Episode 19: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

Nasib malang, gara-gara lelucon tidak lucu tentang nama bulan, sisa pagi kuhabiskan bermuram durja.
“Woi, Borno, sepit kau majulah!” Petugas timer dermaga seberang meneriakiku, memutus lamunan.
Aku mengusap wajah, menghidupkan motor tempel. Dari tadi suasana hatiku buruk, hanya duduk bengong, berkali-kali menyisir rambut dengan jari, mendesah resah, menunggu antrian sepit.
Apalah namanya ini? Disebut apakah perasaan ini? Kenapa hatiku macam sayuran lupa dikasih garam, hambar, tidak enak, tidak nyaman. Atau seperti ada tumpukan batu besar di dalamnya, bertumpuk-tumpuk, membuat sempit nan sesak. Atau seperti ikan diambil tulangnya, kehilangan semangat. Aku sering salah-ucap pada Pak Tua, Koh Acung, Cik Tulani atau Andi, bahkan jamak bertengkar dengan Bang Togar, tak pernah aku merasa se-bersalah ini. Lihatlah, wajahnya yang masygul, tatapannya yang sedih, lantas loncat ke steher tanpa bilang apa-apa lagi dari tadi membayang di pelupuk mata. Dan kepalaku terus berpikir negatif: jangan-jangan dia tersinggung? Atau bukan sekadar tersinggung, malah marah besar? Apakah aku sudah merusak semua dengan mentertawakan nama-nama bulan itu? Kalau begini, jangan tanya lagi urusan belajar mengemudi sepit besok, sudah binasa. Aku menghela nafas panjang untuk kesekian kali.
“Woi, bergegas Borno! Kuping kau ditaruh di mana? Sudah tiga kali kau kuteriaki. Servis ekselen, Kawan, servis ekselen. Ingat, penumpang adalah raja.” Petugas timer berseru tidak sabaran, bergaya macam sales kredit motor habis dapat training.
Aku patah-patah merapatkan sepit, dua-tiga penumpang loncat segera, saling bergurau satu sama lain, membuat perahuku miring.
“Kusut sekali wajah kau, Borno.” Petugas timer menepuk-nepuk buritan sepit, “Ada apa, Kawan? Ada yang menagih hutang? Kehilangan sesuatu? Atau pantat kau sedang bisulan.” Tertawa.
Aku menggeleng, tidak selera menimpali.
“Ye lah, ye lah, ada yang lagi sakit gigi, tidak mau diganggu, aku lebih baik diam saja.” Petugas timer memasang wajah kesal, berdiri, kembali ke posisinya, mencatat-catat, mengarahkan penumpang.
Apalah nama perasaan ini? Disebut apakah perasaan ini? Yang aku tahu, aku butuh pelampiasan, kambing-hitam, kalau saja Andi ada di sini, sudah dari tadi kupiting dia, kudorong jatuh ke sungai, ku-hadiahi sumpah-serapah. Apa dia bilang? Wanita cantik suka laki-laki humoris? Sepertinya aku harus berhenti bertanya tentang wanita pada Andi—astaga, bukankah selama ini naksir perempuan saja dia tidak pernah?
“Eksus me, mister. Du yu won kros de raiper?” Petugas timer berbusa mulutnya, sedang bicara dengan sepasang bule di bibir steher—belakangan ramai turis berkunjung ke kota kami. Entah apa yang ada di kepala petugas timer, dia menyikapinya dengan membawa kamus kecil, asyik mempraktekkan apa yang dipelajarinya meski lidah Melayu-nya tak kunjung lurus.
Aku tidak peduli, aku memperhatikan lamat-lamat permukaan Kapuas yang mengkilat-kilat ditimpa terik matahari. Lalu-lalang perahu nelayan, sepit penuh penumpang, payung warna-warni terkembang. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana memperbaiki kesalahanku tadi pagi?
“Jalan, Borno! Sepit kau sudah penuh.” Petugas timer berseru kencang.
Aku menelan ludah, memperbaiki posisi duduk, sepertinya Pak Tua punya jawaban baiknya. Baiklah, aku akan ke rumah Pak Tua setiba di dermaga. Menggerakkan kemudi ke kanan, menambah gas, sepitku bergerak meninggalkan steher.
“Tek ker, mister. Se yu leder.” Petugas timer melambaikan tangan, sepasang turis yang sudah duduk rapi di papan melintang dekat buritan perahuku balas mengacungkan jempol.
Ah, semua orang terlihat bersemangat dan bahagia hari ini, kenapa pula hatiku tetap terasa ganjil?

***
Baru saja sepitku merapat, penumpang berloncatan ke dermaga, belum sempat aku memungut gumpalan uang di dasar perahu, Bang Togar sudah naik ke atas sepit.
