Episode 22: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Tetap Semangat

Aku mematikan motor tempel, lantas membiarkan sepitku dibawa arus Kapuas berhiliran. Matahari tumbang di kaki langit barat sana, menyisakan langit merah. Awan putih menggumpal terlihat kemerah-merahan, dinding-dinding bangunan sarang burung walet, menara BTS, atap-atap rumah, bahkan permukaan sungai terlihat mengkilat merah. Satu-dua perahu nelayan melintas, juga kapal-kapal kecil lain, anak-anak berteriak senang, berdebum mandi sore, ibu-ibu yang sibuk di tepian Kapuas—meneriaki anak-anaknya pulang. Kota ini selalu indah, kota ini selalu hidup, penghuninya dengan berjuta masalah, suka-cita, duka-lara, merangkai hari demi hari. Siapalah aku? Hanya satu diantara ratusan ribu, tidak penting, tidak signifikan, siapa peduli hatiku saat ini? Kosong. Tepekur duduk menjuntai di haluan sepit, kaki terendam di air keruh, terus berhiliran takjim.
Ibu, dia telah pergi, terpisah ribuan kilometer dariku dalam beberapa jam ke depan.

***
Cahaya lampu mengambil alih kota saat aku tiba di dermaga dekat rumah sakit daerah. Lampu-lampu hias sepanjang jalanan, lampu-lampu perayaan Cap Gomeh, semarak. Menambatkan sepit di steher, dermaga sudah lengang, tidak ada rit malam hari, petugas timer dan pengemudi lain sudah sejak tadi beranjak pulang. Aku memutuskan berjalan kaki menuju rumah sakit, tak apalah, aku membutuhkan suasananya, berjalan sendirian, menatap semua keramaian kota.
Halaman rumah sakit relatif lengang, lorong rumah sakit juga sepi, hatiku yang sejak tadi tidak bereaksi atas apapun yang kulihat, kudengar dan kurasakan tiba-tiba berkedut ketika menyadari tidak ada siapa-siapa di depan ruangan gawat darurat. Kemana Bang Togar? Cik Tulani atau Koh Acung? Apa mereka semua pulang meninggalkan Pak Tua?
Astaga? Bagaimana dengan Pak Tua? Aku menerobos pintu kaca, tidak peduli kalau membuat petugas di dalam marah-marah. “Mencari siapa, Dik?” Salah-satu perawat langsung bertanya. “Eh, Pak Tua. Saya mencari Pak Tua.” Aku menunjuk tempat tidur yang tadi pagi diisi Pak Tua, kosong, tidak ada lagi infus dan belalai di sana. “Pak Tua? Siapa namanya? Di sini banyak orang tua, saya saja terhitung bisa dipanggil Pak Tua.” Perawat bertanya balik. Aku menyeka dahi, menyebut nama sebenarnya Pak Tua.
Perawat melihat daftar nama di buku, bawah ke atas, atas ke bawah, mencari, kemudian menggelengkan kepala, “Sudah dibawa pulang.”
Aku menelan ludah, “Sudah dibawa pulang? Pak Tua sudah sembuh?”
Perawat itu menggeleng lagi.
Kedutan di hatiku mengencang ribuan kali, nafasku mendadak tersengal, kaki gemetar menopang badan, apa maksudnya? Ya Tuhan? Jangan bilang kalau Pak Tua pulang bukan karena sudah sembuh.

***
“Satu sepit maju!” Petugas timer berteriak.
Kepala-kepala pengemudi melongok ke dermaga.
“Jupri, giliran kau-lah.” Yang lain menyoraki Jupri.
Yang dipanggil, bukannya menghidupkan motor tempel, mengarahkan sepit merapat ke dermaga, malah tiba-tiba seperti terlonjak, meringis-ringis, memegang perut, “Aduh, saya sakit perut, Kawan. Kau duluan sajalah.” Lantas tanpa ba-bi-bu lagi loncat ke dermaga, berlari-lari kecil ke jamban.
