Episode 26: ‘Kau, Aku & Kota Kita

Tetap Semangat

Kupikir hal pertama yang harus diurus adalah mencari alamat Mei. Bagaimana mungkin aku ke Surabaya tanpa bertemu Mei? Dan kalau aku ingin bersua dengannya, bagaimana mungkin aku tidak tahu alamat rumahnya? Apakata Andi suatu ketika, “Kota itu luas, Kawan. Pontianak separuhnya pun tidak sampai, kau dengan mudah bisa tersesat.” Waktu itu Andi baru pulang diajak bapaknya ke pulau Jawa, SD kelas empat. “Ada sungai besar di Surabaya, tak?”Salah-satu teman sekelas, bertanya, merapat ingin tahu. “Aku tidak lihat sungaidi sana.” Andi menggeleng. “Bangunan tingginya berapa tingkat, ya?” Teman lain menyeruak. “Aku tidak lihat gedung tinggi di sana.” Andi (versi kecil) menggaruk kepala. “Ada jembatan besarnya macam kota kita, tidak?” Teman yang lain mendesak. “Aku tidak lihat.” Suara Andi mulai pelan. Teman-teman mulai sebal, “Lantas apa yang kau lihat di sana?” Andi (versi kecil) menyeringai, “Sebenarnya aku tidak kemana-mana, kapal kami merapat sebentar di TanjungPerak, mengisi muatan.” Teman-teman menimpuk Andi dengan remasan kertas.

Terlepas dari sok-tahu Andi, aku percaya Surabaya memang luas. Aku tahu kalau orang-orang di Pontianak lebih sering ke kota itu dibanding Jakarta. Saudagar dan pemilik toko besar membeli peralatan elektronik, membeli pecah-belah, baju-kain, sembako dan sebagainya dari sana—termasuk sayuran segar. Kapal-kapal kontainer ratusan Teus merapat di dermaga Pontianak datang dari Surabaya. Teman-teman SMA-ku juga banyak yang melanjutkan kuliah di kota itu.

Nah, kemana aku mencari alamat Mei? Ibu Kepala Sekolah Yayasan. Wajah keibuan, menyenangkan itu muncul di benak, lengkap dengan senyumnya. Aku menepuk dahi, teringat bagaimana kalau Ibu Kepsek kali ini menolak memberikan alamat? Dulu saja aku susah setengah mati membujuknya. Aku menyeringai, segera mengusir kemungkinan buruk itu, tidak ada lagi kamusnya berpikir pesimis, demikian aku menghibur separuh hati yang bimbang. Sekarang urus dulu urusan kedua, bilang pada Ibu kalau aku dua hari lagi, selama seminggu, menemani PakTua ke Surabaya. Lazimnya Ibu tidak pernah keberatan aku pergi berhari-hari dari rumah, apalagi kalau ada kaitannya dengan Pak Tua, tapi aku tetap harus minta ijin.

Tiba di rumah papan, masih bersenandung riang lagu Melayu lawas, wajah cengar-cengir (yang sepanjang gang mengundang kalimat jahil tetangga), aku mendadak berdiri mematung. Lupakan urusan pertama dan kedua. Ada urusan ketiga yang ternyata lebih mendesak. Eh, kolong rumah Ibu nampak kosong, tidak tertambat BORNEO. Aku menelan ludah, ini sudah hampir pukul sembilan,bagaimana-lah adik misan Jauhari ini? Tidak ada lagi penumpang jam segini—kecuali sepit hantu seperti celoteh sok-seram petugas timer; sepit hantu yang malam-malam narik penumpang misterius sepanjang Kapuas.

“Ibu tidak lihat ada yang mengembalikan sepitku?” Aku bertanya pada Ibu yang terkantuk-kantuk di kursi malas.

“Justeru itu yang hendak kutanyakan, Borno. Sepit kau mana, kau pulang tadi siang tidak bawa sepit, tidak kau jual, hah?”

Aku menggaruk kepala, bersungut-sungut menggeleng, Ibu itu sejak aku kecil dulu selalu suka menuduhku berlebihan—walapun alasannya lebih karena dia terlalu cemas aku berbuat jahat dan zalim atas hak orang, “Tidaklah, Bu. Mana mungkin aku tega menjualnya.”

“Nah, lantas di mana sepit kau?”

