Episode 29: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Walau tak tahu angka pastinya, orang Pontianak tahu persis kalau penduduk kota mereka mayoritas terdiri dari: China, Melayu, dan Dayak, ditambah dengan jumlah yang lebih sedikit orang-orang dari Bugis dan Jawa.

Suku bangsa Melayu otomatis tiba saat pendiri kota, Sultan Abdurrahman Alqadrie mengalahkan si hantu pontianak, mendirikan istananya. Suku Dayak datang berhiliran dari hulu Kapuas, sementara Bugis dan Jawa tiba di kemudian hari sebagai perantau tangguh.

Lantas bagaimana kota ini dihuni begitu banyak China? Pak Tua punya teori, akhir abad ke-19, daratan China dilanda perang sipil dan wabah kemiskinan, “Perang silat macam film-film kolosal Jet Li itu, Pak Tua.” Jupri, yang suka sekali nonton televisi, nyeletuk. Yang lain, yang khidmat mendengarkan cerita Pak Tua menyikut bahunya, “Berisik. Bisa diam tidak kau?” Melotot. Pak Tua melambaikan tangan, melanjutkan, perang dan kemiskinan tadi membuat ribuan penduduk China mengungsi keluar dari negerinya, salah-satu tujuan mereka adalah Pontianak yang dekat dengan Laut China Selatan, strategis, serta ramah terhadap pendatang. Kebanyakan sub-etnis di Pontianak sekarang datang dari orang-orang Teochew, Hakka dan sebagian kecil orang Kanton (“Wah,Kanton? Macam pula film-film Jet Li di Hongkong, Pak.” Jupri menyela lagi, kali ini Bang Togar memukul peci kupluknya). Kalian tahu, ada kota kecil, berjarak tiga jam perjalanan dari Pontianak dengan jumlah penduduk China lebih mayoritas lagi, di mana-mana China. Dikenal dengan sebutan ‘kota seribu kelenteng’ atau yang lebih terkenal dengan ‘kota amoy’—amoy dalam dialek Hakka artinya gadis. Itulah kota Singkawang.

Nah, walaupun tiga suku bangsa ini punya kecenderungan hidup homogen,berkelompok, punya kampung sendiri, kampung China, kampung Dayak atau kampung Melayu, kehidupan di kota Pontianak berjalan damai. Cobalah datang kesalah-satu rumah makan terkenal di kota Pontianak, kalian akan menemukan tiga suku ini sibuk berbual, berdebat, lantas tertawa bersama—bahkan saling traktir satu sama lain. Yang tidak bertenggang rasa dan saling menghormati sebagai sesama manusia itu justeru: pemerintah. Sudah bukan rahasia, anak-anak keturunan China, bertahun-tahun repot mengurus SKBRI. Selembar surat keterangan bukti kewarganegaraan itu menjadi sesaji wajib saat mengurus semua dokumen, mulai dari surat akte lahir, tinggal, hidup,menikah, hingga surat mati, peduli amat Koh Acung misalnya, sudah generasi keempat yang dilahirkan di gang sempit tepian Kapuas.

Siapa di sini yang berani bilang Koh Acung bukan penduduk asli Pontianak? Demikian Pak Tua bertanya takjim, semua peserta obrol santai dibalai bambu malam-malam itu menggeleng. Nah, lantas kenapa dia harus dipersulit dengan omong-kosong SKBRI? Binatang ternak macam sapi saja baru diminta surat saat melintas perbatasan provinsi. Akibatnya, jaman itu lumrah penduduk China punya dua nama, satu nama asli, satu lagi nama nasional. Kalian mau tahu nama nasional Koh Acung? Bambang Susilo—huss, kalian dilarang tertawa, umur Koh Acung lebih uzur dibanding presiden berkuasa. Siapa di sini yang pernah memanggil Koh Acung dengan Pak Bambang atau Pak Susilo? Pak Tua bertanya takjim, semua peserta obrol santai menggeleng, penghuni tepian Kapuas lebih suka memanggilnya Koh, sama sukanya seperti memanggil orang Melayu dengan Bang, orang Jawa dengan Mas. Nah, lantas kenapa dia harus dibedakan? Berani-beraninya kalian mendiskriminasi Pak Bambang Susilo?

Itu dulu, sebelum undang-undang SKBRI dihapuskan. Sekarang? Pada prakteknya kadang masih ada pegawai pemerintahan yang berpikiran jahiliyah, mempersulit sesama manusia. Akan tetapi secara umum, bertahun-tahun sejak jaman reformasi, budaya China amat welcome di kota ini, datanglah ketika Imlek atau Cap Gomeh, maka seluruh kota akan terlihat berbeda. Semarak, penuh suka-cita, tidak kalah dengan perayaan hari besar suku atau agama lainnya.

