Episode 24: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Tetap Semangat

“Tersebutlah dua anak manusia bernama si Fulan dan si Fulani, kenal satu sama lain sejak masih merah dalam gendongan. Orang-tua mereka sahabat dekat, bertetangga rumah dan berbagi banyak hal. Umur enam tahun, saat masa kanak-kanak yang indah, pecahlah perang kemerdekaan, pihak sekutu yang berhasil memukul Jepang di Pasifik memberikan kesempatan dan nyali pada Belanda untuk kembali ke negeri ini, mengambil-alih kekuasaan Kempetai. Meletus perang di Surabaya, pemuda-pemuda lokal, inlander pribumi dibakar semangatnya oleh Bung Tomo untuk mempertahankan kemerdekaan, menyerbu setiap jengkal pos dan benteng kompeni. Nah, rumah orang-tua si Fulan dan si Fulani ini menjadi salah-satu markas pemuda, medan pertempuran garis terdepan. Di tengah kalut perang, orang-tua si Fulan dan si Fulani mengungsikan anak mereka ke luar kota, dititipkan ke kerabat dekat si Fulan. Amat prihatin melihat mereka dibawa pedati, dengan bekal seadanya, menuju kota Malang.
“Pimpinan sekutu Jenderal Mallaby tewas, bendera Belanda berhasil dirobek warna birunya, tapi harga kemerdekaan selalu harus dibayar mahal, orang-tua si Fulan dan si Fulani gugur bersama ribuan pemuda gagah lainnya, mereka yatim-piatu. Zaman itu semua serba sulit, makan susah, pakaian susah, berobat susah, jangan tanya pendidikan dan masa depan, itu barang mewah milik orang berada. Besarlah si Fulan dan si Fulani di kerabat dekatnya, Kakek jauh si Fulan yang punya padepokan angklung. Senasib, sepenanggungan, membuat si Fulan dan si Fulani semakin kompak, termasuk kompak menghadapi teman-teman baru yang jahil, sering mengolok-olok. Mereka berdua saling membesarkan hati, saling mendukung.

“Hari menjadi bulan, bulan dirangkai menjadi tahun, dan mereka tumbuh besar, apa kata bijak itu? Cinta adalah persahabatan, kau tidak bisa membayangkan betapa indah proses transformasi perasaan dari sekadar teman menjadi seseorang yang spesial, macam melihat ulat berubah jadi kupu-kupu. Usia dua puluh lima mereka menikah, aku jadi saksi pernikahan istimewa itu, ketika kabut membungkus gunung Bromo, udara dingin terasa menyenangkan, si Fulan dan si Fulani mengikat perasaan mereka menjadi sebuah komitmen. Ah, Kawan, kata lain pernikahan adalah komitmen? Bagi orang tua yang terus membujang hingga umur sudah layu macamku ini, tidak ada yang paling menakjubkan ketika dua orang berani mengikrarkan komitmen di atas lisan, tulisan dan perbuatan.
“Sayang, saat si Fulani hamil enam bulan, meletus pemberontakan PKI. Pasangan ini, di tengah banyak keterbatasan mereka, dianugerahi kemampuan seni yang luar-biasa, yang entahlah dikemudian hari bakat ini anugerah atau bencana, mereka bekerja di gedung kesenian kota yang waktu itu dekat dengan Lekra. Kau tahu Lekra? Organisasi underbow seni-budaya milik PKI. Jaman gelap, jaman saat ribuan santri dan penentang komunis dibantai, disisihkan, dan sebaliknya juga ribuan orang-orang dan pendukung PKI dibantai. Si Fulan tidak ketahuan rimba, shubuh buta diciduk dari rumah, sedangkan si Fulani dijebloskan ke penjara wanita tanpa proses hukum sama sekali. Apakah pasangan ini PKI? Tentu tidak, hidup mereka sederhana, jangan tanya soal politik, paham, dan sebagainya, tetapi jaman itu semua serba sensitif, jaman ketika salah-sangka ucapan apalagi salah-sangka perbuatan bisa berakibat fatal. Si Fulani payah melahirkan di sel pengap, anaknya laki-laki, diberi nama ‘Janji’, akhirnya diasuh oleh kerabat dekat. Di mana bapaknya? Tidak ada yang tahu.
“Dengan berbagai koneksi tersisa, setelah empat tahun di penjara, si Fulani bisa dikeluarkan. Dan dimulailah masa bertahun-tahun yang lebih menyakitkan, mencari tahu di mana suami dan bapak tercinta anak mereka. Tiga tahun lewat, si Fulan berhasil ditemukan, ternyata tujuh tahun terakhir dia dibuang di pulau terpencil bersama tokoh-tokoh besar PKI, dan lewat proses yang sama, membawa bukti-bukti, apalagi dengan bukti keterbatasan mereka, si Fulan bebas. Akhirnya berkumpul-lah keluarga kecil ini, berusaha merajut kebahagiaan, tinggal di Jakarta. Mereka membuka toko sembako di persimpangan jalan, kecil saja, tapi mencukupi. Bagaimanalah akan besar? Pasangan ini punya banyak keterbatasan.
