Episode 31: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Esok hari tiba, hari plesir keliling kota.Mei tiba pukul delapan, saat aku dan Pak Tua sudah selesai sarapan dan menunggu sebentar di lobi hotel. Dia mengenakan kaos hitam padu-padan dengan celana jeans, rambutnya ditutup topi kuning. Dia membawa dua buah payung besar, “Cuaca panas seperti ini, Surabaya sering hujan siang-siang.” Mei menyeringai, menyerahkan satu payung padaku. Aku menerimanya, selalu gugup setiap bertemu dengannya—entah sampai kapan aku akan terbiasa.

Kami naik angkot (demikian menyebutnya di kota ini).”Aku ingin melihat jembatan besar itu.” Pak Tua menjawab takjim saat ditanya lokasi pertama yang hendak dituju. Mei mengangguk, mengerti. Aku menyentuh lutut Pak Tua pelan, berbisik, “Jembatan besar apa?” Takut di dengar Mei dan penumpang angkot lain, belum mengerti maksudnya. “Kau bikin malu saja.” Pak Tua mendengus, berseru kencang, membuat yang lain menoleh, “Tidak ada orang di negeri ini yang tidak tahu Jembatan Surabaya-Madura. Makanya baca koran, tonton teve.” Aku menatap Pak Tua sebal. Mei menutup mulut, menahan tawa.

Itu tujuan pertama, sesuai permintaan Pak Tua.”Panjangnya tak kurang lima kilometer,” Demikian Mei menjelaskan, setengah jam kemudian kami sudah berdiri di pangkal jembatan, “Menghubungkan Bangkalan Madura dengan Surabaya. Lebih besar dibanding jembatan Kapuas, bukan?”

Aku mengangguk, Pak Tua manggut-manggut tipis, “Kau tahu, Borno. Aku ingin Togar ikut kita sekarang.” Aku menatap Pak Tua tidak mengerti, mengganti tangan kiri memegang payung—cuaca panas membakar ubun-ubun. Kenapa pula Pak Tua tiba-tiba menyebut nama ketua PPSKT itu.”Karena dengan berdirinya jembatan gagah ini, maka kapal ferry Ujung Kamal Madura ke Tanjung Perak Surabaya tersingkir, tinggal angkutan tanpa gigi. Di sini nasib pelampung buruk.” Pak Tua menjelaskan.Aku bergumam, benar juga, di Pontianak, kedatangan pelampung menyingkirkan sepit Kapuas, di sini sebaliknya, nasib pelampung buruk setelah jembatan jadi, kapal-kapalnya dipindahkan ke rute lain, bahkan ada yang terancam menjadi besi tua. “Begitulah hidup, ” Pak Tua menatap takjim tali-temali dan pucuk jembatan, “Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang berjaya, kadang terhina. Esok lusa boleh jadi jembatan ini tidak sakti lagi, entah oleh apa.”

Tidak lama kami di jembatan besar itu, tidak bisa melintas (karena tidak ada jalur pejalan kaki, “Ah, apa susahnya mereka bangun dulu? Coba tengok jembatan-jembatan raksasa di seluruh dunia, semua ada jalur pejalan kakinya.” Pak Tua mendengus sebal), kami segera pindah ke lokasi berikutnya.”Terserah Borno.” Pak Tua menjawab pertanyaan Mei.”Eh, terserah aku?” Aku menyeringai, duduk bersempit-sempit di angkot.”Ya, sekarang giliran kau menentukan tujuan kedua.”Aku menyeringai bingung, mana aku tahu hendak kemana? Kenal pun tidak dengan kota ini. Pak Tua balas menyeringai, “Kau tidak akan bilang ke bonbin saja, kan?””Bonbin?””Kebon binatang.” Pak Tua terkekeh. Mei ikut tertawa.Aku menyumpahi Pak Tua (dalam hati), dia pasti sengaja membuatku bingung di depan Mei.”Aku ingin melihat gedung tertua itu.” Aku setelah diam sejenak, berkata mantap pada Mei.”Gedung tertua apa?” Pak Tua menyela.”Pak Tua jangan bikin aku malu saja. Tidak ada orang di kota ini yang tidak tahu gedung tertua Surabaya.” Aku mendengus, sengaja meniru intonasi Pak Tua tadi pagi.”Macam kau tahu saja, Borno.” Pak Tua tertawa.”Memang. Mana aku tahu gedung apa.” Aku nyengir, ikut tertawa.Gereja Santa Maria, itu bangunan yang dipilih Mei. Gereja tua itu terlihat menawan dengan panel gelas dan serena di sekelilingnya. “Sebenarnya, aku juga tidak tahu apakah ini bangunan tertua di Surabaya, Bang.” Mei berkata dengan kepala mendongak, menatap atap gereja, “Ada banyak bangunan tua di kota ini, peninggalan jaman penjajahan.”

