Episode 17: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

Rekap Episode2 sebelumnya: Pernah naik angkot? Kereta? Pesawat? Kapal laut? Atau kendaraan umum lainnya? Nah, bayangkan di sebelah kalian duduk seorang pemuda usia 20-an. Selintas dilirik, sekilas lalu, lantas asyik kembali melihat keluar jendela. Tiba di tempat tujuan, bertemu sanak-kerabat-kolega, sibuk dengan aktivitas, benar2 tidak akan ingat siapa pemuda tadi. Tidak penting, tidak signifikan. Itulah Borno, pemuda Melayu, yatim sejak usia 12 (Ayahnya mati disengat ubur2, lantas mendonorkan jantungnya di detik terakhir), dibesarkan di gang sempit tepian Kapuas kota Pontianak. Wajahnya pas2an, tidak tinggi, tidak pendek, tidak gemuk, cenderung kurus, kulit cokelat terbakar, dan rambut pendek dua senti (kalau panjang sedikit jadi aneh). Bedanya dengan bujang kebanyakan, malam berikutnya (saat kalian bahkan lupa pernah naik angkot pergi kemanalah dua hari lalu), Borno akan mengetuk pintu, lantas malu-malu bertanya, “Eh, apakah ini punya, Kakak? Ketinggalan di angkot?”
Itulah Borno, tumbuh bersama Pak Tua (70 thn, ras tidak diketahui, masa lalu tidak terdefinisikan), Cik Tulani (50thn, Melayu tulen), Koh Acung, Bang Togar, dan tentu saja teman setianya, Andi si Bugis. Suatu hari dia menemukan sepucuk amplop merah di dasar perahu persis di hari pertamanya menjadi pengemudi sepit (setelah dua tahun berganti-ganti pekerjaan). Dan pemilik amplop merah itu ternyata adalah ‘kakak’ berbaju kurung kuning dengan rambut panjang tergerai, si sendu menawan. Apakah ini akan jadi kisah cinta yang berakhir bahagia, atau sebaliknya, penuh air-mata? Kalian akan ikut ‘bertanggung-jawab’ atas jalan hidup Borno.

***
Aku mendongak menatap biru langit Pontianak. Matahari sebentar lagi persis di atas kepala—meskipun di tempat kalian setiap tengah hari bolong matahari seolah-olah di atas kepala, kota Pontianak jelas lebih istimewa; matahari benar-benar di atas kepala, ini kota garis khatulistiwa, Kawan, di mana jejak matahari persis melintas di atasnya; boleh jadi ksatria gagah yang mengalahkan hantu pontianak dulu sengaja benar memilih tepian Kapuas menjadi pusat kerajaannya. Aku mengelap peluh di leher dengan handuk—tetapi kstaria itu lupa, dengan demikian, kota ini selalu panas, panas, dan panas.

Andi dan rombongan turis dari Serawak sudah masuk ke ruang depan Istana Kadariah, dari kejauhan bisa kulihat gaya Andi yang tunjuk sana, tunjuk sini, lambai sana, lambai sini, menggaruk kepala, memegang ujung hidung, lantas entah apalagi gaya dia sebagai guide amatiran—sayang, sepertinya tamu dari negeri jiran itu lebih asyik berfoto-foto daripada mendengarkan Andi, termasuk menyuruh-nyuruh Andi mengambil gambar mereka bertujuh.

