Episode 21: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

Halaman luas Istana Kadariah lengang. Tukang kebun asyik memangkas rumput di bawah bayangan bangunan, sekalian berteduh. Tidak ada tanda-tanda gadis itu di sini, terlihat beberapa pengunjung, asyik berfoto, tapi bukan Mei. Aku mendongak, matahari terik membakar kepala. Aku sudah bertanya ke penjaga gerbang Istana, tidak membantu.
“Bapak tadi melihat gadis seumuranku datang ke sini?”
“Gadis? Tadi pagi banyak.” Penjaga menjawab santai.
“Yang rambutnya panjang tergerai, Pak.”
“Mau rambut panjang, rambut pendek, banyak, Dik. Hanya yang botak saja, saya tidak lihat.”
“Maksudku, yang cantik.”
“Ah, kau macam tidak tahu saja, gadis Pontianak itu rata-rata cantik, Dik. Mau Amoy, Dayak, Melayu, semuanya cantik-cantik.” Penjaga Istana tertawa.
“Yang datang sendirian, maksudku yang terlihat sendirian, seperti menunggu seseorang.” Aku menelan ludah, berusaha memperbaiki pertanyaan (atau jangan-jangan aku salah tempat bertanya).
“Ah, mana sempat kuperhatikan mereka datang sendirian atau beramai-ramai, yang kutahu, orang datang ke Istana ini untuk plesir, bukan tempat janjian bertemu. Kau ini macam wartawan saja, banyak tanya, ada apa sebenarnya?”
Aku meninggalkan penjaga gerbang.
Tidak ada tanda-tanda atau pesan yang ditinggalkan. Tukang kebun juga menggeleng saat ditanya. Petugas dalam Istana menggeleng. Tukang asong yang menjual minuman dan makanan kecil juga tidak tahu. Sepertinya gadis itu datang, lantas pergi ketika aku tidak kunjung muncul. Aku menggaruk kepala, memaki diri sendiri, meminjam istilah Pak Tua, apalah yang kuharapkan? Setelah dia bersedia melupakan soal olok-olok nama, bagaimana mungkin aku lupa janji sepenting itu?
Harusnya kalau aku tetap mau menunggui Pak Tua, aku bisa datang sejenak, lantas membatalkan janji belajar mengemudi sepit, diganti di kesempatan lain, ia pasti mengerti. Kalau sudah lacur begini, jangan-jangan dia akan menyimpulkan aku suka ingkar janji (selain suka sok-lucu, sok kenal sok dekat). Apalah sisa harga diri seorang pria kalau wanita sudah menilainya suka ingkar janji? Untuk urusan sepele saja ingkar, apalagi urusan yang lebih penting, urusan yang butuh pengorbanan. Aku menyisir rambut dengan jemari, berusaha mengusir kecemasan jauh-jauh, teringat Pak Tua kemarin bilang: sembilan dari sepuluh kekhawatiran adalah imajinasi.
Dalam situasi ini, kira-kira apa yang akan disarankan Pak Tua? Solusi bijak. Aku mendongak, menatap kubah Istana. Baiklah, Pak Tua sedang tidak bisa kutanya-tanya, aku akan memperbaiki situasi secepat dan sebisa yang kulakukan. Aku akan menemui gadis itu, di manapun dia berada, menjelaskan kenapa aku tidak bisa datang tepat waktu. Soal dia mau memaafkan atau tidak, itu urusan belakangan.

***
Tujuan pertamaku adalah gedung Yayasan.
Sepit kutambatkan di dermaga seberang, menumpang oplet, aku melewati jalanan protokol Pontianak. Jarang-jarang menumpang oplet, terakhir waktu belajar nyetir dengan Mang Jaja, dua kali aku nyasar, salah nomor oplet (kupikir apalah beda oplet nomor 12A dengan 12 saja), aku menyeka dahi, silang-menyilang jalanan aspal Pontianak tidak sesederhana sungai Kapuas.
Bangunan sekolah dipenuhi anak-anak yang berlarian saat aku tiba.
Bertanya di satpam depan, yang galak memeriksa anak-anak terlambat.
“Selamat siang, Pak Malinggis.” Aku melirik nama di dada satpam.
“Siang.” Satpam menatap tajam.
“Apa ada guru yang bernama Mei mengajar di sini, Pak?”
“Mei siapa? Mei-Mei? Meilani? Meilinda? Setidaknya ada enam guru di sini yang bernama Mei.” Satpam tanpa berkedip menyapu penampilanku. Siapa pula pemuda bersendal jepit, berpakaian seadanya, datang ke komplek sekolah terbaik kota Pontianak, jangan-jangan culik.