Dari gereja itu kami menuju balai kota Surabaya, turun dari angkot berganti menumpang becak, kami menuju Masjid Ceng Ho. “Jangan mimpi ber-becak bersama Mei,” Pak Tua menyeretku, menyuruh naik becak lain. Aku bersungut-sungut, siapa pula yang mau ber-becak berdua? Dulu saja tidak sengaja memegang tangannya agar tidak terjungkal dari sepit rasanya malu sekali. Aku justeru mau naik becak sendirian, rasanya eksotis melintas di tengah kota dengan becak. Dua becak melintas jalanan panas Surabaya (aku duduk nyempil di sebelah Pak Tua yang duduk santai dengan tongkatnya), lima menit tiba di halaman mesjid ber-arsitektur indah khas China. Langit kota semakin gerah, membuat berkeringat, aku menyeka peluh di pelipis. Mei membeli tiga botol air mineral di tukang asong depan Mesjid.”Ini Masjid Laksamana Ceng Ho, Bang.” Mei menjelaskan.”Dia paling juga tidak tahu siapa si Ceng Ho itu.” Pak Tua nyengir.”Ada banyak peranakan China di kota ini. Kampung China di Surabaya tidak kalah dibanding Pontianak, Bang.” Mei lanjut menjelaskan, “Ada tempat yang terkenal sekali di kampung China, Kembang Jepun. Malam hari area itu berubah menjadi pasar jalanan dan warung makan tenda dengan pertunjukan budaya peranakan China, tidak kalah suasananya dengan di Pontianak. Apalagi saat imlek dan cap gomeh. Puluhan naga turun ke jalan.””Naga?” Aku melipat dahi.”Barongsai, Bang.” Mei tersenyum—bukan mentertawakanku seperti yang dilakukan Pak Tua.Langit berubah drastis menjadi mendung saat kami turun dari angkot satu jam kemudian, di tujuan berikutnya, Pasar Ampel.”Kenapa kita ke sini? Pak Tua hendak membeli karpet atau permadani?” Aku bertanya pada Pak Tua, menatap toko-toko dengan jualan seragam—dia yang memilih tujuan ini.”Nostalgia, Borno.” Pak Tua melambaikan tangan, tertawa, “Ini pasar Arab terbesar di kota Surabaya, dulu waktu masih muda seumuran kau, aku pernah bekerja di salah-satu tokonya. Nah, toko yang itu, sayang pemiliknya sudah lama pindah, jadi tidak ada lagi yang kukenal.”

