Episode 20: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

‘Bang Borno yang baik, meski kadang suka sok-lucu, sok-kenal sok-dekat,
Kalau abang tetap bersedia mengajari Mei mengemudikan sepit, besok pukul sembilan jemput Mei di dermaga Istana Kadariah. Jangan telat, dan jangan pula datang lebih cepat. Mei—’

Tulisan di lipatan surat itu pendek saja, tapi cukup membuat tepian Kapuas seketika seperti diterangi seribu lampu hias, suara burung layang-layang terasa jadi orkestra indah, dan hatiku rasa-rasanya mengambang terbang oleh perasaan senang. Amboi! Pak Tua benar, gadis itu tidak benci, sebal iya, buktinya dia menulis ‘suka sok-lucu, sok kenal sok dekat’, tapi mengingat olok-olok nama yang telah kulakukan padanya, itu cukup adil, mataku menyipit, ah, ini ada tambahan pesan di bawahnya:
Nb. Abang harus tahu, lebih jarang orang bernama Sumatera, Andalas, Jawa, Sulawesi, Celebes atau Kalimantan dibanding nama bulan-bulan. Jadi, sebenarnya lebih aneh nama ‘Borno’, apalagi e-nya hilang gara-gara orang lebih mudah memanggil borno, borno dibanding borneo, borneo. Sampai ketemu besok siang Abang Borno alias Abang ‘Kalimantan’ alias Abang ‘bekas sungai’.
“Apa isinya?” Petugas timer yang sedari tadi memperhatikan menjulurkan kepala, ingin tahu.
Aku nyengir, bergegas melipat kertas di tangan.
“Dari siapa sih sebenarnya?” Petugas timer semakin penasaran.
“Lah? Bukannya Oom sudah tahu? Kata Oom tadi ‘kau sekarang punya pacar, tidak bilang-bilang, Borno’ Kenapa malah tanya dari siapa?” Aku menyeringai.
“Yang antar surat ini anak SD, Borno. Pulang dari sekolah, menumpang sepit, menitipkan surat padaku. Masa’ pacar kau anak SD, anak laki pula.”
Aku tertawa, sekarang ketahuan kalau petugas timer tadi sengaja memancing, dia sejatinya tidak tahu. Aku santai memasukkan lipatan kertas ke saku kemeja, duduk kembali di buritan sepit, “Hanya surat biasa, Oom. Percayalah.”
“Bagaimana mungkin bukan dari siapa-siapa?” Petugas timer menatap sebaliknya, “Oi, wajah kau bercahaya dan terlihat lebih tampan dua kali lepas baca surat itu.”
“Sampai ketemu besok, Oom.” Aku tertawa, mengabaikan strategi licik dia, bersiap menekan gas sepit.
“Itu surat dari siapa Borno?” Petugas berseru memaksa.
“Bukan dari siapa-siapa.” Aku berteriak, sepitku bergerak.
“Pelit sekali kau, Borno. Padahal mana ada tampan-tampannya wajah kau selama ini, menyesal aku memuji kau barusan.” Petugas timer mengirim serapah ke arah sepitku yang meluncur cepat meninggalkan dermaga kayu.
Aku hanya melambaikan tangan—meniru gaya Bang Togar yang cool setiap kali menyalip perahu nelayan atau kapal lain.