“Mei saja, Pak.” Aku menelan ludah—tepatnya aku hanya tahu itu.
“Guru SD? SMP? Atau SMA?” Satpam tetap tidak ramah.
“Guru SD, Pak.” Aku teringat boat fiberglass dan pembagian angpao itu yang dipenuhi anak berseragam putih merah. Satpam terdiam.
“Kau siapanya Nona Mei?” Satpam menyelidik, intonasi suaranya berubah.
“Ergh, teman.” Aku sendiri mendengar kalimatku tidak terlalu meyakinkan. Teman? Sepertinya untuk mencapai level itu saja belum. Bukankah kami baru kenal seminggu terakhir, itupun diselingi dengan olok-olok tidak lucu dan ingkar janji segala?
Satpam menatapku beberapa jenak, menindai-nindai, lantas meraih HT di pinggang, bertanya entah pada siapa, bilang ada anak muda asing mencari Nona Mei, apa yang harus dia lakukan, roger? Tidak, yang ini penampilannya kusut, roger? Satu menit berdiskusi dengan orang diujung HT.
“Kau masuk ke ruang kepala sekolah sana. Itu di lantai dua, naik tangga, paling pojok. Paham?” Satpam menunjuk-nunjuk, aku mengangguk.
Seumur-umur aku baru tiga kali masuk ruangan kepala sekolah; pertama, dulu waktu SMP, saat ketahuan bolos, aku dan Andi (Ibu juga dipanggil) terpaksa mendengar ceramah dari kepsek selama dua jam; yang kedua waktu SMA, tawuran dengan sekolah tetangga, lagi-lagi aku dan Andi bersama anak-anak lain diceramahi kepsek dan kapolsek; dan ini yang ketiga. Mengingat sejarah buruk ruangan kepsek di masa lalu itu, aku sedikit gugup mengetuk pintu ruangan, jangan-jangan sama saja nasibnya, hanya ditanya-tanya dan dinasehati. Ternyata kepala sekolah yang satu ini jauh dari bayanganku. Ibu-ibu, berusia lima puluh tahun, wajahnya lembut dan penyabar, dia lebih dulu menyapaku, “Selamat siang, Nak.”
Aku menyeringai, sedikit membungkuk, “Selamat siang, Bu Kepsek.”
“Panggil saja Ibu ya, tidak perlu ditambahi Kepsek.” Ibu Kepsek tersenyum.
“Eh, maaf.”
“Tidak apa-apa. Nah, ada yang bisa saya bantu? Ah-ya, silahkan duduk.”
Aku meraih kursi, duduk, diam sejenak, berpikir cara terbaik memulai percakapan, mungkin basa-basi dulu bilang betapa bagusnya sekolah ini, muridnya banyak sekali, “Saya mencari Mei, Bu.” Ternyata mulutku berkhianat, dia langsung ke topik pembicaraan.
“Nona Mei yang cantik itu?” Ibu Kepsek bertanya ramah.
“Iya betul, Bu.” Aku bego segera mengiyakan.
Ibu Kepsek tertawa, “Kata Pak Malinggis di depan, kau teman Nona Mei?”
“Sebenarnya tidak juga, Bu.” Aku menggaruk kepala, sedikit malu, “Kami baru kenal seminggu terakhir, malah sebenarnya mungkin dia sering sebal dengan saya.”
“Baru kenal seminggu kok sudah sebal-sebal-an?” Ibu Kepsek tersenyum keibuan, “Lantas belum jadi teman, kok sudah bela-belain nyari Nona Mei hingga ke sekolah?”
Aku macam pemain catur kena skak-mat, hanya bisa salah-tingkah. Baiklah, baiklah, akan kujelaskan urusan ini. Janji belajar mengemudi sepit, pukul sembilan, aku tidak datang, Istana Kadariah, Pak Tua sakit, ingkar janji, jangan-jangan dia marah.
Ibu Kepsek mengangguk-angguk, “Sayangnya Nona Mei tidak mengajar kelas sore, Nak. Dan saya khawatir, kau tidak bisa lagi mencari dia di sekolah ini, kemarin hari terakhirnya mengajar.”
Aku menelan ludah kecewa, baru teringat sesuatu, benar, gadis itu juga bilang padaku kalau kemarin adalah hari terakhir mengajarnya.
“Nona Mei adalah guru magang. Hanya tiga bulan, kerja praktek dari Kampus. Dia sudah menyelesaikan magangnya dengan baik, aku sudah menanda-tangani laporannya. Amat mengesankan, dia berba—”
“Bisa minta alamat rumahnya, Bu.” Aku memotong.
Ibu Kepsek diam sejenak, “Nona Mei tidak tinggal di kota ini, Nak. Dia kuliah di Surabaya, universitas pendidikan terbaik di sana.”
