Episode 23: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Tetap Semangat

Aku mengetuk pintu depan.
“Masuk, Borno. Tidak dikunci.” Suara berat khas itu terdengar—ah, kalau kalian bisa mendengarnya sendiri, kalian akan selalu suka dengan intonasi suara ini, membuat kangen.
“Sarapan tiba!” Aku menyeringai.
“Kau bawa apa hari ini?”
“Sayur bayam dan bening tahu, Pak.”
Pak Tua yang berbaring di dipan malas melambaikan tangan, “Aku bosan, Borno.”
“Sebenarnya aku juga bosan, Pak. Dengan begini, aku di rumah juga selalu makan menu yang sama, Ibu malas masak dua kali.” Aku tertawa, melangkah ke dapur. “Sayangnya kita sudah bersepakat, bukan, menuruti diet dokter—”
“Ya, ya, tidak ada kompromi, tidak ada pengecualian.” Pak Tua meneruskan kalimatku.
Enam bulan terakhir, tidak ada lagi antrian sepit nomor 13.
Kesibukan pagiku diganti dengan mengunjungi rumah papan Pak Tua, membawa sarapan buatan Ibu. Nanti siang pukul satu aku datang lagi, membawa rantang makan siang, juga nanti malam lepas jam enam, membawa masakan empat sehat lima sempurna. Tidak ada kolesterol, jeroan, lemak, santan, minyak berlebih dan sebagainya itu. Tentu repot macam makan obat bolak-balik ke rumah Pak Tua, tetapi mengingat betapa cemasnya aku enam bulan lalu semua ini dengan senang hati kulakukan.
Aku ingat sekali, aku berdiri berpegangan tiang infus, tersengal bertanya pada perawat, “Pak Tua sungguh sudah dibawa pulang ?” Lantas perawat itu mengangguk (tega), wajahnya prihatin (tanpa berkata-kata lagi). Aku gemetar melangkah keluar, perutku mual, kerongkonganku tercekat. Kejadian ini sama persis waktu Bapak dulu meninggal—malah lebih menyakitkan karena aku jauh lebih mengerti. Aku bersandar ke dinding lorong, hendak berteriak kencang, mengeluarkan segenap kesedihan di hati. Marah, sedih, bercampur jadi satu.
“Nah, ini dia anak tidak tahu terima-kasih, sepanjang hari dicari kemana-mana, tidak tahu rimbanya. Sekarang malah macam hantu pontianak, muncul mendadak dengan wajah pucat pasi.” Bang Togar yang datang bersama Koh Acung lebih dulu berseru galak.
Aku menatap mereka, tersengal, sedikit bingung, tidak nampak kesedihan di wajah mereka berdua.
“Kau kenapa pula seperti mau semaput, Borno?” Koh Acung buru-buru menopang badanku.
“Pak Tua, Koh…. Pak Tua.” Suaraku hilang di ujung.
“Pak Tua kenapa? Dia baik-baik saja, sudah dipindahkan ke kamar paviliun. Kondisinya sudah stabil. Nah, kau dan Togar bantu urus administrasinya di depan sana. Tadi mereka minta jaminan, uang muka. Aku mau mengambil pakaian yang tertinggal di dalam.” Koh Acung menepuk-nepuk lenganku.
Aku kehabisan kata, benar-benar bingung. Bukankah Pak Tua sudah dibawa pulang? Bukankah? Sejurus salah-paham terjelaskan, Bang Togar yang akhirnya tahu apa yang telah terjadi terbahak, “Kau pikir hanya punya Pak Tua yang bernama Hidir? Mungkin Hidir lain yang dibawa pulang itu.”
Aku tidak berkomentar, mengusap wajah kebas, astaga, ternyata kesedihan ditinggal orang yang disayang seperti itu rasanya, seperti ditusuk-tusuk. Hari ini ibarat mobil off-road, hatiku seperti mengalami medan terberat yang pernah ada, tadi pagi, cemas berlebihan soal ingkar janji, merasa menjadi bujang tidak berharga diri; sorenya girang bukan kepalang karena Mei tidak marah, malah minta maaf; perasaan yang ternyata segera berganti dengan kosong dan hampa karena Mei ternyata berangkat ke Surabaya; malam ini datang sedih tidak terkira salah kira Pak Tua sudah pergi selamanya; perasaan yang juga ternyata segera berganti dengan rasa lega tak terkatakan.
Pak Tua benar, masa muda, masa ketika bisa berlari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah.
