Episode 14: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Pertemuan Pertama

Kupikir adegan kejar-kejaran dalam film eksen itu bohongan, ternyata dalam dunia nyataku itu terjadi. Malah lebih seru, aku melakukannya dengan sepit, bukan mobil, di atas sungai, bukan di jalanan kota. Lepas mendengar kabar kalau petugas timer seberang mencariku terkait gadis berbaju kurung kuning itu, ku-tambah gas motor tempel hingga pol, perahu kayuku meluncur cepat di atas permukaan Kapuas. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan gadis berbaju kurung kuning itu, lantas bilang, apakah surat bersampul merah ini miliknya yang tertinggal di sepit—mana sempat aku berpikir sejatinya apa yang kupikirkan itu berlebihan, hanya surat tertinggal, tidak lebih tidak kurang. Kalaupun milik dia, lantas kenapa? Dia boleh jadi sekedar bilang terima-kasih, the end, cerita selesai.

Aku menyalip sepit Jupri yang penuh penumpang, payung-payung penumpangnya terkembang, matahari terik membakar ubun-ubun. “Woi, Borno, kau dapat carteran? Kosong melompong sepit kau?” Jupri berteriak, aku hanya melambaikan tangan, tidak menjawab, berkonsentrasi pada tuas kemudi. Hitungan menit saja, sepitku sudah merapat di antrian dermaga kayu. Menambatkan sepit, loncat ke dermaga, berlari-lari kecil menemui petugas timer yang sibuk membantu menggotong sofa rotan.
“Di mana?” Aku bertanya, sedikit tersengal.
“Di mana apanya?” Petugas yang mengedan mengangkat sofa menoleh, tidak cepat paham.
“Gadis berbaju kurung kuning itu.” Aku menyeka dahi.
“Oh, si cantik itu. Sabar sebentar, Kawan. Berat kali sofa ini, macam ada yang lagi duduk di atasnya. Atau jangan-jangan memang ada jin yang lagi duduk. Katanya kalau mindahin kursi suka begitu.” Petugas timer yang suka kisah-kisah usang nan gombal itu dengan wajah memerah karena ke-berat-an berkata santai—menganggap sama sekali tidak penting dan mendesak urusanku. Satu kursi, dua kursi, tiga kursi, tiga kali bolak-balik mengangkut kursi rotan, dia tidak memedulikanku yang berdiri tak sabaran.
“Di mana gadis itu, Bang?” Aku menggaruk kepala, sebal.
“Ah kau ini, bantu aku bawa sofa dululah.” Petugas melotot, menunjuk sisa dua kursi.
Baiklah, aku melangkah ke tumpukan sofa, patah-patah ikut memindahkan sofa terakhir ke atas sepit. Pengemudi sepit merapikan posisi sofa rotan agar seimbang. Perahu penuh, petugas timer menepuk-nepuk ujung perahu, “Kau jalanlah, Cik. Pemilik sofa menyusul dengan sepit berikutnya. Kalau dia tak bayar sesuai kesepakatan, kau ambil saja salah-satu sofa-nya.” Tertawa.
“Di mana gadis itu?” Aku mensejajari langkah petugas, lima detik berikutnya.
“Kau nih, macam pembaca cerbung roman di koran saja, merengut tak sabaran. Tunggu aku membersihkan celana dulu lah.” Dia menepuk-nepuk debu sisa mengangkat kursi yang menempel. “Nah, beres sudah. Kau tanya apa tadi? Ahiya, si cantik berpayung merah itu. Aku tadi lihat dia di dermaga ini. Lantas ada boat putih merapat di steher nih, gadis itu naik bersama beberapa anak kecil berseragam putih-merah, pergi, wassalam.”
Boat putih?”
“Ye, bagus sekali kapal itu, macam kapal pesiar kecik saja.”
“Abang tak tanya kemana perginya gadis itu?”
“Astaga, Borno, macam kau sendiri saja punya nyali menyapa gadis secantik itu.” Petugas timer tertawa, “Kau tahu, kebanyakan bujang lapuk kota Pontianak nih, bukan sekadar sungkan dan malu memulai tegur sapa, bahkan sekadar melirik dan menatap gadis secantik itu saja sudah kebat-kebit hati. Lagipula, hanya sebentar saja gadis itu dan kerumunan anak sekolahan menunggu, langsung naik ke boat. Mana sempat bertanya, dan mana aku tahu dia hendak pergi kemana, arahnya berhuluan Kapuas.”

