Episode 15: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

Lantas? Kemudian? Lalu? Apalagi? Lanjutkan? Teruskan? Ayolah? Selanjutnya? Andi, sohib kentalku, macam kami waktu kecil dulu yang suka main sinonim kata, merubungku dengan kata yang bermakna sama: buruan teruskan ceritanya. Dulu salah-satu dari kami akan memulai dengan celetukan, misalnya kata ‘benci’, setelah itu sambil mandi, bertelanjang dada, mengambang di dekat rumah papan, aku dan Andi bergantian menyebut sinonim kata benci, semisal: sebal, marah, mual, jijik, dan sebagainya. Namanya juga permainan anak-anak, tidak ber-sinonim benar tidak masalah—sejatinya kami malah tidak tahu permainan itu disebut ‘sinonim’ kata. Asal jangan sebut ‘tidak suka’, itu jelas bukan sinonim, syarat utamanya harus satu kata. Siapa yang kehabisan ide, maka dia sambil berenang harus menggendong yang menang berhuluan ke toko kelontong Koh Acung, membelikan gula-gula atau minuman karton.
“Lah, die malah asyik melamun menatap kerlip sampan.” Andi sebal memukul bahuku, “Lantas bagaimana urusan ang pao itu tadi? Kau terima amplopnya, tidak? Gadis China itu kenal kau?”
“Sudah selesai.” Aku menguap.
“Sudah selesai apanya?” Andi melipat dahi.
“Ya, sudah selesai ceritanya.”
Bualnye, kau baru saja mulai bercerita, di mana selesainya?” Wajah Andi macam nangka mengkal robek kulitnya, tak sedap dipandang mata, “Bagaimana dengan gadis sendu menawan itu? Kau sempat berkenalan, tidak? Siapa namanya?”
Berkenalan? Aku tertawa prihatin, menggeleng.
“Kau tidak berkenalan dengannya? Lantas bagaimana dia tahu nama kau?” Andi macam investigator atau wartawan gosip kelas berat terus bertanya, tidak sabaran.
Aku menggeleng lagi, mengusap dahi. Memang sudah selesai ceritanya—atau tepatnya aku kesulitan memindahkan kejadian tadi sore dalam bentuk kata-kata pada Andi. Rasa-rasanya itu momen paling berbeda dua puluh tahun hidupku. Lepas terperangah karena gadis itu menegurku, wajahnya yang sumringah ditimpa cahaya senja, rambut panjangnya mengkilat berpadan serasi dengan syal kuning itu, Ibu, anakmu mati kutu, hanya bisa gelagapan, eh, eh.
“Oh, Abang Borno sudah dapat, ya?” Gadis itu masih tersenyum, menyimpul lesung pipi, melihat tanganku yang memegang amplop merah, dilem rapat dan tanpa tertera nama.
Aku menyeringai—boleh jadi mirip seringai kuda, mengangguk, bukan, maksudku menggeleng, tetapi ini memang amplop ang-pao, mengangguk lagi salah-tingkah. “Baiklah, semoga bermanfaat ang pao-nya, Bang.” Dan gadis itu sudah berpindah ke tempat lain.
“Se-ben-tar.” Aku meneguk ludah—takjub pada diri sendiri akhirnya bisa mengeluarkan suara.
“Ya, ada apa Bang?” Gadis itu menoleh.
“Eh, dari mana kau tahu namaku?” Aku ragu-ragu bertanya.
“Tahulah, Bang.” Gadis itu tertawa renyah, “Tak ada penumpang sepit yang sering bolak-balik di steher nih tidak kenal Abang Borno.”
Mukaku bersemu merah, wah, apakah aku seterkenal itu?
“Masih ingat kertas berfoto besar dan berlaminating itu? Nah, aku kenal nama abang dari sana.” Gadis itu menjelaskan, mengangguk sekali lagi tanda permisi, lantas wassalam melangkah ke arah anak-anak berseragam SD, meninggalkanku yang sekarang merutuki Bang Togar, urung berjumawa diri.
“Woi?” Beralih ke balai bambu gang tepian Kapuas, Andi sudah mencengkeram kaosku, “Kau ini sejak beberapa hari lalu sengaja benar membuat kawan dekat mati penasaran, hah? Itu lebih kejam dari pembunuhan sungguhan, tahu!”
Aku menoleh, tersadarkan dari lamunan. Malam semakin larut, perahu yang melintasi Kapuas tinggal satu-dua, lampu-lampu rumah mulai dipadamkan, penghuninya berangkat tidur. Langit mendung, menutup bintang dan sabit bulan. Aku menguap lebar lagi, mengantuk.
“Ayolah, lantas bagaimana dengan gadis sendu menawan itu? Kau berkenalan dengannya, tidak? Apa namanya secantik wajahnya?” Andi merengek—dengan tampang mengancam.

