Episode 25: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Tetap Semangat

Suara gemeretuk motor tempel (menge-tem, merapat, meninggalkan steher), teriakan petugas timer, penumpang yang bergegas, keributan kecil memenuhi dermaga kayu. Kesibukan datang lagi di kota kami, hari ke 48.765 sejak hantu si pontianak ditaklukkan pendiri kota ini—tidak percaya hitungannya, kalian hitung saja sendiri. Langit biru bersih sejauh mata memandang, awan seolah tak tega mengotorinya, cahaya matahari menerpa permukaan Kapuas, payung-payung terkembang, pucuk-pucuk bangunan kotak sarang walet, menara BTS, gudang penggilingan karet, gudang pengelolaan kayu—yang banyak terbelengkalai sejak ilegal logging jadi musuh nasional, gedung-gedung bertingkat, kubah masjid, atap kelenteng, menjadi saputan komposisi warna yang indah.
“Kau narik setengah hari lagi, Borno?” Bang Jau, menepuk ujung perahuku bertanya, dia baru saja merapat menurunkan penumpang, masuk antrian.
Aku mengangguk, memainkan ujung jempol, sejak tadi duduk menunggu di buritan sepit, bosan—tidak ada seru-serunya dibanding enam bulan lalu, antrian sepit nomor 13.
“Adik misanku datang dari Putussibau. Dia kemana-mana mencari pekerjaan, tidak dapat-dapat. Kasihan aku, kupikir daripada nganggur di rumah, diomeli istriku, lebih baik dia narik sepit saja. Nah, boleh dia bergantian pinjam sepit kau, Borno? Kau pagi hari, dia narik sore hari.” Bang Jau menjelaskan keperluannya.
“Tadinya aku mau pinjam punya Pak Tua, tapi katanya motor tempelnya di bengkel bapak Andi. Aku sebenarnya segan pinjam sepit kau, Borno, keluarga kau selalu baik dengan kami, malu rasanya menambah repot.” Aku belum menjawab, Bang Jau sudah kembali menjelaskan.
“Dia itu di Putussibau dulunya pengemudi perahu tempel. Membawa sembako, membawa barang-barang ke pedalaman, ke hulu Kapuas. Sudah mahir-lah dia, kau tenang saja, BORNEO kau tidak akan tergores meski se-senti. Sayang, di sana semakin lama semakin tipis angkutan air, kalah dengan jalan-jalan dan jembatan yang dibangun, orang-orang lebih memilih mobil, lebih cepat, lebih praktis. Teronggok bisulah perahu kayu milik juragannya, nganggur pulalah dia.” Bang Jau lagi-lagi menjelaskan sebelum aku menjawab.
“Kalau kau mau meminjamkan, nanti dia akan setor sebagian penghasilannya. Solar tanggung-jawab dia, mencuci sepit tanggung-jawab dia, kau terima beres pokoknya, sebelum pukul enam sore sepit kau sudah dikemba—“
“Boleh, Bang Jau. Silahkan.” Aku segera memotong, alamak, kalau terus menunggu penjelasan Bang Jau, bisa bermenit-menit. Klasik, tetangga di sekitar gang tepian Kapuas ini kadang sungkan sekali minta tolong, harus pakai prolog dan epilog yang panjang.
“Boleh, Borno?” Bang Jau memasang wajah cerah.
“Kenapa tidak, lagipula sepit ini tidak dipakai lepas siang. Boleh dipakai adik misan Bang Jau, asal dijaga baik-baik—“
“Tentu, Borno, aku sendiri yang akan mengawasinya.”
“Ya, ya, dan soal setoran tadi, tidak usahlah. Ini juga sepit milik bersama sebenarnya, sumbangan Bang Jau juga dulu. Kasihan adik misannya, dapat sedikit, dibagi pula, buat dia saja semua.”
“Tak enaklah, Borno. Janganlah.”
“Ya sudah, ganti isi solar penuh saja.” Aku menyeringai.
“Nah, itu baru adil, sepakat.” Bang Jau menjulurkan tangan, aku tertawa kecil ikut menjulurkan tangan, mengangguk.
“Maju lagi satu sepit, woi!” Petugas timer berteriak—meneriaki giliranku.
