Episode 30: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Dia mengenakan kemeja kuning lengan panjang, celana kain gelap, rambutnya diikat dengan sesuatu berwarna hijau. Dia selalu pandai memadu-padan pakaian, tidak mewah, tidak berlebihan, tetapi terlihat cantik. Dia tersenyum keluar dari ruangan terapi, mendekat, lantas duduk di hadapanku, kursi panjang ruang tunggu. Bersitatap sejenak, menyeringai padaku.

“Kenapa?” Satu menit terus dipandang, aku sedikit bingung, memaksakan bertanya—meski perasaan grogi sudah menyentuh leher, hampir membuatku tersedak.

“Tidak ada apa-apa.” Gadis itu tertawa kecil, memperbaiki anak rambut di dahi.

Aku entahlah sebaiknya harus ikut tertawa atau ikut memperbaiki anak rambut—eh, mana ada anak rambut menggangu di dahiku, terlanjur, pura-pura menyeka pelipis.

“Kenapa kita selalu bertemu ya, Bang?” Mei memainkan kaki menjuntainya perlahan, “Dulu waktu Mei berangkat mengajar, selalu saja naik sepit Bang Borno. Bahkan saking seringnya bertemu, saat tiba di dermaga kayu, Mei sering berpikir, jangan-jangan nanti naik sepit Bang Borno lagi. Dan ternyata benar. Seperti disengaja, ya?”

Aku nyengir, macam kopral sendirian menjaga benteng dikepung musuh, berusaha bertahan habis-habisan memasang wajah normal. Mana mungkin aku mengaku,bukan? Alamak, itu akan membuat semua urusan jadi terang-benderang. Malu-lah awak.

“Tidaklah, tidak sengaja. Mei bukannya selalu tiba di dermaga pukul 07.15. Dan aku setiap hari selalu berangkat narik di jam yang sama. Jadwalnya kebetulan sama, jadi ada kemungkinan selalu bertemu.” Saat ini, aku ingin sekali punya keahlian mengarang macam Bang Togar—bodo amat masuk akal atau tidak.

“Dari mana Abang tahu Mei selalu berangkat pukul 07.15? Nah, Abang Borno jangan-jangan sengaja hafal, ya? Biar selalu bertemu Mei?” Gadis itu tertawa renyah.

Aku macam Kasparov kena skak-mat, nyengir mirip kuda sakit perut, kehilangan kata. Tetapi gadis itu sekadar bergurau, tidak lebih tidak kurang, sudah lanjut bertanya santai, “Bagaimana kabar Pontianak enam bulan terakhir,Bang? Rasa-rasanya Mei amat rindu ingin kembali.”

“Pontianak? Eh, masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah. “Aku berusaha menegakkan bahu, ikut (memaksa diri) santai.

“Sudah musim buah, Bang? Durian? Jeruk? Rambutan? Mei ingin sekali berjalan-jalan di pasar induk, membeli buah segar yang baru diangkut dari pedalaman. Tawar-menawar, memilih yang paling ranum, paling elok.”

“Oh kalau itu, iya, sudah mulai musim buah.” Aku buru-buru menjelaskan,”Tapi masih buah pertama, belum bagus, itupun baru satu-dua perahu dari hulu Kapuas yang bawa. Durian masih mahal, satu yang besar bisa dua puluh ribu, kalau yang kecil dapat sepuluh ribu, beda kalau sudah musim-musimnya. Jeruk juga belum terlalu manis, masih buah awal-awal, di pasar induk sekilo masih lima belas ribu—”

Gadis itu tertawa, yang menghentikan kalimatku, kenapa? Aku menyeringai bingung.

“Abang Borno macam tukang buah. Mei kan hanya bertanya sudah musim atau belum, tidak perlu detail sampai harga perkilo….” Lantas dia pura-pura sedang berhadapan dengan pedagang buah, mengaduk-aduk tumpukan. “Yang ini kecil-kecil, sekilo berapa Bang? Aih, sudah kecil, pucat pula warna kulitnya, sisa jualan kemarin, Bang?”

Aku menelan ludah, memerah wajah, meski sekejap ikut tertawa.

