Episode 33: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kembali Membumi

Selamat pagi, Pontianak!

Aku merapatkan sepit ke steher, dahiku terlipat, entah hendak tertawa, bingung, menggaruk kepala, atau menepuk dahi. Alamak, apa yang telah terjadi di kota Pontianak selama aku dan Pak Tua pergi ke Surabaya satu minggu (termasuk perjalanan laut)? Apapula maksudnya ini? Dari jarak puluhan meter, aku sudah melambatkan sepit dengan tatapan ganjil, suara apa yang terdengar membahana? Seperti kenal, akrab di telinga? Ada yang menggelar acara di dermaga kayu? Memakai sound system atau tape besar diputar kencang-kencang? Semakin dekat, semakin jelas, lihatlah, ternyata belasan pengemudi sepit sedang melakukan SKJ (Senam Kesegaran Jasmani) macam dulu sering diajarkan di SD atau SMP, te-te-to-tet-tet, te-te-te-te-tet. Dibaris terdepan dekat tape, penuh semangat, Jupri patah-patah, ingat-ingat lupa, memimpin gerakan. Sementara petugas timer dan beberapa pengemudi lain berdiri di belakang, ikut gerakan apa saja yang dilakukan Jupri.

“Woi, kau masih lama antri, kan? Nah, masuk ke barisan belakang,Borno!” Petugas timer berteriak, sambil membungkuk-bungkukkan badan, semangat betul dia.

Aku tertawa, menggeleng.

“Ayo, Borno. Kau wajib ikut!” Petugas timer melotot.

Aku ragu-ragu melangkah.

Penumpang sibuk memperhatikan, satu-dua menahan tawa, lebih banyak yang terbahak panjang. Masih ingat gerakan senam SKJ jaman bahuela itu? Dengan musik khasnya? Aku lupa-lupa ingat, setidaknya waktu aku SD dan SMP ada dua versi yang dikeluarkan Depdiknas. Beberapa penumpang menonton tidak sabaran, mendesak agar sepit mulai melayani, petugas timer menyeka peluh, bilang, “Lima menit lagi, Kak. Sebentar, kami selesaikan dulu gerakan pendinginan.”

Bukan main. Hari pertama narik sepit, setidaknya ada dua kejutan, pertama Bang Togar, sebagai Ketua PPSKT, membuat banyak peraturan baru bagi anggotanya.

“Dia sepihak saja menulis aturan itu, main tempel di dermaga.”Salah-satu pengemudi mengeluh ketika bincang-bincang di warung pisang Pontianak.

“Bagaimana mungkin dia menulis: dilarang merokok saat mengemudi sepit? Memangnya sepit kita itu macam bus ber-AC? Asap rokoknya tidak bisa kemana-mana? Lama-lama dia akan melarang kita merokok di dermaga ini.” Yang lain bersungut-sungut, keberatan.

“Togar tidak akan melakukannya, Muslih.” Salah-satu pengemudi senior memotong, “Lagi pula tidak ada salahnya dengan peraturan itu? Biar penumpang tidak terganggu dengan kepul asap rokok kau. Aku juga merokok, tidak keberatan. Togar juga merokok, malah dia yang membuat peraturan. Kita tetap boleh merokok di dermaga ini, sepanjang tidak dekat penumpang. Susah sekali menjelaskan pada kau.”

“Nah, lantas kenapa dia juga tulis peraturan dilarang mengirim sms, menelepon, main internet saat mengemudi sepit, memangnya itu mengganggu penumpang? Apa ada asap mengepul dari HP?” Muslih sengit, tidak mau kalah.

“Astaga, tentu saja itu mengganggu penumpang! Perhatian kau bukan dikemudi sepit, tapi di HP, mata kau di layar HP bukan sungai Kapuas, perahu bisa oleng, membuat celaka semua orang.” Pengemudi senior melotot, “Lagipula, memangnya kau punya HP? Hanya satu-dua saja penghuni gang tepian Kapuas ini yang punya HP?”

“Sekarang belum. Esok lusa aku akan punya HP, dua sekaligus.” Muslih tidak mau kalah gertak.

“Nah, berarti bagus. Togar punya visi, dia atur sebelum kalian semua punya HP.”

Diam sejenak, menyeringai satu sama lain.

“Dia juga menyuruh pengemudi sepit men-cat steher, mempermanis tampilan sepit-sepit, memasang umbul-umbul. Kau lihatlah, terlihat menarik sekali dermaga kita sekarang, bukan?” Jauhari berbisik.