***

Nama? Seminggu berlalu, aku tidak punya ide sama sekali siapa nama gadis itu. Seminggu berlalu, yang kutahu dan kuhafal mati adalah aktivitas gadis itu. Tiba di dermaga kayu pukul 07.45, menyeberang. Dia selalu berpakaian rapi, Senin-Rabu-Jum’at akan mengenakan baju kurung, kemeja khas China, motif daerah lengkap dengan payung tradisionalnya, Selasa-Rabu-Sabtu mengenakan pakaian kasual, rok lewat lutut, syal, sweater, dan sejenisnya dengan payung hitam di tangan. Di pundak tersampir tas dipenuhi buku. Aku mereka-reka, nampaknya gadis ini adalah guru SD.

Lepas kasus surat merah jambu tertinggal dan kejadian mengejar boat fiberglass yang berakhir antiklimaks, aku tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba begitu terobsesi padanya. Kalian tahu, karena aku tidak berani secara langsung menatapnya, maka aku ingin berlama-lama mencuri pandang. Karena aku tidak kunjung berani menegur (apalagi mengajak berkenalan), maka aku ingin sekadar berada dekat-dekat dengannya. Entah perasaan seperti apa yang memenuhi kepala, rasanya menyenangkan jika aku bisa melihatnya setiap hari, ekspresi wajahnya saat melangkah ke atas sepit, senyum manisnya saat di sapa orang-orang sekitar, atau raut mukanya saat berbaris diantrian atau saat duduk di atas sepit.

Tentu saja, untuk memenuhi obsesi bodohku itu, hanya tersedia satu-satunya cara: gadis itu naik ke sepit-ku saat hendak menyebrang berangkat atau pulang. Maka dimulailah tingkah bodoh, turunan langsung dari obsesi bodoh. Bangun pagi-pagi, aku sengaja berlama-lama merapat ke dermaga kayu (mengabaikan seruan menggoda tetangga tepian gang Kapuas), menurut hitunganku, antrian sepit nomor dua belas atau tiga belas memiliki kans terbesar kebagian jatah merapat pukul 07.45 teng.

Hari pertama aku keliru, terlalu cepat, sepitku sudah keburu dipanggil petugas timer, padahal gadis itu baru berjalan kaki masuk ke dermaga kayu, sepitku penuh, gadis itu masih berdiri di antrian. Aku mendengus kecewa, “Jalan, Borno. Sudah sesak sepit kau. Kau pagi-pagi sudah melamun.” Petugas timer menepuk ujung perahu. Tidak apalah, setidaknya aku sempat melihatnya pagi ini datang dengan payung merah di tangan.

Hari kedua, lagi-lagi aku keliru, sudah tepat sebenarnya, sepitku merapat persis pukul 07.45, dadaku sudah deg-deg-an melihat penumpang satu per satu duduk rapi di atas papan melintang. “Penuh, Borno. Jalanlah kau. Woi, satu sepit maju lagi.” Petugas timer meneriaki sepit berikut. Aku menelan ludah kecewa, gadis itu persis berdiri paling depan di antrian penumpang dermaga, tipis sekali, dia harus naik sepit berikutnya. Sebelum aku menarik tuas gas, menggeser kemudi ke kiri, aku memberanikan diri menatap wajah gadis itu, dan dia yang sebelumnya lamat-lamat memperhatikan penumpang, ikut menatapku, kami bersitatap sejenak, gadis itu mengangguk, tersenyum manis. Menerima senyuman itu, aku macam hendak terjatuh dari buritan sepit, buru-buru menjalankan sepit sebelum terlihat merah-malu wajahku. “Borno, kau tidak terlalu cepat narik sepitnya?” Salah-satu penumpang bertanya cemas lima menit kemudian saat sepit meluncur membelah Kapuas.