Aku menghela nafas, berusaha mengendalikan perasaan, lupakan Andi dan calon besan keluarganya, ada urusan penting yang harus kupastikan, loncat turun dari sepit, melangkah mendekati boat fiberglass. Jika kapal putih ini ada, maka jangan-jangan gadis itu juga ada. Ah, bukankah baru tadi pagi dia naik sepitku, senyumnya mengembang, menyapa riang. Aku lagi-lagi menyeringai sendiri, sekali lagi menyeka peluh. Di mana orang-orang? Tengok sana, tengok sini, kepala melongok, kapal putih ini sepertinya kosong, bahkan awak kapalnya pun entah pergi kemana. Celingak-celinguk, lima belas detik senyap, aku memberanikan diri menaikinya, siapa tahu ada orang di ruang kemudi. Siapa tahu ada dia di—
“Bang Borno?”
Kakiku hampir terpeleset, bergegas berpegangan di pagar boat.
Gadis itu sempurna berdiri di belakangku.
“Eh, kau?” Hanya itu yang keluar dari mulutku, sial, bukankah aku tadi berharap bertemu dengannya? Kenapa setelah bertatap-muka macam ini, aku malah jadi salah-tingkah, gugup sekali.
“Bang Borno hendak kemana?” Gadis itu tersenyum—tidak tertawa melihat wajahku yang mungkin mirip anak kecil ketahuan mengompol.
“Mencari kau—, eh bukan, maksudku mencari tahu secanggih apa kapal ini. Kau ingat, internal combustion engine macam itulah.” Aku tertawa tanggung, menunjuk-nunjuk boat firberglass, menyumpahi mulut yang salah-ucap. Astaga, bagaimana mungkin aku bilang ‘mencari dia’.
“Oh, kapal ini milik Yayasan, Bang, canggih memang. Ada pejabat dari Jakarta berkunjung ke sekolah kami, tahulah apa mereka menyebutnya, studi banding, akreditasi. Pengurus yayasan mengajak mereka jalan-jalan keliling Pontianak.” Gadis itu berkata santai, sepertinya tidak terlalu mendengarkan salah-ucapku barusan. Respon baik yang tetap membuatku gugup, aku menunjuk bangunan Istana Kadariah.
“Yeah, mereka ada di dalam sekarang. Saya malas ikut-ikutan masuk, menemani bertukar basa-basi, memasang wajah sok ramah, jadi saya menunggu di halaman saja. Dan ternyata, ada Bang Borno. Kejutan yang menyenangkan.” Gadis itu tertawa.
Aku ikut tertawa (hanya itu yang ada di kepalaku, mana sempat berpikir skenario berikutnya seperti yang dikuasai playboy kelas kampung ketika menggoda gadis).
“Bang Borno kenapa ada di sini? Tidak narik?”
“Eh, tidak.” Aku menggaruk kepala, “Aku menemani Andi, kau tahu Andi? Tukang bengkel di bengkel bapaknya, Malaysia, ada keluarga besan bapaknya datang, Serawak, menumpang sepit berkeliling, kuajak kemari, bangunan bersejarah mereka bilang, asyik foto-foto sekarang.” Aku bergumam cepat, entah kalimatku sesuai kaidah percakapan atau tidak, belepotan.
“Bang Borno bawa sepit kemari?” Syukurlah, gadis itu mengerti bahasa anehku.
Aku mengangguk, menunjuk ke steher.
“Daripada kita sama-sama menunggu, saya punya ide baik.” Gadis itu tertawa renyah.
“Ide baik?”
“Ayo, Bang.” Gadis itu sudah melangkah ke steher, melintas cepat di atas dermaga, kemudian riang loncat ke atas sepitku.
Aku bingung, ikut loncat ke atas sepit.
“Mereka baru keluar dari istana setengah jam lagi paling cepat. Saya bosan melihat pejabat itu sok mengangguk-angguk paham penjelasan. Juga bosan melihat pengurus yayasan mencari muka. Nah, Bang Borno belum menjawab pertanyaanku tadi pagi.”
“Pertanyaan apa?” Aku menelan ludah, tambah bingung—kenapa aku tiba-tiba jadi bodoh dan pelupa.
“Seberapa sulit mengemudikan sepit, Bang.” Gadis itu mengingatkan. “Sulit tidak?”
“Oh itu,” Aku menepuk dahi, kupikir pertanyaan lain, “Gampang, tidak sulit.”
“Bang Borno mau mengajariku?”
Aku menatap gadis dengan topi kuning, kaos putih, celana training senada, rambut tergerai di bahu, senyum mengembang penuh harap. Aku pelan-pelan meneguk ludah, Ibu, apa yang dia bilang? Mengajarinya mengemudikan sepit? Siapa yang akan menolak?

