Episode 27: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Buaya, Lebih Indah Kota Kita

Puncak dari semua ketegangan justeru menunggu di rumah Jauhari.

Saat kami bertiga setengah cemas, setengah mengantuk mendorong pintu,di ruang depan telah berkumpul (menunggu) beberapa orang: istri Jauhari yangmenggendong si buyung (merengek), adik misan Jauhari, teman adik misannya (sepertinya begitu, kami tidak kenal benar), dan dua orang berseragam polisi.

Bang Togar dan Jauhari tertegun, pias sudah, apalagi aku, ujung tanganku berkedut, lututku gemetar—akhirnya mereka menemukan lokasi kami. Akugentar menatap dua polisi, menatap Bang Togar, menatap dua polisi, Jauhari, dua polisi lagi, adik misannya, dan lagi-lagi dua polisi.

Entah apa yang dipikirkan Bang Togar dan Jauhari, tiba-tiba mereka berdua bergegas menarik adik misan Jauhari ke dalam kamar. Aku ragu-ragu menyusul, menoleh bingung dan gugup pada petugas. Dua polisi itu juga saling pandang, ikut bingung—padahal mereka tadi bersiap menyapa dan mengulurkan tangan.

“Kau sudah bilang apa saja?” Bang Togar mendesis di dalam kamar, suaranya berbisik tapi penuh ancaman.

“Ya, kau sudah bilang apa saja?” Jauhari mencengkeram kerah adik misannya.

“Bilang apa, Kak?” Adik misannya tersengal, susah bernafas.

“Astaga, lihat wajah kau, lebam-lebam. Apa mereka memukuli kau saat interogasi?”

Aku yang berdiri di belakang menelan ludah, menatap wajah adik misan Jauhari, bibirnya luka, dahi dan pipi biru-biru, pakaiannya kusut. Teringat cerita Bang Togar tadi di pos jaga Polres—”Pengemudi sepit itu baru mengaku setelah digebukin.”

“Jauh-jauh kau datang dari Putussibau, repot sekali menampung kau dirumah sempit ini, berbagi kamar, ternyata begini jadinya.” Jauhari terlihat emosional, meski dia berusaha merendahkan suara agar tidak terdengar dari depan,”Kau sudah bilang apa, hah?”

“Aku tidak bilang apa-apa, Kak.” Wajah adik misannya terlihat bingung.

Jauhari menoleh pada Bang Togar sejenak, kembali mendelik ke adik misannya, “Kau dengar ya, bahkan hingga Kapuas mengering, langit runtuh, kauharus mengaku sepit itu milik kau, dulu dan selamanya milik kau, tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain. Paham?”

“Sepit, sepit apa Kak?” Adik misan Jauhari semakin bingung.

“Dasar anak tidak tahu untung, sepit apalagi? Sepit yang kau pinjam dari Borno.” Jauhari mencak-mencak, “Aku lebih memilih kau yang masuk penjara dibandingkan Borno.”

“Sepit Abang Borno? Bukankah sepitnya sudah kukembalikan, Kak.”

“Sudah kembali?”

“Ye lah, kutambatkan di tiang rumah Abang Borno sesuai pesan Kakak. Mana berani aku menunda-nunda mengembalikan. Bukankah Kakak sendiri yang bilang segan betul meminjamnya.” Adik misan Jauhari mulai bisa bernafas normal,cengkeraman tangan Jauhari merenggang.

Dan lumerlah semua kecemasan sepanjang malam. Kau tahu Mei, abang ternyata tidak jadi dipenjara. Lima menit kemudian, dua polisi yang duduk didepan menjelaskan, adik misan Jauhari dan temannya kena palak lepas konser musik. Dompet, jam tangan, semua benda berharga diambil preman, tidak puas karena hasil palaknya sedikit, digebuki pula. Dua polisi itu mengantar korban,bukan menjemput tersangka kelompok penyelundup.

