempat sepit terarah, menoleh lagi ke steher, berpikir cepat.

“Tidak usah, Kawan. Tidak usah kesana.” Kalau saja aku sedikit awas, suara Andi sebenarnya terdengar licik, tidak meyakinkan.

“Tidak usah?” Aku menyeringai bingung.

“Eh, si sendu menawan itu justeru ada di dermaga kayu kita, Borno. Ya, ya, benar, dia ada di dermaga sepit sekarang.” Andi menyeringai, mencari-cari alasan.

“Apa pula yang dikerjakan Mei di dermaga?” Aku bertanya.

“Eh, dia sedang membagikan amplop merah, ya, ya, dia membagikan angpao.” Andi berusaha memasang wajah serius.

Aku melambankan sepit yang terlanjur ke arah lain, menatap Andi,”Angpao? Mana ada pembagian angpao bulan-bulan ini? Imlek lewat, Cap Gomeh jauh. Merayakan apa?” Otakku bekerja—sayangnya cuma bekerja sedikit dan tidak segera curiga.

“Mana kutahu,” Andi mengangkat bahu, “Mungkin perayaan karena kembali ke Pontianak, atau karena mau bertemu bujang Melayu tampan macam kau.” Andi menahan tawa.

Baiklah, aku tidak panjang mendebat, menurut, menggerakkan tuas kemudi, sepitku membelok cepat, membentuk kibasan macam kipas di permukaan Kapuas. Maka melajulah perahu kayu ke steher kayu. Wajah Andi terlihat senang, mengangguk-angguk. Aku menelan ludah tidak sabaran. Apa kabar Mei? Akankah dia senang melihatku lagi? Pakai baju apa dia pagi ini? Melajulah cepat BORNEO, bawa aku segera menemui Mei.

Empat menit, tiga belas detik, sepit merapat, aku loncat tak sabaran keatas dermaga kayu, dan…. Dan aku termangu bingung, justeru rombongan ramai tujuh-delapan orang segera mengerubungiku.

“Nah, ini Borno. Akhirnya datang juga. Borno akan mengantar Cik dan Ncik sekalian berkeliling kota Pontianak, plesir seharian.” Bapak Andi membentangkan tangan, memperkenalkanku.

“Ah, aku ingat siape dielah. Die nih yang dulu meninggalkan rombongan kami di Istana Kadariah, bukan? Tak mau aku kalau die pegi-pegi tak karuan lagi.” Salah seorang anggota rombongan tertawa, bergurau.

Aku menoleh pada Andi, mana Mei? Tidak peduli rombongan yang hendak menyalamiku itu. Andi nyengir, mengusap rambut, berusaha menjauh. Mana Mei-nya? Aku toleh kiri, toleh kanan, menjulurkan kepala. Woi, Mana Mei? Dermaga kayu ramai oleh penumpang, ibu-ibu, anak-anak, gadis tanggung, berseragam, tidak beseragam, tetapi tidak ada Mei. Mana Mei yang membagikan angpao?

“Nah, Borno. Tolong kau antar keluarga besanku ini. Kali ini bahkan ada yang datang dari Kuala Lumpur, mereka benar-benar terpesona dengan Pontianak, datang dengan sanak-kerabat. Ingat, Borno, tugas negara, kau pahamlah maksudnya, layani saudara satu rumpun ini dengan baik. Pariwisata adalah masa depan Pontianak.” Bapak Andi sibuk berceloteh.

Aku mematung, wajahku menggelembung, mulai mengerti apa yang telah terjadi. Astaga? Andi menjebakku. Andi tahu, mengingat kejadian lalu itu, aku pasti menolak mentah-mentah mengantar keluarga besan dari Serawak ini. Nah, daripada dia diomeli bapaknya (karena gagal membawaku ke dermaga kayu), dengan licik dia men-skenario-kan ada Mei di steher, membuatku terbirit-birit hanya untuk menjemput kenyataan palsu.

“Ayo, Borno, jangan bengong macam bekantan, kau tolong bawa bekal mereka ke atas perahu.” Bapak Andi mendesak, sudah selesai dengan ceramahnya.

Apa yang harus kulakukan? Berteriak marah? Loncat memiting Andi? Ibu, itu sungguh tidak bisa kulakukan, rombongan turis negeri Jiran sudah asyik mengajakku berfoto-foto, tertawa riang. Malah ada yang memeluk bahuku, “Senyumlah sikit, Borno. Nah, senyum. Aku nak foto bersama guide hari nih, biar kupamer dengan temanku di KL lah. Ayo, foto macam Upin-Ipin-lah.”

Andi sialannn!!

***

“Kau tahu jumlah penduduk bumi saat ini, Borno?” Pak Tua yang sudah puas tertawa, meluruskan kaki, bertanya sambil menatapku lamat-lamat.