***
Malamnya, Andi mengamuk.
“Kata bapakku, kau bisa membahayakan perdamaian Malaysia-Indonesia.” Ketus dia padaku.
Aku tertawa kecil, apanya yang membahayakan, aku cuma kelupaan kalau rombongan calon besan itu masih di Istana Kadariah, membiarkan mereka menunggu berjam-jam, hingga akhirnya Andi dengan wajah penuh rasa bersalah, menyumpah-nyumpahiku, memutuskan membawa mereka menumpang oplet kembali ke hotel dekat bioskop kota. Jalan-jalan hari itu berakhir dengan kesal.
“Kau tuan rumah tidak tahu sopan-santun. Kau seharusnya duduk di buritan sepit hingga kami kembali, apapun yang terjadi, bukan sebaliknya, kelayapan entah kemana.” Andi semakin ketus.
Aku menyeringai, maaf, maaf.
“Sebenarnya apa yang terjadi sampai kau tega membawa sepit pergi begitu saja dari dermaga istana, hah?” Andi mendengus, matanya menyelidik. Itu pasti kejadian extraordinary, force majuer, sampai seorang Borno yang terkenal lurus perangai mau melakukannya.
Aku mengangkat bahu, tertawa lagi.
Andi gemas melemparkan gitar butut, loncat menerkamku.
“Woi, kalian membuat kartu-kartu berantakan.” Cik Tulani, yang sedang bermain kartu bersama tetangga di balai bambu berseru galak, “Kalian ini sudah pantas punya anak empat, masih saja bergumul macam kanak-kanak.” Beberapa tetangga tertawa, mentertawakan pribahasa Cik Tulani barusan yang sudah kolot. Jaman dulu memang masuk akal, usia dua puluh punya empat anak, hari ini bujang dan gadis menikah di usia dua kali lipat.
“Kulihat kau tadi putar-putar di Kapuas bersama seorang perempuan, Borno? Dia men-carter sepit kau?” Setelah keributan di balai bambu agak reda, aku dan Andi sudah berhasil dilerai, Jauhari yang baru bergabung justeru santai bertanya.
Bukan hanya Andi yang sontak menoleh. Seluruh penghuni balai bambu (delapan orang), ikut menoleh. Aku yang masih asyik nyengir pada Andi (dia terlihat masih nafsu memiting, tetapi dipegangi tetangga) langsung terdiam.
“Hah, apa kau bilang Jau?” Cik Tulani menyahut, ingin tahu.
“Ah, Cik ini macam kupingnya penuh tahi, tak dengar,” Jauhari tertawa, “Kubilang aku melihat Borno berputar-putar Kapuas membawa sepitnya bersama seorang perempuan. Sudah macam tuan-nyonya berplesir, atau macam muda-mudi pacaran saja.” Jauhari tergelak.
“Siapa gadis itu?” Tetangga lain semangat ingin tahu.
Aku bersiap mengutuk Jauhari—awas saja kalau dia menceritakan detail.
“Perempuan, Jupri, aku tidak bilang gadis. Iya kalau gadis, kalau nenek-nenek, mana kutahu, aku hanya melihat sekilas dari kejauahan. Kau di carter sampai mana, Borno?” Jauhari sepertinya paham ekspresi keberatanku, tertawa menggoda, sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Di carter sampai dermaga pelampung, Bang.” Aku punya ide pamungkas.
Satu-dua tetangga bergumam jengkel, cih, mendengar nama pelampung (kapal feri) selalu membuat mereka sebal. Aku menyeringai, perhatian penghuni balai bambu kembali ke kartu-kartu, atau kembali asyik menatap aliran Kapuas yang mengkilat disinari cahaya bulan malam sebelas. Kerlip lampu kota Pontianak terlihat indah, ditingkahi kerlip lampu perahu yang melintas.
“Aku tahu, itu pasti gadis itu.” Sayangnya ada yang tidak, Andi sudah merapat, menatap mengancam, sisa sebal kutinggal tadi siang, “Kau ceritakan padaku. Lengkap, tanpa tersisa satu detik pun. Atau aku akan bilang ke yang lain tentang si sendu menawan itu.”

