Episode 13: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Pertemuan Pertama

Aku memulai hari berikutnya dengan semangat, bukan semata-mata penasaran soal surat bersampul merah, di-lem rapat dan tanpa tertera nama yang tidak berhasil dihilangkan setelah tidur semalam, tetapi lebih karena di tiang rumah papan kami tertambat si BORNEO. Dengan demikian, aku tidak perlu lagi berjalan kaki ke dermaga kayu melintasi gang sempit tepian Kapuas—dan menghadapi berbagai model pertanyaan dan teguran jahil tetangga.

“Kau lupa bawa kantong asoi-nya, Borno.” Kepala Ibu melongok dari jendela.
Aku menepuk jidat, sudah sengaja pura-pura lupa, “Ye lah, aku bawa.” Balik kanan, turun dari sepit, kembali masuk rumah, menyambar kantong plastik, bekal yang disiapkan Ibu di atas meja. Kemarin lalu, aku sudah bilang pada Ibu, “Borno bisa makan di warung dermaga, Bu. Ini menambah kesibukan dini hari Ibu saja, cukup sarapan, tak usah pula siapkan bekal.” Ibu menyeringai, menyibak uban di dahi, “Ah, sama saja masak sedikit atau banyak, sekalian saja masak untuk siang.” Aku mengeluh dalam hati (hanya berani dalam hati), itu dia poin-nya, dengan demikian menu sarapan dan makan siangku jadi sama melulu. Apalagi kalau Ibu juga masak sekaligus untuk makan malam. “Itu masakan kesukaan kau, Borno. Nanti malam tinggal dihangatkan lagi.” Tuh, benar kan.

Suara mesin tempel sepit baruku terdengar lembut, ku tambah gas-nya, menderu gagah, aku tersenyum. Setelah dipanaskan barang lima-enam menit, aku berteriak ke arah rumah, berseru pamit pada Ibu, mengucap salam, menggerakkan tuas kemudi, sepitku meluncur cepat meniti permukaan Kapuas, bukan main. Dari buritan sepit, aku santai menatap rumah-rumah kayu tetangga. Ternyata sama saja dengan melewati gang sempit, tetangga yang sedang beraktivitas di tepian Kapuas sekali melihatku tetap jahil menggoda.

“Lihat, lihat, ada Borno.” Salah-satu ibu-ibu yang sedang memandikan anaknya berseru-seru. Kepala-kepala tertoleh, serentak tertawa, melambaikan tangan macam menyambut Walikota lewat.
“Woi, gagah kali kau Borno.” Yang lain berseru, “Coba aku punya anak gadis, sudah kujodohkan.” Tertawa, “Dustanye, karena sekarang dia punya sepit kau bilang gagah, Jamilah. Kemarin kau bilang dia dan si anak Bugis itu bujang tak bermasa depan, hanya genjreng-genjreng main gitar.” Rekannya menimpali, tertawa. Demikian kupingku menangkap seruan-seruan itu, aku malas menanggapi, menambah kecepatan sepit. “Dasar anak tak tahu diuntung, kau membuat sabunku hanyut.” Aku kenal seruan galak barusan, Pak Sihol, sedang mandi di dekat rumah papannya. Sekilas aku melirik, Pak Sihol berusaha menggapai-gapai sabunnya yang mental dari bilah papan, lantas tenggelam terkena riak air dari sepitku. Aku nyengir, salah siapa pula sabunnya tidak diletakkan di tempat lebih tinggi. Semua penghuni tepian Kapuas tahu, setiap kali ada perahu lewat (apalagi melaju kencang), segera selamatkan apa saja di pinggiran sungai.

Sepuluh menit berlalu, sepitku merapat di antrian perahu. Sudah ada enam, aturan mainnya sederhana, siapa duluan, dia dapat paling depan, sisanya urut ke belakang. Dermaga kayu mulai dipenuhi satu-dua penumpang. “Pagi, Borno. Kau nampak semangat.” Petugas timer menyapa. Aku tertawa balas melambaikan tangan, teringat sesuatu, “Bang nanti titip tolong lihatin sesuatu.”
“Lihatin apa?” Petugas timer masih santai, sepit masih ngetem lima menitan.
“Surat merah itulah, yang abang temukan kemarin. Kalau bersua dengan dua orang gadis yang macam mahasiswa itu, atau gadis China berbaju kurung kuning itu, tanyakan apa dia kehilangan sesuatu.”
“Ye lah, nanti ku ingat-ingat.” Petugas timer mengangguk—meski ada ratusan penumpang setiap hari, karena pekerjaannya setiap detik ada di dermaga, petugas timer hafal wajah.