Adalah setengah jam berkeliling Pasar Ampel. Aku sebenarnya menikmati berjalan di lorong-lorong pasar Arab itu, menyimak motif, menyentuh permukaan karpet, dan terperangah mendengar harganya.”Di ujung lorong ini ada mesjid dan makam salah satu dari sembilan sunan tanah Jawa, Bang.” Mei berbisik, “Sunan Ampel.”Aku mengangguk-angguk, ternyata tempat ini tidak kalah spesial.Gerimis mulai turun saat Pak Tua bilang perutnya lapar. Mei cekatan memilih lokasi makan yang cocok dengan diet Pak Tua, warung soto Madura, tidak jauh dari Pasar Ampel. Nikmat sekali menghirup kuah soto di tengah gerimis yang mulai menderas. Pak Tua mendecap-decap, aku tidak jahil mengingatkannya tentang diet, hanya semangkok soto, tanpa potongan daging atau jeroan berbahaya. Aku sedang asyik melirik Mei yang tengah menghabiskan mangkok sotonya. Lihatlah, wajahnya, gerakan tangannya, sekali dua memperbaiki anak rambut (topi kuning sudah dilepas), kepedasan, meminta kecap (aku mengambilkannya), meniup-niup permukaan mangkok, meminta sambal (aku meraihnya), meminta tissue (aku mendorong tempat tissue). Amboi, dengan Mei ada di depanku, makan siang ini terasa nikmat sekali, duduk di kursi panjang, berhadap-hadapan. Jalanan ramai, mobil dan motor bergegas menerobos gerimis yang semakin deras. Suara klakson dan rintik air menjadi latar.”Sotonya tidak dimakan, Bang?” Mei menyeka ujung mulut, bertanya.”Bagaimanalah dia akan makan kalau sejak tadi curi-curi pandang menatap Mei.” Pak Tua yang menjawab, terkekeh.Wajahku merah padam (juga wajah Mei), aku buru-buru meniup mangkok soto. Dasar orang tua perusak suasana, tidak bisakah dia berhenti menggangguku?

***

Cukup lama kami tertahan di warung soto. Hujan deras membungkus kota, kami tidak bisa kemana-mana, payung besar yang dibawa Mei tetap tidak akan melindungi dari percikan air terbawa angin. Jadilah kami nongkrong satu jam di warung soto, mendengarkan cerita masa-lalu Pak Tua. Cerita membantu saudagar Arab berjualan di Pasar Ampel, cerita tentang perang besar, umur Pak Tua masih sepuluh saat perang besar melanda kota, 10 November yang harum nan masyhur itu. Aku tercenung, ini kali pertama Pak Tua murah hati menceritakan masa lalunya, biasanya dia selalu misterius. Sayang, saat aku mulai gencar bertanya, semangat ingin tahu lebih banyak, hujan mulai reda, Pak Tua memutuskan segera melanjutkan plesir.”Pak Tua hendak kemana lagi?” Mei bertanya sambil memasang topi kuning, “Jembatan Merah? Grahadi? Kota Tua? Gedung Sampoerna?”Pak Tua menggeleng, dia perlahan meraih selembar kertas kecil kusam dari saku celana, menyerahkan pada Mei, “Kau bisa mengantarku ke alamat ini?”Mei membaca sejenak, bergumam, “Aku belum pernah ke lokasi ini, Pak.””Tetapi kau tahu arahnya, bukan?”Mei mengangguk, “Bisa dicari, dua kali naik angkot.”Pak Tua tersenyum takjim, “Nah, mari segera berangkat, Mei, aku ingin menghabiskan sisa hari ini selama mungkin di sana.””Sebenarnya kita mau kemana?” Aku bertanya pada Pak Tua saat berpindah angkot, diamat-amati kami nampaknya meninggalkan pusat kota.”Teman lama.” Pak Tua menatapku hangat, “Teman lama orang tua ini. Kau pasti senang bertemu dengan mereka.”Mereka? Siapa? Aku hendak membuka mulut, bertanya, tapi wajah riang Pak Tua membuatku urung, sabar saja Borno, cepat atau lambat kau juga akan tahu.

Setengah jam berlalu, tibalah kami di perkampungan pinggir kota. Jalanan lebih lengang, pohon-pohon lebih banyak. Angkot berhenti, sopirnya bilang, tinggal masuk gang saja, berjalan kaki tiga ratus meter, hingga mentok, semua orang sini tahu padepokan itu. Aku mengembangkan payung, gerimis, membantu Pak Tua turun dari angkot. Mei menyusul di belakang, dengan payung sendiri. Gang beraspal itu agak becek, mesti hati-hati atau sandal tidak sengaja memercikkan air kotor ke celana. Aku menatap sekitar, terlepas udara dingin karena hujan, gang ini terlihat asri, menyenangkan. Rumah-rumah berjejer rapi, halaman dengan taman bunga, satu-dua penghuninya duduk santai di kursi depan, ramah menatap kami yang melintas.

Akhirnya tiba juga di ujung gang.