***

Esok harinya, baru pukul empat buta, pintu rumah Ibu digedor-gedor. Aku menggeliat, malas-malasan turun dari dipan, melangkah ke ruang depan. Siapa pula sedini ini sudah jahil bertamu, tega memutus mimpi asyikku.
“Ada apa, Lai?” Ibu yang lebih dulu beranjak dari dapur terdengar bicara dengan seseorang di depan daun pintu.
“Pak Tua, Bu. Pak Tua jatuh semaput lagi.”
“Apa kau bilang?” Ibu menyibak uban di dahi.
“Pak Tua ditemukan pingsan di depan rumahnya, Bu.” Remaja tanggung tetangga sebelah rumah Pak Tua itu berkata patah-patah, tersengal, wajahnya berpeluh, pastilah dia berlari secepat mungkin ke sini.
“Borno, bergegas hidupkan sepit kau!” Tanpa perlu memastikan lagi, Ibu sudah meneriakiku.
Mendengar nama-nama Pak Tua disebut, aku bergegas melempar sarung, menerobos pintu, lompat ke tambatan sepit di tiang rumah.
“Naik sepit saja, Lai. Lebih cepat.” Aku menarik tuas motor tempel, suara mesin langsung menggerung, gelembung air memenuhi permukaan Kapuas.
Remaja tanggung itu patah-patah naik ke atas sepit. Ibu menyusul beberapa detik kemudian. Aku menarik pol tuas kecepatan, sepit meluncur cepat berhuluan. Tepian sungai masih gelap, menyisakan lampu redup di depan rumah. Satu-dua penghuninya yang bangun kepagian terlihat menggeliat, menguap di beranda. Dengan cepat kejadian ini mengingatkan peristiwa besar delapan tahun silam, saat shubuh buta pula, Pak Tua, Cik Tulani, Koh Acung menemaniku dan Ibu bergegas menyusul ke rumah sakit daerah Pontianak, Bapak terkena sengatan ubur-ubur. Aku melirik Ibu, wajahnya cemas, berkali-kali memperbaiki tudung kepala, tidak sabaran melihat kecepatan sepit.
Tiba di rumah Pak Tua, sudah ada Koh Acung, dia bersama tetangga lain berusaha memberikan pertolongan pertama, senter-senter bergeletakan. Koh Acung terlihat menggelengkan kepala, sama cemasnya, “Tidak akan sempat, kita akan terlambat kalau menunggu dokter. Kau bawa sepit, Borno?”
Aku mengangguk.
“Kita bawa segera ke rumah sakit umum.” Koh Acung membuat keputusan.
Cik Tulani dan Bang Togar yang datang beberapa detik kemudian, ikut membopong tubuh tinggi kurus itu ke atas perahu kayu. Di bawah larik cahaya senter, wajah Pak Tua terlihat lemah, tubuhnya dingin.
“Minggir, kita butuh pengemudi terbaik di saat genting seperti ini.” Bang Togar menyuruhku beringsut dari buritan. Aku tidak berselera membantah, segera pindah, ikut membantu Ibu menyelimuti Pak Tua.
Dalam hitungan detik, sepit meluncur cepat ke dermaga terdekat dari rumah sakit, terus berhuluan. Setiba di steher, aku loncat lebih dulu, berlari ke jalanan yang masih remang, mencoba memberhentikan kendaraan yang lewat, rumah sakit masih dua kilo lewat perjalanan darat. Satu, tidak mempedulikan lambaian tanganku, dua, terus melintas dengan kecepatan tinggi, tiga, aku bahkan hampir kena senggol. Tidak banyak mobil lewat se-pagi ini, mobil ke-empat datang, aku yang cemas, akhirnya nekad berdiri di tengah jalan, Pak Tua tidak bisa menunggu lebih lama.
Mobil itu berhenti, menepi. Akhirnya ada yang berhati emas.
“Oi, kau berani sekali memberhentikan mobil polisi.” Terdengar seruan kencang dari jendela mobil. Aku menaruh tangan di dahi, lampu sorot membuat silau, berusaha melihat lebih jelas mobil di hadapanku. Ternyata kendaraan patroli polsek Pontianak. Dua polisi berpangkat sersan, kumis melintang, tampang galak, turun dari mobil.
Aku meneguk ludah, terbata-bata menjelaskan, menunjuk-nunjuk dermaga kayu. Entah sudah seperti apa gerakan tanganku. Kabar baiknya, dalam situasi seperti ini, bahasa darurat amat universal. Dua polisi itu menyimpan kembali pentungan dan borgol, Pak Tua digotong ke dalam mobil. Tiga puluh menit dari ditemukan tergeletak pingsan, menumpang mobil patroli yang sekarang menghidupkan sirene kencang-kencang, Pak Tua dibawa secepat mungkin ke rumah sakit, harapan yang tersisa.

***
Berdiri di sini, menatap ruang gawat darurat lewat jendela kaca buram, mengingatkanku pada fragmen pendek delapan tahun silam. Ini rumah sakit yang sama, lorong yang sama, ruangan yang sama. Aku berteriak-teriak, meronta-ronta ditenangkan Cik Tulani, Koh Acung dan Pak Tua—yang sekarang justeru berada dalam ruangan, dikelilingi dokter dan suster.
“Bapak belum mati!” Aku berteriak marah.
“Bapak kau tahu persis apa yang dilakukan, Borno.” Ibu bersimbah air-mata memelukku erat-erat.
“Bapak belum mati! Kenapa dadanya dibelah!” Aku berusaha menyibak tangan Ibu.
“Secara klinis sudah meninggal.” Itu penjelasan singkat dokter beberapa detik setelah melihat garis lurus di mesin, mendesah resah, memerintahkan tim operasi mulai bekerja.
“Bapak belum matiiii! Dia bisa sadar kapan saja.” Aku loncat, berusaha menggedor pintu ruangan operasi, memaksa masuk. Cik Tulani, Koh Acung dan Pak Tua bergegas membantu Ibu menahanku.
“Lepaskan! Bapak belum matiiii!” Aku beringas, berusaha memukul.