Aku tidak sempat bersungut-sungut pada petugas timer. Berhuluan? Baiklah, tidak lazim ada kapal boat putih seperti deskripsi petugas timer di sepanjang Kapuas. Kalau perahu kayu macam sepit, meski sudah dibilang warna perahunya biru (misalnya), tetap susah mencari yang mana persisnya, karena ada banyak sepit berwarna biru. Aku menghidupkan mesin sepit, menggerakkan tuas kemudi ke kanan, sepitku segera meninggalkan dermaga kayu, “Woi, mau kemana lagi Borno? Sibuk sekali kau mondar-mandir macam pejabat perairan Pontianak?” Jupri, yang perahu sepitnya baru saja merapat meneriakiku. Aku lagi-lagi sekadar melambaikan tangan.

Sepanjang tepian Kapuas, mataku awas memperhatikan. Siapa tahu boat putih itu terlihat bersandar. Sudah satu kilometer melawan arus sungai, tidak kunjung nampak. Aku menyeka peluh di dahi, walau matahari bersiap menghujam di barat sana, teriknya masih terasa. Sudah melintasi jembatan beton Kapuas, tetap tak nampak, sudah coba balik lagi ke hilir, tetap tidak bersua, balik lagi melintas jembatan beton. Aku menghela nafas, teringat kalau sejak Bang Togar menyerahkan sepit ini, aku belum pernah menambah solarnya, jangan-jangan nanti habis.

Baiklah, aku memutuskan merapat ke salah-satu steher (dermaga kayu) dekat jembatan beton. Ada beberapa perahu nelayan bersandar, ada dua orang dewasa sedang memperbaiki jaring. Aku bertanya apakah mereka melihat ada boat fiberglass berwarna putih melintas?
“Rasa-rasanya memang ada tadi boat putih melintas.” Salah-satu dari mereka sambil terus merajut lubang jaring manggut-manggut, menoleh ke temannya, “Kau lihat tadi?”
“Iya, rasa-rasanya memang ada.” Temannya bersepakat.
“Ke arah mana?” Aku mendesak tidak sabaran.
“Ke hilir.” Yang satu menunjuk ke hilir.
“Ke hulu.” Yang satu menunjuk ke hulu, berbarengan.
Aku menepuk dahi, berusaha meyakinkah mana yang benar, dua-duanya merasa paling benar, malah saling mengotot mereka. Aku mendengus, sudahlah, kembali naik ke atas sepit. Adalah dua kali sambil terus berhuluan aku bertanya ke orang-orang di tepian Kapuas soal boat putih.
“Oh, perahu bagus itu, bukan? Ada, tadi meluncur cepat ke hulu.” Salah-satu remaja tanggung yang sedang mandi sekaligus main bola air bersama teman-temannya menjawab.
“Kau yakin?”
“Iya benar, cepat sekali perahu merah itu melesat.” Remaja itu menyelam sebentar.
Boat putih, bukan merah.” Aku memastikan dengan suara tajam saat kepala remaja berbadan hitam legam itu kembali muncul.
“Oh iya, iya, putih.” Remaja itu menyeka wajahnya yang basah. Inilah susahnya kalau kalian bertanya di sepanjang tepian Kapuas, atau sebenarnya di kota Pontianak. Mereka baik hati menjawab, tapi apakah jawaban itu cocok dengan yang ditanyakan belum tentu, sekena-kenanya saja dijawab. Saat aku sekali lagi berusaha meyakinkan apa mereka sungguh-sungguh melihat boat itu atau tidak, salah-satu remaja tanggung yang asyik mengambang berceletuk, “Bukan yang itu boat putihnya, Kak?”
Aku menoleh, langsung berseru, benar, itu boat fiberglass putih macam kapal pesiar kecil seperti yang diceritakan petugas timer. Aku segera menghidupkan motor tempel, menggerakkan tuas kemudi, sepitku meluncur cepat meninggalkan remaja tanggung.