Aku sekarang duduk menunggu di buritan sepit, menoleh kesana-kemari tidak sabaran. Satu-dua pengemudi mengajak bercakap ringan tentang relay berita RRI, rencana pemilihan gubernur Kalimantan Barat, kemajuan pembangunan jembatan beton kedua dan sebagainyalah. Matahari pagi menerpa permukaan Kapuas, menyentuh wajah, hangat dan menyenangkan, aku meniru gaya Pak Tua yang bersidekap takjim, menunggu di antrian sepit nomor dua belas, di belakangku. Dia tertawa melihatku. Aku balas tertawa, sepertinya hari ini akan lancar-lancar saja.

Sial, ternyata hari itu tidak berjalan mulus seperti cerahnya pagi.
“Maju lagi satu sepit. Woi, satu sepit.” Petugas timer mulai berceloteh, pukul tujuh, penumpang mulai padat, pergerakan perahu tempel semakin cepat.
“Mana Jauhari tadi?” Pengemudi sepit di belakangku bertanya.
Aku mengangkat bahu. Giliran sepit Jauhari memang, persis di depanku.
“Maju lagi satu sepit!” Petugas timer berteriak lebih kencang, kepalanya mendongak, kenapa tidak ada yang segera mendekati bibir dermaga.
“Jauhari-nya pergi, Oom.” Pengemudi balas berteriak.
“Kemana?”
“Mana kami tahu.”
“Ya sudah, kau maju Borno.” Petugas timer tidak sabaran, menyuruhku menyalip antrian.
Aku menoleh ke pengemudi lain, mereka menunjuk bibir dermaga, bergegas sana. Aku menunjuk sepit Jauhari yang menyala mesinnya tapi entah dimana pengemudinya, pengemudi lain tetap menunjuk bibir dermaga, tidak apa-apa disalip. Sayangnya, saat aku sudah memajukan sepit, merapat, penumpang berloncatan mencari tempat duduk, Jauhari muncul, berlari-lari kecil.
“Kenapa kau menyalip antrian?” Langsung berseru marah.
Aku mengangkat bahu. Tadi disuruh petugas timer dan yang lain.
“Enak saja kau, balik ke belakang sana.” Jauhari dengan tampang merah membentak. Kacaulah urusan, petugas timer berusaha membujuk, “Hanya dilintas satu sepit, Jau, kau tadi juga pergi kemana? Penumpang lagi ramai-ramainya.”
“Peduli amat aku dari mana. Peraturan adalah peraturan. Lagipula kau tidak lihat sepitku menyala mesinnya?” Jauhari mengotot—ternyata dia dari jamban.
“Ayolah, masalah kecil jangan diperbesar. Kau jalan Borno, ya silahkan jalan.” Petugas timer menepuk bahu Jauhari. Yang ditepuk berkelit, dan astaga, dia mendorong balik petugas, “Mana boleh dia jalan. Kau jangan sembarangan!”

Keributan kecil itu dengan cepat membesar. Bang Togar dan pengemudi lain segera merelai. “Jangan mentang-mentang kau punya sepit bagus, Borno. Berani-beraninya kau menyalip antrian.” Jauhari yang berkelit dari leraian menendang ujung perahuku, penumpang yang sudah duduk rapi di sepitku berseru-seru—malah ada yang menjerit kaget. Dermaga kayu jadi rusuh sejenak.
“Lepaskan! Biar kupukul anak tak tahu aturan ini.” Jauhari berontak, hampir loncat ke dalam sepitku jika tidak segera didekap pengemudi lain.
“Lepaskan!”
“Sudah, woi, sudah.” Bang Togar mencengkeram kerah baju Jauhari. “Kau jalan, Borno. Segera.”
Aku meneguk ludah, patah-patah menggerakkan kemudi ke kiri. Lima belas detik, dermaga kayu sudah tertinggal sepuluh detik. Kerumunan orang mengendalikan Jauhari terlihat semakin ramai. Juga penumpang yang ikut menonton, berdesak-desakkan.
“Kenapa dia tadi?” Salah satu penumpang bertanya setelah sepit sudah meluncur cepat di tengah Kapuas.
“Tidak tahu, Bu.” Aku menggeleng, menyeka dahi. Sungguh aku tidak tahu kenapa Jauhari jadi amat marah hanya karena disalip antrian. Hariku dimulai dengan kejadian buruk.

***

Aku ngetem hampir satu jam di dermaga seberang, Pak Tua yang datang dengan perahu tempel penuh penumpang segera menghampiri lepas menambatkan sepitnya.

“Sudah tenang.” Pak Tua seperti biasa pandai membaca ekspresi wajah, menjelaskan sebelum ditanya, “Togar menyuruhnya menenangkan diri di warung pisang. Dengan tampang terlipat begitu, mana boleh Jauhari narik sepit, ngaco sedikit, bisa celaka seluruh penumpangnya. Kau tahu, Borno, anaknya yang delapan tahun sakit, demam berdarah, harus dirawat di rumah sakit. Jauhari pusing memikirkan perongkosan. Jadilah sensitif seperti itu.”