Soal sepit, BORNEO-ku sudah sejak pukul lima sore nangkring di kolong rumah. Tetapi adik misan Jauhari salah tambat, maklum, anak baru di tepian Kapuas, belum hafal mana rumah papan Ibu, dia malah menambatkan sepit di bawah rumah Mang Sohar—yang dulu sabunnya hanyut.

Aku benar-benar menghela nafas lega setelah semua urusan jelas, sejelas matahari pagi yang untuk kesekian kalinya datang di kota kami, menyiram lembut atap-atap rumah, pucuk-pucuk bangunan sarang burung walet. Permukaan Kapuas mengkilat-kilat indah, sepit dan perahu mulai bermunculan, kesibukan datang lagi di kota ini. Bang Togar tertawa (nampak amat bersyukur), menepuk dahinya lepas dua petugas itu pamit undur diri. Jauhari malah menghempaskan tubuhnya dikursi rotan, meluruskan kaki, menghembuskan nafas panjang. Urusan ini berakhir bahagia, adik misan Jauhari tidak tersangkut pengemudi belasan sepit yang ditangkap petugas.

Aku pamit pulang. Lega, lelah, kantuk, lapar, semua jadi satu.

***

“Berapa lama, Borno?” Ibu bertanya.

“Satu minggu. Bisa lebih, tergantung kemajuan terapi.” Aku mengunyah sarapan.

“Pak Tua sudah bilang akan naik apa?”

“Semoga pesawat, Bu.” Aku tertawa membayangkan kemungkinan itu. Konon tiket pesawat sekarang murah-murah, tapi aku belum pernah iseng mencoba, macam dulu bersama Andi jahil menerobos perbatasan Entikong dengan paspor bapaknya.

“Tak mungkin.” Ibu ikut tertawa, meletakkan kantong asoi berisi ransum makanan, “Pak Tua itu naik oplet saja enggan, paling juga kau menumpang pelampung besar ke Surabaya. Kau bergegas, Borno, sudah kesiangan. Telat makan malah kena mag pula nanti Pak Tua.”

Dengan demikian, urusan ijin dari Ibu selesai, sekarang bagian paling penting. Aku tidak lama mampir mengantar makanan Pak Tua, hanya bilang Ibu sudah mengijinkan, Pak Tua mengangguk, bilang, besok pagi pukul enam kau sudah harus menjemput, jangan terlambat, aku balas mengangguk, tertawa, jangan cemas, jam lima aku sudah datang. Mumpung masih pagi, semoga Ibu Kepsek ada di tempat, aku membawa sepitku ke dermaga terdekat komplek Yayasan.

Sudah kusiapkan tiga skenario. Satu, jika dia menolak memberikan alamat, aku akan membujuknya, bilang ini kesempatan emas, tidak setiap saat aku bisa ke Surabaya, setelah enam bulan tanpa tahu kabar Mei. Dua, jika dia tetap menolak, aku akan mengingatkan Ibu Kepsek apakah dia tidak pernah muda dan mengalami hal yang sama? Akan kucatut kalimat-kalimat bijak penuh perasaan milik Pak Tua. Tiga, jika dia tetap tidak luluh dengan kalimat gombal itu, maka aku akan tetap bertahan di ruangannya, menunggu sampai kapanpun dia bersedia memberitahu. Aku tersenyum lebar, penuh keyakinan menuju dermaga dekat komplek Yayasan.

Sayang, yang terjadi justeru skenario keempat. Apa kata Pak Tua dulu, di dunia ini terkadang urusan yang dicari seringkali menjauh-jauh, sebaliknya, urusan yang tidak dicari malah mendekat-dekat. Ibu Kepsek tidak ada di tempat, ikut pelatihan diknas di Jakarta.

“Baru berangkat tadi malam, pulang minggu depan.” Pak Malinggis mengangkat bahu.

Aku mengeluh dalam hati, sungguh kecewa.

“Eh, sebentar,” Pak Malinggis menahanku yang hendak beranjak pergi,”Kau ini kalau tidak salah, yang dulu nanya-nanya tentang Nona Mei, bukan?”

Aku menyeringai, mengangguk.