Tidak level memang, membandingkan tenaga mesin sepit dan boat fiberglass, tetapi aku diuntungkan dengan kapal itu tidak melaju penuh dan jarakku tertinggal hanya seratusan meter, aku menambah kecepatan hingga pol. Sepitku meliuk melintasi dua perahu nelayan, lincah memotong sepit lain yang penuh penumpang entah hendak kemana. Lima menit, jarakku masih lima puluh meter, aku setengah berdiri di buritan BORNEO, mendongak melihat ke arah boat, tidak salah lagi, di sana ada beberapa anak berseragam merah-putih, dan alamak, dadaku berdetak lebih kencang, gadis itu, meski belum jelas benar wajahnya, terlihat berdiri di salah-satu sisi kapal fiberglass, rambut panjangnya melambai, dia mengenakan syal kuning di leher, ikut melambai terkena terpaan angin. Bukan main.

Sepitku melewati kolong jembatan beton, jarakku tinggal tiga puluh meter. Rumah papan kumuh terlihat berderet di tepian Kapuas, gudang-gudang tinggi pabrik gulungan karet yang menguar bau hingga ke tengah Kapuas, ujung-ujung rumah burung walet, menara BTS, langit biru kemerah-merahan, awan tipis, matahari semakin tumbang di barat. Aku semakin bersemangat.

Sial, saat jarakku tinggal belasan meter, bersiap melambai untuk menarik perhatian nahkoda boat, BORNEO-ku mendadak terkentut-kentut, kecapatan berkurang drastis. Aku panik, menoleh ke arah motor tempel, apa yang salah? Dan sekejap, sebelum aku tahu penyebabnya, seperti pelari tangguh kehabisan tenaga, setelah batuk satu-dua, mesin sepitku lunglai mati, menyisakan gelembung di permukaan Kapuas yang semakin mengecil, perahuku sempurna berhenti, macam kulit kelapa yang teronggok diseret arus sungai. Aku menepuk dahi, sejak diserahkan Bang Togar, sepitku memang belum ditambah solar-nya. Tinggallah menatap nelangsa boat putih yang semakin menjauh, mendengus kecewa. Kalau di film-film eksen itu, jagoannya dengan mudah beralih kendaraan, menyita mobil lain, aku? Sepitku ditarik perahu nelayan ke SPBU terapung.

“Tak baik motor tempel kehabisan solar, Kawan. Harusnya kau tahu itu.” Ijong, penjaga pom bensin menggeleng-geleng, “Cepat rusak mesinnya.”
Aku tidak selera berkomentar. Sudah setengah jam berlalu, entah di mana sekarang kapal fiberglass itu. Lepas mengisi solar, aku menuju gontai ke dermaga kayu. Tidak apalah, besok-lusa masih ada waktu, menepuk-nepuk surat bersampul merah di saku kemeja, surat penting ini pasti bisa kukembalikan ke pemiliknya. Sudah pukul empat sore, dermaga kayu sedang ramai-ramainya penumpang, lebih baik aku narik, habis uangku untuk membayar solar pada Ijong.