Aku mengusap dahi, kenangan masa lalu itu seperti tergambar di lantai, langit-langit, dan dinding lorong. Dua jam berlalu, salah seorang yang memakai baju putih keluar, menjelaskan beberapa hal pada Cik Tulani, Koh Acung dan Bang Togar.
“Siapa yang kerabatnya di sini?”
Cik Tulani dan Koh Acung saling tatap, bingung.
“Kami semua kerabatnya, Pak.” Bang Togar menjawab mantap—aku sedikit terkesima, walau selalu menyebalkan, kalau sudah bicara tentang setia-kawan, kepedulian, dan sejenisnya, tidak ada yang mengalahkan Bang Togar.
“Ya, ya… Aku tahu itu, maksud saya, yang benar-benar punya hubungan darah?” Dokter menyeringai, menatap bergantian ke arah Koh Acung, Cik Tulani dan Bang Togar. Mana ada hubungan darah, satu Melayu, satu China, satu Batak dan satu lagi entahlah.
Bang Togar menggeleng, “Kalau yang itu, tidak ada, Pak. Beliau hidup sendiri sejak bujang. Kami tidak tahu di mana kerabatnya, muasal, bahkan latar-belakangnya.”
Aku menelan ludah, seperti baru tersadarkan satu fakta penting dalam hidupku dua puluh tahun terakhir. Pak Tua, yang menjadi sahabat karib almarhum Bapak, yang selama ini seperti menjadi pengganti almarhum Bapak bagiku, bahkan asal-usulnya dari mana aku tidak tahu. Seperti sudah terberikan seperti itu, tinggal di salah-satu rumah gang sempit tepian Kapuas begitu saja, menjadi bagian hidup kami.
“Ini rumit,” Dokter mengusap dahi, “Kami butuh orang yang akan menanda-tangani surat pernyataan menyetujui tindakan apapun yang akan kami ambil.”
Lima menit diskusi, keputusan diambil, surat itu ditandatangani ber-empat.
“Kau ikut tanda-tangan, Borno.” Koh Acung menyuruhku.
“Aku?” Aku menatap bingung—meski merasa itu sebuah kehormatan besar.
“Bergegas, Borno, tanda-tangan.” Bang Togar mendelik, “Kau mewakili almarhum Bapak kau. Kalau dia sehat, Pak Tua pasti menginginkan itu.”
Aku menerima pulpen dari dokter, mengangguk mantap.
“Nah, dengan begini, berarti kau juga ikut bertanggung-jawab atas perongkosan rumah sakit Pak Tua.” Bang Togar nyengir tipis.
“Eh?” Aku menoleh sedikit bingung.
“Haiya, tidak usah dipikirkan dulu soal itu, yang penting Pak Tua terselamatkan.” Koh Acung menyikut lengan Bang Togar, “Dan kau, Togar, bisa berhenti tidak mengganggu Borno, hah?”
Bang Togar mengangkat bahu, tidak komentar.