Pengemudi sepit saling pandang, tertawa.
“Woi, satu sepit maju!” Petugas timer berteriak lagi.
“Wah, ada-ada saja, motor tempelku ngadat.” Limin, antrian berikutnya setelah Jupri yang ngacir pergi, mendadak sibuk memeriksa buritan perahu.
Petugas timer melangkah mendekati tambatan sepit, “Mana Jupri?”
“Ke kakus, Oom. Sakit perut.”
“Ya sudah, kau maju Limin.”
“Saya mau-mau saja, tapi mesinnya tidak mau di-starter, Oom.” Limin memperlihatkan tangannya yang belepotan—padahal sengaja benar memasukkan jari ke dalam lipatan mesin.
“Siapa berikutnya?” Petugas timer melotot sebal, kenapa Jupri dan Limin tiba-tiba punya masalah dengan perut atau sepit.
“Borno, kau majulah.” Bang Jau tertawa, mengetuk ujung sepit.
Aku yang tadi tidur-tiduran di dalam perahu beranjak duduk.
“Maju, Borno. Giliran kau.” Petugas timer meneriakiku.
Tidak tahu apa yang sedang terjadi, aku turut perintah, menghidupkan motor tempel, merapatkan sepit ke steher. Ternyata adalah Mang Jaya, penumpang yang menunggu di bibir dermaga, dan aku mendelik, bukan teringat masa lalu ketika Mang Jaya menipuku soal belajar menyetir mobil, tapi lihatlah, di sebelah Mang Jaya, dua ekor kambing besar-besar tengah mengembik.
“Eh.” Wajahku berpindah-pindah menatap petugas timer, kambing, petugas timer, ke kambing lagi. Jelas sudah ekspresi keberatanku, bagaimana mungkin perahu tempel dimuati kambing?
“Kita menyeberangkan apa saja, Borno.” Petugas timer mendengus, “Serpis ekselen, serpis ekselen, Kawan. Manusia, kursi, meja, jengkol, batu, pasir, kambing, bahkan onta pun kita bawa kalau ada saudagar Arab sana datang.”
Aku menepuk dahi, pantas saja yang lain enggan, pura-pura punya masalah, menyerahkan antrian sepit padaku. Barang bawaan ini bisa membuat kapiran. Benar, belum habis aku membenak, salah-satu kambing mengembik kencang—membuat pengemudi lain terbahak.
“Ayo, bantu aku menaikkan kambingnya, Borno.” Petugas timer meraih tali kambing dari tangan Mang Jaya. Aku mengomel (dalam hati), baiklah, baiklah.
“Ini kambing buat apa, Mang?” Aku bertanya sambil menarik-narik kambing ke atas sepit.
“Ada kerabat di seberang hendak memelihara kambing.”
“Kenapa tidak dibawa dengan oplet saja, Mang?”
“Nanti dia berak sembarangan di oplet.”
“Lah, Mang, nanti dia juga bisa berak sembarangan di sepitku.” Aku terengah-engah menarik tali.
“Ya, setidaknya bukan di opletku.” Mang Jaya menjawab santai.
Aku sebal sekali melihat ekspresi wajahnya. Susah-payah menaikkan sepasang kambing itu ke atas perahu, akhirnya berhasil, dua kambing itu terikat erat di papan melintang. Petugas timer menghela nafas lega, tugasnya selesai—menaikkan penumpang atau barang.
“Jalan, Borno.” Petugas menyuruhku.
Aku menggerutu, masih berdiri di bibir dermaga.
“Jalan, Borno, tidak akan ada lagi penumpang lain yang mau naik bersama kambing. Sepit kau sudah terhitung penuh.”
Baiklah, aku malas-malasan, loncat ke buritan perahu, lihatlah, Mang Jaya duduk santai mengelus-elus kambing itu—berusaha menenangkan kambing yang mulai gelisah karena gerakan perahu.
