Episode 16: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

“Kau sebenarnya kemari buat menyampaikan pesan Bapak kau atau memenuhi rasa penasaran kau?” Aku menyeringai, duduk menjuntai, menatap kerlip Kapuas.
“Dua-dua-nya-lah, Kawan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlewati.” Andi balas menyeringai. Baru pukul tujuh malam, dia sudah semangat datang ke rumah. Awalnya bilang kalau Bapaknya sudah pulang dari Entikong tadi pagi, aku memotong cerita, bertanya mana ole-ole-nya, Andi menggaruk kepala, bilang dia saja tidak dapat buah tangan, yang ada Bapaknya bawa buntut satu keluarga. Keluarga calon besan dari Kuching, Serawak itu ikut ke Pontianak, plesir, ingin melihat negeri tetangga. “Kau diminta Bapak-ku mengantar mereka berkeliling kota dengan sepit. Itu pasti lebih eksotis dibanding keliling dengan mobil.” Demikian pesan Bapak Andi tersampaikan.

Aku bertanya beberapa detail, kapan? Dijemput dimana? Mereka berapa jumlahnya? Mau kemana saja? Andi menjawab, besok pukul sembilan pagi lepas, dijemput di salah-satu lobi hotel dekat bioskop kota, jumlahnya bertujuh, terserah kau mau dibawa kemana, kau tanya sendiri, rombongan itu mau dibawa kemana. Aku terdiam sejenak, “Lantas bagaimana aku membawa mereka dari hotel ke dermaga sepit?” Andi ikut terdiam sejenak, “Mana kutahu, mungkin kita bisa minta antar mobil hotel.” Aku menepuk dahi, kenapa aku yang harus repot, kenapa tidak Bapak Andi saja yang mengantar. Andi ikut menepuk dahi, tidak bisa, Bapaknya besok mau ke Ketapang menumpang kapal cepat. “Kita harusnya tersanjung mendapat tugas negara seperti ini, Borno. Demikian petuah Bapak-ku.” Aku tertawa, tugas negara apanya? “Kata Bapak-ku kalau kita bisa membuat turis negeri jiran itu terkesan, maka kita bisa mengangkat harkat martabat bangsa, agar mereka berhenti bilang Indon, berhenti mendaku-daku budaya orang lain, dan sebagainya, dan seterusnya.” Aku menimpuk Andi dengan gumpalan kertas. Soal omong-kosong, Bapak Andi itu nomor satu, coba kalau dia yang datang langsung malam ini, aku bisa gombal diceramahi setengah jam.

Baru habis setarikan nafas dari pesan Bapaknya, Andi sudah membuka topik pembicaraan baru, “Bagaimana si sendu menawan, Kawan? Sudah tahu namanya?”
Aku menggeleng jengkel. Baru malam lalu kami membahasnya, malam sebelumnya, malam sebelumnya lagi, tidak bosan-bosan dia, atau jangan-jangan prospek malamku bulan-bulan mendatang hanya dihabiskan membahas soal ini dengan Andi.
“Kau belum tahu namanya? Ayolah, sudah seminggu tidak ada kemajuan, ibarat relay sandiwara radio di RRI, terlalu lama, bertele-tele bisa membuat pendengarnya bosan. Mereka cepat jengkel dengan pemeran utama yang pemalu, apalagi malu-maluin.”
Aku tertawa, menimpuk Andi dengan gumpalan kertas, siapa pula yang pemalu? Aku hanya belum tahu caranya, tidak pernah ada yang mengajari soal mengajak wanita berkenalan. Lagipula siapa suruh dia ikut penasaran dengan cerita ini.
“Kau hari ini melihatnya di dermaga kayu?” Andi mengganti pertanyaan—yang lebih mudah kujawab.
Aku menggeleng.
“Tidak lihat? Kemana dia?” Andi bergegas bertanya.
“Mana kutahu. Hari ini minggu, libur, hanya pengemudi sepit atau montir amatiran macam kau yang tetap kerja. Boleh jadi dia plesir ke hulu kota, berbendi-bendi.” Aku mengangkat bahu.
Andi manggut-manggut, “Berarti tidak ada cerita lanjutannya, nih?”
Aku menggeleng.
“Ya sudahlah, kalau begitu, aku pamit pulang.” Andi santai bangkit dari duduknya. Aku menyumpahinya, lihat, dia kemarin menuduhku sengaja membuat kawan dekat mati penasaran. Malam ini dia datang hanya karena perlu dengan cerita itu, tidak ada cerita, maka tidak penting lagi bertemu denganku. Macam itu disebut kawan dekat.
“Ingat besok jam sembilan lepas, Borno. Kau jemput mereka di hotel bintang tiga, tuh.” Andi santai melambaikan tangan. Aku untuk ketiga kali menimpuknya dengan gulungan kertas—ternyata kertas-kertas yang gagal kutulisi dengan puisi cinta ini ada gunanya.