Aku tidak peduli statistik, demikian maksud kusut wajahku. Aku masih sebal soal kejadian tadi pagi, dan lebih sebal lagi Pak Tua justeru tertawa mendengarnya. Aku tidak menjawab, menatap sungai Kapuas, kerlap-kerlip lampu perahu membuat permukaan sungai mengkilat. Malam yang elok.

“Enam milyar, Borno. Ada enam milyar penghuninya.” Pak Tua menjawab sendiri, “Lantas, coba kau bayangkan, setiap hari ada berapa orang yang jatuh cinta dan patah hati, Borno?” Pak Tua mengangkat tangan, seperti anak kecil, asyik berhitung dengan jari-jemari, “Menurut orang tua ini, maka setidaknya setiap detik ada tiga orang yang jatuh cinta…. Dan tiga orang pula yang patah hati. Dengan demikian, satu jam berarti ada sepuluh ribu, satu hari berarti dua ratus ribu pasangan yang jatuh cinta dan patah hati.”

Aku menoleh, mulai tertarik.

“Bukan main, Borno. Bukan main… Dan karena jatuh-cinta atau patah-hati itu gombal, kau bisa mengalaminya berkali-kali, tidak macam mati atau lahir yang cuma sekali seumur hidup, jangan-jangan angkanya lebih banyak lagi. Jangan-jangan setiap hari ada seperempat juta manusia yang jatuh cinta sekaligus patah-hati. Kau bayangkan, banyak sekali…. Ramai sudah langit-langit bumi dengan kalimat ‘aku cinta kau’, atau ‘aku sayang kau’, atau sebaliknya ‘cukup sampai di sini. Kita berpisah.’ Seperempat juta manusia setiap hari, Borno. Bayangkan.”

“Nah, itulah kenapa orang-tua ini tetap hidup membujang ….” Pak Tua merapikan jaket, udara malam berhembus kencang, “Ayolah, kalau semua mengaku sebagai cinta sejati, lantas mana yang benar-benar ‘sejati’ di antara milyaran perasaan itu? Jangan-jangan, semua memang gombal. Klasik. Klise.”

Aku menatap Pak Tua, gombal?

Pak Tua tertawa, melambaikan tangan, “Aku hanya bergurau, Borno. Tentu saja ada yang benar-benar sejati di antara cinta itu. Pasangan Fulan dan Fulani misalnya, itu sejati. Togar dan Unai, itu juga sejati, meski harus terpisah jeruji penjara karena keras kepala dan gengsi. Dalam keseharian, cinta selalu membutuhkan tindakan dan perbuatan kongkrit, masalah pasti selalu datang, tidak ada kesejatian sebelum diuji, bukan? Bahkan intan paling berkilau sekalipun harus diasah sedemikian rupa agar terlihat sejati karatnya.”

“Nah, kenapa kubilang kelakuan Andi yang menipu kau tadi pagi adalah tips hebat untuk orang-orang gundah gulana macam kau sekaligus dia membuktikan adalah teman terbaik kau? Camkan ini, Borno. Banyak sekali orang-orang yang jatuh-cinta lantas sibuk dengan dunia barunya itu. Sibuk sekali, sampai lupa keluarga sendiri, teman sendiri, lupa dengan orang-orang penting yang selama ini dia cintai dan mencintai dia. Padahal, siapalah orang yang tiba-tiba mengisi hidup kita itu? Kebanyakan orang asing, orang baru. Mei misalnya, baru kau kenal setahun kurang. Sedangkan Andi? Kau kenal dia sejak bayi, satu ayunan. Apa yang telah dilakukan Mei buat kau? Apa yang tidak dilakukan Andi? Apa Mei pernah menyelamatkan kau yang hampir tenggelam di Kapuas?”

Aku terdiam, menelan ludah. Waktu kanak-kanak, Andi memang pernah menarik rambutku, berusaha menyelamatkanku yang pingsan terhantam ujung perahu.

“Kau lupa, Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, rindu, dan hal ganjil lainnya akibat perasaan itu, kau selalu punya teman dekat, keluarga di sekitar. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kau abaikan. Nah, itulah tips terhebatnya, habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan. Ah, Andi hebat sekali mengerjai kau hari ini. Kau marah dengannya? Buat apa? Dia justeru membuktikan hanya teman terbaiklah yang nekad melakukan itu. Dia percaya kau tidak akan bisa benar-benar marah padanya. Bukan begitu?”

Aku bersungut-sungut, tertunduk.

***

Esok saat berangkat ke bengkel bapak Andi, rasa jengkel-ku jauh berkurang. Nasehat Pak Tua semalam benar, sejelek-jelek Andi (dan dia memang jelek), dia teman baikku. Sejahil-jahil Andi (dan dia memang amat jahil), dia adalah sohib terdekatku.

“Terima-kasih untuk kemarin, Borno.” Bapak Andi riang menyapa.