Aku mengangguk, akhirnya mengerti penyebab utamanya.
“Kau tidak usah cemas, besok-lusa dia juga sudah lupa. Lagipula bukan salah kau menyalip antrian. Petugas timer yang menyuruh, pengemudi lain menyepakati.” Pak Tua menepuk bahuku, lantas melangkah ke gerobak dorong mie ayam, “Perutku lapar, Borno. Kau tidak ikut?”
Aku menggeleng, menunjuk kantong asoi di ujung kaki, bekal dari Ibu.
“Ah, Saijah baik sekali menyiapkan bekal untukmu. Sejak gadis dulu aku sudah mengenalnya sebagai perempuan berhati cemerlang.”
Aku nyengir, berpikir sebaliknya, aroma mie ayam begitu menggoda.
Saat giliranku lagi tiba, ternyata rentetan kejadian menyebalkan itu belum berakhir.
“Woi, Borno, kau maju segera.” Petugas timer memanggil.
Aku segera merapatkan perahu, teringat sesuatu, bilang, “Abang ingat gadis China berbaju kurung kuning kemarin.”
“Oh itu, ye lah, si cantik itu?” Petugas timer tertawa, sambil membantu nenek-nenek tua naik ke sepit.
“Kalau abang lihat dia, aku hendak titip pesan.”
“Lah? Aku ini timer, Borno. Bukan mak comblang.” Petugas terbahak, lantas meniru gaya pendatang dari Jakarta dia berkata, “Hari gini, kau masih titip-titip salam. Percuma saja tampang gagah Melayu kau ini kalau berkenalan dan mengajak bicara gadis saja macam kucing dimandikan.”
“Bukan itu maksudku, Bang.” Aku merutuki petugas, bergegas menjelaskan soal surat bersampul merah, “Siapa tahu surat itu penting, Bang. Kasihan kan kalau dia mencari-cari.”
Perahuku baru terisi tiga orang, masih menunggu beberapa menit lagi, petugas timer itu manggut-manggut, “Oh soal itu, baiklah. Nanti kubilang kalau ada pemuda baik hati tepian Kapuas yang menemukan surat berharganya. Ah, jangan-jangan gadis itu macam dongeng-dongeng orang-tua kita dulu, Borno.”
Aku melipat dahi, maksudnya?
“Boleh jadi dia sedang menyiapkan pengumuman: barang siapa yang menemukan surat bersampul merah itu, andaikata dia wanita akan kujadikan saudara kandungku, andaikata dia lelaki akan kujadikan suamiku.” Petugas timer tertawa, mengusir rasa bosan menunggu penumpang yang belum muncul-muncul juga.

Aku nyengir, bertambah satu lagi pencinta kisah gombal.
Lima menit, akhirnya muncul penumpang yang membuat perahuku penuh. Bukan orang, tapi karung, ada lima karung goni berisi jambu biji merah. Tertatih-tatih petugas membantu pemilik karung memindahkannya ke dalam perahu, sepitku goyang kiri, goyang kanan. Aku mengeluh, kalau boleh memilih semua pengemudi sepit lebih suka membawa orang, bayarannya jelas satu orang sekian rupiah. Barang macam karung-karung ini kalau pemiliknya tega, malah hanya membayar ongkos dia saja, padahal menghabisi dua pertiga kapasitas sepit. Tetapi aku tidak bisa menolaknya, karung goni ini datang saat giliran sepitku. Nasib. Petugas timer setelah sekali lagi menggoda soal gadis cantik berbaju kurung kuning, mempersilahkanku jalan.

Baru setengah Kapuas, mendadak nenek-nenek yang duduk di haluan depan berseru-seru, “Ada barang tertinggal, Nak. Ada barang tertinggal. ”Eh? Aku reflek mengurangi kecepatan sepit, berusaha mendengar suara tua yang dikalahkan bising mesin dan kecipak air.
“Kembali ke dermaga, ada barangku yang tertinggal, Nak.”
Aku menepuk dahi, baiklah, tidak ada memang SOP tentang ini, kalau tega, pengemudi lain bisa saja tetap jalan, peduli amat dengan urusan penumpang. Tetapi aku kasihan, maka aku memutar kemudi, sepitku kembali meluncur ke dermaga kayu.
“Woi? Kau nyasar, Borno?” Dahi petugas timer terlipat, “Dermaganya di seberang sana, bukan di sini.” Aku menatapnya jengkel. Dan lebih jengkel lagi saat tahu Nenek itu tidak ingat di mana barangnya tinggal, bahkan lupa kalau dia sebenarnya ketinggalan apa.
“Jadi kita jalan lagi saja, Nek?” Aku berseru, segera memastikan—penumpang lain sudah ikutan sebal. Nenek itu mengangguk-angguk, “Ya, Nak. Jalan saja lagi.”