“Dipinjam Jauhari, Bu. Tadi siang dipakai adik misannya narik. Dari padanganggur, kuberikan saja. Janji Bang Jau sebelum gelap sudah dikembalikan.”

“Kenapa sekarang belum dipulangkan?”

Aku menggeleng lagi, tidak tahu.

“Kau pernah lihat adik misan Jauhari?”

Aku menggeleng, kenal saja belum.

“Belum kenal kenapa kau pinjamkan padanya? Tidak tahu apa, jaman sekarang banyak orang jahat. Mengaku-ngaku kerabat tapi menipu. Berpenampilan baik-baik tapi penjahat. Berpakaian rapi disetrika tapi berlumur uang kotorberlumpur—”

“Eh, kan aku kenal Bang Jau-nya, Bu.” Aku buru-buru memotong kalimat Ibu, nanti malah panjang benar ceramahnya.

Ibu terdiam, benar juga, tapi tidak juga, “Aku juga kenal Jauhari sejak dia bayi. Tetapi siapa itu adik misan-nya? Banyak di dunia ini yang orang-tuanya baik-baik, anaknya buruk, suaminya lurus, istrinya bengkok, apalagi hanya adik misan. Kau bergegas sana pergi ke rumah Jauhari, tanyakan padanya, pastikan segera. Sebelum terlambat.”

Baiklah, itu juga tadi mau kulakukan.

***

Dan urusan tambah kapiran saat aku melintas di balai-balai bambu.

“Kau terburu-buru hendak kemana, Borno. Pak Tua tidak kenapa-napa, bukan?” Bang Togar yang sedang mengobrol sambil menghabiskan kopi bersama yang lain bertanya.

“Aku hendak ke rumah Bang Jau.”

“Ada urusan apa malam-malam? Ini hampir pukul sepuluh.”

Aku menjelaskan cepat, sepit, adik misan, dipinjam, pukul enam, belum dikembalikan. Belum habis kalimat terakhirku, Bang Togar sudah memotong,”Sungguhan, Borno?”

Sungguh apanya?

“Jangan-jangan, Borno.”

Dahiku terlipat. Jangan-jangan apa?

“Tadi siang ada kabar dari laut. Belasan sepit ditangkap polisi.” Suara Bang Togar mendesis.

“Ditangkap polisi? Kenapa?” Aku mulai cemas. Mana ada razia helm, operasi ketupat, atau semacam itulah di Kapuas, razia itu cuma ada di jalanan raya. Mana ada pengemudi sepit atau perahu nelayan perlu mengurus SIM, STNK dan sejenisnya itu.

“Belasan sepit itu tertangkap basah membawa barang selundupan.”

“Barang selundupan apa?” Aku menyergah tidak sabar, Bang Togar itu selalu saja sok-rahasia menjelaskan sesuatu, imbas dari tabiat sok-kuasanya.

“Menyelundupkan rokok, Borno. Di negeri jiran, harga rokok kita mahal sekali. Nah, banyak perahu-perahu nelayan besar membawa rokok di lambung kapal,menerobos perbatasan, tanpa lewat customs. Sepit-sepit yang ditangkap itu membawa barang haram dari kota Pontianak ke selat Karimata, sejauh yang mereka bisa, lantas bertemu dengan kapal besar nelayan di titik yang telah disepakati, memindahkan muatan, jauh dari mata polisi atau petugas bea cukai.” Tetangga lain berbaik hati menjelaskan—BangTogar mendelik, sedikit tersinggung didahului.

“Lantas di mana sepit-sepit itu sekarang?” Tingkat cemasku meningkat.

“Paling juga di kantor polisi, menunggu proses pengadilan, biasanya sih dihancurkan.”

Aku menepuk dahi. Celaka urusan ini, mulai berburuk sangka, “Sepitku belum balik-balik dari tadi sore, Bang. Bagaimana kalau itu salah-satu yang ditangkap polisi.”

Orang-orang di balai bambu terdiam. Saling tatap, ikut cemas.

“Ini sudah urusan PPSKT, Borno. Kau tenang saja, ini masuk area tanggung-jawabku.” Bang Togar meneguk sisa kopi di gelas, loncat dari balai bambu, “Mari kita bergegas ke rumah Jauhari.”