Aku mengangguk-angguk, itu benar, perahu kayu warna-warni, dermaga cerah dengan bendera-bendera, hanya jamban yang tidak disentuh perbaikan, itupun karena sudah ku-cat delapan bulan lalu, masa-masa plonco.

“Aku sih tidak keberatan dengan peraturan baru Bang Togar,” Demikian Jauhari berbisik lagi, “Tapi soal senam SKJ? Alamak, dia sepertinya sedang kesurupan jin Kapuas. Apa pula perlunya kita setiap Jum’at pagi senam SKJ. Jengah ditonton anak-anak SD yang mau menyeberang, malah di foto-foto turis pula. Tadi Mamak-ku kebetulan lewat, tertawa tidak henti melihat aku senam. Entahlah apa yang ada di kepala Bang Togar, jangan-jangan besok kita disuruh senam dengan seragam mencolok. Mati aku.”

Aku tertawa, memang lucu melihat pengemudi sepit merentangkan tangan, mengangkat-angkat kaki, bungkuk, ada yang nungging, berusaha sebaik mungkin mengikuti gerakan SKJ, sial, Jupri sang komandan senam salah-salah melulu.

“Bang Togar sedang stres, Kawan.” Pengemudi lain berbisik,mengingatkan. “Kau jangan macam-macam dulu dengan dia. Seminggu terakhir urusan keluarganya tambah genting. Mau cerai katanya, sudah diurus ke KUA segala. Makanya dia buat peraturan yang aneh-aneh, itu pelampiasan.”

Aku menatap wajah si pembawa berita tidak percaya.

“Sungguh! Aku tidak bohong.” Dia mengangkat dua jarinya, “Omong-omong, terimakasih banyak untuk taplak mejanya, Borno. Ini jadi benda paling berharga di rumahku, lembut sekali, istriku pasti suka.”

“Itu dari Pak Tua. Bukan aku yang beli.”

“Sama sajalah. Bagaimana kabar Pak Tua?”

“Sudah sehat. Tadi kalau tidak diingatkan, dia malah sudah memaksa mau narik sepit.” Aku tertawa.

Pengemudi sepit ramai tertawa, sepertinya itu kabar baik setelah ‘kegilaan’ Bang Togar seminggu terakhir.

***

Kejutan kedua, kabar burung itu ternyata benar.

Urusan rumah tangga Bang Togar amat genting. Sore, lepas mengantar karpet besar untuk Cik Tulani (“Ah, sungguh sayang membentangkan permadani ini, Borno.” Dan aku menatap ganjil Cik Tulani, lantas buat apa? “Ya, aku simpan sajalah di atas lemari. Sayang.” Aku menepuk dahi, dasar bakhil); mengantar karpet besar ke Koh Acung (“Terima-kasih, Borno. Sudah lama aku hendak titip karpet yang sama. Sayang anak-anakku malas bawa bagasi.” Aku menyeringai, baru ingat bukankah dua anak Koh Acung sedang kuliah di Surabaya? Kenapa tidak minta alamat); saat pulang dari mengantar karpet, Ibu justeru rusuh menuruni anak tangga.

“Kau antar aku segera ke rumah Togar.”

Aku menelan ludah, itu perintah Ibu (bukan permintaan apalagi himbauan), karena perintah, maka jangankan ke ujung gang (rumah Bang Togar agak jauh), ke hulu Kapuas pun harus ku-jabani.

Muka Ibu menggelembung, tidak banyak bicara selain dengus marah. Aku jadi ragu-ragu bertanya kenapa Ibu terlihat macam induk beruang mengamuk pergi ke rumah Bang Togar, menatap Ibu sekali-dua, terus melajukan sepit. Saat tiba, rumah Bang Togar sudah ramai, beberapa tetangga berkumpul, berbisik, menghela nafas prihatin.

“Kau memalukan, Togar. Sungguh memalukan seluruh keluarga kita.” Dan Ibu tanpa tedeng aling-aling, menunjuk wajah Bang Togar—yang duduk kuyu dipojokan kamar.

“Berani sekali kau pukul si Unai, hah? Kau pikir dia apa? Sansak? Benda tidak bernyawa? Seburuk-buruk Unai, dia istri kau. Sejelek-jelek Unai, dia Ibu dari anak-anak kau. Kalau kau memang tidak mau lagi rujuk, benci alang kepalang, kenapa tidak kau cerai baik-baik? Lima tahun tidak jelas juntrungan, hidup berpisah seperti musuh besar, kelakuan kau macam kanak-kanak saja, Togar. Benci tapi tidak kunjung kau cerai-ceraikan, cinta tapi kau pukul. Hubungan macam apa itu? Kau dengar aku, hah?”