“Sebenarnya ada apa sih? Kau mencari Ibu Kepsek pasti ada urusannya dengan Nona Mei?” Penjaga gerbang itu memasang wajah ingin tahu—sudah seperti ibu-ibu yang suka nonton gosip.

Aku tidak selera menanggapi, segera pamit.

Baiklah, aku pindah ke skenario ke empat, menuju rumah asri sepelemparan batu dari balai-kota. Berganti oplet dua kali, tiba di depan pintu pagar. Ada tukang rumput yang asyik merapikan bunga bougenville, tidak menolong, bahkan dia tidak tahu siapa pemilik rumah, lima menit tanpa kemajuan, dia berbaik hati memanggil bibi yang mengurus bagian dalam, usianya lepas lima puluh, meski badannya besar, rambut mulai beruban, tidak bisa menutupi kalau dia terlihat amat cekatan.

“Mencari siapa, Nak?”

“Mei, aku mencari Mei.” Aku memasang wajah se-sopan mungkin.

“Oh, Mei di Surabaya. Sudah enam bulan. Teman kerja atau kuliah Mei,ya?”

Aku menggaruk kepala, “Eh, teman baru kenal, Bi. Kenal di sepit.”

Bibi itu menyeringai, seperti mengingat-ingat sesuatu, “Anak ini namanya Borno, bukan?”

Aku hampir tersedak, alamak, dia tahu namaku, kejutan.

Bibi tertawa berderai, “Mei dulu pernah bilang kalau ada yangmengolok-olok namanya, ada pengemudi sepit sok-kenal yang cerita tentang nama Kamis Kliwon, Januari, Februari, Mei, Desember. Waktu cerita wajah Mei merah padam, mencak-mencak, sebal sekali, Bibi hanya bisa menahan tawa melihatnya.”

Aku menelan ludah, ternyata gara-gara itu, padahal aku sudah terlanjur senang.

“Bibi punya alamat Mei di Surabaya?” Aku tidak sabaran, memotong tawa, langsung bertanya pada pokok masalah.

Bibi di depanku menggeleng, “Ada beberapa rumah di Surabaya, Nak Borno. Sayangnya, satupun aku tidak tahu. Empat puluh tahun Bibi hanya mengurus rumah ini, jangankan ke Surabaya, jalan-jalan keluar dari Pontianak saja tidak pernah.”

Aku menghela nafas. Mau dibujuk sampai mampus, namanya tidak tahu ya tetap tidak tahu. Otakku sudah berpikir jenius—entah kenapa tiba-tiba muncul saja ide itu, bertanya apa pernah ada surat dari Surabaya, siapa tahu di amplop ada alamat pengirim, alamat rumah di Surabaya. Bibi menggeleng. Apa ada catatan, buku, dokumen atau apa saja yang merujuk ke alamat di Surabaya. Bibi menggeleng, “Saya tidak bisa baca loh, Nak Borno.” Tetap tidak ada kemajuan, lima belas menit aku hampir bilang hendak melihat kamar Mei, siapa tahu di sana ada catatan tertinggal, petunjuk alamat.

“Rumah ini kosong sejak dua belas tahun lalu, Nak Borno. Hari itu, semua keluarga besar Sulaiman pindah ke Surabaya, Opa, Oma, Tante, Oom, anak-anak, semua pindah. Membawa semuanya, selain perabotan. Kemarin, Mei hanya tinggal tiga bulan saja, kamarnya sekarang kosong seperti semula, padahal Bibi sudah senang Mei pulang, di rumah inilah dia lahir, tumbuh besar, dulu Bibi suka menimangnya, menemani berlarian di halaman. Ternyata dia hanya sebentar, kembali lagi ke Surabaya.”

Tidak ada petunjuk, tidak ada. Aku menyisir rambut dengan jemari.

Matahari hampir persis di atas kepala, adik misan Jauhari pasti menunggu sepitku di dermaga. Aku dengan kalimat hambar pamit pada Bibi, terima-kasih banyak sudah mau diajak ngobrol. Bagaimanalah? Percuma juga aku jauh-jauh ke Surabaya tanpa tahu alamat Mei? Skenario kelima?

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s