***

“Belum dikembalikan, Borno?” Jauhari menguap, dia sudah tidur, wajahnya mengantuk saat membuka pintu.

“Belum.” Aku menggeleng.

“Bagaimana mungkin kau yang malah bertanya, Jau?” Bang Togar disebelahku sudah merangsek ke dalam, “Mana adik misan kau, hah?”

“Dia malam ini tidak tidur di sini.” Jauhari menguap, belum merasa ada yang perlu dicemaskan, “Biasanya malam minggu seperti ini dia ke rumah temannya di dekat Tugu sana. Kau tahu, anak muda, menghabiskan malam.”

“Sepitnya Borno belum kembali, Jau. Kau tidak dengar soal belasan sepit ditangkap di selat Karimata?” Bang Togar melotot.

Jauhari terdiam sejenak, terdengar suara tangisan dari dalam kamar, sibuyung nampaknya menangis, suara hss ibunya mendiamkan. Jauhari mengucek matanya, kesadaran itu mulai datang.

“Di mana rumah teman adik misan kau itu, Jau? Ini urusan bisa serius sekali. Kalau benar salah-satu sepit itu adalah BORNEO, Borno juga bisa ditangkap polisi, Borno adalah pemilik sepit, dituduh menyediakan perahu untuk kegiatan haram, penyelundupan. Kau tidak ingat kasus Mamat lima tahun lalu? Penjara enam tahun tanpa ampun, padahal mana dia tahu sepitnya dipakai begitu.”

Jauhari tercengang, sekarang benar-benar terang benderang masalahnya. Kuap-nya hilang, matanya menyala pol, dia bergegas masuk kamar, sepuluh detik sudah kembali tanpa sarungan, wajahnya tegang, “Ayo Bang, kita ke Tugu segera.”

Aku sedikit gugup. “Kemana?”

“Ke Tugu, Borno. Mencari adik misan Jau.”

Astaga, apa Bang Jau bilang tadi? Mamat di penjara enam tahun tanpa ampun? Alamak, dua hari lagi aku ke Surabaya dengan prospek tinggi akan segera bertemu Mei, bagaimanalah urusan ini kalau sepitku dipakai menyelundupkan rokok? Bagaimanalah?

“Nah, ayo! Kita harus mendahului banyak pihak. Membuat jelas semuanya sebelum polisi menciduk Borno dari rumah Ibu-nya. Menyiapkan skenario….Seberapa kenal kau dengan adik misan kau itu?” Bang Togar terus mengoceh sepanjang berlari-lari kecil menuju jalan raya.

“Tidak terlalu dekat, Bang.” Jauhari seperti menyadari sesuatu, wajahnya cemas, “Aku hanya sekali-dua ke Putussibau, mudik, dia baru saja datang ke sini, orang-tuanya dulu membantuku banyak, jadi tidak ada salahnya kubantu balik.”

“Tidak terlalu dekat tapi kau berani saja meminjamkan sepit Borno, hah?Terlalu.” Bang Togar menatap tidak percaya.

Jauhari terdiam, menggelengkan kepala, “Aku kenal keluarganya, Bang. Mereka bisa dipercaya.”

“Ya, ya, boleh jadi kau benar, bisa dipercaya. Tapi ini kota besar,Jau, adik misan kau itu baru berapa hari di sini? Seminggu? Sebulan? Dia bisa saja ditipu orang, sepitnya di-carter, ditawari uang banyak, langsung tergoda tanpa merasa perlu bertanya. Mamat saja yang lumutan tinggal di sini tidak sensitif kalau ada masalah dengan carter-an sepitnya, apalagi adik misan kau, hijau sekali.”

Aku tetap diam sepanjang jalan, kami sudah menumpang oplet, Bang Togar memaksa sopirnya mengantar—Bang Togar kenal sopir oplet, jadinya tidak masalah. Jalanan kota mulai lengang, warung-warung tenda sepi pengunjung, cahaya redup lampu jalan, aku menghela nafas tipis, oplet terus melaju ke daerah Tugu Khatulistiwa.

***

Setengah sebelas, kami tiba di rumah teman adik misan Jauhari. Sial, Jau lupa dimana letak persisnya, jadilah setengah jam dihabiskan bertanya-tanya, setelah ditemukan, bukan kabar baik yang ada, malah menambah kecemasan.