Aku menelan ludah, meski Bang Togar selalu membuatku sebal, aku kasihan melihat dia diomeli Ibu. Sepertinya sepanjang siang ini saja sudah ada beberapa yang mengomel padanya, ada Koh Acung dan Pak Tua di beranda depan, wajah mereka juga mengkal.

Dari bisik-bisik tetangga aku tahu apa yang telah terjadi. Tadi pagi, setelah sekian lama tidak ada kejelasan, digantung, Kak Unai datang membawa dua anak mereka, meminta cerai, bilang sudah mendaftarkan cerai ke kantor KUA. BangTogar yang sejak seminggu terakhir resah atas kemungkinan itu mendadak gelap mata, mendorong Kak Unai, jatuhlah Kak Unai ke kolong rumah, anak mereka menjerit-jerit ketakutan, tetangga ramai datang. Berita itu menyebar seperti api membakar rumput kering, tiba di telinga Ibu yang sekarang terus mengomel.

“Kau tukar saja celana kau dengan rok, dasar mahkluk tidak beradab, tidak berguna.” Lima belas menit, Ibu menutup sumpah-serapahnya, Bang Togar tertunduk dalam-dalam, aku ikut menunduk sedih, menelan ludah, itu kasar sekali. Belum pernah aku seumur-umur mendengar Ibu sekasar itu, pilu rasanya. Tetapi apa mau dikata, kejadian tadi pagi amat serius. Kak Unai dibawa ke rumah sakit, wajahnya lebam, tangan kanannya patah.

Sore hari, hampir gelap tepian Kapuas, selesai Ibu mengomel, giliran Bang Togar yang dibawa pergi dua polisi. Keluarga Kak Unai melapor, dan tidak perlu ahli hukum, anak kecil saja tahu kasus ini kena pasal kekerasan dalam rumah-tangga. Koh Acung dan Cik Tulani menemani Bang Togar ke kantor polisi, tangan Bang Togar diborgol, wajahnya terlipat penuh penyesalan, jadi tontonan sepanjang gang sempit. Aku bergegas mengantar Ibu dan Pak Tua pulang.

“Berapa kali aku menasehati mereka lima tahun terakhir? Ratusan. Masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Kalau aku tidak ingat almarhum Mamaknya, sudah tutup mata, tutup kuping. Persetan.” Ibu masih mengomel sepanjang perjalanan pulang—membuat sepit terasa berat.

“Sudahlah, Saija. Itu hanya pertengkaran suami-istri biasa. Togar ketelapasan tangan, hanya mendorong, dia tidak lihat kalau Unai di pinggir beranda, jatuhlah ke kolong rumah.”

“Pertengkaran biasa Akak bilang? Jangankan pinggir beranda, Togar tidak pernah melihat betapa baik istrinya selama ini? Meski tidak diberi nafkah, lihat, Unai tetap mengurus si sulung dan si bungsu. Di mata Togar itu yang terlihat selalu cemburu, cemburu, dan cemburu. Apa pasal lima tahun berlalu? Hanya gara-gara cemburu buta, menuduh yang bukan-bukan. Badannya saja yang tinggi besar, hatinya lembek macam aci juadah.”

Aku diam saja di buritan sepit, menatap tepian Kapuas yang mulai remang bergantikan cahaya lampu di rumah-rumah penduduk. Burung walet sudah beranjak pulang dari tadi. Langit-langit kota menyemburat merah. Setelah beberapa hari lalu melihat pasangan Fulan dan Fulani di Surabaya yang begitu mesra, kasus Bang Togar dan Kak Unai ada di titik sebaliknya. Padahal semua orang paham, kisah cinta Bang Togar dan Kak Unai waktu masih bujang-gadis tidak kalah romantis.

Kalian mau tahu?

Baiklah. Mereka bertemu di acara besar Istana Kadariah lima belas tahun silam, waktu itu ada kendurian, pertemuan pewaris kesultanan. Pontianak ramai, berhias. Pasar malam digelar, tidak ketinggalan pertunjukan multi-ras, naga merah berkeliaran. Dalam sebuah momen penting, yang konon katanya waktu mendadak berhenti, dunia membeku, bertatapanlah Bang Togar dan Kak Unai—yang masih sama-sama belia, menonton keramaian. Jatuh cinta pada pandangan pertama.