Ibu, aku tidak pernah tahu hingga urusan perasaan ini tiba dipenghujungnya kelak, aku tidak pernah tahu apakah anakmu ini memang charming nan tampan, atau memang selalu menyenangkan diajak bicara. Yang aku tahu gadis di depanku ini sungguh ramah padaku, tampak akrab dan tulus. Kami berbincang tentang kota Pontianak, tentang Kapuas, tentang kota kami, bergurau satu-sama lain, tertawa, membuat waktu berjalan begitu cepat di ruang tunggu gedung terapi. Kami juga bicara tentang terapi alternatif, dia pandai menjelaskan kebijakan dan prinsip pengobatan China, sabar dan teratur, macam menjelaskan pelajaran IPA pada murid SD-nya. Pasien hilir-mudik, suster mondar-mandir, orang-orang datang-pergi, dua jam berlalu tanpa terasa, hingga Pak Tua keluar dari ruang perawatannya.

“Hah, kupikir kau keluyuran tidak jelas lagi…. Kita mencari makanan kemanalah, Borno. Perut kosong orang-tua ini sudah berbunyi dari tadi, ingin segera makan.” Pak Tua yang tidak memperhatikan aku sedang bicara dengan Mei, menepuk bahuku.

Aku sedikit kaget, menoleh, selintas melirik jam di dinding, sudah lepas tengah hari.

“Sebentar…. Sebentar,” Pak Tua akhirnya menatap Mei, yang berdiri, sopan menjulurkan tangannya, mengajak berkenalan, “Sepertinya aku kenal siapa gadis cantik ini.” Pak Tua menatap lamat-lamat, menerima juluran tangan Mei.

“Pak Tua sudah kenal?” Aku ikut berdiri, kejutan, apa Mei anak kenalan Pak Tua?

“Astaga, Borno. Tentu saja kenal. Tapi bukan dalam artian harfiah. Bukankah kau sekali, dua kali, ah, bahkan berkali-kali tidak terhitung cerita tentang gadis berbaju kuning, Mei, Mei, dan Mei. Aku kenal dia dari cerita kau enam bulan terakhir. Akhirnya bertemu, tidak disangka-sangka.” Pak Tua terkekeh.

Aku membeku, kalau saja situasinya berbeda, dan Pak Tua bukan orang yang paling kuhormati, misalnya macam Andi, sudah kupiting badannya, kubekap mulutnya. Entah seperti apa warna wajahku, kepiting rebus bukan lagi perumpamaan yang tepat. Muka gadis itu juga ikut memerah, salah-tingkah.

“Maaf….” Pak Tua melambaikan tangan, “Maafkan orang tua ini. Selalu saja berlebihan bergurau, seperti tidak pernah muda saja.” Berusaha memperbaiki situasi, “Kau mengantar seseorang ke sini, Meii?”

Mei mengangguk, dari mana Pak Tua tahu, demikian raut wajahnya.

“Aku hanya menebak, tidak mungkin kau yang sesehat ini ikut terapi, bukan? “Pak Tua tersenyum pada Mei, “Jadi kau pastilah mengantar orang lain. Nenek kau?”

Mei mengangguk, dari mana pula Pak Tua tahu?

“Aku lagi-lagi hanya menebak.” Pak Tua tertawa, seperti biasa menjawab sebelum ditanya, “Nenek kau namanya Nyonya Lian, bukan?”

Astaga, wajah Mei terlihat benar-benar kagum, bagaimana Pak Tua tahu?

“Bagaimana aku tahu? Nah, itu bukan tebakan, ada perawat di belakang kau.” Pak Tua menunjuk.

Ada suster yang sejak tadi memanggil nama Mei dan menyebut nama Neneknya, terabaikan gara-gara ‘situasi memalukan’ perkenalan Pak Tua.

“Oh, maaf,” Mei berbicara sebentar pada suster. Perawat itu lapor, Nenek-nya masih di dalam tiga-empat jam lagi, terapi akupuntur. Mei mengangguk.