***
Dua jam lagi menunggu, Ibu yang kelelahan ditemani Cik Tulani (“Aku buka warung dulu sebentar, ya. Sampai si bujang bisa beres-beres sendiri, nanti aku kembali.”) sudah beranjak pulang, Koh Acung malah sudah balik lagi dari toko kelontongnya, membawa pakaian ganti buat Pak Tua, sayang, tetap belum ada kabar dari ruangan gawat darurat. Bang Togar dari jam tujuh tidur di pojok lorong, duduk di kursi plastik yang dia pinjam pada salah-satu suster, kaki selonjor, ngorok. Aku menyumpahinya, dia sama sekali tidak terlihat panik atau cemas, malah sempat menyuruhku membeli segelas teh dan kudapan kecil. Astaga, dia bisa lapar dalam situasi seperti ini? Aku duduk sendirian di depan jendela kaca buram, menatap orang-orang berlalu-lalang, kesibukan rumah sakit semakin meningkat.
Pukul sembilan, beberapa pengemudi sepit dan tetangga datang membesuk. Bertanya bagaimana kondisi Pak Tua? Aku menggeleng, belum tahu, belum ada kabar dari dalam ruangan. “Bang Togar mana?” Petugas timer yang ikutan cabut dari dermaga bertanya. Aku menunjuk pojok lorong. “Lah? Dia seharusnya segera merundingkan soal sumbangan membantu biaya perobatan Pak Tua, malah asyik mendulang mimpi.” Petugas timer berseru sebal.
Pukul sepuluh, beberapa pengemudi sepit dan petugas timer dari dermaga seberang yang datang. Juga bertanya bagaimana kondisi Pak Tua? Aku menggeleng, sudah hampir enam jam, tetap belum ada kabar dari dalam ruangan. Entah operasi, entah tindakan apa yang dilakukan di sana. “Kau tidak narik, Borno? Terus berjaga di sini?” Petugas timer seberang menepuk bahuku, bersimpati. Aku mengangguk, menunggui Pak Tua jauh lebih penting dibanding narik.
Pukul sebelas, dokter akhirnya keluar, menjelaskan ini-itu, sudah berusaha disederhanakan benar kalimatnya, tapi yang aku mengerti cuma satu: Pak Tua tidak kunjung membaik.
“Apa kami bisa melihat kondisinya sebentar?” Koh Acung bertanya pelan, setelah penjelasan usai.
Dokter berpikir sejenak, “Silahkan, tapi hanya dua orang saja.”
Satu tiket untuk Koh Acung, sedangkan Cik Tulani belum balik.
“Kau saja yang masuk, Borno.” Bang Togar menyuruhku.
“Aku?” Bukankah lebih pantas Bang Togar? Demikian maksud tatapanku.
“Ya, kau saja.” Bang Togar agak menepi ke belakang, “Aku jerih melihat jarum suntik, infus dan sejenisnya itu, Borno. Dulu waktu kecil, aku pernah disuntik, jarumnya patah di pantat. Itu hari terburuk masa kecilku. Tidaklah, kau saja yang masuk ke dalam sana.”
Aku menyeringai setengah tidak percaya, bagaimana mungkin orang setinggi-gagah, sok-kuasa pula macam Bang Togar takut melihat jarum suntik. Bang Togar tanpa banyak cakap sudah melangkah cepat ke singgasana kursinya, hendak melanjutkan tidur. Aku tertawa (dalam hati), ternyata itu, Bang Togar lebih cemas dengan trauma masa lalu, makanya sengaja dari pagi memutuskan tidur menyepi di pojok lorong, mengabaikan kesibukan rumah sakit.
Aku dan Koh Acung masuk ke dalam ruangan.
Kondisi Pak Tua mengenaskan, susah aku menjelaskannya.
“Haiya—“ Koh Acung hanya bisa mendesah pendek.
Tubuh tinggi-kurus itu dililit belalai infus dan selang. Aku menelan ludah, tidak percaya kalau itu sungguh Pak Tua yang tergeletak tidak berdaya di dipan, bukankah baru kemarin sore aku menemaninya, bicara tentang perasaan, tentang kecemasanku, tentang gadis itu, tentang Mei—
Aku tersedak. Mei? Aduh, bukankah?
Aku benar-benar baru ingat sekarang.
“Ada apa, Borno?” Koh Acung bertanya.
“Aku harus segera pergi, Koh.” Aku menepuk dahi, bagaimana aku sampai lupa? Dia menunggu di Istana Kadariah pukul sembilan persis. Jangan telat, tidak boleh pula datang lebih cepat, demikian pesannya di kertas terlipat.
“Haiya, kau hendak pergi kemana?” Koh Acung menahanku.
“Ada yang penting sekali, Koh.” Aku berseru panik.
Salah-satu suster melotot, mendesis galak, “Jangan berisik.”
“Kalau kau pergi, siapa yang menunggui Pak Tua?” Koh Acung menatapku bingung.
“Gantian, Koh. Nanti siang aku kembali. Aku harus bergegas, Koh.” Aduh, kapiran urusan, ini sudah hampir setengah dua belas, tanpa cakap lagi, aku berlari menerobos pintu gawat darurat.
“Oi, kau mau kemana, Kawan?” Andi yang persis baru tiba bersama Bapaknya hampir terjengkang kena tabrak.
Aku tidak sempat menjawab, aku sudah berlari secepat mungkin di lorong rumah sakit. Ini sudah dua setengah jam lewat janji. Mei, tunggu aku datang.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s