“Nanti kutambatkan sepitnya di dermaga ini biar bisa langsung dipakai, dan tolong sore-sore langsung ditambatkan di tiang rumah Ibu, biar bisa kupakai ke rumah Pak Tua.” Aku menghidupkan motor tempel, gemuruh suaranya terdengar mantap, gelembung air memenuhi permukaan.
“Siap, Borno.” Bang Jau melajukan sedikit perahunya, agar aku bisa bergerak merapat, dia kemudian masuk antrian.

***

Saat matahari tepat di atas kepala, sesuai kesepakatan, aku menambatkan sepit di dermaga, menitipkannya pada petugas timer kalau nanti adik misan Bang Jau datang. Lantas bergegas pergi ke rumah bapak Andi.
Ini sudah masuk minggu kedua belajar montir di bengkel. Bapak Andi benar, tidak terhitung banyak pelajaran yang kuterima dua puluh tahun terakhir, mulai dari pelajaran Matematika, IPA, IPS dan sebagainya di sekolah, mengurus getah karet, menjadi nelayan, menjadi kuli, penjaga toko, penjaga pintu loket, memasak di warung Cik Tulani, menyetir mobil, mengemudi sepit, dan sebagainya, baru kali ini aku benar-benar merasa berbakat. Lupa sudah dulu di sekolah sering diomeli guru, dibilang anak bebal, lamban, bodoh, di-setrap di depan. Kali ini aku menemukan proses belajar yang membuat semangat, seperti bebek dicemplungkan ke kolam, riang berenang tanpa perlu diajari.
Dulu mengasyikkan setiap kali mengamati Andi yang belepotan oli membongkar mesin, berjam-jam. Sekarang lebih mengasyikkan lagi, aku sendiri yang sibuk dengan onderdil, baut, mur, dan peralatan kerja. “Kau berbeda dengan kebanyakan montir, Borno.” Demikian kesimpulan bapak Andi, setelah aku seminggu belajar, “Kau memperlakukan mesin ini tidak ubahnya seperti bagian diri sendiri. Kau analisis, kau diagnosis, kau nampaknya sudah sedemikian rupa paham, terberikan. Dan memang montir yang baik begitu, selalu menyederhanakan logika mesin, sistematis, dan tidak asal bongkar.” Ujung bibir bapak Andi menunjuk Andi yang sedang jongkok di sebelahku. Yang ditunjuk bersungut-sungut, tidak merasa disindir sebagai tukang asal bongkar, malah lebih tersinggung bertahun-tahun tidak pernah dipuji bapak sendiri.
Siang ini aku melanjutkan me-reparasi total motor tempel sepit Pak Tua. Tidak ada penyakitnya mesin itu, baik-baik saja, kasus kali ini berbeda, bapak Andi menyuruhku membuat motor tempel itu lebih bertenaga, lebih hemat solar. Aku sudah dua hari berkutat memahami logika penghematan, bapak Andi memberikan buku panduan yang sudah kuning, pakai ejaan lama pula dan istilah bahasa asing yang memusingkan kepala. Tidak mengapa, dengan motor tempel terhampar di depanku, aku sudah punya ‘buku panduan’ sakti. Mungkin inilah kenapa aku dulu bebal sekali di sekolahan, belajar tanpa melihat, tanpa memegang, apalagi mempraktekkan secara langsung, belajar hanya dari buku.
“Oi, kau barusan kentut?” Aku berseru, loncat dari duduk, memutus keasyikan mengotak-atik bagian propeler motor tempel.
Andi yang sedang memperbaiki sanyo tetangga tertawa, menggeleng.
“Pasti kau yang kentut barusan. Kencang sekali. Dan astaga, bau betul.” Aku menyumpah-nyumpah, menutup hidung, menjauh dari Andi.
“Halah, Cinderella saja kentutnya bau, kan.” Andi menjawab santai (meski ikut menutup hidung), wajahnya sama sekali tidak merasa berdosa.
“Cinderella tidak pernah kentut sembarangan.” Aku berseru galak.
“Lah, aku tidak kentut sembarangan. Dia keluar begitu saja. Kalau ku-tahan nanti kena penyakit pula.” Andi bersungut-sungut, wajah ‘anti-sosial’-nya terlihat jelas.
Gerbang bengkel diketuk saat aku dan Andi masih sibuk bertengkar.