***

Saat aku sudah menutup buku soal boat fiberglass itu untuk sore ini, bersiap merapat ke antrian sepit, mataku sempurna membulat melihat kapal itu tertambat anggun di steher. Apa aku tidak salah lihat? Aku terperanjat sekejap, meneguk ludah dua kejap kemudian. Kukejar dia dari ujung kota ke ujung kota, sampai kehabisan solar, ternyata malah terparkir rapi di dekat antrian perahu tempel. Kalau begitu, gadis berbaju kuning itu ada di sekitaran sini, aku semangat loncat dari sepit. Berlari-lari kecil di dermaga kayu, menyibak pengemudi sepit yang tertawa riang satu sama lain, “Ah, kau hampir terlambat, Kawan” Salah satu pengemudi meneriakiku. “Bergegas, Borno. Nanti kau kehabisan.” Jupri menepuk bahuku.

Aku tidak memperhatikan, mana peduli aku dengan traktiran makan, pembagian sembako atau apalah, kehabisan juga tidak masalah. Ada hal penting yang harus kuurus, mataku melihat kesana-kemari. Nah, itu anak-anak sekolahnya, sedang sibuk membagikan sesuatu, di mana gadis itu? Petugas timer terlihat sedang membuka sesuatu di tangannya, aku mendekat.
“Kau sudah dapat ang-pao-nya, Borno?” Petugas timer berkata riang, menyapa lebih dulu sebelum aku sempat bertanya apa dia melihat gadis yang kucari-cari sejak tadi pagi.
“Ang-pao?” Dahiku terlipat.
“Kau sudah dapat amplop ang-pao-nya?” Petugas bertanya lagi, menunjukkan amplop berwarna merah, tanpa tertera nama di tangannya.

Aku mematung, mulutku mengunci seiring dengan otakku berpikir cepat. Menoleh ke arah Jupri dan kawan pengemudi lain, amplop yang sama sedang mereka pegang, sibuk menghitung isinya, lima lembar lima ribuan. Petugas timer asyik mengantongi uang, menggumpal-gumpal amplop merah, lantas melemparkannya ke kotak sampah. Aku menyeka peluh di dahi, patah-patah mengeluarkan amplop di saku kemeja. Sama persis. Amplop ini sama dengan ang-pao yang sedang dibagi-bagikan anak-anak SD. Lihatlah, di pojok dermaga, gadis itu (yang mengenakan sweater hijau muda bersyal kuning), tersenyum manis membagikan amplop yang sama pada pengemudi sepit, anak-anak dan pedagang sekitaran dermaga.

Alamak, aku menggaruk kepala, sepertinya aku hanya benar satu hal, surat bersampul merah ini benar milik gadis itu. Sisanya keliru. Aku pikir surat ini spesial, benda penting yang tertinggal di sepitku, ternyata hanya amplop ang pao. Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya? Bukankah waktu aku kecil, Koh Acung sering memberiku ang pao? Sama persis merah amplopnya, yang membedakan, bentuk dan bahan amplop yang kupegang lebih baik.
“Woi, simpan dulu ang-pao-nya. Satu sepit maju!” Petugas timer berteriak, memutus bengongku, dan keriangan pengemudi sepit. Penumpang sudah antri di tepi steher.
Gadis itu masih tersenyum manis dengan sisa amplop merah di tangan, beranjak kesana-kemari membagikan ang pao. Apakah aku akan mendekatinya, lantas bilang, “Kau ketinggalan surat ini di sepitku?” Aku meneguk ludah, tidak, seluruh rasa penasaran, antusiasme, imajinasi dan sebagainya itu bagai spiritus dituangkan di pasir, menguap musnah. Gadis itu dikerubuti anak-anak SD sekarang, lima langkah dariku, masih dengan sisa amplop merah di tangan. Bukankah imlek dua hari lagi? Aku menepuk jidat, tentu saja, salah-satu amplop ini terjatuh dari tas gadis itu. Boleh jadi anak-anak SD ini yatim-piatu dari sekolah manalah, dia hendak mengajak berbagi.

Aku keliru, ternyata amplop merah itu tidak penting. Aku menghela nafas panjang, balik kanan, hendak melangkah gontai menuju sepit, menunggu antrian.
“Abang Borno mau terima ang pao, juga?” Suara merdu itu menyapa.
Alamak, tubuhku membeku. Seketika.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s