“Nah, daripada kau bengong sendirian di ruang tunggu, maukah gadis sebaik kau menemani orang-tua ini dan Borno makan siang? Amboi, kalau tidak salah dekat perempatan Bubutan ada restoran rujak cingur lezat. Sejak aku muda dulu sudah terkenal, lidahku ingin sedikit bernostalgia, nampaknya kalau hanya rujak cingur, dokter tidak keberatan. Maukah Mei menemani?” Pak Tua meminta dengan takjim.

Mei tertawa melihat gaya Pak Tua, “Bangunan bioskopnya sudah lama berganti komplek gedung kantor luas, Pak. Termasuk rumah makan itu.”

“Sungguh sayang,” Pak Tua menepuk dahi, berlagak kecewa, “Alangkah banyak perubahan kota ini, termasuk merubah kenangan dan selera lama.”

“Tapi restoran itu masih ada, Pak.” Mei buru-buru menambahkan, “Mereka pindah sepuluh tahun lalu, sekarang lebih luas, lebih nyaman, dan kabar baiknya, tetap selezat berpuluh-puluh tahun lalu. Kami sekeluarga sering berkunjung ke sana.”

“Nah, itu berarti jawabannya ‘iya’. Kau mau menemani orang-tua ini makan siang, bukan?” Pak Tua berseru senang.

Mei mengangguk, aku sudah bersorak riang—dalam hati.

***

Kalian pernah punya kawan yang jago basa-basi? Misalnya pernah dia bertamu, lantas ketelapasan bilang makanan tuan rumah hambar dan bau, membuat situasi runyam dan canggung. Satu jam berlalu, dengan pandainya, dia membalik situasi menjadi lebih akrab, lebih hangat hanya dari kalimat-kalimat ringan. Itulah Pak Tua, kalau tadi aku hendak memitingnya, sekarang, di tengah hamparan meja makan dan bau bumbu rujak cingur, aku harus berterima-kasih banyak.

Naik oplet, Mei yang jadi pemandu jalan, kami menuju restoran lawas. Pesanan diantar pelayan setelah lima menit menunggu, dan bermenit-menit kemudian Pak Tua dan Mei sudah asyik bicara tentang kota Surabaya dan seisinya. Aku sejatinya cuma patung (yang bisa makan), tapi itu lebih dari menyenangkan, sekali-dua ikut menyela, berkali-kali lebih sering mencuri pandang. Pak Tua masih suka menyindirku, mengungkit soal antrian sepit nomor 13 misalnya, namun itu tidak terlalu mengganggu, gadis itu hanya tertawa, menganggap sekadar gurauan, tidak lebih tidak kurang. Sudah sejak setengah jam lalu Mei menaruh respek yang lebih baik pada Pak Tua, tidak menilainya hanya seorang renta yang suka bicara. Siapa pula yang tidak betah bicara dengan Pak Tua?

“Kapan keluarga kau pindah?” Pak Tua menelan suapan terakhir.

“Delapan tahun lalu.”

“Oh, berarti usia kau baru dua belas?”

Gadis itu mengangguk.

“Sekarang usia kau dua puluh. Lihatlah, sarjana pendidikan yang cemerlang, masih muda sekali. Anak muda yang penuh cita-cita, penuh rencana. “Pak Tua manggut-manggut, “Tidak seperti yang di sebelahku ini, dua tahun terakhir luntang-lantung tidak jelas mau melakukan apa. Gelap masa depannya, hanya pengemudi sepit. Tidak berpendidikan, tidak punya rencana.”

Aku tidak terima ‘dihina’, menyela, “Aku punya banyak rencana, Pak. Kuliah sambil kerja, melanjutkan pendidikan. Bukankah Pak Tua sendiri yang pernah bilang, terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan.”

“Amboi, sudah pandai omong bijak dia sekarang.” Pak Tua terkekeh.

“Jadi pengemudi sepit juga tidak kurang masa depannya.” Mei tersenyum,”Bukankah Pak Tua pengemudi sepit?”

Aku senang dibela Mei.