Alamak, sebuah motor besar—lebih gagah dibanding motor milik kepala kampung yang dulu diperbaiki Andi—dibawa masuk seorang pria tinggi-besar, “Motorku mogok di perempatan sana. Sial, aku harus segera mengantar anakku pergi kursus. Kata tukang asong di perempatan, bengkel ini yang paling dekat. Bisa bantu segera?” Tamu itu ditemani anak perempuan usia sembilan, matanya melihat berkeliling bengkel, agak ragu-ragu dengan keputusan membawa motornya ke sini.
“Wah, asyik betul ya, pergi kursus diantar dengan motor keren seperti ini.” Andi basa-basi, menatap si kecil yang takut-takut masuk bengkel—bagaimana tidak takut, bengkel bapak Andi itu lebih mirip tempat rongsokan, jangan bandingkan dengan bengek kinclong di jalan protokol Pontianak.
Aku menelan ludah, tidak memperhatikan Andi, juga tidak memperhatikan tamu tinggi-besar dengan anak kecil di depanku, mataku terbetoto seketika, menyapu bersih motor besar. Astaga, ini harley davidson keluaran tahun 1970, klasik, orisinil, otakku dengan cepat mengingat buku panduan ke sekian yang diberikan bapak Andi.
“Masih mulus sekali, Oom. Semua bagiannya masih asli pula.” Aku menelan ludah.
Tamu tinggi-besar itu menyeringai, tersenyum tipis, mengangguk.
“Oh, ini ada beberapa bagian mesinnya pernah diganti? Kanibal dengan motor keluaran tahun setelahnya ya, Oom?” Aku mulai mengintip-intip, melongok-longok mesin.
Tamu gagah itu semakin lebar senyumnya, “Sudah susah cari yang lama, ke Eropa atau ke produsen aslinya sekalipun. Terpaksa harus begitu.”
“Tadi mogoknya bagaimana? Maksudku eh apa langsung mogok seketika, atau knalpotnya berasap, tersentak, tenaga mesinnya tiba-tiba habis?” Aku mulai bekerja, jawaban yang tepat dari pemilik motor akan membuat diagnosisku berjalan cepat.
Hanya butuh satu menit mendapatkan kepercayaan penuh tamu tinggi-besar itu, tanya-jawab akurat membuat ekspresi wajahnya lebih menghargai. Aku menyuruh Andi mengambil obeng, mengambil ini, mengambil itu, aku konsentrasi penuh menelusuri muasal masalah mesin motor keren ini—belakangan Andi tidak keberatan menjadi asisten, malah sukarela bersiaga di sebelahku, sudah macam perawat di samping dokter saat operasi besar.
Empat menit kemudian aku tertawa. “Ketemu?” Andi semangat, beringsut mendekat. Tamu tinggi-besar itu ikut mendekatkan kepala. Aku menunjuk bagian mesin, “Rantai mesinnya macet. Tadi pasti bisa di-starter, lantas mogok lagi, Oom? Berkali-kali? Mendorongnya ke sini terasa berat?” Tamu itu mengangguk-angguk. Nah, setelah diagnosis yang jitu, lima menit berikutnya dihabiskan untuk tindakan. Mudah saja. Beres.
“Saranku segera diganti, Oom.” Aku mengelap tangan yang kotor, “Kondisi rantainya buruk, sudah karatan. Paling satu-dua minggu macet lagi, tidak akan tertolong dengan pelumas.”
Tamu gagah itu mengangguk-angguk lagi, “Berapa?”
“Tak usah bayarlah, hanya membersihkan rantai kotor, tidak ada onderdil atau oli terpakai. Yang penting si kecil tidak terlambat kursus.” Aku menyeringai.
Andi sudah menyikut bahuku, keberatan, enak saja gratis.
Tamu gagah itu menyeringai sejenak, tetap menarik dompet di saku celana jeans, mengambil beberapa lembar uang, “Ambil saja, Dik. Kau tidak sekadar membersihkan rantai, kau sudah macam montir profesional, sekaligus memberikan saran-saran. Itu mahal sekali.”
