Episode 32: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Saat kembali ke hotel, aku tidak cerita tentang kejadian di rumah Mei pada Pak Tua. Lagipula dia sudah tertidur kelelahan, tidak tega membangunkan. Habis mandi, berganti pakaian, aku tidur telentang menatap seekor cicak didekat lampu, berpikir. Suara desing pendingin memenuhi langit-langit kamar.

Urusan ini sedikit tidak adil, bukan? Almarhum Bapak dulu selalu bilang, “Borno, jangan pernah menilai sesuatu sebelum kau selesai urusan dengannya.Sebelum mengenal baik. Sebelum cukup mendengarkan atau membaca.” Ibu yang sambil merangkai ikan hasil tangkapan menyela, “Itu lebih mudah dikatakan,Borno. Kelak saat kau dewasa, banyak sekali pongah orang sebaliknya, disadari atau tidak olehnya. Padahal dia yang selama ini berkoar-koar jangan menilai sesuatu dari kulitnya, lah dia sendiri cepat ceplas-ceplos kasih komentar atas banyak hal, menilai sebelum kenal, sebelum selesai sama sekali.”

Aku menatap kaos hitam Mei yang tergantung rapi di pegangan lemari. Tadi buru-buru kuganti saat tiba di kamar—khawatir kotor. Lepas memperkenalkanku dengan Papa (yang terpaksa menerima juluran tanganku), Mei riang mengantarku kembali ke taksi, tidak tahu apa yang telah terjadi.

Aku mendesah pelan, apalah dosaku? Apa aku berniat jahat? Aku bukan macam Pak Tua yang bijak menyikapi hidup, aku juga tidak seperti almarhum Bapak yang pahit getir di akhir hidupnya tetap memiliki kebaikan bercahaya, aku sekadar Borno, anak muda menjelang dua satu, tidak berpendidikan tinggi, hanya pengemudi sepit. Apalagi yang bisa kupikirkan selain sedih, ragu-ragu, bingung dan entahlah. Kejadian mengantar Mei tadi mempengaruhiku banyak. Membuatku berpikir ulang, menimbang-nimbang, menata hati, lelah, lalu jatuh tertidur.

***

“Bagaimana semalam?” Pak Tua bertanya, sarapan esok.

“Bagaimana apanya?” Aku mengunyah ‘nasi goreng gila Surabaya’ buatan koki hotel.

“Astaga, apalagi? Mengantar Nona Mei-lah.” Pak Tua melambaikan tangan,tertawa.

“Begitu-begitu saja.” Aku nyengir, “Bukankah Pak Tua sendiri yang bilang segera pulang. Jadi aku hanya mengantar, sampai, bergegas pulang.”

“Maksud orang-tua ini, bisa kau ceritakan bagaimana di taksi? Apakah kalian diam-diaman saja? Bagaimana rumah Mei? Kau sempat bertemu anggota keluarganya? Ayolah.”

“Tidak ada yang spesial.” Aku menggeleng, menjawab datar, “Pak Tua benar, aku tidak punya bahan pembicaraan di taksi, lebih banyak diam. Dirumahnya aku mampir sebentar, Mei meminjamkan kaos, lantas pulang. Cerita selesai.”

“Kau bilang apa? Kau dipinjami kaos?” Pak Tua tetap antusias, sengaja tidak peduli dengan ekspresi wajahku yang tidak berselera cerita (dan nasigoreng).

“Kaos biasa.” Aku menjawab pendek, kembali memaksakan mengunyah nasi goreng super pedas—sama sekali tidak ada gilanya kalau pedas begini.

Pak Tua mendengus sebal, menyerah, “Untuk orang yang lazimnya ramai mulut, tabiat kau pagi ini aneh sekali Borno. Macam kuda sakit gigi. Ya sudahlah, hampir pukul delapan, kau harus segera mengantar orang tua ini pergi terapi.”

Seharian aku menunggui Pak Tua terapi. Sempat istirahat satu jam, Pak Tua mengajak makan siang di kantin, “Menurut perawat, boleh jadi ini terapi terakhir, sudah cukup. Akan butuh waktu lama, baru selesai menjelang petang,Borno. Nah, kau punya waktu banyak kalau mau keluyuran.” Pak Tua mengajak bicara sambil menghabiskan ‘mie ayam gila Surabaya’.