“Eh, tapi setidaknya dia punya tempat sementara di Pontianak, kan?” Aku tidak akan menyerah begitu saja, gadis itu pasti punya alamat kost, kontrakan, penginapan, rumah atau apalah namanya di kota ini.
“Itu betul, dia punya alamat sementara.” Ibu Kepsek menghela nafas perlahan, “Tapi saya tidak tahu, boleh memberikan alamatnya atau tidak. Boleh jadi Nona Mei keberatan.”
Urusan jadi rumit, kapiran, ribet, rungsing entahlah apalagi istilahnya—meminjam permainan kata sinonim dengan Andi dulu. Aku memohon, bahkan dengan wajah paling mengenaskan abad ini, Ibu Kepsek menggeleng. “Ayolah, Bu. Aku bisa tidak tidur semalaman, tidak selera makan, tidak selera mandi, hingga masalah ini dijelaskan.” Ibu Kepsek tetap menggeleng, menatapku bersimpati (tidak mentertawakan). Sia-sia, tidak akan ada yang bisa membujuknya. Aku menghela nafas kecewa, tertunduk, bilang terima-kasih, pamit.
“Eh, sebentar, Nak.”
Aku menoleh, apakah Ibu Kepsek akhirnya mengalah?
“Boleh saya tahu namamu? Siapa tahu suatu saat Mei datang, jadi saya bisa cerita siapa yang telah mencarinya sungguh-sungguh.”
Ternyata bukan berubah pikiran, “Borno, Bu.” Aku menjawab pelan, melanjutkan langkah.
“Sebentar, Nak Borno.”
Aku menoleh lagi, tolonglah, kalau bukan untuk memberikan alamat rumahnya, jangan cegah kepergianku, begitu wajah nelangsaku berkata.
“Kita tidak pernah tahu masa depan, Nak Borno.” Ibu Kepsek tersenyum, “Dunia ini terus berputar. Perasaan bertunas, tumbuh membesar, mengakar bahkan berkembang-biak di tempat yang paling mustahil dan tidak masuk akal sekalipun. Perasaan-perasaan yang kadang dipaksa tumbuh ditempat, waktu dan orang yang salah.”
Aku menatap Ibu Kepsek lamat-lamat, tidak mengerti maksudnya.
“Berjanjilah, Nak Borno. Kau tidak akan pernah menyakiti perasaan Nona Mei. Bukan karena semata-mata gadis itu amat spesial bagi keluarga besar dan bagi Yayasan ini, tetapi lebih karena walau baru mengajar tiga bulan, semua anak-anak di sini amat menyayanginya. Berjanjilah.”
Aku menelan ludah, tidak mengangguk, tidak juga menggeleng, beranjak keluar dari ruangan.
Tiba di pintu gerbang sekolah, Pak Malinggis tetap dengan wajah tidak bersahabatnya memanggilku, aku mendekatinya tidak semangat, buat apalagi? Ternyata dia menyerahkan selembar kertas, “Ini alamat Nona Mei. Pesan Ibu, kau jangan pernah bilang ke siapapun kalau dapat alamat ini darinya. Paham?”
Aku mematung, senang, kaget, tidak percaya bercampur aduk dengan sisa perasaan kecewa sebelumnya. “Terima-kasih, Pak.” Aku lompat memeluk Pak Malinggis—dia ber-hiss risih, malu ditonton anak-anak SD.

***
Pukul empat sore, dua jam dari gedung Yayasan, langit-langit kota masih terasa panas.
“Nah, ini dia alamat yang kau cari.” Sopir oplet berseru ke belakang.
“Tidak salah-lagi, Pak?” Aku menatap rumah dengan halaman luas.
“Tidak ada lagi nama jalan itu selain yang ini di kota Pontianak. Kau macam tidak pernah jalan-jalan keliling kota saja.” Sopir oplet jengkel—tadi dia kupaksa berputar-putar dua kali.
Aku turun dari oplet, menyerahkan ongkos. Sopir itu mengomel lagi, bilang kurang, “Astaga, kau bisa naik sepitku sepuluh kali bolak-balik dengan uang sejumlah ini, Oom.” Aku tidak mau kalah. Sopir oplet mendengus kesal, “Lain kali bawa saja ke darat perahu tempel kau.” Menginjak gas, melesat pergi.
Aku menatap rumah di hadapanku. Amboi, aku baru menyadari kalau rumah ini hanya sepelemparan batu dari balaikota Pontianak. Menelan ludah, apa aku tidak salah alamat? Mendekati pintu pagar. Apa yang harus kulakukan? Sudah kadung, tidak ada lagi kata ragu-ragu dalam kamus. Kalaupun salah alamat, tinggal bilang maaf, apa susahnya.