“Jalan, Borno. Bergegas.”
“Kemana?” Aku mengangkat kepala.
“Jalan saja, bergegas.”
“Kemana dulu, Bang? Aku ada urusan lain.”
“Urusan ini lebih penting dibanding urusan kau, Borno. Jalan saja, bergegas.” Bang Togar mendelik—soal sok-kuasa, kelakuan dia memang mana tahan.
“Aku ada urusan lain, Bang.” Aku memasang wajah keberatan, sudah sering aku bertengkar dengan Bang Togar gara-gara hal sepele, tidak masalah kutambahi satu. Apalagi dengan suasana hati buram sepanjang pagi, boleh juga dilampiaskan padanya.
“Kau ini banyak tanya, sini aku yang menjalankan sepit.” Tangan Bang Togar menepis tanganku, duduk di buritan perahu, “Geser sedikit.”
Aku balas menepis, tangannya, balas menggeser, beradu pantat.
“Ini mendesak, Borno.” Bang Togar berseru jengkel, membuat pengemudi sepit lain menoleh, juga penumpang yang menunggu di dermaga kayu. Tangan kirinya berusaha merebut tuas kemudi, tangan kanannya berusaha menyingkirkanku.
“Urusanku juga mendesak, Bang.” Aku tidak mau kalah.
“Astaga, urusan mana yang lebih penting dibanding nyawa, hah?”
“Nya-wa?” Aku menelan ludah.
“Ya, nyawa. Pak Tua ditemukan pingsan di rumahnya, barusan Cik Tulani mengirim pesan.”
“Pak Tua pingsan?” Terperanjat, tanganku sekarang membiarkan sepenuhnya Bang Togar menggerakkan tuas kemudi, gelembung udara bergemuruh di atas permukaan sungai.
“Pak Tua pingsan?” Aku mengulangi pertanyaan, rasa cemasku bertambah satu.
“Simpan pertanyaan kau lima menit lagi, Borno.” Dan tanpa perlu memberi peringatan, Bang Togar sudah menekan gas hingga pol, sepitku seperti batu dilemparkan, tersentak cepat meninggalkan steher. Aku reflek berpegangan ke pinggir perahu.
Soal mengemudikan sepit, Bang Togar nomor satu, setiap tujuh belasan, saat lomba balap sepit Kapuas, tidak ada yang bisa mengalahkan dia. Tahun lalu, dia bahkan unggul satu badan perahu penuh dari pesaing terdekatnya. Sepitku meliuk menyalip dua perahu nelayan yang berjejer, awaknya asyik ngobrol (macam kalian lihat di jalanan aspal, dua motor berjejer, ngobrol tidak peduli pemakai jalan lainnya). “Woi!” Salah-satu nelayan yang duduk mencangkung di perahunya menyumpah-nyumpah, bajunya kena cipratan air. Bang Togar mengacungkan kepal tangan, satu tangan lain kokoh memegang kemudi.
Empat menit lima puluh detik perahu tempel kami tiba. Beranda rumah Pak Tua terlihat ramai, tetangga berbisik-bisik menunggu. Sepitku merapat mulus ke anak tangga, tanpa merasa perlu mematikan mesinnya, apalagi menambatkannya, Bang Togar sudah loncat. Aku bergegas mengambil alih kemudi, menuntun perahu, lantas mengeluarkan tali, mengikat ujung perahu ke salah-satu tiang rumah Pak Tua.
“Bagaimana kabar Pak Tua, Koh?” Aku berpapasan dengan Koh Acung yang melangkah keluar.
“Sudah siuman, kau tengok saja di dalam.”
Aku menghela nafas lega. Syukurlah, kupikir hariku akan bertambah muram. Pak Tua tersenyum tipis melihatku, dia berbaring di dipan, ada Cik Tulani, Bang Togar dan beberapa tetangga menemani. Termasuk dokter dari puskesmas dekat gang, sibuk memeriksa.
“Nah, itu dia orangnya, kusuruh bergegas kemari, dia malah bilang punya urusan lebih penting. Macam mau bertemu Gubernur Kalimantan Barat saja.” Bang Togar mengacungkan jari padaku.
“Aku juga sebenarnya hendak kemari, menemui Pak Tua. Itu maksudku urusan yang lebih penting.” Enak saja Bang Togar menyimpul, aku segera membantah, balas menatap tajam.
“Ah, pandai sekali kau mengarang, Borno.”
“Aku tidak mengarang. Abang saja yang ba-bi-bu macam preman kampung merebut kemudi sepit.”
Orang-orang melongok ke dalam, ingin tahu keributan apa yang terjadi. Pak Tua terkekeh, melambaikan tangan, “Kalian tidak akan bertengkar seperti anak kecil di depan orang sakit, bukan?”