Aku mengelus dahi, kenapa di tengah terik kota Surabaya, aku jadi membahas tentang sejarah orang-orang China Pontianak? Amboi, apalagi penyebabnya kalau bukan mataku tertuju pada halaman yang baru saja kubuka. Bosan menunggu Pak Tua tidak kunjung keluar dari ruang terapi, aku meraih buku telepon super tebal di bawah meja, sembarang membuka, langsung terpentang dua halaman penuh dengan nama dimulai dari huruf S, mataku menyipit: Sulaiman. Kalian pernah membuka buku telepon? Coba saja, ada berapa halaman orang-orang dengan nama Sulaiman?

Aku termangu, menatap baris Sulaiman-Sulaiman-Sulaiman. Bukankah aku pernah mendengar nama ini? Nama yang penting? Dekat sekali dengan pencarianku beberapa hari terakhir. Di mana? Siapa yang menyebutnya? Astaga? Otakku berpikir super cepat, aku ingat, bukankah nama itu disebut Bibi yang bekerja dirumah Mei? ‘Keluarga besar Sulaiman pindah ke Surabaya’. Itu pasti nama nasional Ayah Mei.

Kepalaku mendadak seperti diterangi lampu mercu suar—bukan cuma bohlam, hah, aku tahu bagaimana menemukan Mei, tanganku bergegas memeriksa halaman-halaman sebelum dan sesudahnya, eh, sedikit menyeringai, ada tiga halaman penuh dengan nama Sulaiman. Tidak masalah, aku bisa melakukannya. Maka dengan berbekal pensil pinjaman dari petugas ruang tunggu, aku membawa buku telepon itu ke halaman gedung terapi, mencari kotak telepon umum.

“Buat apa sampeyan butuh receh?” Petugas parkir yang merangkap pak ogah menyelidik, bingung saat aku ingin menukar kantong uang logam penghasilannya sejak pagi.

“Buat nelepon.” Aku menjawab pendek.

“Lah? Sampeyan ndak punya HP, mas?” Petugas parkir menyeringai.

Aku tidak menjawab, bergegas membawa kantong uang receh ke pojokan jalan. Lupakan kata bijak Pak Tua tentang jangan mengintervensi jalan cerita perasaan yang sudah digariskan Tuhan. Kenapa tiba-tiba aku melihat buku telepon, tiba-tiba membuka halaman dengan nama Sulaiman, itu pasti jalan cerita dari Tuhan, nah sekarang untuk membuatnya menjadi kisah yang utuh, aku harus melakukan bagianku, itu pasti juga dikehendaki Tuhan.

Maka detik berlalu menjadi menit, menit berganti menjadi jam, jam berjalan dirangkai oleh detik dan menit; lupa kaki pegal, lupa bising sekitar, aku memulai prosesi bodoh itu. Memasukkan koin uang, klontang, menekan nomor telepon, tat-tit-tut-tat-tit-tut, menunggu nada panggil, menyapa, “Selamat siang, apakah ini kediaman Bapak Sulaiman?” Jika jawabannya iya, “Bisa bicara dengan Nona Mei?” Lima belas menit berlalu, aku sudah mencoret sepuluh nama Sulaiman paling atas. Semua menjawab tidak ada yang bernama Mei di rumah. Setengah jam berlalu lagi, aku sudah mencoret sepuluh nama berikutnya di buku telepon.

“Apakah ini kediaman Bapak Sulaiman?”

“Iya benar.”

“Bisa bicara dengan Nona Mei?”

“Nona Mei?” Suara berat di seberang gagang memastikan.

“Iya, Nona Mei.”

“Sebentar ya.”

Alamak, hatiku langsung dag-dig-dug tidak terkira, apakah benar dia? Aku menelan ludah, apa yang harus kukatakan? Hallo, ini Borno, sengaja menelepon. Astaga? Baru sekarang aku memikirkan dialog itu, bukankah jadi terlihat sekali kalau aku sengaja mencari tahu alamatnya? Sengaja ingin bertemu? Sengaja? Wajahku memerah, cemas, malu, hendak menutup gagang telepon. Tidak, tidak bisa. Tidak ada lagi titik kembali, separuh hatiku teguh membela. Apa salahnya bilang sengaja mencari alamatnya?

“Halo, ada apa ya?” Suara di seberang gagang menyapa. Aku menghela nafas, entah kecewa, entah lega, ternyata bukan suara Mei, yang ada malah suara berat ibu-ibu.

Satu jam berlalu, satu halaman penuh sudah kucoret. Aku menyeka peluh, mencoba bersandar ke tiang telepon umum. Kantong uang recehku sudah berkurang separuh. Ini tidak akan mudah, boleh jadi habis daftar nama tidak ada satupun yang tersambung ke rumah Mei. Tidak apalah, setidaknya aku sudah mencoba.

“Apakah ini kediaman Bapak Sulaiman?”