“Dan lagi-lagi musibah menimpa mereka, lagi-lagi pecah bisul masalah negeri sendiri yang untuk kemerdekaannya dua orang-tua mereka dulu mati berkorban. Peristiwa Malari tahun ‘74, Jakarta dikepung amuk massa. Toko sembako itu terbakar, dan kalian tahu, anak semata wayang mereka si Janji ikut tewas terbakar. Kurang apalagi? Air-mata sudah kering, seluruh kesedihan menggumpal menjadi satu. Apalah itu cinta sejati? Perasaan? Apakah orang lain juga memiliki pemahaman yang sama? Orang-orang berkuasa, pelaku kejahatan? Bukankah mereka juga rata-rata punya anak, suami atau istri? Bagi pasangan si Fulan dan si Fulani pemahaman itu tinggal debu, debu komitmen pernikahan mereka. Ikrar akan saling mendukung, akan selalu berada di sisi yang lain apapun yang terjadi. Mereka pindah ke Surabaya, memulai awal yang baru.
“Tentu saja kalimat bijak itu benar, selepas sebuah kesulitan pastilah datang kemudahan. Si Fulani hamil, berita yang hebat, anak kembar, semakin hebat. Aku bahkan tergopoh-gopoh datang, waktu itu aku sudah tinggal di Pontianak, sama tergopoh-gopohnya saat membantu mengeluarkan pasangan itu dari penjara dan pulau pengasingan. Tahun-tahun itu negara kembali stabil, kehidupan kembali normal, pasangan itu memulai bisnis distribusi gula pasir di Surabaya. Untuk pasangan yang jangankan belajar membaca, urusan lain saja susah, kemajuan bisnis mereka mengesankan. Toko mereka tumbuh, karyawan bertambah, kemakmuran datang. Kebahagiaan melingkupi bersama besarnya si kembar, lucu menggemaskan, tak kurang apapun dibanding orang-tua mereka.
“Tetapi kalimat bijak itu lagi-lagi benar, hidup ini macam naik bianglala, kadang di atas, kadang di bawah, bisul kesekian masalah negeri ini datang macam badai, krisis hebat tahun ’98. Ekonomi jadi morat-marit, kehidupan tambah sulit, untuk tidak menyebut situasi seluruh negeri juga kacau balau, pemerintahan berganti, reformasi, semua bebas bicara, kebebasan, bahkan kentut pun bisa jadi berita. Saat itu banyak orang jahat terdesak keadaan, bertindak curang dan sejenisnya, dan salah satu akibatnya, bisnis distribusi gula pasir keluarga si Fulan dan si Fulani ditipu orang. Bangkrutlah mereka, toko, tanah, pabrik kecil mereka disita, harta mereka ternyata dijaminkan untuk hutang besar orang kepercayaan mereka sendiri. Apalah arti kata cinta sejati? Perasaan? Setia sampai mati? Separuh jiwa? Jangan tanyakan hal itu pada pasangan ini, mereka tidak pandai bercakap, tidak berpendidikan, tidak bisa menulis dan punya banyak keterbatasan. Tetapi mereka bisa menjawabnya dengan contoh perbuatan, bentuk komitmen level tertinggi, saling mendukung, selalu ada di sisi yang lain setiap saat.
“Si Fulan, si Fulani memutuskan awal yang baru. Pindah ke pinggiran Surabaya, membuka kursus memainkan alat musik, bakat kecil mereka dulu. Dan dua belas tahun berlalu, begitulah kehidupan mereka, hingga hari ini, keluarga mereka tetap utuh, tetap kompak, si kembar sudah lepas tiga puluh tahun, sudah berkeluarga, memberikan cucu-cucu yang tampan dan cantik, sudah punya kehidupan sendiri. Itulah cinta, Kawan.” Pak Tua menatap Andi takjim, mengakhiri cerita, “Cinta adalah perbuatan, omong-kosong kata-kata dan tulisan indah.”
Andi terdiam sejenak, “Tetapi Pak Tua, selain pelajaran sejarahnya, di mana letak hebatnya cerita ini? Kalau soal perang melawan Belanda, PKI, amuk massa, krisis, bapak-ku juga mengalaminya, juga orang-orang tua jaman dulu, mereka juga tetap mesra-mesra saja hingga hari ini?”
Aku menyikut lengan Andi, mengingatkan dia kalau ini bukan macam obrol-obrol ringan di balai bambu, ketika dia bisa protes, bahkan memiliki versi imajinasi sendiri atas cerita orang lain.
Pak Tua tertawa, batuk kecil, “Karena kau tidak memperhatikan detail cerita.”