“Penghuninya pergi, mungkin nonton konser musik di gedung serbaguna.”Demikian tetangga menjelaskan.

“Konser musik.”

“Ah, kau macam tidak baca koran saja. Band ngetop dari Jakarta sedang manggung di sana. Tak kurang puluhan ribu penonton bakal datang katanya.”Tetangga tertawa, menirukan selarik lagu laris itu, “Ada apa sebenarnya? Dari tadi banyak betul orang yang mencari penghuni rumah sebelah, malah ada yang tampilannya macam intel, polisi berbaju preman, nanya-nanya.”

Aku menyeka pelipis, berkeringat dingin. Bang Togar dan Jauhari saling tatap sejenak, menggeleng, “Tidak apa-apa, Bu. Hanya urusan keluarga. Permisi.”Bang Togar taktis undur diri.

“Kemana kita sekarang?” Jauhari ragu-ragu bertanya setelah kembali duduk di dalam oplet.

“Kemana lagi? Gedung olahraga. Malam ini adik misan kau harus ditemukan.” Bang Togar menjawab ketus.

“Tetapi di sana ada puluhan ribu orang, Bang? Bagaimana menemukan adik misanku?” Jauhari masih berpikiran waras, menggunakan logika.

“Itu mudah, kau naik ke atas panggung pertunjukan, ambil alih mik penyanyinya, lantas teriak-teriak macam di dermaga pelampung haram itu,perhatian-perhatian, fulan bin fulan ditunggu di belakang panggung. Beres,kan?”

Jauhari menatap Bang Togar dengan ekspresi, apa abang tidak sedang kesurupan? Bang Togar tidak peduli, terlihat benar rasa tanggung-jawabnya sebagai ketua PPSKT. Dia menyuruh sopir oplet banting stir menuju gedung olahraga Pontianak.

Pukul satu dini hari, kabar baik dan kabar buruk datang bersamaan. Kabar baiknya, tidak ada yang perlu naik ke panggung, mengambil alih mik daripenyanyi ngetop, konser itu sudah bubar. Kerumunan massa sudah beranjak pulang,menyisakan lautan sampah di sekitar gedung. Botol air mineral, kertas, plastik,berserakan. Aku menatap pakaian dan gaya penonton yang masih asyik saling-cerita tentang serunya konser barusan. Kabar buruknya? Posisi adik misan Bang Jau masih gelap, tidak ketemu, sudah berkeliling setengah jam, kesana-kemari, siapa tahu tidak sengaja berpapasan dengannya, tetap gelap. Segelap langit kota yang mendung. Aku mendongak, geliat cahaya petir membuat jelas awan pekat di atas sana.

“Kemana kita sekarang?” Jauhari menghela nafas berat, bertanya.

Bang Togar mendengus sebal ke arah kerumunan yang baru lewat, tidak menjawab.

“Kemana, Bang?”

“Sebentar, biarkan aku berpikir dulu.”

Rintik hujan mulai turun.

“Kita ke kantor polisi saja, Bang.” Aku berbisik lemah.

“Astaga? Kau mau menyerahkan diri?” Bang Togar berseru, tidak percaya.

“Bukan, bukan itu maksudku.” Aku menelan ludah. Maksudku, kami pergi menanyakan kabar tentang belasan sepit itu, apakah ada salah-satu yang bernama lambung BORNEO. Pura-pura macam wartawan, pura-pura mencari kerabat yang ditangkap, apalah yang penting tidak mengaku-ngaku.

“Kau jenius, Borno.” Bang Togar menepuk bahuku, “Mari kita ke kantor polisi. Kalau benar itu sepit kau, adik misan Jau juga sudah sejak tadi ada disana, dibalik teralis. Percuma saja kita ke Tugu, lantas ke gedung sialan ini.”

Tujuan berikutnya: kantor polisi.

***

Tetapi itu teori, untuk tiga orang yang kadar cemasnya sudah dua puluh empat karat, setiba di kantor polisi yang ada malah takut-takut, maju-mundurdan penuh perhitungan.

“Kau tunggu di halaman. Aku saja yang menghadapi mereka.” Bang Togar menggeram, sebal sendiri dengan rasa cemas yang muncul di hati, “Biar tidak menarik perhatian, siapa tahu mereka sudah mencari kau sejak tadi.”