“Salah sambung. Tidak ada yang bernama Sulaiman.” Tanpa basa-basi telepon ditutup.

Tidak mengapa, aku mencoret nama berikutnya.

“Apakah ini kediaman Bapak Sulaiman?”

“Ya, Sulaiman Tailor, mau pesan jas nikah, mas?”

Aku menyeringai, mencoret nama berikutnya.

“Apakah ini kediaman Bapak Sulaiman?”

“Mas ini siapa? Dari bank ya? Yang mau nagih kartu kredit lagi, hah? Nggak bosan-bosannya mengganggu hidup orang. Dasar preman kampungan.”

Aku menelan ludah, meletakkan gagang telepon.

“Apakah ini kediaman Bapak Sulaiman?”

“Maaf Mas, saya lagi sibuk ya, tidak ada waktu buat dengerin jualan asuransi, langganan atau tawaran produk. Maaf ya, lain kali saja.” Sambungan terputus.

Aku menghela nafas, mencoret lagi nama berikutnya.

“Apakah ini kediaman Bapak Sulaiman?”

“Iya benar. Mau bicara dengan siapa ya?” Logat khas itu amat kukenal.

“Mei, dengan Mei ada, Bu?” Suaraku bergetar, ini pasti keluarga China.

“Mei…. Sebentar ya.” Gagang telepon diletakkan.

Sudah dua halaman kuselesaikan, dua jam berlalu, matahari kota Surabaya mulai tumbang, ini untuk kedua kalinya ada yang bernama Mei di keluarga Sulaiman yang kutelepon, aku susah-payah membujuk hati agar teguh, bersiap. Suara gagang telepon diangkat, aku menahan nafas.

“Mei masih mengerjakan PR Matematika, tidak mau diganggu, ini dari siapa ya? Ada pesan?”

Aku menelan ludah, Mei-ku jelas tidak mengerjakan PR. Bilang maaf salah-sambung, mencoret nama berikutnya. Coretan dan tanda di buku telepon semakin banyak. Nomor tidak bisa dihubungi, nomor tidak diangkat, semua kutandai.

***

Tiga jam berlalu, tinggal hitungan jari nama yang belum kucoret. Aku sudah dua kali menukar uang logam pada petugas parkir, dihitung-hitung koin keberuntunganku tinggal sembilan. Aku merangkai doa ke langit-langit kota, memasukkan koin berikutnya.

Tidak dikenal.

Koin berikutnya.

Tidak ada yang bernama Mei.

Koin berikutnya.

Bahkan tidak ada yang bernama Sulaiman.

Koinku masih tersisa satu, tapi daftar itu sudah bersih kucoret, aku menghela nafas kecewa, harapan itu lumer macam mentega di penggorengan. Duduk menjeplak bersandar di tiang telepon umum, meletakkan buku telepon sembarangan. Urusan bodoh ini benar-benar membuatku bertingkah aneh, dan hasilnya ternyata sia-sia.

Aku menepuk jidat, astaga, bahkan urusan Pak Tua terlupakan. Bergegas kembali ke gedung terapi. Lampu taman sudah dinyalakan, mobil keluar-masuk halaman, pasien datang-pergi. Aku buru-buru mendekati petugas ruang tunggu, hendak bertanya apakah Pak Tua sudah keluar. Yang kucari ternyata tertidur disalah-satu kursi. Ragu-ragu aku menyentuh bahu Pak Tua, membangunkan.

Pak Tua menguap, menatapku sebal, “Dari mana saja kau, Borno? Tega sekali kau pergi tanpa bilang-bilang.”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Ayo pulang ke hotel, Borno. Orang tua ini gerah, ingin mandi, berganti pakaian. Hampir dua jam aku menunggu kau keluyuran, sampai tertidur.

Aku menurut, mengikuti langkah Pak Tua.

***

Hari kedua menemani Pak Tua. Kali ini lancar menumpang oplet, turun persis di pintu gerbang gedung. Pak Tua langsung masuk ke ruangan. Aku tidak tahu persis apa bentuk terapi alternatif yang dijalaninya, semalam tidak sempat ngobrol, bertanya, Pak Tua sudah tertidur kelelahan.

Setengah jam berlalu, aku bengong menatap kesibukan ruang tunggu, bosan, hanya duduk. Setengah jam lagi berlalu, aku iseng meraih buku telepon dibawah meja. Membuka halaman berisi nama Sulaiman kemarin, siapa tahu ada nomor yang terlewatkan. Mataku mendadak terhenti di halaman dengan suku kata depan, Soe—, bukankah nama itu juga bisa ditulis Soelaiman. Tercenung. Aku menepuk dahi, benar, itu juga mungkin. Ujung jariku bergegas memeriksa entri nama, Soelaiman, Soelaiman, Soelaiman, nah, ada separuh halaman, tidak sebanyak kemarin.