***
Baiklah, baiklah, aku akan menceritakannya.
“Aku memegang tangannya—“
“Alamak?” Andi berseru kencang, meski segera menutup mulut, khawatir orang-orang di balai bambu jadi ikutan tertarik mendengar percakapan kami, “Kau pegang tangannya? Kau pegang tangannya, Borno?” Andi berbisik memastikan.
Aku mengangguk.
“Kau berani sekali, Kawan. Bukankah kalau Ibu kau tahu kau memegang tangan gadis lain, bisa dibunuh kau.” Andi berbisik.
“Itu tidak disengaja, bodoh.” Aku melotot, enak saja, aku tidak akan merendahkan kehormatan wanita dengan memegang-megangnya, “Gadis itu menarik tuas gas terlalu cepat, sepit tersentak, tubuhnya terlempar, topi kuningnya terlepas, daripada dia jatuh ke sungai, aku reflek menyambar tangannya.”
“Ck, ck, ck….” Andi sekarang menggeleng-gelengkan kepala, “Dia hampir jatuh, kau sambar, kau selamatkan, kau pegang tangannya? Romantis sekali. Lantas dia bilang apa, Kawan?”
Aku tertawa, romantis apanya, “Gadis itu tidak bilang apa-apa, wajahnya pias, butuh beberapa menit duduk di papan melintang menenangkan diri.”
“Lantas?” Andi mendesak tidak sabaran, menebak-nebak, “Kau bujuk dia, kau bilang tidak apa-apa? Membesarkan hatinya, ada aku di sini, tenang saja, dik. Begitukah? Kemudian dia terpesona, bilang betapa jantan dan baik hati, Bang Borno.”
Aku menyikut lengan Andi, “Kau pikir itu sinetron? Atau telenovela yang sering Ibu kau tonton? Aku tidak bilang apa-apa, aku hanya duduk memperhatikan.”
“Justeru itu, kenapa kau tidak melakukannya?” Andi mengangkat bahu, menatapku seperti pesakitan bodoh yang melewatkan kesempatan emas.
“Bagaimana mungkin aku bergombal ria setelah kejadian itu. Aku malu sudah memegang tangannya. Itu dosa, tahu!” Aku mendengus sebal.
“Bukankah kau sendiri yang bilang itu tidak disengaja.” Andi menepuk dahi, “Kenapa mesti malu? Apa pula dosanya?”
Susah memang bercerita pada Andi. Tidak diceritakan dia bersungut-sungut marah, diceritakan, dia malah sibuk merecoki jalan cerita, seolah-olah punya versi dan imajinasi sendiri.
“Lantas?”
“Hanya itu. Cerita selesai.” Aku kesal melambaikan tangan.
“Astaga, kau jangan berbohong, Borno. Dua jam aku menunggu di dermaga Istana Kadariah, dua jam. Bagaimana mungkin hanya sesi pendek belajar sepit itu saja? Kalian pasti beranjang-sana sepanjang Kapuas.” Andi menatapku tidak percaya.
Aku tertawa, mengangkat bahu, cerita sudah selesai.
“Ya sudahlah, aku payah kali mendengarnya. Dosa? Malu? Ada-ada saja. Berdiam diri saja? Itu baru dosa, malu-malu-in” Andi menyambar gitar butut, jreng-jreng bersenandung.
Aku menyumpahi Andi, dengarlah, dia sekarang asyik menyanyikan lagu lawas itu—yang jaman Bapaknya dulu bujang amat terkenal.

“Haryati/ Dikau mawar asuhan rembulan/
Haryati/ Dikau gemilang seni pujaan/
Dosakah hamba mimpi berkasih dengan tuan/
Ujung jarimu kicium mesra tadi malam/
Dosakah hamba memuja dikau dalam mimpi/
Hanya dalam mimpi/
Haryati/ Dikau mawar di taman khayalku/
Tak mungkin/ Tuan terpetik daku/
Walaupun demikian nasibku/
Namun aku bahagia seribu satu malam//”

Peserta main kartu di balai bambu bertepuk-tangan saat Andi mengakhiri lagu serak-serak fals-nya (walau pongahnya agak menyebalkan, harus kuakui, urusan menyanyi, Andi beda-beda tipislah dengan Broery Pesolima). Aku menguap, memutuskan beranjak pulang. Haryati? Alamak, meski tadi siang ber-sepit ria dengannya hampir dua jam, aku belum tahu juga siapa nama gadis itu? Masa’ iya namanya Haryati?

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s