“Sama-sama, Oom.” Aku menjawab pendek, duduk sembarang di bengkel.

Di hadapan bapak Andi berdiri gagah sebuah vespa tua, klasik, kinclong dan tentu barang antik mahal. Sepertinya habis di-servis.

“Ini punya pejabat kejaksaan Pontianak, Borno. Baru diantar kemari.”Bapak Andi menepuk-nepuk jok vespa warna oranye,”Ini orisinil tahun ’62, barang langka. Habis kuganti oli-nya. Pemiliknya sayang sekali dengan vespa ini, jarang dipakai, hanya percaya padaku setiap kali servis. Nah, aku tahu kau suka penasaran, mengintip-intip mesin, tapi untuk yang ini haram kau sentuh, Borno. Lecet sedikit panjang urusannya…. Aku sekarang ada urusan di dermaga ferry, nanti sore mau diambil pemiliknya, kau tolong jaga vespa-nya.”

“Iya, Oom.” Aku mengangguk.

Bapak Andi mencuci tangan, bersiap-siap.

“Andi kemana, Oom?”

“Tadi pagi kusuruh membeli spare-part di pasar baru. Sebentar lagi juga pulang. Kau tunggu sajalah, sambil, itu ada mesin tempel Jupri ngadat, tolong kau perbaiki.”

“Baik, Oom.”

Sepuluh menit berlalu, Bapak Andi berangkat, sekali lagi mengingatkan jangan sentuh vespa tua-nya. Aku tertawa, “Tenang, Oom. Kulirik saja tidak berani, apalagi disentuh. Astaga, sudah macam anak gadis saja vespa ini.” Bapak Andi ikut tertawa, melambaikan tangan.

Kolega montirku itu, si tukang jahil nomor satu, Andi Alamsyah, datang setengah jam kemudian, saat aku sudah hampir selesai dengan mesin tempel Jupri. Dia agak takut-takut melihatku, nyengir melangkah masuk ke bengkel.

“Dari mana kau?” Aku bertanya santai.

“Eh,” Andi menggaruk kepala, masih hati-hati, siapa tahu aku sengaja beramah-tamah sebelum mengamuk soal kejadian kemarin.

“Ditanya malah diam, dari mana?” Aku melotot.

“Beli suku cadang.” Andi menjawab, masih menjaga jarak.

Adalah lima belas menit hingga Andi merasa semua aman. Mulai mengajakku bicara dengan baik, cengar-cengir seperti biasa.

“Kau tidak marah, Borno.”

“Marah buat apa?”

“Eh, soal kemarin pagi.”

“Tidak masalah. Aku juga sering mengerjai kau dulu.” Aku mengangkat bahu.

Andi tertawa, menepuk bahuku, “Kau kawan yang bijak, Borno. Benar-benar bijak.”

Aku nyengir santai, mencuci tangan, “Ngomong-ngomong aku harus segera pulang. Ibu menyuruhku mengantar sesuatu ke Koh Acung. Kau sendirian di bengkel tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa. Kau pulang saja, Borno. Urusan Ibu selalu nomor satu.”Andi mengacungkan jempol, mendukung.

“Tetapi Bapak kau tadi titip pesan, itu lihat, ada vespa tua. Dia minta dibongkar mesinnya, biar nanti sore diperbaiki. Kau benaran tidak apa-apa kutinggal sendirian?”

“Oh, vespa?” Andi menoleh ke vespa yang terparkir rapi, “Hanya bongkar mesin, kan? Tidak disuruh memperbaiki?”

“Hanya bongkar mesin.” Aku mengangguk meyakinkan, “Bukankah selama ini kita sudah sepakat, urusan membongkar adalah kau, urusan memperbaiki baru aku dan bapak kau.”

“Oke, Kawan. Siap dilaksanakan.” Andi berkata mantap.

“Aku pulang, ya. Tolong dibongkar habis vespanya.”

“Siap, bos. Dibongkar habis.”

“Selamat sore.”

“Sore, hati-hati, Borno.” Andi bahkan melepas kepergianku di depan gang, sengaja benar dalam rangka berbaikan kejadian kemarin pagi.

Sementara aku mati-matian menahan tawa, berusaha sesegera mungkin meninggalkan gerbang bengkel—sebelum Andi curiga dengan ekspresi aneh wajahku. Di ujung gang aku tidak tahan lagi, tergelak memegang perut, tidak kuat membayangkan apa yang akan terjadi nanti sore. Rasakan pembalasanku, dasar Andi sialan. Itu untuk kabar bohong, bilang kau telah kembali, Mei!!

***bersambung

One thought on “Episode 35: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

  1. Nisa

    Wahh… saya sudah banyak ketinggalan ceritanya, aslinya pingin nge-save tiap episodenya, dijadikan satu, trus dipindah ke format Pdf🙂 Lumayan, koleksi e-book novel🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s