Sambil membawa buku telepon dan meminjam pensil suster, aku ke halaman gedung hendak menukar uang receh pada petugas parkir. Tidak ada batang hidungnya. Kemana pula dia, saat dibutuhkan menghilang, coba kalau tidak, pasti berkeliaran. Lima menit dicari-cari tetap tidak ada, aku mendengus sebal, masuk lagi ke ruang tunggu. Mungkin petugas meja pendaftaran punya uang receh.

“Buat apa?” Dia bertanya.

“Buat menelepon.” Aku menjawab pendek.

“Tidak lama, kan? Kau pinjam saja telepon kami, itu yang di atas meja.”Dia menunjuk meja sebelahnya. Aku bergumam, menatap ruang tunggu yang ramai, baiklah, yang penting aku bisa menelepon, duduk di kursi, meraih telepon.

Nomor pertama kuambil secara acak, aku mengirim pengharapan saat mulai menekan nomor tujuan, semoga hari ini berhasil.

Nada panggil sejenak, diangkat, “Halo, apakah ini kediaman Bapak Sulaiman?”

“Iya benar. Mau bicara dengan siapa ya?”

“Bisa bicara dengan Nona Mei?”

“Mei? Sebentar ya.” Gagang telepon seberang diletakkan.

Keberuntungan pemula, aku menyeringai riang, telepon pertamaku langsung tersambung pada kemungkinan kabar baik. Satu menit, masih menunggu, aku menelan ludah. Bagaimana kalau kali ini benar-benar Mei? Jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang. Dua menit, masih menunggu, alangkah lamanya memanggil ‘Mei’? Bisa cepat sedikit tidak, semakin lama, aku semakin banyak memikirkan kemungkinan buruk, semakin tegang.

Terdengar langkah kaki mendekat, aku menahan nafas.

Gagang telepon diangkat, aku benar-benar gugup.

“Abang Borno?”

Alamak? Aku tersedak oleh panggilan itu. Gagang telepon yang kupegang terjatuh.

“Apa yang abang lakukan di sini? Ya ampun, benar-benar kejutan.”

Tetapi itu bukan suara di gagang telepon (suara di telepon justeru,’Halo, halo’ bingung tidak ada yang menyapa balik), aku menoleh, dan lihatlah,Kawan, gadis penyebab semua kekacauan ini telah berdiri anggun di hadapanku. Mendorong kursi dorong dengan ibu-ibu tua di atasnya.

“Mei?” Hanya itu responku, meneguk ludah.

“Sejak kapan Abang jadi petugas penerima telepon di sini? Sepit-nya ditinggal?” Mei tertawa renyah, bergurau.

“Eh, aku? Aku sedang menelepon kau, eh, maksudku meminjam telepon saja.” Bergegas menutup buku telepon, celaka kalau dia melihat halaman dengan nama Soelaiman.

“Sejak kapan Abang ke Surabaya? Kenapa tidak bilang-bilang?”

Aku mendesah dalam hati, aku justeru sedang berusaha bilang, salah-siapa dulu tidak meninggalkan alamat, “Pak Tua, eh, aku menemani Pak Tua terapi asam urat di sini. Sudah dua hari.”

“Oh, Pak Tua.” Gadis itu tersenyum, mengangguk, “Benar-benar kejutan yang menyenangkan, ya. Mei juga menemani Nenek terapi di sini, perkenalkan, tapi dia sudah tidak mengenali orang, sudah hampir seratus tahun.” Gadis itu menunjuk kursi roda.

Aku mengangguk pada Nenek-nya.

“Sebentar ya, Bang Borno.”

“Eh, kau mau kemana?” Aku berseru (agak kencang), sedikit panik melihat gadis itu hendak mendorong kursi, pergi. Kali ini aku tidak akan membiarkannya, tidak boleh lagi bertemu langsung berpisah.

“Mei harus membawa masuk Nenek ke dalam, Bang. Sudah terlambat dari jadwal janji dokter. Sebentar saja, kok.” Gadis itu menjelaskan.

Aku jadi malu, salah-tingkah, mengangguk, kukira dia mau pergi kemanalah.

Punggung gadis itu hilang dibalik pintu ruangan dokter. Alamak, aku tercenung, lantas tertawa kecil sendiri, menyisir rambut dengan jemari. Ini benar-benar di luar dugaan, Pak Tua benar, kebetulan, takdir atau apalah menyebutnya itu bisa terjadi kapan saja jika Tuhan menghendaki.

“Mas, kalau sudah selesai, gagang teleponnya bisa ditutup ya? Siapa tahu ada telepon masuk.” Petugas meja pendaftaran menegur.

Aku buru-buru berhenti tertawa, meraih gagang telepon yang jatuh dibawah meja, meletakkannya kembali.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s