Aku hendak mencegah tangan Andi yang menyambar uang itu. “Kalau ada masalah, datang saja lagi, Oom. Kami buka 24 jam.” Andi memasang wajah basa-basi paling kerennya, tertawa lebar, memasukkan uang ke saku. Aku melotot, ya sudahlah, terserah Andi saja.
Belum genap suara motor gagah itu hilang di kelokan gang, Andi menyikut lenganku, “Kau gila. Menolak bayaran sebanyak ini.” Memperlihatkan lembaran uang di tangan.
“Kau lebih gila lagi.” Aku balas melotot, “Seumur-umur bapak kau jadi montir, pernah pegang harley davidson asli, hah? Jangan bilang motor kepala kampung, itu tiruan, menang tampilan saja. Nah, kau rusak pengalaman hebat tadi hanya untuk beberapa lembar uang seratus ribu.”
“Apanya yang rusak? Kita memperbaiki motor, berhak dapat bayaran.”
Aku menepuk jidat, “Percuma kau sering ikut nongkrong di beranda rumah Pak Tua enam bulan terakhir. Ada yang lebih berharga dibanding hutang uang, Kawan. Apalah itu artinya transaksi jual-beli, kau perbaiki motornya, kau dapat bayaran. Dua-tiga hari, sudah lupa dia. Beda halnya dengan hutang budi. Apa kata Pak Tua, apapun usaha yang kalian jalankan kelak, cara terbaik agar dia langgeng, justeru dengan berpikir sebaliknya dari orang-orang. Kau merusak pengalaman hebat sekaligus kesempatan tamu tadi menjadi terkesan dengan bengkel ini.” Dan seterusnya, dan seterusnya, panjang lebar aku mengomeli Andi.
“Ye lah, ye lah, aku salah.” Andi entah bosan mendengar celotehku, entah malas memperpanjang masalah, mengangkat bahu—jarang-jarang dia mengalah, yang sering dia mengotot meski salah.
Aku menghentikan marah, mendengus, kembali ke motor tempel Pak Tua.

***
Pukul lima sore, pekerjaan di bengkel beres. Sekarang jadwalku mengantar ransum makan malam Pak Tua. Merapikan peralatan bengkel. Andi kali ini terlihat lebih rapi, dia dulu suka meletakkan sembarangan semua obeng, tang, dan pernak-pernik. Butuh seminggu lebih kami bertengkar soal merapikan peralatan, “Tampilan bengkel bapak kau nih sudah kusut, tidak usahlah ditambah kusut dengan wajah kau setiap kali mencari peralatan.” Berhasil, dia meniru disiplinku.
“Kau ikut ke rumah Pak Tua?” Aku bertanya, menutup kotak peralatan.
“Aku ingin ke sana, tapi bapakku menyuruh menjemput di dermaga pelampung.”
Aku mengangguk, sudah dua hari bapak Andi ke Ketapang—urusan keluarga. Sepertinya keluarga bapak Andi itu banyak betul, di mana-mana, hampir setiap minggu dia berpergian.
“Aku pulang dulu. Kalau nanti ada kalimat norak tentang cinta dari Pak Tua kukasih kau contekannya.” Aku melambaikan tangan, tertawa.
Andi menyeringai, tidak merasa disindir tabiat uniknya.
Setiba di rumah, melongokkan kepala ke kolong rumah, tidak ada sepit tertambat di tiang. Ini sudah pukul enam lebih, tepian Kapuas sudah gelap, digantikan cahaya lampu kota. Mungkin adik misan Bang Jau masih narik, pulang kemalaman, atau masih mengisi solar, mencuci sepit. Tak apalah. Bersenandung, masuk. Ibu duduk di kursi malas, sedang membaca, berkali-kali memperbaiki posisi kaca-mata buram—sudah lama sekali umur kaca-mata itu, kadang aku kasihan melihatnya, minus Ibu justeru bertambah dengan kaca-mata bututu.
“Kau tidak makan dulu, Borno?” Ibu mengingatkan.
“Sekalian makan di rumah Pak Tua saja, Bu. Dia sekarang malas-malasan menghabiskan ransum. Harus ditemani nampaknya.” Aku menjelaskan. Ibu manggut-manggut, tidak bertanya lagi.
Lepas mandi, aku turun dari rumah, melongokkan kepala ke kolong, tetap tidak ada sepit tertambat. Alangkah larutnya adik misan Bang Jau narik? Semangat sekali sampai sekarang belum pulang-pulang juga? Atau dapat carteran?