“Jangan ngebut-ngebut, Borno. Nanti kambingnya berontak.” Mang Jaya meneriakiku, padahal sepit baru lepas dari dermaga.
Aku menggeram, baiklah, mengurangi kecepatan sepit.
“Jangan pula terlalu lambat, Borno. Nanti kambingnya terlanjur stres.” Mang Jaya meneriakiku lagi.
Aku mendengus, astaga, sejak kapan kambing bisa stres? Kalaupun iya, kenapa Mang Jaya tidak menyewa mobil pick-up, atau truk sekalian?
“Murah meriah, Borno. Lagipula, rumah kerabatku persis di tepian Kapuas, kau mau mengantar ke sana langsung? Nanti ku-dobel bayarannya.” Mang Jaya seperti bisa membaca ekspresi mengkal wajahku menjelaskan, tersenyum membujuk.
Di-dobel? Aku kenal sekali watak Mang Jaya. Hanya karena mengingat dia masih terhitung kerabat Ibu, aku memutuskan tidak ada salahnya membantu, sepitku terus berhuluan, menjauh dari arah dermaga seberang. Baru setengah perjalanan, sepasang kambing itu sudah mengembik-ngembik. Mang Jaya terlihat panik, berusaha ber-hsss, menenangkan, mengencangkan ikatan, menjulurkan ranting daun nangka yang dari tadi dibawa-bawanya.
“Yakin kambingnya tidak apa-apa, Mang? Apa perlu merapat ke dermaga manalah dulu?” Aku bertanya cemas, repot urusan kalau kambing-kambing ini mengamuk.
“Kau terus saja kendalikan sepitnya, Borno. Urusan kambing, itu urusanku.” Mang Jaya melotot.
Aku menelan ludah, baiklah, baiklah.
Dan nasib, nasib, dua ratus meter lagi dari tujuan, padahal kambing-kambing itu sudah tenang kembali, melintaslah dengan kecepatan penuh kapal besar pengangkut sembako ke pedalaman, membuat permukaan sungai beriak kencang, perahuku oleng, tidak masalah, aku gesit menyeimbangkannya kembali, sayangnya kambing-kambing itu sebaliknya, kaget, lantas berontak, ikatan di papan melintang terlepas, loncatlah ke Kapuas. Satu loncat, yang lain mengikuti. Mang Jaya berseru-seru panik, berdiri, dan (entah apa aku harus senang atau bersimpati), dia ikut jatuh terjengkang ke permukaan air. Adalah setengah jam proses evakuasi kambing-kambing itu.
Apa kata Mei dua bulan lalu? Terus semangat narik sepitnya, Bang Borno. Iya, Mei, aku akan terus semangat apapun yang terjadi—termasuk menghadapi Mang Jaya yang menolak membayar ongkos menyeberang, jangan tanya soal janji dobel tadi.

***
Urusan kambing Mang Jaya hanya satu diantara sekian banyak hal menarik menjadi pengemudi sepit. Setiap hari, ada-ada saja kelakuan penumpang yang kutemui.
“Nah, Sayang, sepit ini sengaja benar ku carter khusus buatmu.” Pemuda itu merentangkan tangannya, memasang wajah mantap.
“Sungguh?” Gadis di sebelahnya, yang sepertinya memang suka di-gombali berseru senang.
“Ya, biar kita bisa menyeberangi Kapuas berdua saja di tengah cuaca cerah nan indah.”
“Sungguh?” Gadis di sebelahnya memekik riang.
Aku setuju soal cuaca cerah nan indah, sejauh mata memandang langit-langit kota terlihat elok. Soal carter? Enak saja, tadi penumpang di steher sepi, sudah setengah jam menunggu, tetap sepasang muda-mudi ini saja yang duduk di sepitku. Aku malas menunggu lebih lama, melambaikan tangan ke petugas timer, menjalankan sepit. Tak apalah tidak penuh.