Malam itu aku terkantuk-kantuk menunggui Pak Tua yang tertidur nyenyak. Esok harinya, Pak Tua sambil tersenyum, menggoyang-goyangkan bahuku, “Bangun, Borno. Sudah pagi.” Aku mengangkat kepala, menyeka pipi, menatap wajah Pak Tua, itu senyum paling menenteramkan yang pernah kulihat.
Dua minggu dirawat di rumah sakit, adalah tugasku menunggui Pak Tua. Sebenarnya sesuai kesepakatan, aku, Koh Acung, Cik Tulani dan Bang Togar janji bergantian, maka disusunlah jadwal yang adil dan proporsional: Borno—Acung—Borno—Tulani—Borno—Togar—Borno, dan seterusnya. Aku melihat sebal skedul di kertas, hasil corat-coret Bang Togar, di mana adil dan proporsionalnya? Kalau begini sama saja aku terus. “Haiya, kau kan tidak punya warung atau toko kelontong yang harus diurus, Borno.” Demikian alasan Koh Acung. “Kau juga bukan Ketua PPSKT, mana ada sibuknya. Aku harus mengurus puluhan pengemudi sepit, Borno. Besok malah rapat dengan dinas perhubungan Kalimantan Barat.” Demikian Bang Togar menambahi. Baiklah, baiklah, aku malas berdebat.

Jadilah aku menemani Pak Tua yang masih terbaring lemah, lebih banyak tertidur, dan tidak boleh banyak bercakap (perintah dokter). Aku menyalakan lampu kamar, mematikan lampu kamar, menyalakan lampu, mematikannya lagi keesokan hari, menyuapi Pak Tua, membantunya ke toilet, mengelap dan mengganti pakaiannya. Itu semua kulakukan dengan sisa hati yang masih terbuang separuh. Dua minggu itu, kepergian Mei masih lekat membekas. Kadang aku duduk di kursi, menatap langit kota Pontianak dari lantai dua rumah sakit, sendirian, Pak Tua mendengkur. Kadang aku menatap langit-langit kamar, di luar hujan deras, Pak Tua mendengkur.
Mei, apa yang kau lakukan sekarang ribuan kilometer di sana? Lihatlah, aku sedang berusaha tidur, memperhatikan seekor cicak yang dari tadi merangkak-rangkak mengincar nyamuk di dekatnya.

***
Di hari ke-lima belas, Pak Tua boleh pulang. Aku tertawa amat lebar, berita ini sedikit banyak berhasil mengusir ingatan tentang Mei. Koh Acung hendak men-carter oplet, biar lewat darat saja, lebih sedikit goncangan meski memutar melintas jembatan beton, langsung menuju gang sempit tepian Kapuas. Pak Tua menggeleng, “Aku mau naik sepit, Acung. Aku mau pulang dengan sepit hingga ke tiang rumah papanku.” Aku mengangguk-angguk, itu benar, Pak Tua naik sepit dari dermaga dekat rumah sakit. Kepulangan Pak Tua menjadi kabar bahagia bagi pengemudi sepit, tetangga dan penumpang, rumahnya ramai oleh kunjungan, makanan dan buah tangan.
Tetapi tidak ada lagi makan sembarangan, dokter sudah memberi ultimatum. Pak Tua harus disiplin, bahkan kalau pun kondisinya telah pulih, dia tetap harus diet selamanya. Maka makanan lezat-lezat itu kuhabiskan bersama Andi, gantinya Pak Tua dapat ransum harian dari Ibu. Pagi, Siang dan Malam, adalah tugasku mengantar rantang, memastikan Pak Tua menghabiskannya.
“Kau tidak narik hari ini, Borno?” Pak Tua bertanya, malas mengunyah bening tahu.
“Narik setengah hari, Pak. Nanti sore bapak Andi menyuruh datang ke bengkelnya.”
“Bengkel motor itu?”
“Iya. Aku ditawari belajar jadi montir.”
Pak Tua manggut-manggut, “Ramai sekarang di dermaga?”
Aku tahu maksud pertanyaan Pak Tua, dia kangen narik sepit, bersenda-gurau di steher, duduk ngopi di warung pisang goreng, melintas di sepanjang Kapuas, menatap kesibukan kota. “Ramai. Sekarang malah banyak yang aneh-aneh, Pak.” Aku tertawa, mencoba menghibur, “Kemarin aku narik dapat penumpang suami-istri yang tengah marahan. Buncah sepanjang perjalanan mereka saling lempar teriakan, makian. Pusing aku, satu minta kembali ke dermaga, satu minta terus ke dermaga seberang. Akhirnya kubawa saja mereka ke kantor urusan agama dekat steher Istana Kadariah.”
Pak Tua ikut tertawa.