Amboi, andai saja Andi ada di sini, dia juga akan senang berkunjung kemari.Pak Tua mendorong pintu pagar, melintasi halaman luas dengan rumput terpangkas rapi macam beludru hijau, pohon cemara berjejer, bunga bougenville, percikan air hujan di kaki terasa nyaman. Bagian depan rumah yang kami kunjungi ramai oleh anak-anak yang sedang bermain musik, ada yang menggesek biola, memetik gitar, memainkan angklung, riang tidak terganggu oleh kehadiran kami. Pak Tua berdiri sejenak sebelum melangkah masuk ke aula terbuka itu, menatap sekitar sambil tersenyum lebar. Aku dan Mei ikut menyimak kesibukan di teras depan luas, bertanya dalam hati, ini sebenarnya tempat apa. Saat itulah, melangkah patah-patah mendekati kami, seseorang sebaya Pak Tua, mengenakan kacamata biasa—kalian tidak akan menyangka dia buta. Tinggal satu langkah, tangannya terjulur, menyentuh bahu, leher, wajah Pak Tua, meraba-raba. Pak Tua membiarkan, tersenyum malah.”Hidir…. Astaga, kaukah itu Hidir?” Tuan rumah menepuk dahi.”Benar. Ini aku, Kawan.” Pak Tua tertawa, tongkatnya terlepas, dia lompat memeluk sahabat lamanya erat sekali, tidak peduli tampias mengenai rambut putihnya.”Siapa yang datang, Yang?” Wanita tua—juga sebaya dengan Pak Tua, mengenakan kacamata polos (seperti kacamata biasa), ikut mendekat dari arah kerumunan anak-anak yang bermain musik. Patah-patah melangkah dengan tongkat.”Hidir, Yang.””Hidir? Hidir siapa…. Ya Tuhan, kaukah itu Hidir?” Wanita tua itu berseru tertahan, dan tanpa menunggu lagi, sudah meraba-raba ke depan, berusaha menyentuh wajah Pak Tua, memeluknya. Bertiga mereka sekarang berpelukan erat. Bahkan, sumpah, aku sekilas bisa melihat mata Pak Tua berkaca-kaca, menahan tangis.Aku menyeka ujung hidung, tersentuh, ini mengharukan.Mei di sebelahku ikut menyaksikan pertemuan hebat mereka, berdiri dengan payung terkembang. “Mereka siapa?” dia berbisik, bertanya.”Si fulan dan si fulani.” Aku menjawab pelan—aku tidak tahu nama asli mereka, dulu Pak Tua bercerita juga dengan nama-nama alias itu. Ternyata, inilah padepokan musik pasangan yang kisah hidup mereka pernah kudengar bersama Andi.”Sebentar…. Sebentar.” Wanita tua itu menoleh ke arah kami, “Kau tidak datang sendirian, Hidir? Siapa yang kau bawa? Bukankah kau hidup membujang? Jangan-jangan kau menikah tanpa bilang pada kami?”Pak Tua tertawa, “Perkenalkan, itu kawan baikku di Pontianak. Ayo, Borno, jangan macam patung kehujanan, masuk ke sini. Borno ini sudah kuanggap lebih dari anak, walaupun aku tidak tahu, apakah dia menganggapku orang-tua, jangan-jangan seharian penuh ini dia menganggapku perusak suasana.”Aku menyalami pasangan itu. Wanita tua itu meraba-raba rambutku yang basah, tersenyum, “Kau pastilah anak muda yang berbeda dari kebanyakan, Nak.””Nah, yang satu lagi adalah Mei. Gadis baik hati yang mengantar kami kemari. Tanpa bantuannya, boleh jadi aku tersasar kemanalah. Ayo, Mei, masuk kemari, mereka berdua ini sama seperti kau, guru. Bahkan terhitung guru musik yang hebat.”

Mei memeluk hangat wanita tua, menyalami yang laki-laki.