“Ah, itu pengecualian. Orang tua ini kebetulan cinta sekali dengan kota Pontianak. Tak kurang puluhan kota pernah kukunjungi, ratusan tempat pernah kusinggahi, termasuk di negeri-negeri seberang, tidak ada yang selalu membuatku rindu untuk kembali macam Pontianak. Berhulu-hilir di Kapuas, menyapa pagi datang, menatap senja tiba, berbincang santai dengan penduduknya, menikmati hari. Nah, bagiku pengemudi sepit itu hanya hobi, bukan pekerjaan.” Pak Tua takjim mengelak, membela diri.

Aku tertawa. Pak Tua santai mengangkat bahu, ya sudah kalau tidak percaya.

Setengah jam berikutnya, sebelum beranjak ke kasir, kami asyik membicarakan kota Pontianak. Giliran Mei yang banyak bertanya pada Pak Tua tentang apa saja yang berubah di kota kami sejak delapan tahun lalu keluarganya pindah. Aku menatap lamat-lamat wajah Mei yang antusias, membenak sesuatu, kau tahu Mei, sindiran Pak Tua tentang tidak ber-masa depan, tidak berpendidikan memenuhi kepalaku—di samping ada satu hal lagi yang terus merecoki benakku.

Kami kembali ke gedung terapi, Nenek Mei persis sudah kelar, kursi rodanya didorong keluar dari ruangan. Inilah bagian yang paling merecokiku, cepat atau lambat aku dan Mei akan berpisah. Hanya menunggu waktu. Sejak tadi sudah kupikir-pikir skenario terbaik biar bisa bertemu kembali.

“Eh, kapan Mei membawa Nenek kembali ke sini?” Aku bertanya saat dia mulai mendorong kursi roda ke pintu depan.

“Dua hari lagi, Bang.”

“Sayang sekali, sementara kelanjutan terapi orang-tua ini tiga hari lagi.” Pak Tua tidak ditanya juga menjawab, sengaja benar nyinyir, “Tidak cocok jadwalnya, kecuali kau berani dan sengaja datang sendirian pas Nona Mei menemani Neneknya.”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, Mei tertawa, “Boleh saja, Bang.Daripada Mei bengong sendirian, akan lebih menyenangkan kalau ada teman.”

“Ya, ya…. Dan itu berarti dia meninggalkan orang tua ini sendirian dihotel. Anak yang berbakti.” Pak Tua menggelengkan kepala, pura-pura kecewa sekali.

Aku menyumpahi Pak Tua dalam hati, tidak bisakah dia berhenti menggoda. Aku harus segera dapat kepastian prospek pertemuan berikutnya—pertemuan yangdirencanakan, bukan ‘tidak sengaja’ lagi. Langkah kaki kami sudah di pintu depan gedung, mobil jemputan Mei merapat, sopir dan perawat membantu menaikkan Nenek Mei. Apakah aku akan nekad bertanya di mana rumahnya? Meminta nomor telepon? Sayangnya lidahku kelu, hanya bisa cemas melihat Mei juga naik ke dalam mobil.

“Atau begini saja, Bang.” Kepala Mei keluar dari jendela mobil, tersenyum, “Besok Pak Tua hanya di hotel, bukan? Aku juga tidak mengantar Nenek. Bagaimana besok aku menemani Pak Tua dan Bang Borno keliling Surabaya. Nah, esok-lusa aku ke Pontianak, giliran Pak Tua dan Bang Borno menemaniku keliling.”

Aku bersorak (dalam hati). Itu sungguh tawaran tak-tertolak, aku langsung mengangguk.

Saat mobil itu hilang di tikungan depan, Pak Tua menepuk bahuku, “Malam ini kau harus memijatku dua jam, Borno.”

“Pijat?” Aku menyeringai, tidak mengerti.

“Ye lah, kau harus berterima-kasih banyak pada orang-tua ini, bukan? “Pak Tua tertawa, “Dua jam itu baru untuk traktiran makan siang tadi. Belum dihitung kesempatan berbincang-bincang dengannya, astaga, itu bisa senilai dipijat sehari-semalam.”

Aku rasa-rasanya sudah siap menyikut lengan Pak Tua. Enak saja.

**bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s