“Amboi, dunia ini seperti milik kita berdua saja, bukan?” Gombal berikutnya terdengar.
“Benar, Bang.” Gadis di sebelahnya menyetujui, tertawa cekikikan.
Aku mendengus, hah, lantas siapa yang mengemudikan sepit di buritan? Apa aku ini jin? Si hantu pontianak? Menumpang di dunia? Enak saja bilang cuma berdua.
“Abang bisa mengemudikan sepit?” Gadis di sebelahnya bertanya, melirik-lirik ke belakang.
“Ah, jangankan sepit, Dik. Abang dulu pernah mengemudikan kapal pesiar.”
“Sungguh?”
“Bahkan pernah mengemudikan kapal induk.”
“Sungguh?”
Aku menepuk dahi, alamak, gombalnya tidak ketulungan. Perasaan baru kemarin sore aku dapat penumpang yang tidak kalah kacaunya, pria setengah baya. Pria itu duduk di papan melintang tengah perahu, baru separuh perjalanan, terdengar tulalit suara dering telepon genggam, santai dia angkat, “Selamat pagi, Sayang.” Penumpang lain masih tidak peduli, lumrah saja ada yang bicara lewat telepon genggam di atas sepit. “Oh, Kakak masih di perjalanan. Sebentar lagi, ya.” Pria itu berteriak kencang, berusaha mengalahkan bising suara motor tempel. “Naik apa? Ah, Kakak naik mobil taksi, Sayang.” Penumpang lain mulai menoleh. “Oh, itu berisik mobil lain, Kakak lagi di perempatan lampu merah. Biasalah.” Penumpang lain mulai menahan tawa. “Oke, Sayang, sampai ketemu, nanti Kakak bilang ke sopir taksinya agar ngebut.” Penumpang sepitku benar-benar tertawa, apalagi gaya sekali dia berteriak-teriak di atas sepit yang meluncur membelah Kapuas. Perahu kayu dia bilang taksi segala.
Hari ini ternyata bertemu lagi dengan penumpang yang sedang dimabuk asmara.
“Abang mau mengajari aku mengemudikan sepit?” Gadis di sebelah pemuda gombal itu bertanya.
Pemuda itu menoleh sebentar ke belakang, diam sebentar, lantas menggeleng, “Janganlah.”
“Kenapa tidak, Bang?” Gadis itu merengut.
“Tidak level buat kita-kita, Sayang. Lagipula nanti jari-jari kau yang lentik ini rusak. Tidak putih mulus lagi.” Si gombal memasang wajah sungguh-sungguh.
Aku sebenarnya mati-matian menahan tawa. Putih mulus? Gadis di sebelahnya itu berkulit hitam manis. Tetapi aku separuh yang lain mati-matian menahan marah, enak saja dia bilang ‘tidak level’. Bahkan Mei, si sendu menawan, amat menghargai profesiku ini.
Tiba di seberang, karena terlalu bergaya, menjulurkan tangan membantu pasangannya naik ke dermaga (gayanya sudah macam mau mengajak dansa bersama), pemuda gombal itu terpeleset, jatuhlah dia ke permukaan air, berdebum. Orang-orang menoleh, gadis pasangannya menjerit, petugas timer melongokkan kepala ke bawah, “Kau baik-baik saja, oi?” Memastikan. “Tolong! Saya tidak bisa berenang, to-long.” Pemuda gombal itu megap-megap. Astaga, aku menepuk dahi, katanya pernah mengemudikan kapal pesiar? Berenang saja tidak becus, aku malas menjulurkan papan dayung. Sudah hampir enam bulan aku mengemudikan sepit, mungkin sudah hampir lima orang yang jatuh tercebur ke Kapuas.
Mei, kau ribuan kilometer nun jauh di sana sedang apa? Abang sedang sibuk membantu si gombal ini naik ke perahu.

***
“Ini motor tempel siapa?” Aku ikut jongkok, di depan Andi yang sedag mengutak-atik mesin.