“Detail cerita?” Andi melotot, kebiasaan buruknya, tidak mau disalahkan atas apapun.
“Ya, detail ceritaku barusan. Si Fulan dan si Fulani adalah pasangan buta, Andi. Jadi jangankan membaca atau menulis, melihat saja mereka tidak bisa.” Pak Tua menangkupkan tangan takjim, “Nah, sekarang kau baca ulang kisah ini dengan imajinasi baru, bayangkan mereka waktu kecil bermain bersama, bayangkan saat mereka dilarikan keluar kota bersama, mengungsi, saat pernikahan, prosesi saling menyuapi, ah, Kawan, aku menyaksikan sendiri kalau si Fulan patah-patah menyuapi istrinya, meraba pipi, mencari mulut si Fulani, tertawa bersama. Bayangkan saat si Fulani dipenjara, melahirkan, si Fulan diasingkan. Kenapa pasangan ini bisa dibebaskan? Alasan terbesarnya karena keterbatasan mereka, mana mungkin orang buta terlibat PKI, apa bahaya pasangan buta bagi kestabilan negara?
“Kau pasti pernah melihat tukang pijat buta? Kau juga jangan-jangan pernah melihat pasangan buta di manalah, tetapi kau boleh jadi abai belajar dari mereka. Sepuluh tahun silam, si Fulan dan si Fulani datang berkunjung ke Pontianak, menemui orang-tua ini. Aku menemani mereka berkeliling kota naik sepit, ‘Nah, Hidir, seperti apa pemandangan tepian Kapuas.’ Si Fulan bertanya, seolah bisa menikmati, si Fulani tertawa mendengar gurauan suaminya. Dan lebih mengesankan lagi, di tengah perjalanan, saat si Fulani meraih tas kecil di bahu, meraba-raba bagian dalam, mengeluarkan permen asam-jawa, patah-patah membuka bungkusnya, lantas seperti tahu di mana posisi mulut suaminya, menyuapkan permen itu, sayang, gerakan oleng perahu membuat permen jatuh, pasangan itu tertawa, si Fulani mengambil permen berikutnya dari tas, kembali perlahan-lahan membuka bungkus plastik. Kau tahu, kebiasaan mengunyah permen asam-jawa itu sudah ada sejak mereka kecil, dan sejak mereka kecil pula-lah si Fulani yang membuka bungkusnya, menyerahkannya pada si Fulan. Sudah puluhan ribu permen, tidak pernah bosan, selalu dilakukan dengan mesra. Jangan tanya definisi cinta sejati pada mereka, Andi, mereka tidak pandai bersilat lidah macam penulis, pembuat lagu atau penggubah puisi, mereka buta. Tetapi lihatlah keseharian mereka, maka kau bisa melihat cinta. Bukan cinta gombal, melainkan cinta yang diwujudkan melalui perbuatan.”
Kali ini Andi benar-benar terdiam.
Suara gemeretuk perahu nelayan melintas di depan rumah Pak Tua terdengar. Kerlip lampunya membuat permukaan air mengkilat-kilat. Aku menelan ludah, menatap wajah Pak Tua, “Boleh aku bertanya satu hal, Pak?”
Pak Tua menoleh padaku, silahkan, tentu saja.
“Kalau untuk perangai macam Andi, Pak Tua khusus punya kalimat bijak dan cerita hebat yang cocok baginya, lantas untuk perangai macamku, apakah Pak Tua juga punya?”
Pak Tua tersenyum, menepuk bahuku, “Tentu ada, Borno. Tentu ada. Tetapi aku akan membiarkan kau sendiri yang menemukan kalimat bijak itu, kau sendiri yang akan menulis cerita hebat itu. Untuk orang-orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, selalu bekerja keras, hidup sederhana dan mengalir macam aliran sungai Kapuas, maka definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan. Nah, hanya satu syaratnya, sepanjang kau tidak sepertiku, orang-tua renta yang memutuskan hidup membujang, selalu takut mengambil keputusan, selalu gentar memberikan komitmen.”
Aku terdiam.
Pak Tua menepuk dahi, “Astaga, sudah hampir pukul sepuluh, bukankah kau yang seharusnya selalu disiplin dengan jadwal makan dan istirahatku, Borno. Titip salam buat Saijah, dan kau Andi, bilang Bapak kau, motor tempel sepitku boleh saja dibongkar untuk belajar montir Borno.”
Andi ber-yaah, kecewa, jadwal ngobrol bersama Pak Tua usai. Di kejauhan suara penjual bakso terdengar samar-samar, tuk, tuk, tuk. Aku menghela nafas, Mei, enam bulan sudah aku tidak tahu apa kabarmu? Sedang apa kau sekarang? Sibuk? Tidur? Aku sedang mendengar suara penjual bakso keliling gang sempit tepian Kapuas.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s