Dan aku, meski sepanjang sore hanya diam memperhatikan (juga Mei), mendengarkan Pak Tua bercakap-cakap seru bersama mereka, bercerita kisah lama, bertanya kabar teman lain, aku akhirnya tahu, cerita Pak Tua tidak dusta. Cinta adalah perbuatan. Di sela obrol santai, wanita tua itu membawa teko berisi teh hangat keluar, patah-patah, hati-hati, senyum hangat tak pernah lepas dari wajahnya. Selama bercakap-cakap, mereka duduk selalu bersisian, tertawa bersama, mengolok-olok Pak Tua, bergurau, jahil saling goda, tertawa kompak. Dan Pak Tua sekali-dua menceritakan masa lalu mereka pada Mei “Mereka sudah menikah hampir enam puluh tahun. Kau tahu Mei, separuh dari masa itu, mereka selalu merepotkan aku. Mulai dari mengurus surat nikah, hingga berhadapan dengan sipir penjara.” Tertawa, sejenak membahas tentang pulau pengasingan PKI, terdiam sebentar saat mengenang anak pertama mereka yang meninggal di peristiwa Malari.

Anak-anak yang belajar musik satu dua mendekati kami, bertanya tentang satu-dua hal, ada yang malah memperdengarkan kemajuan latihan, membawa biola, pasangan itu menghentikan sejenak percakapan, tersenyum mengurus mereka. Adalah dua kali kami mendengar gesekan biola anak-anak, ikut menikmati—meski tidak paham lagu klasik apa yang dibawakan.

Dan aku akhirnya melihat adegan hebat itu. Saat wanita tua itu mengeluarkan permen asam jawa dari wadah gelas di atas meja. Tangannya yang keriput meraba-raba, membuka bungkus, lantas patah-patah menyerahkan pada suaminya. Laki-laki tua tersenyum, menerima juluran permen dari istrinya, “Terima-kasih, Yang.” Pelan saja, tetapi aku sungguh bisa merasakan kekuatan kalimat itu, disampaikan dengan energi cinta yang luar-biasa. Itu bukan sekadar terima-kasih yang tulus. Itulah wujud cinta sejati.

Aku tertunduk, andai Andi ada di sini, dia bisa melihat sendiri cinta yang terwujud dalam bentuk perbuatan. Pasangan ini telah membuktikannya, cinta bukan kalimat gombal, cinta adalah komitmen tidak terbatas puluhan tahun, untuk saling mendukung, untuk selalu ada di sisi yang lain apapun yang terjadi, baik senang maupun duka.Aku tidak tahu, kalau Mei di sebelahku diam-diam menyeka ujung matanya.

***

Matahari hampir tumbang saat aku, Pak Tua dan Mei beranjak pulang dari rumah pasangan itu. Mereka berpelukan erat kesekian kali, mengucap kalimat perpisahan dengan mata berkaca-kaca.Aku hanya diam menyaksikan.Pak Tua tidak banyak berkomentar saat berjalan kaki ke jalan besar, naik ke atas angkot, wajahnya takjim, sedikit berkabut, menatap jalanan yang mulai dihiasi cahaya lampu. Gerimis kembali membasuh kota, dengan cepat menderas. “Kau tahu, Borno, untuk orang setua kami, boleh jadi pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir. Besok-lusa, yang terdengar kabar adalah kepergian untuk selamanya.”Aku menatap Pak Tua lamat-lamat, mungkin karena itulah Pak Tua jadi lebih pendiam.Saat tiba di hotel, Pak Tua menyuruhku mengantar Mei pulang.”Aku bisa pulang sendirian, Pak. Naik taksi.” Mei dengan wajah bersemu merah menolak halus, “Nanti merepotkan Abang Borno saja.””Tidak ada yang direpotkan, Borno malah senang sebenarnya.” Pak Tua berkata serius—tidak bermaksud mengolok-olok, “Ini sudah malam, tidak baik gadis pulang sendirian, meskipun aman menumpang taksi. Kau antar Mei pulang, Borno.” Itu kalimat perintah.Aku mengangguk.”Dan kalau sudah, kau segera balik ke sini, jangan keluyuran.” Pak Tua menepuk bahuku.Aku mendengus, siapa pula yang mau keluyuran hujan-hujan begini, segera mengembangkan payung, menatap Mei, menunjuk lobi hotel, ada taksi biru menunggu, ayo.

