Episode 18: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

“Akhirnya, Borno. Setelah sekian lama tidak kelihatan batang hidungnya, kupikir kau sudah lupa rumah papan milik orang tua sebatang kara ini.” Pak Tua tersenyum hangat, walau wajahnya terlihat pucat, berpangku tongkat membukakan pintu, “Lama sekali kau tidak main ke sini, mungkin barang satu-dua minggu, ya? Atau macam drama radio RRI, berbilang episode-episode aku tak muncul dalam cerita. Seperti penulisnya lupa dengan tokoh utamanya.”
“Maaf, Pak. Borno sibuk.” Aku menyeringai, merasa sedikit bersalah. Benar, sudah lama aku tidak mampir, biasanya seminggu bisa dua-tiga kali berkunjung. Bercakap sambil menatap kesibukan malam Kapuas dari bingkai jendela, membicarakan banyak hal. Pak Tua seperti aliran air sungai, tak habis-habis ilmu dan filosofi hidupnya—meski kadang aku juga tidak sependapat dengannya. Mengunjungi Pak Tua selalu menyenangkan.
“Bagaimana kabar Saijah? Sehat?” Pak Tua bertanya.
Aku mengangguk, “Kabar baik, Pak. Ibu bahkan menitipkan ini.” Aku menjulurkan kantong plastik berisi makanan.
Pak Tua membukanya, tersengih lebar, “Astaga, gulai kepala kakap. Amboi, lezat sekali nampaknya. Tunggu sebentar, aku habis menanak nasi, akan sedap sekali kalau langsung dimakan.” Pak Tua sambil tertawa segera membawa kantong plastik itu ke belakang. Meninggalkanku sendirian, berbengong ria di ruang depan. Tidak ada yang istimewa dari ruang tamu Pak Tua, kecuali secuil foto buram di dinding, kekuningan, dan ujungnya dimakan rayap. Foto itu memperlihatkan pose Pak Tua yang sedang berpelukan bahu dengan pencetus ‘Amerika kita setrika, Inggris kita linggis’ itu. Nampak akrab, tertawa lebar. Waktu usia enam-tujuh tahun, saat diajak almarhum Bapak berkunjung ke rumah Pak Tua, aku selalu bertanya siapa orang berpeci hitam, membawa tongkat komando itu, Pak Tua hanya tertawa melambaikan tangan, tidak menjawab. Saat sekolah, ketika akhirnya tahu siapa orang itu, lebih banyak lagi pertanyaanku, ini foto kapan? Apakah Pak Tua teman dekat? Kenapa? Mengapa? Seperti mitraliur. Sayangnya, Pak Tua lagi-lagi hanya tertawa, tidak menjawab, sampai aku bosan bertanya.

Lima menit berlalu menyisakan suara gemeretuk perahu melintas, Pak Tua kembali dari belakang, membawa nampan dengan dua piring nasi mengepul. Kepala kakap berlumurkan kuah lezat itu sudah tergeletak di dua mangkok pula, aromanya mencekat kerongkongan. Menggoda, membuat air liur menetes.
“Mari kita makan, Borno.”
“Eh, itu kan buat Pak Tua semua.” Aku menggaruk kepala, sengaja tadi Ibu menyuruhku membesuk Pak Tua, sudah dua hari dia tak nampak di steher sepit, kabarnya kurang enak badan. Aku baru tahu Pak Tua sakit saat Ibu menyuruhku setengah jam lalu, kupikir dia baik-baik saja, malas narik sepit.
“Ayolah Borno, kau temani orang tua ini makan. Kau tahu, orang paling bersyukur di dunia ini adalah orang yang selalu makan dengan tamu-nya. Sebaliknya, orang yang paling tidak tahu untung adalah yang selalu saja mengeluhkan makanan di hadapannya. Nah, anggap saja orang tua ini ingin meneladani perangai elok itu, yah, walau dalam kasus ini gulai kepala kakap kau yang bawa. Setidaknya nasi ini kutanak sendiri.”
Aku menatap sebentar nampan berisi makanan, menelan ludah, tadi Ibu sepertinya tidak menyisakan lagi gulai di rumah, mana boleh aku membuang kesempatan. Baiklah, aku mengangguk sambil tertawa, melipat ujung baju, mencuci tangan di mangkok. Dan sekejap, tangan serta mulutku kompak bekerja.