***
Bangun pagi, yang pertama kali kupikirkan bukan soal pesan Bapak Andi, itu bisa diurus nanti-nanti setelah aku menyelesaikan satu rit. Aku memikirkan antrian sepit nomor tiga belas. Sepitku sengaja melaju lambat agar pas tiba di dermaga kayu, sudah seminggu terakhir aku memutuskan menikmati godaan ibu-ibu tetangga yang sedang beraktivitas di sepanjang Kapuas, malah tiga hari lalu aku mampir di rumah papan Pak Sihol, nyengir menyerahkan bungkus plastik berisi sabun, “Buat ganti yang hanyut, Pak.” Dia menatapku galak, “Taruh saja di depan.” Aku ijin pamit, maaf soal beberapa hari lalu. “Ya, terimakasih.” Pak Sihol tetap berseru galak.
Ternyata aku terlalu lambat, sepitku keduluan Pak Tua beberapa detik.
“Ayolah, Pak, kita bertukar tempat.” Aku memohon.
“Kau ini aneh sekali, Borno.” Pak Tua menyelidik dari ujung rambut ke ujung kaki, “Beberapa hari lalu kau menyuruhku menyalip antrian sepit kau, sekarang minta kau duluan. Ada apa sebenarnya dengan, sebentar, satu, dua, tiga…. Tiga belas, ya, ada apa dengan antrian sepit nomor tiga belas?”
“Tidak ada apa-apa, Pak. Pelaris saja.” Aku mengangkat bahu, “Setiap kali aku antri di nomor ini, uang yang ditaruh penumpang di dasar perahu lebih banyak, Pak.” Aku mengarang penjelasan bodoh.
Pak Tua (tentu saja) tertawa, “Ya sudahlah, terserah kau saja, silahkan maju sini.”
Aku memasang ‘wajah berterima-kasih minggu ini’. Menggeser kemudi ke kiri, sepitku bergerak lembut melewati sepit Pak Tua.
“Karena kupikir kau juga macam tentara barak jaga, tidak akan meninggalkan buritan perahu walau ditembaki musuh, jadi mari Borno, aku hendak menyeduh kopi di warung pisang.” Pak Tua tanpa perlu menunggu jawabanku, sudah santai menambatkan sepit, melangkah ke dermaga, bersenandung, ““Oh, jatuh cinta/bisa membuat pusing kepala/bisa membuat orang gila/oh, jatuh cinta…”
Aku menahan tawa, hendak jahil mencipratkan air ke punggung Pak Tua—urung, pastilah Pak Tua asal bernyanyi, dia tidak berniat menyindirku, nanti justeru dia jadi tahu semua urusan.