“Aku menunggu di sini saja, Pak. Malas kemana-mana. Mendung di luar.”Aku ber-hah kepedasan, alangkah gila-nya mie ayam ini macam nasi goreng tadi pagi, terobsesi sekali orang Surabaya dengan sambal.

“Kau tidak mau coba-coba ke rumah Mei?” Pak Tua menggoda.

Aku menggeleng, meraih gelas air minum, “Dia sibuk mengajar.” Aku mengarang alasan.

Pak Tua manggut-manggut, “Darimana kau tahu dia sibuk?”

“Eh, semalam, aku sempat bertanya. Dia bilang begitu.”

“Lah? Bukankah kau semalam hanya diam-diam-an saja di taksi?”

“Aku lupa. Sebenarnya sempat bicara sebentar.” Aku menyeka bibir yang panas.

Pak Tua nyengir, “Kau tidak berbakat jadi tukang ngarang macam Togar,Borno. Sudahlah, kalau kau enggan bercerita, tidak usah dipaksakan.”

Aku ikut nyengir, kembali ke piring ‘mie ayam gila’.

***

Terapi Pak Tua selesai pukul lima. Dia bukannya segera mengajakku pulang ke hotel, dia justeru menyuruhku menemaninya ke Pasar Ampel, pasar Arab yang kami kunjungi kemarin siang.

“Membeli pecah-belah.” Demikian jawaban pendek Pak Tua.

Pecah belah (ole-ole)? Buat apa? Aku melipat dahi.

“Terapi asam uratku sudah selesai, Borno.” Wajah Pak Tua cerah, “Kaulihat, aku jauh lebih sehat, bukan? Dokter bilang, tongkat ini sudah bisa kulepas jika terus disiplin tiga enam bulan ke depan. Kita akan segera pulang ke Pontianak.”

“Pulang?” Aku mematung.

“Apalagi? Kau mau tinggal di Surabaya?” Pak Tua tertawa.

Secepat itu? Seminggu saja belum. Pak Tua sudah asyik belanja.

Setengah jam berkeliling, Pak Tua menyuruhku menggendong tiga karpet ukuran besar, men-carter angkot membawanya ke hotel, tidak muat di bagasi taksi, “Satu buat Ibu kau, satu buat Acung, satu lagi buat Tulani. Siapa tahu dia hendak membentangkan permadani diwarung nasinya.” Tertawa. Dia juga membeli taplak meja kecil-kecil satu kantong plastik penuh, “Buat semua pengemudi sepit.”

“Dari mana Pak Tua punya uang sebanyak itu?” Aku bertanya, harga karpet tidak murah.

“Nah, akhirnya kau bertanya, Borno. Banyak orang yang kadang lupa bertanya muasal uang kalau dia sudah terlanjur asyik menikmatinya. Anak lupa bertanya pada bapaknya. Istri lupa bertanya pada suaminya.” Pak Tua memainkan tongkat di tangan, angkot melaju di tengah gerimis, “Dari mana uang jalan-jalan ke Surabaya ini? Membayar terapi? Hotel? Tenang saja, Borno, semua halal dan baik, yakinlah. Kau jangan meremehkan orang tua ini, ya. Mentang-mentang rumahnya papan, bajunya lusuh, miskin-papa dia. Enak saja.”

Aku menggaruk kepala, bukan begitu maksudku. Siapa pula yang mau meremehkan Pak Tua.

“Anggap saja orang tua ini pandai menabung saat masih muda, menyisihkan uang sejak melanglang kemana-mana. Jadi masa tua-nya tidak perlu bergantung kesiapa-siapa, apalagi sampai terlantar dan terhina. Ah iya, sebelum orang tua ini lupa, besok pagi-pagi tolong kau carikan tiket kapal ke Pontianak, kalau ada keberangkatan sore, kita berangkat sore itu juga. Sudah rindu aku berhuluan membawa sepit di Kapuas.”

Aku menelan ludah, pulang besok sore pulang? Sisa perjalanan ke hotel dihabiskan menatap ramai jalanan, gerimis, kerlip lampu jalan. Aku tidak berselera membahas topik pembicaraan apapun.