Asyik sekali makan sambil menatap malam di tepian Kapuas. Suara perahu lewat menjadi latar penyanyi ‘live’. Bulan malam tiga belas menjadi pemandangan. Satu kakiku sudah naik ke kursi, meniru gaya Pak Tua yang santai mengunyah nasi dan menyobek daging kepala kakap dengan tangan langsung.
“Pak Tua sebenarnya sakit apa?” Aku bertanya, merekahkan kepala kakap.
“Ah, sakit orang jompo, Borno, mungkin asam uratku kambuh. Bagaimana tidak, aku tak pernah bisa menolak makanan selezat ini.” Tertawa, “Bagaimana sepit kau? Banyak hasil tarikannya?”
Aku menyeka nasi di sudut bibir, “Lumayan, Pak. Minggu-minggu ini sedang ramai.”
“Ye lah, imlek lepas, disambut cap gomeh, anak perantauan banyak pulang, bernostalgia dengan banyak hal, termasuk naik sepit. Kudengar banyak carter-an sekarang?”
Aku mengangguk, lantas menghirup kuah dari kepala kakap yang baru saja kuhabisi dagingnya. Nikmat. Pak Tua tertawa melihatku berdecap-decap kepedasan.
“Masakan Saijah itu selalu enak. Bayangkan, aku yang hanya dapat kiriman setahun sekali saja sudah amat berterima-kasih, apalagi kau, yang sejak kecil dimasakkan.”
Aku buru-buru mengangguk bersepakat—sudah ratusan kali Pak Tua bercerita tentang bakti anak pada Ibu-nya. Betapa banyak pengorbanan Ibu, mulai dari masak (berapa juta butir nasi yag pernah dimasaknya), mencuci pakaian (berapa tinggi tumpukan baju yang pernah dicucinya), sampai ompol, berak, dan sebagainya. Aku sudah paham soal itu, bahas soal lain saja, demikian ekspresi mukaku.
“Bagaimana kabar gadis itu?”
Aku hampir tersedak, segera menyambar air minum. Kupikir Pak Tua akan berganti membahas topik apalah, ternyata banting stir ke topik tak terduga.
“Gadis apa?”
“Ah, kau jangan macam kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Gadis mana lagi? Gadis yang membuat kau selalu antri di sepit nomor tiga belas. Coba hitung sendiri, berapa kali kau menggeser posisi sepitku?”
Wajahku memerah, untung aku sudah menuntaskan seluruh kepala kakap, pura-pura bangkit hendak mencuci tangan di belakang.
Pak Tua justeru menjulurkan mangkok berisi air, ada potongan jeruk nipis di dalamnya, “Tenang, Borno. Kalau kau tidak mau bercerita, kita bahas hal lain saja. Ah, bagi orang tua yang tinggal sendirian sepertiku ini, bercakap tentang hal sederhana sudah lebih dari menyenangkan, tak perlu pula sampai membahas kisah cinta anak muda. ” Pak Tua berkata santai, sama sekali tidak memaksa, meneruskan makan.
Aku menyeringai. Terdiam sebentar. Terkadang memang aneh urusan seperti ini, Andi setiap malam memaksaku bercerita di balai bambu, tidak sabaran mendesak, aku justeru enggan dan sengaja tidak mau bercerita. Pak Tua sebaliknya, santai tidak memaksa, menganggap tidak penting, melanjutkan menghabiskan kepala kakap, aku justeru seperti dihipnotis, semangat tanpa disadari mulai bercerita, tiba-tiba merasa penting membagi informasi padanya.
Pak Tua tidak sibuk menyela sekalimat pun, hanya sesekali tertawa kecil, menggelengkan kepala (saat tiba di bagian bodoh selalu menunggu di antrian sepit no 13), sesekali mengangkat tangan, tertawa lagi (saat tiba di bagian aku yang gugup diajak bicara), atau menepuk pelan dahi-nya, tertawa lagi (saat tiba di bagian belajar naik sepit, dan gadis itu hampir terjatuh).
“Bukan main, kupikir kau baru berani melirik-lirik, Borno. Ternyata sudah sampai beranjangsana sepanjang Kapuas berdua.” Pak Tua akhirnya berkomentar saat aku menutup cerita. “Memutari jembatan beton, melintasi jalur feri, mengisi solar di SPBU terapung, ngebut, menyalip sepit-sepit lain, melintasi pabrik karet, melihat anak-anak main bola air, astaga…. Apakah gadis itu terlihat senang?”