Tidak ada sepit, aku memutuskan berjalan kaki ke rumah Pak Tua. Tidak apalah. Setengah jam berjalan santai, diselang-seling tetangga yang menegur, Bang Togar yang mengajak bicara tentang lomba sepit tujuh belas Agustus-an, Cik Tulani yang menitipkan ransum tambahan, “Mana boleh, Cik. Ini makanan terlarang buat Pak Tua.” Aku menolak gulai darinya, Cik Tulani bersungut-sungut, dan melewati anak-anak yang sibuk main perang-perangan dengan pistol kayu beramunisi buah jambu. Ctar! Ctar! Aku melindungi kepala, sembarangan saja mereka menembak.
Pak Tua sedang takjim duduk di beranda saat aku tiba, tersenyum riang melihatku.
“Ada berapa perahu yang lewat hari ini, Pak?” Aku tertawa, bertanya saat makan malam dimulai. Itu olok-olok Pak Tua, dia pernah bilang bosan hanya menghitung perahu di beranda.
“Perahu nelayan 123 kali, sepit 86 kali, boat fiberglass, perahu lain-lain 26 buah.” Pak Tua menjawab sekenanya, mengunyah sayur bayam.
“Itu angka sungguhan?” Aku menyeringai.
“Kalau kau tidak percaya, lain kali kau hitung sendiri.” Pak Tua balas menyeringai.
Kami tertawa.
Suara denting sendok terdengar, meningkahi percakapan.
“Bapak Andi malam ini pulang dari Ketapang?”
“Dari mana Pak Tua tahu kalau pulang malam ini?”
“Astaga, Borno. Pintar itu bukan sekadar punya ponten dan ijasah tinggi. Pintar itu ketika kau pandai mengambil kesimpulan (dan membuat keputusan) dari situasi yang ada, meski baru terlihat sejengkal situasinya. Kau malam ini datang sendirian, tidak ada Andi. Nah, mudah saja menebak, dia pastilah disuruh menjemput bapak-nya ke dermaga pelampung. Bapak Andi pastilah bawa barang-barang dari Ketapang.”
Aku menggaruk kepala, “Dari mana Pak Tua tahu bapak Andi bawa barang-barang?”
Pak Tua melambaikan tangan, “Buat apa dia disuruh menjemput kalau bapak Andi hanya berlenggang tangan? Itu hanya menebak, tapi lama-lama kau terlatih, tebakan kau bisa jitu. Termasuk menebak bapak Andi pasti bawa karung-karung jengkol dari Ketapang.” Pak Tua tertawa.
Suara denting sendok terdengar lagi, perahu nelayan melintas.
“Tadi siang dokter dari rumah sakit daerah datang kemari.” Pak Tua berkata perlahan.
Aku mengangkat kepala. Dokter datang? Kenapa aku tidak dikasih-tahu?
“Dia hanya singgah, memberi kabar kalau terapi di Surabaya sudah bisa dilakukan. Bukan kontrol atau pemeriksaan.” Pak Tua menjelaskan—jadi kau tidak usah tersinggung tidak dikasih tahu.
“Surabaya?” Aku hampir tersedak, buru-buru menelan suapan terakhir. Astaga, disebut nama kotanya saja aku sudah antusias, apalagi mengingat ekspresi wajahnya saat terakhir kali bersitatap, “Tetap semangat narik sepit, Bang Borno.” Itulah sumber kekuatanku bertahan dari rasa bosan dan rasa aneh menyergap selama enam bulan terakhir.
“Orang-tua ini telah memutuskan, Borno.” Pak Tua meletakkan sendok, berkata yakin, menatapku takjim.
“Memutuskan apa?” Aku bingung.
“Melakukan terapi di Surabaya. Tidak banyak membantu, aku tetap akan berpantang makan di sisa umur, tetapi setidaknya aku bisa kuat kembali, bisa narik sepit, ngobrol di dermaga, macam kau yang masih muda-lah. Orang tua ini telah memutuskan akan pergi ke Surabaya, melakukan terapi.” Pak Tua tersenyum.
“Pak Tua mau ke Surabaya?”
“Ya. Dan kau akan menemaniku.”

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s