Pintu pagar tidak dikunci, aku menggesernya, melangkah masuk. Bau rumput habis dipotong menyergap hidung, suara keran air otomatis menyiram tanaman, bunga bougenville, pohon palem, halaman rumah terlihat asri dan segar. Aku sudah di depan pintu, tinggal satu langkah.
Tanganku baru terjulur separuh, pintu depan sudah terbuka sebelum aku mengetuknya.
“Abang Borno?” Gadis itu keluar sambil menyeret koper, kaget bercampur bingung.
“Mei?” Aku menelan ludah—lupa kalau ini momen hebat, harus tercatat dalam sejarah hidupku, ini untuk pertama kalinya aku menyapa dia dengan namanya.
“Apa yang Abang lakukan di sini?” Gadis itu melepaskan gagang koper, “Astaga, kupikir Bang Borno tidak mau bertemu Mei lagi.”
“Eh? Tidak mau bertemu?” Giliranku yang bingung.
“Ya, kupikir Abang marah gara-gara kutulis di pesan kemarin, abang ‘bekas sungai’, jadi Bang Borno sengaja tidak datang di Istana Kadariah pukul sembilan tadi. Ternyata abang malah datang ke rumah, aduh, Mei salah sangka.”
Aku menelan ludah, benar-benar tidak akan menduga kalau apa yang kucemaskan justeru bertolak-belakang sama sekali.
“Tadi di steher Istana Kadariah pengemudi sepit bilang tentang Pak Tua yang masuk rumah sakit. Kupikir Bang Borno lebih memilih menemani Pak Tua dibanding mengajari Mei mengemudikan sepit, jadi Mei memutuskan pulang, tidak menunggu.”
“Aku, aku sebenarnya ke Istana Kadariah.”
“Abang ke sana? Aduh, maaf.” Gadis itu memperbaiki anak rambut di dahi.
“Sebenarnya, sebenarnya aku yang hendak minta maaf.” Aku menggaruk ujung hidung, “Baru datang ke Istana Kadariah setengah dua belas. Dari jam empat shubuh aku mengurus Pak Tua, jadi lupa kalau ada janji dengan Mei. Aku pikir Mei bakal marah sudah ingkar, jadi kuputuskan mencari tahu alamat rumah Mei, untuk minta maaf.”
Gadis itu terdiam sejenak, menatapku, lantas tertawa.
Usiaku dua puluh, tidak pernah ada yang mengajariku selama ini tentang perasaan-perasaan, tentang salah-paham, tentang kecemasan, tentang bercakap dengan seseorang yang diam-diam kau kagumi, tentang itu semua. Tetapi sore ini, meski dengan menyisakan banyak pertanyaan, aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau benar-benar merasa: ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan. Sayangnya, sore itu juga menjadi sore perpisahanku, persis ketika perasaan itu mulai muncul kecambahnya.
Mei berdiri bersama koper besarnya.
“Kau hendak kemana?”
“Surabaya, Bang Borno. Nah, itu mobil jemputannya datang.”
Aku menatap bergantian, koper, mobil hitam mengkilat yang masuk ke halaman, wajah gadis itu.
“Pergi sekarang?”
“Iya, Bang. Penerbangan paling sore.”
Aku menelan ludah, baru juga bertemu, belum satu menit, dia sudah harus pergi? Tidak bisa ditunda?
“Mei minta maaf sudah menulis dipesan Bang Borno sok-lucu, sok kenal sok dekat.” Gadis itu tertawa, menyerahkan koper ke sopir—yang mengangkatnya ke bagasi.
Aku bergerak patah-patah, gadis itu sudah masuk ke dalam mobil. “Nah, Mei harus bergegas, nanti ketinggalan pesawat, sampai ketemu lagi Bang Borno.”
“Tunggu.” Aku berseru—entah apa yang sedang ada di otakku, semua reflek ini kubiarkan saja mengambil alih.
“Iya?” Gadis itu menatap dari dalam mobil.
“Eh, kapan kita bertemu lagi?”
Gadis itu tersenyum—alamak, manis sekali senyumnya, “Semoga dalam waktu dekat, Bang.”
Sopir sudah menekan-nekan gas tidak sabaran, “Kita sudah terlambat, Nona Mei.”
“Terus semangat narik sepit-nya, Bang Borno.” Itu pesan terakhir dia, sekejap lepas kalimat itu, melambaikan tangan, mobil itu bergerak meninggalkan halaman rumah, meninggalkanku yang berdiri mematung. Ibu, sepertinya separuh hatiku jadi kosong melompong saat mobil itu hilang di keramaian jalan protokol Pontianak.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s