Aku mengangguk mantap, tidak ada keraguan soal itu—terlepas dari dia sempat pias saat membuat perahu nyaris terbalik, sisanya berjalan menyenangkan.
“Nah, agar cerita kau ini lebih enak didengar, boleh aku tahu siapa nama gadis itu?” Pak Tua melumuri tangannya dengan jeruk nipis.
“Tidak tahu.” Aku menelan ludah.
“Astaga, bagaimana mungkin gadis secantik itu bernama ‘tidak tahu’?” Pak Tua memasang wajah bingung—tentu saja dia menggodaku, bukan salah paham atas jawabanku.
Aku menggeleng. Siapa nama gadis itu? Aku tidak tahu.

***
“Kau tahu, Borno, aku pernah punya kenalan, dia punya dua belas anak, semuanya diberi nama sesuai bulan kelahirannya. Karena semua lahir di bulan yang berbeda, maka bayangkan, ada yang bernama Januari, Februari, hingga Oktober, November dan Desember. Untung saja anaknya tidak tiga belas.” Pak Tua tertawa, santai meluruskan kaki di kursi. Lepas membereskan nampan makanan, kami sekarang pindah ke beranda.
Aku ikut tertawa, Pak Tua tidak sedang bergurau?
“Itu sungguhan, Borno. Kau tidak bisa membayangkan banyak sekali nama aneh, tidak lazim dan jarang didengar di seluruh dunia. Ada tujuh milyar penduduk bumi, bukan? Nah, berarti ada tujuh milyar pula nama orang di seluruh dunia. Kalau kau bisa menghitungnya, mungkin ada seratus ribu orang bernama Andi, Budi, Bambang, atau Ratna, Ayu, Shinta dan sebagainya. Setiap detik, ada puluhan ribu orang-tua yang berpikir keras memberikan nama.”
Aku manggut-manggut, benar juga. Dulu aku dan Andi pernah mentertawakan nama teman sekelas: Rabu Kliwon. Urusan nama gadis itu yang masih misterius, membuatku dan Pak Tua tanpa sengaja malah asyik membicarakan topik yang sama.
“Kata pujangga kelas dunia, apalah arti sebuah nama? Jangan tanya soal itu padaku yang hidup membujang, Borno.” Pak Tua tertawa. “Kau tanyakan saja pada kenalanku yang beranak dua belas tadi, dia pasti punya jawaban baik. Boleh jadi kalimat bijak itu benar, nama adalah doa. Adalah kewajiban orang-tua memilihkan nama yang baik untuk anak-anaknya. Lantas apakah Desember atau November itu nama yang baik? Aku tidak tahu.”
Aku ikut tertawa.
Malam semakin larut, aku tahu diri, Pak Tua butuh beristirahat. Setelah dua-tiga perahu lagi melintasi Kapuas, aku pamit. Pak Tua menepuk-nepuk bahuku, bilang salam dan terimakasih banyak untuk Ibu. Aku mengangguk takjim, undur diri.

***

Esok hari, entah karena masih dalam siklus keberuntungan, kali ini perhitunganku sempurna tepat, sepit antrian nomor 13, merapat persis ketika gadis itu berdiri paling depan di steher.
“Pagi, Bang.”
“Pagi.” Aku memasang senyum terbaik abad ini.
Gadis itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih, celana katun. Sepatu hitamnya terlihat serasi dengan tas besar penuh buku—mungkin buku pelajaran, atau buku absensi yang dulu kubenci, karena aku dan Andi suka minggat dari sekolahan.
“Saya selalu bertanya-tanya, kenapa ya beberapa hari terakhir, kebetulan, selalu sepit Bang Borno yang kunaiki.” Gadis itu bertanya setelah duduk rapi di papan melintang dekat buritan.
Aku gelagapan, “Eh, iya, ya…. Itu juga jadi pertanyaanku. Kenapa ya?” Aku buru-buru memasang wajah ingin tahu, beruntung sebelum ekspresiku justeru menjadi wajah bego, petugas timer sudah menepuk-nepuk ujung sepit, “Jalan Borno. Sudah penuh. Oi, satu sepit lagi maju!”