“Sepit Bang Jau.” Andi menjawab sekilas, seperti biasa, sudah macam dokter yang melakukan operasi, konsentrasi penuh ke pasiennya.
Aku mengangguk-angguk, tadi siang sepit Bang Jau mogok di tengah Kapuas. Penumpangnya melipat payung terkembang, protes, marah-marah. Aku yang kebetulan melintas di dekatnya, tanpa penumpang —habis mengantar Cik Tulani ke perkampungan dekat Istana Kadariah, ikut membantu mengevakuasi penumpang sepit Bang Jau.
“Kau salah melepasnya, Andi. Terbalik.” Bapak Andi yang sejak tadi mengawasi pekerjaan anaknya, menunjuk onderdil motor tempel yang hendak dilepas.
Andi menyeka pelipis dengan tangan belepotan, berganti posisi duduk, berusaha lagi melepas onderdil motor tempel.
“Apanya yang rusak?” Lima belas menit berlalu, aku bertanya.
“Belum tahu.” Andi menjawab ketus.
Aku menyeringai, Bapak Andi juga terlihat menyeringai—mungkin bosan melihat anaknya masih berkutat menganalisis, mendiagnosis kerusakan, tanpa kemajuan berarti.
“Kalau mogok seperti itu, biasanya ada hubungannya dengan bahan bakar atau pemantik mesin-nya, Kawan.” Aku menggaruk kepala.
“Kau jangan sok-tahu.” Andi meremehkan.
Tetapi Bapak Andi tidak, dia mengangkat kepala, menatapku, “Dari mana kau tahu soal itu?”
“Dari buku panduan motor tempel yang diberikan Pak Tua.”
“Borno benar.” Bapak Andi manggut-manggut, “Nah, kau dengar apa kata Borno. Jangan malah memeriksa propeler dan sebagainya. Tidak nyambung.”
Andi merengut sebal, sekilas melirikku sebal, sekilas melirik Bapaknya—takut-takut.
Sepuluh menit berlalu lagi, malam di kota Pontianak sudah menginjak pukul delapan, anak-anak masih ramai bermain di gang sempit. Andi tetap belum menemukan masalahnya.
“Mungkin fuel pump-nya, Kawan.” Aku menunjuk bagian pompa bahan bakar.
“Kau jangan nge-recoki aku, Borno.” Andi ketus.
Tetapi Bapak Andi tidak, menatapku antusias, “Dari mana kau tahu soal itu?”
“Eh, hanya menebak, Daeng. Dulu pernah lihat-lihat Bang Togar memperbaiki mesin. Lagipula Pak Tua pernah bilang, logika mesin itu sama saja, sama sederhananya. Kupikir kalau dia mendadak mogok, boleh jadi fuel pump-nya kotor, filternya rusak.”
Bapak Andi berbinar-binar, “Kau berbakat, Borno. Astaga? Kemana saja kau selama ini?” Lantas menepuk-nepuk bahuku, “Hanya sedikit orang yang belum pernah belajar tentang mesin secara mendalam bisa menyimpulkan masalah motor tempel ini hanya dengan melihat selintas.”
Aku terdiam, bergantian menatap wajah bapak Andi yang sumringah, seperti menemukan ‘bakat terbesar’ dalam hidupnya, menatap wajah Andi yang macam kepiting rebus—maksudnya, lihat, aku sudah hampir dua tahun membantu bengkel bapakku, belum pernah dipuji seperti kau.
“Bergegas, periksa filter fuel pump-nya, jangan bengong saja.” Bapak Andi menatap tajam.
Andi menelan ludah, patah-patah tangannya bekerja.
Satu menit, masalah motor tempel Bang Jau terselesaikan.
Mei, kau ribuan kilometer nun jauh di sana sedang apa? Abang sedang menatap Andi yang akhirnya tertawa lebar, bilang, “Terima kasih, Borno. Ternyata hanya perlu diganti filter.”

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s