Hari ketiga, sial, aku lagi-lagi keliru, gadis itu persis orang terakhir yang naik sepit di depanku. Padahal sejak semalaman sudah tak sabar, menunggu dengan dada berdegup, melirik cemas antrian penumpang di dermaga, harap-harap cemas. “Woi, Borno, kau majulah.” Petugas timer berteriak. Hari itu, gadis itu bahkan tidak sempat melihatku, sudah duduk rapi di sepit yang melaju cepat meninggalkan buih di permukaan Kapuas.

Hari keempat, “Kau ini aneh sekali, datang lebih pagi kenapa kau minta antrian di belakangku?” Pak Tua melipat dahi, meski akhirnya mengalah memutar sepitnya, melangkahi perahuku.
“Tak apa. Pak Tua lebih senior, jadi silahkan.” Aku menggaruk rambut, berusaha bertingkah senormal mungkin—mengingat reputasi Pak Tua yang pandai membaca gestur wajah, repot kalau dia tahu alasan sebenarnya.
Pak Tua tertawa, melambaikan tangan, menambatkan sepit, “Kau sudah sarapan? Mau kutraktir pisang pontianak sambil menyeduh kopi?”
Aku menggeleng, menunjuk kantong bekal dari Ibu.
“Oh-iya, lupa, Saijah selalu menyiapkan sarapan di rumah. Tapi ayolah, duduk di warung, masih lama antrian kita, paling cepat setengah jam, daripada kau bengong di buritan sepit.”
Aku menggeleng, aku tidak akan meninggalkan buritan perahu hingga pukul 07.45, nanti sepit-ku disalip siapalah. Pak Tua tertawa lagi, melangkah santai ke dermaga sambil bersenandung, “Oh, masa muda/semua terlihat indah/meski hati dirundung gelisah/oh, masa muda…” Aku menyeringai dalam hati—jangan-jangan Pak Tua tahu?

Akhirnya perhitunganku tepat, bayangkan butuh empat hari empat malam—kalau kalian naik pesawat, memutari bumi, maka itu berarti sudah dua kali memutari bumi—hingga semua skenario bodoh ini berhasil. “Borno, kau maju!” Petugas timer berteriak. Aku tidak perlu diteriaki dua kali, melajukan sepit ke bibir steher. Penumpang berloncatan, dan salah-satunya adalah gadis itu, hari ini dia mengenakan kemeja bermotif cerah, dia melangkah persisi ke atas sepit lantas sambil tersenyum menyapaku, “Pagi, Bang.” Alamak, aku hanya bisa manggut-manggut macam lele kehabisan air, “Pa-gi.” Gadis itu sudah duduk persis di papan kayu paling dekat denganku, mengembangkan payung hitam. Kalian tahu, hanya itu percakapan yang terjadi, sisanya hanya gemeretuk mesin dan kecipak air Kapuas mengenai lambung perahu. Padahal tidak hanya sekali, berkali-kali, berkali-kali aku hendak memulai percakapan, paginya indah ya, bagaimana perayaan imlek-nya, mau kemana, motif bajunya bagus, loh, dan banyak ide di kepala (mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang norak), tetapi suaraku terlanjur hilang di kerongkongan. Penumpang lain sibuk bercakap, tertawa, satu bahkan menoleh, “Woi, bang, lamban sekali laju sepit kau nih, nanti aku keburu telat ngabsen. Dipotong pulalah gajiku.” Aku menyeringai.