Sepitku meluncur kembali, kali ini tanpa masalah hingga seberang. Yang masalah, saat aku hendak memungut gumpalan uang kertas di dasar perahu, aku maklum saja kalau di kursi Nenek itu kosong, mungkin dia juga lupa meletakkan ongkos sepit. Yang membuatku marah, di kursi pemilik karung goni itu bukan gumplan uang yang tergeletak, tapi kantong plastik berisi jambu biji merah. Aku berseru jengkel, membuat Jupri, yang sedang menambat sepit di sebelahku tertoleh, “Ada apa, Borno?”
“Lihatlah ini, ada yang membayar ongkos dengan jambu biji. Dia pikir masih jaman barter apa.” Aku mengangkat kantong asoi tinggi-tinggi.
“Ah, aku dulu malah pernah dibayar dengan kerupuk lempam satu kantong. Sampai kebas mulutku menghabiskannya.” Jupri mentertawakan wajahku.
“Nah, kau tiba juga Borno.” Petugas timer memutus tawa Jupri, berdiri di tepi dermaga, “Kau segera ikut denganku ke warung. Ada hal penting.”
Ada apa? Gadis sendu menawan itu akhirnya datang? Aku bersorak dalam hati. Bergegas naik ke dermaga. Sedikit deg-deg-an –astaga, kenapa aku harus gugup?
Sial, ternyata bukan itu, di warung sudah menunggu Bang Togar, dua pengemudi lain dan tentu saja Jauhari yang mengamuk tadi pagi.
“Duduk, Borno.” Bang Togar menyuruhku mengambil posisi. Aku menurut.
“Nah, kau ingin bilang sesuatu pada Borno, Jau?” Bang Togar berkata tajam setelah sejenak lengang.
Jauhari mengangkat wajahnya, mengangguk.
“Saya minta maaf tadi pagi sudah menendang sepit kau.” Berkata datar.
Aku menelan ludah. Boleh jadi Jauhari terpaksa meminta maaf karena ada Bang Togar, ketua PPSKT yang selalu memaksa anggotanya kompak, saling menghargai dan membantu.
“Aku juga salah, Bang. Aku juga minta maaf.” Aku setelah terdiam sekejap, berusaha berkata setulus mungkin, “Seharusnya aku tidak menyalip sepit Bang Jau.”
Terdiam. Saling bersitatap, situasi ganjil menyelimuti warung pisang pontianak. Aku teringat sesuatu, benar juga, mengambil salah-satu kantong asoi yang kutenteng-tenteng dari sepit—kantong bekal dari Ibu dan kantong penuh jambu biji air.
“Buat si kecil, Bang.” Aku menjulurkan kantong plastik, “Diblender, katanya mujarab sekali biar demam berdarah si kecil cepat sembuh.”
Jauhari diam sejenak, ragu-ragu.
“Benar sekali, Jau.” Pengemudi lain berkata meyakinkan, “Jus jambu biji merah bagus buat penyakit demam berdarah. Kau jenius, Borno.”

Kali ini Jauhari tersenyum tipis, wajahnya terlihat sedikit menyenangkan, “Terima-kasih, Borno.”
Aku ikut tersenyum. Keributan tadi pagi sepertinya sudah tuntas, Jauhari diantar pengemudi lain pamit pulang. Lantas Bang Togar menepuk-nepuk bahuku, “Tidak percuma kau jadi cucu kakekmu, Borno. Amat perhatian, beli di mana kau jambu bijinya?” Aku tidak menjawab, hanya tertawa kecil.
“Kau ini aneh sekali, kutanya malah tertawa.” Bang Togar sebal.
Tawaku baru putus saat pengemudi sepit yang merapat ke dermaga meneriakiku.
“Borno, woi, Borno. Kau dicari petugas timer seberang. Apalah katanya tadi, ah-iya, gadis kuning, jualan baju, atau apalah tadi, sudah ditemukan, petugas pos, ketinggalan surat, ah, aku tadi buru-buru saat dia titip pesan.” Pengemudi itu berceloteh.
Astaga? Apa yang dia bilang, aku langsung menghidupkan mesin perahu.
“Kau mau kemana, hah? Antrian kau tinggal satu lagi, Borno. Kenapa kau pergi?” Bang Togar bertanya.
“Ada yang lebih penting, Bang.”

Dan saat dahi Bang Togar masih terlipat, sepitku sudah meluncur ke tengah Kapuas.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s