Aku mengangguk, menurut.

Bang Togar melangkah pasti ke pos penjaga polres. Kami menonton dari kejauhan dua puluh meter, di balik pohon beringin. Sepertinya terjadi percakapan, tangan Bang Togar bergerak-gerak, mungkin lagi menjelaskan sekaligus bertanya. Tangan petugas jaga juga bergerak-gerak, mungkin memberikan jawaban. Sepuluh menit, Bang Togar kembali.

“Bagaimana?”

Bang Togar menggeleng.

“Tidak ada sepit bernama lambung BORNEO?” Jauhari sudah siap memasang wajah senang.

“Bukan itu. Aku belum menanyakannya.” Bang Togar menghela nafas, “Tadi saat hendak bertanya, polisi di belakangnya sibuk ngobrol tentang pengemudi sepit yang ditangkap susah sekali mengaku, terpaksa digebuki baru mengaku, bilang 1×24 jam semua yang terlibat harus ditangkap. Hilang sudah pertanyaanku,tercekat di kerongkongan.” Bang Togar bersandar ke pohon beringin.

“Lantas, tadi abang tanya soal apa? Lama sekali?”

“Aku bertanya bagaimana ke Istana Kadariah, mengaku turis yang kemalaman, tersesat, hendak pulang ke penginapan dekat istana. Astaga, polisi jaga menawarkan mengantar. Untung aku bersilat-lidah tidak usah.”

Kalau saja situasinya lebih baik, aku pastilah tertawa melihat tampang Bang Togar. Sayangnya, jangankan tawa, nyengir pun berat rasanya. Aku tambah tegang.

“Lantas sekarang bagaimana? Sudah hampir pukul tiga.” Jauhari mendesak.

“Biarkan aku berpikir, Jau.” Bang togar menghela nafas.

***

Setengah jam berikutnya, Bang Togar gagah-berani memutuskan kembali kepos jaga, mengaku masih bingung juga, masih tersesat, lantas setelah panjang-lebar mendengar penjelasan, minta dibuatkan peta di atas kertas segala, Bang Togar berpura-pura nyeletuk, “Lagi ada kasus apa, sih? Sepertinya rusuh sekali kantor polisi malam ini?” Petugas tertawa, “Oh,biasalah, penyelundupan. Kejahatan lintas negara nomor satu. Kapolres tadi bahkan menerima langsung telepon dari Kapolda. Semua harus ditangkap, termasuk pemilik sepit, juga orang-orang yang melindungi pemilik sepit.” Musnah sudah skenario di kepala Bang Togar, dia meneguk ludah, buru-buru undur diri.

Pukul lima pagi, non-stop berpindah-pindah tempat, kelelahan, sopir oplet sudah mengomel pula, kami akhirnya kembali ke rumah Jauhari. Istirahatsejenak, demikian keputusan Bang Jau (sebenarnya dia perlu menenangkan diri lepas spot jantung bercakap dengan polisi), nanti dilanjutkan setelah jalanan terang. Berharaplah semua baik-baik saja.

Aku duduk tercenung di kursi oplet, menatap jalanan lengang Pontianak. Bagaimanalah kalau aku sampai ditangkap? Masuk penjara? Terbayang Koh Acung,Cik Tulani akan bergiliran mengantar ransum makanan. Ibu? Apa yang akan dia bilang? Jangan-jangan aku sudah dihapus dalam daftar warisan—meski Ibu sebenarnya tidak punya harta untuk diwariskan. Pak Tua? Apakah dia tetap ke Surabaya? Dan Mei? Wajah Mei yang terlipat, “Namaku Mei, Bang Borno. Dan meskipun itu nama bulan, kuharap Bang Borno tidak mentertawakannya.Terima-kasih buat tumpangannya.” Membenak di kepala. Aku menyeringai. Ah, dulu aku mengenang kejadian itu dengan perasaan bersalah, sekarang, dengan kemungkinan masuk penjara, aku mengenang kejadian itu dengan segenap perasaan sebaliknya. Mei, apakah kau akan menjengukku di balik teralis? Macam difilm-film, atau sinetron murahan?

“Turun, Borno.” Bang Togar meneriakiku, “Sudah sampai di rumah Jau.”

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s