***

Kawan, untuk pertama kalinya aku menyadari, gadis ini datang dari keluarga yang amat berbeda dariku. Mobil taksi membawa kami menuju pusat kota, melewati jalan protokol Surabaya, lantas masuk ke pintu gerbang besar, ke halaman seluas seperempat lapangan bola. Aku yang sejak tadi lebih banyak diam, lebih banyak salah-tingkah, bercakap sepatah-dua patah pendek, lantas diam tidak berani melirik di kursi mobil, menatap rumah besar mewah itu dengan sebuah kesadaran baru.”Abang Borno jadi turun sebentar, kan?” Mei sudah membayar ongkos taksi, membuka pintu mobil.”Eh, sepertinya tidak usah.” Aku ragu-ragu.”Ayolah, bukankah tadi kita sudah sepakat, kaos Abang itu lembab, aku ambilkan gantinya di dalam. Sepertinya ada kaos yang cocok buat Abang. Sebentar saja.” Mei membujuk.Aku jerih menatap keluar jendela, akhirnya membuka pintu, turun.”Ayo, masuk.” Mei tersenyum, “Jangan malu-malu.”

Aku menelan ludah, mengikuti langkah Mei. Dia membuka pintu besar dari kayu Jati dengan ukiran Jawa, tibalah kami di ruang depan rumahnya, anak tangga berpilin ke lantai atas, lantai keramik mengkilat, megah.”Nah, Abang tunggu di sini, Mei ambil kaosnya sebentar.” Dan tanpa menunggu jawabanku, gadis itu sudah berlari-lari kecil menaiki tangga, rambut panjangnya bergoyang lembut, punggungnya hilang di ujung lantai.Tinggallah aku sendirian di ruang yang luas dan tinggi, menatap lampu gantung dengan ratusan kristal. Vas bunga besar berbaris di dekat dinding, ornamen di jendela kaca. Aku meneguk ludah, bodoh sekali, kenapa aku selama ini tidak bisa mengambil kesimpulan kalau gadis itu bukan gadis biasa-biasa saja. Ini di luar bayanganku, bahkan dalam khayal paling liar sejak menemukan amplop berwarna merah tertinggal di dasar sepitku. Aku mengusap rambut yang basah, bodoh, bukankah rumah di Pontianak saja sudah bisa membuatku mengambil kesimpulan?

Terdengar suara dehem di langit-langit ruang depan, aku buru-buru menoleh, itu bukan Mei, dehemnya berat. Dari balik vas-vas bunga melangkah pelan laki-laki usia setengah baya. Gurat wajahnya tegas, sorot matanya tajam, khas peranakan China yang tangguh dan ulet.”Selamat malam, Oom.” Aku segera menyapa sesopan mungkin.”Kau siapa?” Suara beratnya bertanya, tidak menjawab salamku.”Eh, teman Mei.” Aku menjawab ragu-ragu.Laki-laki itu menatap tajam, dari ujung rambut ke ujung kaki.Aku sedikit salah-tingkah.”Aku tidak suka kau ada di sini.” Tanpa basa-basi, dengan intonasi pasti.”Eh, maaf, Oom?” Aku tambah gugup, memastikan tidak salah dengar.”Kau seharusnya tidak mengantar Mei pulang.” Tatapannya semakin tajam.Aku meneguk ludah.”Kau hanya akan membawa pengaruh buruk bagi Mei.”Aku membeku, bibirku seperti di-staples, kelu. Satu menit berlalu tanpa suara, suasana terasa ganjil, aku menelan ludah, gugup hendak bilang apa, penjelasan, atau entahlah. Tidak berani menatap wajah galak di hadapanku.”Kaosnya, Bang.” Mei sudah berlari-lari kecil menuruni anak tangga pualam.Aku menoleh, menghela nafas lega.”Oh, Abang sudah bertemu Papa?” Mei menoleh pada laki-laki separuh baya di hadapanku, “Ini Abang Borno, Pa. Pengemudi sepit di Kapuas, Mei sering menumpang sepitnya sewaktu di Pontianak. Nah, Abang Borno, ini Papa, orang paling tampan di seluruh rumah ini.”Aku mematung. Papa Mei?

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s