Dan setengah jam menunggu, aku menjadi tegang. Matahari meninggi, cerah membungkus kota, permukaan Kapuas terlihat cokelat mengkilat. Lalu-lalang sepit, perahu nelayan dan kapal lain semakin ramai, dermaga kayu dipenuhi para komuter, penyeberang sungai. Gadis itu akhirnya terlihat melangkah masuk dermaga, aku menelan ludah, dadaku berdegup lebih kencang, hari ini dia memakai kaos berwarna putih, celana training senada, dan topi kuning, rambut hitamnya tergerai di bahu. Tidak membawa tas penuh buku. Aku mengelap peluh di dahi, mau pakai apa saja, ia selalu terlihat menawan. Tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu, menatap kaos hitam yang kukenakan, celana jeans butut, sendal jepit, handuk kecil di pundak, astaga?
“Maju lagi satu sepit!” Petugas timer berteriak.
Kepalaku terangkat, belum, masih ada sepit Jauhari di depanku, aku cepat menghitung ulang barisan calon penumpang di steher. Satu penumpang, dua, tiga, kecemasanku tentang pakaian berganti cepat dengan, celaka, gadis itu pasti naik sepit di depanku, bukan antrian sepit nomor tiga belas.
“Ada apa, Borno?” Jauhari, sepit di depanku, yang bersiap menggerakkan tuas kemudi menoleh padaku yang mengaduh tertahan barusan.
“Tidak apa-apa, Bang.” Aku menelan ludah kecewa, “Tidak apa-apa.” Berkata pelan, menggeleng perlahan.
“Woi, satu sepit lagi maju!” Petugas timer meneriaki antrian.
Jauhari menoleh sejenak ke arah steher, menoleh lagi padaku, “Kau mau duluan, Borno?”
“Tidak apa-apa, Bang. Abang duluan saja.” Ekspresi wajahku justeru sebaliknya bilang iya-mengenaskan. Sudah kurencanakan matang-matang, kutunggu semalaman, ternyata gagal. Tetapi bagaimanalah? Dulu saja aku menyalip Jauhari yang sedang ke kakus, urusannya panjang, tidak mungkin aku akan memintanya mengalah seperti yang kulakukan pada Pak Tua.
“Kau duluan, Borno. Silahkan.” Jauhari ternyata berpikir sebaliknya, urung menggerakkan tuas kemudi, mengurangi gerungan gas motor tempel.
Rasa-rasanya aku hendak loncat ke perahu Jauhari, memeluknya, bilang terima kasih. Keburu petugas timer sudah macam pegang toa, berteriak lagi, “SATU SEPIT!” Aku bergegas merapat. “Kau menyalip antrian, Borno.” Petugas menatapku galak. “Tidak apa-apa, Oom. Sudah ijin Bang Jau.” Petugas bingung, menoleh ke sepit Jauhari. “Terserahlah, tapi ingat ya, aku tidak mau ikut-ikut kalau kalian ribut lagi.” Petugas mempersilahkan penumpang berloncatan naik.
Aku tersenyum riang, nah, satu penumpang naik, dua, tiga, hanya soal waktu gadis itu akan naik ke sepitku.
“Selamat pagi, wah, ketemu lagi dengan Bang Borno.” Gadis itu menyapaku.
Aku sudah meneguhkan diri sejak semalam—tepatnya sejak seminggu terakhir. Kali ini aku berusaha tersenyum, “Iya ya, kebetulan sekali.” Hampir tersedak di ujung kalimat, tetapi kalimat itu sukses meluncur keluar. Gadis itu duduk di kursi papan melintang paling belakang.
Berbeda dengan oplet yang kursi panjangnya berhadap-hadapan, bus yang semua kursi menghadap ke depan, tidak ada aturan resmi naik sepit, kalian mau menghadap ke depan, menghadap ke buritan, terserah-serah penumpang. Alamak, meski hanya di punggungi, aku tetap merasa bahagia. “Jalan Borno, jangan bengong macam ke-surupan si pontianak.” Petugas berteriak. Aku bergegas menggerakkan kemudi, sepitku meluncur ke tengah Kapuas.

Dan kejutan, setengah perjalanan menyeberangi Kapuas, di tengah suara gemeretuk motor tempel, kecipak air mengenai lambung perahu, gadis itu tiba-tiba membalik badannya, tersenyum. Oh Ibu, aku yang sejak tadi memberanikan hati untuk mulai menyapa, memulai pembicaraan (tentu saja) tertegun. Gadis itu memulai percakapan.
“Susah tak mengemudikan sepit, Bang?” Dia bertanya.
“Eh? Apa?” Aku berseru, bukan sekadar berusaha mengalahkan suara motor tempel, tetapi itu lebih karena intuisi mendasar pertahanan manusia saat gugup.
“Susah tak mengemudikan sepit?” Dia mengulang.
“Oh, itu, ini mesin motor pembakaran dalam, bahasa sananya disebut internal combustion engine. Kalau kapal-kapal besar macam feri, pengangkut kontainer, kapal pesiar, tanker, kebanyakan menggunakan mesin torak, turbin uap, turbin elektrik, turbin gas, atau bahkan turbin nuklir.”
“Wah, abang nampak paham sekali soal mesin.”
Aku menyeringai, menyeka pelipis, “Oh, itu, sebenarnya tidak terlalu paham. Sederhana saja, motor tempel hanya terdiri dari mesin penggerak, transmisi dan propeler. Aku baca dari buku panduan-nya.”
Bebalnye. Kau tak menjawab pertanyaannya.” Ibu-ibu berseragam PNS yang duduk di dekat gadis itu tiba-tiba memotong—itulah resiko ngobrol di sepit, semua orang bisa mendengar, karena bicaranya harus berseru-seru kencang. “Dia bertanya soal mudah tak mengemudikan sepit, bukan pelajaran tentang mesin. Kuping kau ditaruh di mana?”
Aku tersengih merah, gadis itu anggun menutup mulut menahan tawa.

Hanya demikian percakapanku, sisanya diambil alih ibu-ibu judes yang duduk di dekatnya. Mereka berbincang banyak hal, bertanya berangkat kerja? Gadis itu mengangguk. Di mana? Gadis itu menyebutkan salah-satu yayasan. Aku mencatat baik-baik dalam hati, siapa bilang tidak ada kemajuan? Pagi ini aku tahu dia bekerja di yayasan terkenal kota Pontianak, pengelola salah-satu sekolah swasta ternama dari tingkat TK hingga SMA kota kami. Tak mengapa bukan aku yang mengobrol, curi-curi pandang, melirik menatap raut wajahnya saat mendengarkan, saat menjawab, saat tertawa renyah, itu sungguh sudah lebih dari cukup. Sudah membuat pagiku terasa indah nian. Sayang, kesenangan itu terputus, dermaga seberang sudah dekat. Aku mengurangi kecepatan, satu menit kemudian, sepit merapat pelan ke steher.
“Terima kasih, Bang.” Gadis itu melangkah ke papan dermaga.
“Sama-sama.” Aku berusaha memasang wajah selurus mungkin—ibu-ibu berseragam PNS itu masih memelototiku, seperti melihat laki-laki bajingan saja (demikian kesimpulanku).