Adalah hingga setengah jam ke depan aku menemani Pak Tua sarapan, lantas pamit, membawa sepit ke dermaga. Nanti siang kembali lagi mampir setengah jam, membawa rantang makanan, juga malamnya, jam tujuh, kalau yang ini mampir ber-jam-jam, menghabiskan malam bersama Pak Tua.

***
“Kalian tahu, cinta itu beda-beda tipis dengan musik yang indah.” Pak Tua berkata perlahan, menyela aku dan Andi yang barusaja menyanyikan lagu lawas dengan gitar butut. Ini malam kesekian aku menemani Pak Tua di masa-masa pemulihan, belakangan Andi yang sebal duduk sendirian di balai-balai bambu, ikut menemani. Kami duduk di ruang tengah, bermain gitar, menyanyi, menatap kerlip lampu perahu yang melintas lewat jendela terbuka lebar.
Aku menoleh (Andi malah semangat langsung meletakkan gitarnya), selalu seru jika Pak Tua mengajak bicara tentang perasaan. Meski kadang memusingkan, filosofi dan pemahaman tentang perasaan Pak Tua, bagi kami-kami bujang yang sedang masa-masanya jatuh cinta, selalu terdengar menakjubkan.
“Lantas?” Andi, seperti biasa tidak sabaran.
“Lantas apanya?” Pak Tua tertawa kecil, menggoda.
Andi memasang wajah sebal, “Musik dan cinta tadi, Pak Tua.”
Pak Tua santai memperbaiki selimut di kaki, “Ya, cinta itu macam musik yang indah, bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.”
Duduk Andi merapat, wajahnya antusias, “Alamak, seperti itukah, Pak Tua? Aku hampir sepuluh tahun belajar memetik gitar, menyanyi, baru kali ini terpikirkan kalimat indah seperti itu.”
Pak Tua mengangguk takjim. Maka malam ini kami akan membahas tentang musik dan cinta.
Di lain kesempatan, di malam berikutnya, saat bertiga duduk di beranda, menatap kesibukan malam Kapuas, Andi yang otaknya belakangan dipenuhi kalimat-kalimat bijak tentang cinta dan selalu penasaran apakah Pak Tua bisa menghubung-hubungkan banyak hal dengan filosofi perasaan, tiba-tiba nyeletuk, “Pak Tua, apakah cinta juga beda-beda tipis dengan sungai Kapuas ini?”
Pak Tua terdiam, menyeringai menatap kami.
Andi balas menyeringai, menantang.
“Ya, itu benar, cinta juga beda-beda tipis dengan sungai Kapuas.”
Astaga? Apakah Pak Tua juga bisa merangkai kalimat hebat dari kata ‘sungai’?
“Kalian tahu, cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu.”
“Ah, tidak juga Pak Tua, kalau demikian, tetap ada ujungnya, muara sungai.” Andi ngeyel, mencoba berlogika.
“Cinta sejati adalah perjalanan, Kawan.” Pak Tua berkata takjim, “Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan apalagi hanya sekadar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti, begitu pula cinta.”
Aku tertawa—mentertawakan Andi yang terdiam, kalah kelas dengan Pak Tua.
“Siklus sungai Kapuas ini jauh lebih abadi dibanding cinta gombal manusia.” Pak Tua melanjutkan, “Beribu tahun, tetap ada di sini, meski airnya semakin keruh. Sedangkan cinta gombal kita? Jangan bilang kematian dulu, bahkan jarak dan waktu sudah bisa memutusnya.”
Sekarang tawaku bungkam, tertunduk, Pak Tua benar, jarakku ribuan kilometer sekarang, dan waktuku—aku tidak pernah memilikinya.
“Kau tahu, Andi, dari begitu banyak kalimat bijak tentang cinta yang kau catat berbulan-bulan ini, untuk orang seperti kau, cukup cam-kan saja kalimat yang satu ini, sisanya lupakan.” Pak Tua menatap Andi, yang ditatap beringsut macam wartawan, siap merekam tanpa lolos satu huruf pun.
“Camkan, cinta adalah perbuatan, kata kerja, dia bukan kata benda apalagi kata sifat. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik: kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun memiliki perasaan cinta, Andi. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi.”
Andi melongo, menggaruk kepala, bukan kali ini kalimat bijak Pak Tua langsung menohok hatinya, lebih karena kalimat yang ini agak susah dimengerti. Aku pun nyengir, mencoba menterjemahkan maksudnya.
Pak Tua tertawa pelan, “Baiklah, agar kau lebih mudah mengerti, aku akan menceritakan kisah cinta hebat seorang kenalanku. Kau mau mendengarnya?”
Andi macam mainan di mobil, sudah mengangguk-angguk kepalanya.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s