Lepas makan malam, Pak Tua berangkat tidur lebih dulu, mengantuk dia bilang—apalagi aku lebih banyak diam, tetap tidak banyak cakap soal Mei. Aku sendirian menatap langit-langit kamar, berpikir, menghela nafas, sama seperti malam sebelumnya. Apa yang harus kulakukan? Besok sore kami pulang ke Pontianak, dengan demikian tutup buku semua cerita di Surabaya.

Aku memperbaiki selimut, apalagi yang kuharapkan? Sejak Bapak pergi, diantara sekian banyak didikan keras Ibu, salah-satunya yang amat kupahami adalah: tahu diri. “Ibu tidak bisa membelikan kau mainan bagus. Tahu diri-lah,Borno.” Atau, “Makan saja apa yang ada di atas meja, tidak usah banyak mengeluh, tahu diri-lah, Borno.” Atau, “Astaga? Baju ini lebih dari memadai, Borno, tidak ada uang untuk membeli yang baru. Tahu diri-lah siapa keluarga kita.”

Aku paham sekali soal ‘tahu diri’ itu. Bodoh sekali selama ini aku tidak menyadari siapa dia sebenarnya. Apa kata Pak Tua? Jangan mentang-mentang aku tinggal di rumah papan, kau anggap aku miskin papa? Itu sebaliknya benar, jangan mentang-mentang gadis itu selalu naik sepit di Pontianak, tidak keberatan naik angkot, berpanas-panas, berhujan-hujan, sekadar guru SD, kau anggap dia biasa-biasa saja, Borno? Aku menghela nafas lagi, berusaha memejamkan mata, pikiran-pikiran buruk ini, tolong pergilah dari kepalaku.

***

Esok pagi-pagi, lepas sarapan, aku berangkat membeli tiket. Petugas hotel memberi alamat agen penjual tiket ferry terdekat. Aku naik angkot sambil membawa bungkusan plastik. Tidak susah untuk mendapatkan dua lembar tiket, bukan musim mudik, banyak kapal penumpang jarak-jauh berubah menjadi kapal pengangkut barang.

Aku memutuskan tidak langsung balik ke hotel, aku naik angkot menuju gedung terapi. Kalau tidak salah, hari ini jadwal Mei mengantar Nenek-nya. Aku akan menemui Mei, tidak ada maksud apapun, tidak ada kepentingan apapun, hanya hendak bilang nanti sore kami pulang ke Pontianak. Tidak lebih tidak kurang. Hei, dia bukan siapa-siapa-ku, kan? Teman pun belum, jadi kenapa aku harus berpikir rumit perlakuan Papa-nya padaku? Aku-lah yang terlalu mengada-ada perasaan ini. Andi memprovokasi situasinya, Pak Tua menambah bumbu-bumbunya. Coba diingat kembali, kami sekadar kenalan di atas sepit, pernah sekali mengajarinya mengemudi sepit, hanya itu.

Aku-lah yang rusuh dengan perasaan. Sementara Mei? Bahkan terpikirkan selintas boleh jadi tidak pernah. Aku-lah yang sibuk mencari tahu siapa pemilik amplop merah, mencari alamatnya di Pontianak, mencari alamatnya di Surabaya, seperti dia siapalah aku. Padahal? Itulah yang dua malam terakhir kupikirkan, lantas kusimpulkan.

Maka pagi ini, biarlah aku pamitan pulang ke Pontianak, itu saja misi pertemuan disengaja ini. Dan ajaib, dengan pemahaman yang sesederhana itu, aku bisa bersenandung santai melintasi halaman bangunan terapi. Tidak gugup, tidak cemas.

Gadis itu mengenakan kardigan hijau muda, celana jeans senada, rambutnya diikat, duduk seorang diri di ruang tunggu (yang kebetulan sepi pasien). Tertawa riang melihatku datang, “Baru saja Mei berpikir, kenapa Abang tidak muncul, ternyata…. Panjang umur.”

Aku cengar-cengir, menggaruk kepala yang tidak gatal, duduk dihadapannya.

“Bagaimana kabar Pak Tua? Kemajuan terapinya?”

“Baik. Baik sekali malah.” Aku diam sejenak, menatapnya.

“Apa?” Mei nyengir, bersemu merah.