Satu jam berlalu, wajah pucat Pak Tua mulai memerah, dokter bilang Pak Tua perlu istirahat, tetangga mulai beranjak pamit. Menjelang sore, teman-teman dekat juga beranjak kembali beraktivitas, Cik Tulani bilang sudah terlalu lama meninggalkan warung makannya, Koh Acung pamit pulang ke toko, menyisakan aku yang tetap bertahan. Dari tadi soal lelucon nama bulan-bulan itu tidak bisa kuceritakan pada Pak Tua, juga pertanyaan apa yang sebaiknya kulakukan. Bukan karena orang-orang ramai di sekitar dipan jadi aku tidak bebas bercerita, lebih karena melihat Pak Tua berbaring lemah, aku tidak tega menambah sakitnya dengan persoalan ‘sepele’-ku.
“Nah, jadi siapakah gerangan nama gadis itu?” Pak Tua justeru bertanya saat kami benar-benar tinggal tinggal berdua.
“Bapak harus beristirahat.” Aku menyeringai.
“Aku bosan tiduran, Borno. Mari kita isi dengan percakapan ringan saja.” Pak Tua tertawa kecil, “Kupikir, mendengar cerita tentang gadis itu akan membuatku merasa lebih muda dan segar, Borno. Ah, tidak ada yang lebih indah dibanding masa muda. Ketika kau bisa berlari secepat yang kau mau, bisa merasakan perasaan sedalam yang kau inginkan, tanpa takut terkena penyakit atas semua itu. Lihat, kalau sudah macam aku, terkejut sedikit saja bisa jantungan. Stres sebentar saja bisa berubah depresi.”
Aku hanya diam, memperbaiki selimut Pak Tua.
“Kau tahu, Borno. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu, dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya merubah harimu menjadi buram padahal dunia sedang terang-benderang.”
Aku menelan ludah, Pak Tua benar sekali.
“Nah, jadi siapa nama gadis itu?”
“Mei.” Aku menjawab pendek.
“Mei? Astaga? Mei nama bulan itu?”
Aku mengangguk.
Pak Tua terkekeh—membuat dia batuk sebentar. Dan lebih terkekeh lagi saat aku cerita kejadian tadi pagi—membuat dia batuk lebih lama. “Sial sekali nasib kau, Borno.” Pak Tua menggeleng-gelengkan kepala, sudah tak nampak sisa pucat di wajahnya, obat yang diberikan dokter bekerja baik.
“Apakah gadis itu tersinggung?” Aku bertanya pelan.
“Sepertinya begitu.”
“Apakah dia marah padaku?” Aku bertanya semakin pelan.
“Boleh jadi.”
“Apakah dia benci padaku?” Suaraku hampir kalah dengan desau angin di jendela.
“Benci? Kau berlebihan, Borno. Itu hanya lelucon kecil, tidak akan-lah membuatnya benci.”
“Tetapi dia pergi meninggalkan perahu tanpa bilang apapun, Pak.”
“Lah? Apa yang kau harapkan, Borno? Kau baru saja mentertawakan namanya, bukan?” Pak Tua menyeringai, pura-pura bodoh.
Aku menggaruk kepala, mendesah.
“Tenang saja, Borno, itu sekadar kejadian sepele yang lumrah. Tak usahlah kusut wajah, kusut hati. Beginilah, kuberitahu kau sebuah rahasia kecil: dalam urusan ini, sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi tidak. Kau tanyakan saja pada gadis itu, apakah dia tersinggung atau tidak, kalau dia tersinggung, kau minta maaf. Mudah, kan?”
Aku diam menatap ujung dipan, di mana coba letak mudahnya? Iya kalau gadis itu mau memaafkan, kalau dia melihatku saja lagi tidak mau?

***
Tetapi Pak Tua benar, saat aku beranjak pulang, matahari bersiap tenggelam di barat sana, membuat langit merah sejauh mata memandang, burung layang-layang melenguh beranjak pulang ke sarang, ketika melintas di dermaga kayu, petugas timer meneriakiku, “Woi, Borno, ada pesan buat kau.”
Aku segera memutar balik sepit yang terlanjur sudah melaju dua puluh meter dari dermaga—enaknya membawa sepit, kalian tidak perlu menunggu U-Turn seperti di jalanan aspal untuk berputar balik, apalagi repot-repot ngasih sign lampu belok, tinggal lambaikan tangan.
“Pesan apa?” Aku bertanya dari buritan perahu, motor tempelnya menggerung pelan, tidak kumatikan.
“Ini, ada surat buat kau.” Petugas timer menyerahkan lipatan kertas.
“Surat? Dari siapa?” Aku menerima lipatan kertas itu.
Petugas timer tertawa, “Ah, kau sekarang punya pacar tidak bilang-bilang, Borno.”

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s