***
Andi marah-marah. Gara-gara kebanyakan melamun dirubung senyum-senyum di dermaga kayu, aku terlambat menjemput rombongan keluarga calon besan di hotel bintang tiga dekat bioskop kota.
“Jam sembilan lepas, Borno. Sudah kubilang dua kali tadi malam.” Dia bersungut-sungut.
“Lah, sembilan lewat 59 menit juga sembilan lepas, bukan?” Aku tidak mau disalahkan.
Andi menyikut lenganku, menunjuk lobi hotel, yang hendak dijemput terlihat celingukan. Andi menyapa mereka—sepertinya sudah pernah dikenalkan Bapak Andi. Aku ikut bersalaman. Jumlah mereka tujuh, separuh setengah baya, sisanya kanak-kanak, tiga perempuan, empat laki-laki. Tidak ada mobil hotel yang bisa mengantar, Andi men-carter oplet menuju dermaga sepit.
“Hari ini Bapak-Ibu hendak melihat apa?” Andi meniru-niru gaya guide profesional, bertanya sopan pada keluarga calon besan, “Wisata kuliner, wisata belanja atau wisata sejarah?”
Sebenarnya rombongan dari Kuching, Malaysia itu menyenangkan, mereka sepanjang oplet bersenda-gurau, menikmati benar melancong. Yang membuat rumit itu Andi, dia kadang rusuh sendiri. Saat salah-satu rombongan itu bilang ingin lihat bangunan-bangunan tua bersejarah di Pontianak, Andi rusuh komat-kamit berpikir, berbisik-bisik, “Kita kemana, Borno? Ke pabrik karet tua? Atau ke rumah walet berhantu itu saja?” Aku menyikut lengan Andi, dia pikir ada yang mau dekat-dekat ke pabrik bau atau mengunjungi bangunan lengang berbentuk segiempat tinggi. Istana Kadariah, itu tujuan pertama pilihanku. Teringat kemarin aku mengantar Cik Tulani ke sana, sepertinya itu pilihan tepat. Rombongan itu mengangguk-angguk, aku menghidupkan motor tempel, menggerakkan tuas kemudi, sepitku segera meluncur meninggalkan dermaga.

Aku tak tahu pasti, apakah Istana Kadariah adalah istana yang dulu dibangun pemuda gagah turunan raja-raja, tempat takluknya si seram pontianak itu, yang aku tahu, istana yang terletak persis di tepi sungai Kapuas itu terlihat megah dan menarik, bersisian dengan Masjid Jami, mesjid tertua kota ini. Di sekitar Istana terdapat kampung peranakan asli penduduk Pontianak—meski kumuh dan miskin. Ada beberapa kerabat Cik Tulani tinggal di sana, juga kerabat jauh almarhum Bapak.

Rombongan itu berseru-seru senang saat melihat atap istana dari kejauhan. Aku mendengus jumawa ke arah Andi, lihat, pilihanku tepat, bukan? Hanya kita-kita saja yang setiap hari melewatinya merasa bangunan ini jamak adanya, bagi turis, istana ini amat menarik. Aku mengurangi kecepatan, sepit merapat anggun ke salah-satu dermaga semi permanen dekat Istana Kadariah dan Masjid Jami.
“Kau tidak ikut masuk ke dalam?” Andi bertanya, melihatku yang masih duduk di buritan meski rombongan calon keluarga besan sudah berloncatan turun.
“Tidak, kau sajalah yang menemani. Kau lebih pandai jadi guide.” Aku tertawa kecil, sedikit gugup.
“Ayolah, setidaknya aku tidak sendirian bersama mereka.” Andi memaksa.
Aku menggeleng. Tidak mau.
“Ya sudahlah, kau tunggu di sini. Jangan kemana-mana.” Andi berlalu, tidak memperhatikan tampang gugupku.
Bukan itu alasan utamaku tidak ikut masuk ke halaman Istana, aku sedang gugup, kenapa aku gugup? Lihatlah, tidak jauh dari sepitku, tertambat boat fiberglass berwarna putih itu. Kepalaku berpikir cepat, kalau ada boat ini, jangan-jangan gadis itu ada di sekitar sini? Dadaku berdetak lebih kencang.
Apakah ini akan menjadi kebetulan (yang benar-benar kebetulan) menyenangkan?

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s