Keluarga Kak Unai datang dari hulu Kapuas, butuh dua hari dua malam menumpang Sepit ke sana. Bisa ditebak, jalan cinta mereka tidak mudah, Kak Unai adalah anak ketua suku Dayak pedalaman—meski mereka tidak tinggal di hutan. Lantas siapalah Bang Togar? Jangankan anak ketua suku, marga, suku bangsanya saja tidak jelas, perantauan dari pulau Sumatera. Keluarga Kak Unai menolak mentah-mentah, mereka tidak akan membiarkan anak gadis tercinta dibawa pergi ‘orang asing’.

Demi cinta, Bang Togar minta dijadikan anak angkat salah-satu sukuDayak di sana, memutuskan tinggal di pedalaman Kalimantan. Belajar tradisi, budaya, kehidupan suku Dayak, semuanya. Kisah tentang Bang Togar yang tinggal di hulu Kapuas selama dua tahun sudah jadi legenda di tepian Kapuas ini. Semua orang ingat, saat dia akhirnya pulang, teman main masa kecilnya saja pangling, BangTogar pulang membawa Kak Unai. Alamak, pengorbanan selama dua tahun itu berbuah manis, dia bukan ‘orang asing’ lagi bagi suku Dayak. Semua persyaratan perjodohan dipenuhi, keluarga Kak Unai tidak bisa menolak selain menikahkan pasangan yang saling jatuh cinta.

Sialnya, kota Pontianak itu bukan macam pedalaman yang jam enam sore sudah sepi, tinggal kunang-kunang. Kak Unai yang supel, pernah mengenyam SMA terbuka, bergaul akrab dengan penduduk tepian Kapuas, dan aktif dalam banyak kegiatan—malah mendirikan sentra tenun-menenun kain Dayak. Inilah pangkal masalah, walau si sulung dan si bungsu beranjak besar, besarnya cinta BangTogar terkadang justeru memantik cemburu buta. Melihat ada petugas departemen industri datang ke rumah, Bang Togar sudah runsing, cemas Kak Unai naksir petugas gagah berseragam. Apalagi setiap Kak Unai minta ijin ikut pameran di Jakarta selama seminggu, panas-dingin Bang Togar.

Mula-mula hanya bertengkar mulut, lama-lama piring berterbangan, kemudian menjadi diam-diam-an, tidak peduli satu sama lain. Tidak tahan didiamkan bak patung sepanjang hari, Kak Unai pindah ke kerabatnya yang tinggal di Pontianak, membawa dua anak mereka, melanjutkan aktivitas tenun-menenunnya di sana. Bang Togar tidak peduli, jaga gengsi, benci, atau entahlah kenapa, tetap tinggal di rumah lama. Membiarkan status pernikahan mereka tidak jelas, stagnan, status quo lima tahun terakhir.

Apakah Bang Togar masih cinta Kak Unai? Jangan tanya, semua penduduk tepian Kapuas tahu itu. Legenda dua tahun pengorbanan Bang Togar di pedalaman Kalimantan bahkan hampir digubah menjadi syair lagu. Lantas kenapa sekarang jadi rumit? Seperti lupa betapa mesranya mereka lima belas tahun, rasa cinta hebat itu luntur macam pakaian tersiram pemutih. Kenapa? Mana aku paham.

“Semoga semua baik-baik saja, Saija. Siapa tahu ada hikmah tersembunyi dari kejadian ini.” Pak Tua berusaha menenangkan Ibu, “Cinta, pernikahan, keluarga, selalu menyimpan misteri. Kau pasti tahu soal itu, Saija.”

Ibu diam, menghela nafas, memperbaiki tudung rambut.

“Percayalah. Togar dan Unai hanya keras-kepala. Kejadian ini boleh jadi telah memecah kerasnya perangai mereka. Bisa baik, masing-masing melihat kembali perangai, berpikir ulang…. Bisa buruk, Togar dipenjara, Unai menjanda, anak mereka kehilangan ikatan keluarga. Ah, tadi para pengemudi sepit malah berbisik riang tentang berarti tidak ada lagi senam SKJ…. Setidaknya itu sudah satu hikmah baik dari kejadian ini.” Pak Tua mencoba bergurau.

Ibu melotot galak, tutup mulut Akak.

Aku nyengir menatap Pak Tua yang mengelus-elus ubannya, salah-tingkah dimarahi Ibu.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s