“Tidak apa-apa.” Wajahku ikut memerah, baiklah, lebih cepat lebih baik, “Nanti sore aku dan Pak Tua kembali ke Pontianak, terapi Pak Tua sudah selesai kemarin.” Terdiam sejenak.

Mei menatapku lamat-lamat, “Pulang?”

Aku mengangguk, “Terima-kasih banyak sudah menemani kami jalan-jalan keliling Surabaya.” Menjulurkan bungkusan plastik yang kubawa-bawa sejak tadi.

“Ini apa?” Mei bertanya, suaranya sedikit hambar.

“Kaos yang Mei pinjamkan dua hari lalu. Maaf, tidak sempat dicuci.”

“Tak usah dikembalikan. Buat Abang saja.” Mei menggeleng.

“Aku tidak mau.” Ikut menggeleng, lebih tepatnya, aku tidak mau memiliki benda apapun pemberian dia, itu akan membuatku ingat dia—ini juga salah-satu kesimpulanku berpikir semalam.

“Pulang ke Pontiakan…. Cepat sekali….” Mei perlahan menerima bungkusan plastik.

Aku mengangguk, prosesi perpisahan ini juga harus cepat kutuntaskan, “Maaf, aku harus segera balik ke hotel, nanti orang tua itu sibuk mengomel. Semoga Mei lancar-lancar saja mengajarnya di sini. Semoga tidak ada anak SD yang bandel.” Bergurau hambar.

Mei tertawa, “Bang Borno juga hati-hati bawa sepit, jangan mau bawa kambing lagi.”

Aku ikut tertawa, berdiri, mengangguk untuk terakhir kali.

“Sebentar.” Mei menahan langkahku.

“Salam buat Pak Tua, Bang. Bilang terima-kasih sudah mengajak ke padepokan musik, menemui pasangan bahagia kawan lamanya. Itu pengalaman spesial bagi Mei.”

Aku mengangguk, akan kusampaikan.

“Dan terima-kasih juga buat Bang Borno.” Mei tersenyum.

Untukku? Terima-kasih apa?

“Tidak tahu. Pokoknya terima-kasih saja.” Gadis itu menunduk.

Aku mengangguk, balik kanan, melangkah meninggalkan ruang tunggu.

***

Siang berkemas, sore berangkat ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Tiga karpet Pak Tua beserta koper-koper diurus petugas penge-pak-an,kami menaiki anak tangga, menuju lambung kapal. Ferry besar yang kami tumpangi gagah melenguhkan klakson tanda lepas jangkar. Geladak tempatku berpijak sedikit bergetar, penumpang berdiri melambaikan tangan, orang-orang di dermaga balas melambaikan tangan, bersorak-sorak. Sekali lagi suara klakson melenguh, tanda kapal mulai bergerak halus meninggalkan Pelabuhan Tanjung Perak. Aku menelan ludah, menatap semburat merah, matahari siap tumbang.

“Kau melambaikan tangan pada siapa, hah?” Pak Tua menyikut lenganku. “Tidak ada Mei di bawah sana, bukan? Atau ada?” Tertawa menggoda.

Aku mendengus, tidak ada salahnya menikmati perpisahan ini. Setidaknya melambaikan tangan pada kota Surabaya, selamat tinggal semua kenangan.

“Kau sudah dua hari pendiam sekali, Borno.”

Aku masih asyik ber-da-da ria.

“Apa sebenarnya yang terjadi waktu kau mengantar Mei pulang?”

“Tidak ada apa-apa.” Menjawab malas.

“Satpamnya galak?” Pak Tua menyikut bahuku.

Aku menoleh, “Satpam? Aku tidak bertemu satpam di rumahnya.”

“Bukan satpam itu, bodoh. Satpam yang lain, Bapak Mei misalnya, galak sekali ya?” Pak Tua jenaka memainkan ujung mata.

Aku diam, menatap wajah Pak Tua.

“Ah, cinta, selalu saja klise dan klasik.” Pak Tua sengaja benar mengabaikanku, sekarang ikut melambaikan tangan, sibuk ber-da-da ria.

Gelembung air dari propeler mesin buritan ferry membuat garis panjang, langit mulai gelap, bintang-gemintang satu-persatu mengintip, kapal terusmelaju membelah lautan menuju kota kami, Pontianak. Selamat tinggal Mei.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s