Aku bergegas menggerakkan kemudi ke kiri, sepit seperti seekor angsa, meluncur anggun meninggalkan dermaga kayu. Matahari pagi menerpa permukaan Kapuas, hangat menyenangkan.
“Eh, kamu tidak mengembangkan payung?” Aku bertanya, menunjuk payung hitam di sebelahnya.
Gadis itu menggeleng, “Tidak terlalu terik, Bang.”
Aku manggut-manggut, sepit sudah meluncur seperlima perjalanan.
“Eh, kamu sedang baca buku apa?” Aku bertanya.
Gadis itu memperlihatkan sampul buku, “Biasalah, Bang. Materi belajar anak-anak.”
Aku manggut-manggut, sepit sudah meluncur dua perlima perjalanan.
“Eh, kamu masih ingin belajar mengemudikan sepit lagi?” Dari tadi aku sebenarnya hendak bertanya ‘Nama kau siapa?’, tapi yang keluar justeru pertanyaan lain.
“Bang Borno tidak keberatan mengajariku lagi?” Gadis itu kali ini mengangkat kepalanya dari halaman buku, tertawa kecil.
“Mengajari lagi? Oh, tidak, tidak keberatan. Sepanjang kamu tidak menggulingkan perahuku di tengah Kapuas.” Aku ikut tertawa.
“Hari ini hari terakhirku mengajar di Yayasan. Bang Borno mau mengajariku besok?” Gadis itu menatap semangat—tidak terlihat sisa-sisa pias-nya kemarin.
Kenapa tidak, aku mengangguk. Gadis itu tertawa senang. Sepit sudah empat perlima perjalanan. Sudah hampir merapat. Aku buru-buru mengusir rasa senang atas prospek pertemuan besok, sedari tadi aku meneguhkan hati bertanya tentang sesuatu, tetapi entah kenapa tidak mudah keluar.
“Eh, na-ma.” Akhirnya kalimat itu terlontarkan, lengkapnya maksud ucapanku, “Nama kau siapa?” Apa daya, ujungnya hilang oleh rasa malu, gugup dan entahlah bercampur jadi satu. Ternyata tidak mudah menanyakan hal sesederhana ini.
“Nama?” Gadis itu mengangkat kepalanya.
“Eh, kau pernah dengar cerita tentang orang yang bernama Rabu Kliwon?” Aku salah-tingkah, bergegas mengambil ide percakapan apa saja yang melintas di kepala, urung mengulang pertanyaan dengan baik.
Gadis itu menggeleng.
“Yeah, ada temanku waktu SMA dulu, namanya begitu. Lucu, bukan?” Aku tertawa kecil, mencoba mengeluarkan lelucon. Bukankah Andi pernah bilang, gadis selalu suka dengan lelaki yang humoris.
Gadis itu tidak terlalu tertarik.
“Kau tahu, Pak Tua bahkan punya kenalan dengan dua belas anak, namanya mulai dari Januari, Februari, Maret hingga November, Desember. Ada-ada saja.” Aku tertawa, berusaha memberi contoh yang lebih lucu, siapa tahu gadis ini ikut tertawa.
Gadis itu tetap tidak terlalu tertarik, menyeringai.
Aku terdiam sejenak, malu sendiri, beruntung sepit sudah siap mendarat, aku meneguk ludah, menurunkan kecepatan, bergegas mengendalikan sepit agar merapat mulus ke dermaga kayu. Petugas timer membantu penumpang berloncatan.
“Terima-kasih, Bang.” Dua-tiga penumpang di depan loncat ke steher, meninggalkan gumpalan uang di dasar perahu. Aku mengangguk.
“Terima-kasih, Bang.” Disusul dua-tiga penumpang lainnya. Aku lagi-lagi mengangguk.
Penumpang di sebelah gadis itu sudah bersiap berdiri.
“Namaku Mei.” Gadis itu berkata pelan sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.
“Eh? Apa?” Aku menatap gadis itu, belum mengerti.
“Namaku Mei, Bang Borno.” Gadis itu beranjak berdiri, “Dan meskipun itu nama bulan, kuharap Bang Borno tidak mentertawakannya. Terima-kasih buat tumpangannya.”
Alamak? Aku ternganga di buritan perahu.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s