Baiklah, tidak mengapa, mungkin di kesempatan berikutnya aku akan berani menyapa, bertanya siapa namanya, begitu bujukku saat sepit merapat di dermaga seberang, penumpang satu-persatu turun. “Terima-kasih.” Gadis itu mengangguk padaku sebelum berlalu, dan aku yang sudah bersiap memasang seringai terbaik, malah terbatuk kecil, buru-buru balas mengangguk, “Sama-sama.”
“Wah, kau sudah bercakap-cakap dengan si cantik itu, Borno?” Petugas timer seberang memasang wajah ingin tahu sekejap punggung gadis itu ditelan keramaian dermaga, aku mengangkat bahu, berlagak. “Bukan main, kupikir kau samalah dengan kebanyakan bujang lapuk. Pecundang.” Petugas timer terbahak. Ah, andaikata petugas timer tahu betapa gentarnya aku untuk sekadar menyapa padahal jarak kami hanya terpisah setengah selangkah.

Hari kelima, perhitunganku kembali tepat, “Selamat pagi. Wah, dua hari terakhir selalu ketemu Bang Borno.” Gadis itu menyapaku, tersenyum sehangat matahari pagi, dan aku seperti Raja di papan catur kena skak-mat, cuma bereaksi kerjap-kerjap mata. Sama berkerjap-kerjapnya ketika gadis itu melangkah turun, lantas bilang, “Semoga besok ketemuan lagi, Bang. Terima kasih.”
“Kau kelilipan?” Demikian sungut Andi malamnya, saat aku menceritakan kejadian. “Astaga, Kawan, itu kesempatan besar sekali. Gadis itu menegur kau duluan, malah ingat itu hari kedua berturut-turut dia naik sepit kau, kenapa kau tidak tersenyum gagah lantas bilang, ‘ah-iya, dua hari kita selalu ketemu, ya. Kebetulan yang menyenangkan’. Dan akan mengalirlah percakapan kau dengannya macam aliran sungai Kapuas.” Aku menyeringai, menatap Andi sebal, coba dia sendiri, pasti lebih parah. Lagipula omong-kosong kebetulan, semuanya kurencanakan sejak pagi, berlambat-lambat sarapan, memanaskan sepit lebih lama, bersantai-santai menuju dermaga kayu, mengincar antrian sepit nomor tiga belas.

Hari keenam, gagal total. Antrian sepitku sudah tepat, semuanya sudah pas, nasib, pukul 07.30 datanglah rombongan turis entah dari mana, jepret sana, jepret sini, mereka berdelapan belas, membuat perhitunganku meleset dua perahu, tinggallah aku menatap steher sambil menjalankan sepit, melihat gadis itu baru memasuki gerbang dermaga. “Semoga besok ketemuan lagi, Bang.” Teringat kalimatnya kemarin, aku menghela nafas kecewa, ternyata tidak.

Hari ketujuh, sudah kutunggu-tunggu sejak pagi, persis pukul 07.45 tidak muncul pula parasnya. Kemana? Apa dia sakit? Tidak berangkat ke sekolah—mengajar seperti asumsiku selama ini? Saat aku menimbang-nimbang penjelasan yang masuk akal, muncullah Cik Tulani, minta diantar ke Istana Kadariah. “Ayolah, aku ada janji dengan kerabat di sana, kau antarlah dulu Cik kau ini.” Aku menelan ludah, bagaimana ini? Tidak mungkin aku menolak permintaan Cik Tulani, meski dia menyebalkan sejak aku kecil, dia sahabat dekat almarhum Bapak. “Kenapa kau malah bengong, Borno. Ayo, bergegas, aku sudah telat. Tenang saja, kau kembali ke sini juga tetap sepi dermaga kayu. Ini hari minggu. Libur.” Nah, itu dia penjelasan kenapa gadis yang kutunggu-tunggu tidak datang, ini hari libur. Aku tersenyum riang pada Cik Tulani, “Ayolah, Cik. Jangan tanya hanya Istana Kadariah, mau ke hulu Kapuas pun ku antar Cik hari ini.” Gantian Cik Tulani yang menatapku curiga, “Kau tidak salah makan obat, Borno?” Aku tertawa riang—menemukan penjelasan yang menghibur hati itu memang menyenangkan.

Nama? Jangan tanya, seminggu berlalu, aku tetap tidak punya ide sama sekali siapa nama gadis itu.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s