Episode 12: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Pertemuan Pertama

Surat bersampul merah, dilem rapi, tanpa tertera nama itu menjadi bahan percakapan yang seru hingga beberapa hari kemudian. Pertama-tama dengan sohib dekatku.
“Mana kulihat?” Andi, mengelap-elapkan tangannya yang belepotan oli, ingin tahu.
Aku melotot, “Mana bolehlah tangan kotor kau pegang surat ini?”
“Ye lah, ye lah, sebentar.” Andi nyengir sebal, melangkah ke keran air.

Sudah lepas pukul delapan malam, tadi kutunggu Andi di balai bambu pinggir gang sambil menenteng gitar butut, jadwal kami menyanyikan lagu-lagu Melayu sambil menatap seberang kerlap-kerlip Kapuas. Sudah setengah jam aku bernyanyi sendiri, anak-anak ada yang sempat jahil menembakkan pistol bambu berpuluru jambu itu (membuatku mengejar mereka barang lima menit), peserta pemain kartu tambah ramai (meneriakiku agar bergabung), si Andi Bugis belum datang juga. Kupikir dia ketiduran atau sakit gatal-gatal badannya kambuh (sebenarnya bukan sakit, kata dokter RSUD Pontianak, itu alergi makanan laut, betapa tidak beruntung si Andi, padahal di tepian Kapuas, jelas saja masakan paling top adalah seafood), ternyata Andi masih berkutat dengan motor besar gagah milik kepala kampung.
“Onderdilnya baru datang dari Surabaya, Kawan.” Andi menyeka dahi.
Aku mengangguk, memperhatikan betapa semangat dia, “Kau tidak istirahat sejak pagi?”
“Hanya untuk makan dan sembahyang.” Andi tertawa kecil.
Naga-naganya, kalau begitu Andi tidak akan mau kuajak ke balai bambu sekarang. Aku ikut nongkrong memperhatikan tangannya bekerja. Membongkar, memasang, membongkar, memasang lagi, tidak pas-pas juga posisinya. Wajah Andi kusut bercampur penasaran.
“Bapak kau kemana?” Aku bertanya mengisi bengong, maksud pertanyaan itu, kalau ada Bapak kau, sepertinya cepat saja memasang onderdil berbentuk kotak itu.
“Ke Entikong.”
“Bapak kau mau ke Malaysia?” Aku menyeringai, “Kapan berangkat? Tadi siang masih kulihat menumpang sepit.”
“Baru lepas maghrib, menumpang bus ke Kuching. Tidaklah, Ayah hanya ke perbatasan saja. Ada urusan kerabat, lamar-melamar, pernikahan macam itulah.”

Aku menyeringai, mengangguk-angguk. Bagi sebagian penduduk Pontianak, berpergian ke LN itu jamak. Kota ini hanya enam jam dari perbatasan Entikong-Tebedu, Indonesia-Malaysia. Kalian bisa dengan mudah menumpang kendaraan umum dari Pontianak ke Entikong, lantas melintasi perbatasan, kemudian naik kendaraan umum Malaysia menuju Kuching, ibukota negara bagian Serawak. Atau kalau mau lebih praktis lagi, menggunakan bus eksekutif kerjasama perusahaan tiga negara, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Satu tiket, satu kali bayar, bisa melintasi dua negara sekaligus, Pontianak – Kuching – Miri – Bandar Seri Begawan. Bus-nya keren dan besar, toiletnya kinclong dan wangi, sopirnya sopan dan rapi, dijamin nikmat sampai negeri tetangga.

Waktu aku kelas dua SMA, teman-teman sekolah sibuk bicara tentang berpergian ke LN. “Kau harus punya paspor. Tidak bisa bebas pergi begitu saja.” Teman yang pindahan dari Jawa setengah tidak percaya. “Ah, itu gampang, kau pinjam saja paspor orang lain, berangkat malam-malam, saat petugasnya mengantuk, dijamin tidak ketahuan.” Kawan satu itu, yang mengaku sudah dua kali melintas perbatasan meringankan masalah. “Kau juga harus bayar fiskal, satu juta.” Nampaknya teman pindahan dari Jawa ini cukup akademis dan tahu teorinya. “Entikong bebas fiskal, kawan. Tidak ada bedanya seperti kau mau Putussibau atau Ketapang, tinggal melenggang.” Kawan satu itu, memang lebih paham prakteknya—mematahkan semua argumen si akademisi.

Maka aku dan Andi setelah bertanya-tanya lebih detail, memberanikan diri mencoba. Liburan panjang, memecahkan tabungan setahun, berbohong pada Ibu, bilang ada kemping sekolah. Urusan ini membuat penasaran, bagaimana mungkin kalian tidak tergoda untuk pergi ke LN jika semudah itu urusannya? Aku meminjam paspor kawan satu sekolah itu, sedangkan Andi meminjam paspor Bapaknya—strategi bodoh yang membuat kami ketahuan.

Untuk menghemat uang, kami naik angkutan umum AKDP (antar kota dalam provinsi), putus-putus hingga gerbang perbatasan. Tiba sore, sengaja menunggu dinihari saat bus-bus besar datang, pelintas perbatasan sedang banyak-banyaknya, dan petugas masih menguap lebar. Benar juga, sepertinya pintu imigrasi keluar Indonesia akan terlewati dengan mudah, petugas hanya melihat sekelebat foto di paspor, mencocokkan dengan wajah si pelintas, lantas bersiap menerakan cop imigrasi. Sial, Andi kedapatan tangan, petugas imigrasi yang berjaga di loket adalah kerabat Bapaknya, cepat sekali dia mengenali foto Bapak Andi. Jadilah kami ditahan di kantor perbatasan selama 24 jam, hingga Bapak Andi dan Pak Tua datang menjemput—“Hanya kenakalan anak-anak, tidak lebih tidak kurang. Saya pastikan tidak akan terulang kembali.” Pak Tua membujuk, “Sekali lagi dia nekad, kubiarkan saja masuk Malaysia. Tahu rasa kalau sampai ketahuan imigresyen Diraja Malaysia, bisa di penjara berbulan-bulan, kena pecut rotan pula.” Kerabat Andi yang petugas itu menyimpul pertemuan. Kami dibebaskan.

“Kapan Bapak kau balek?” Aku bertanya lagi, Andi sepertinya menganggapku tidak ada di hadapan, asyik tenggelam melepas, memasang, melepas dan kembali memasang baut.
“Mungkin lusa, mungkin pula minggu depan. Calon istri sepupuku itu orang Serawak, mesti banyak yang diurus, bukan sekadar surat-menyurat.”
“Oh.” Aku mengangguk-angguk lagi. Surat-menyurat? Aku teringat kenapa tidak sabaran menunggu Andi datang ke balai bambu, juga tidak sabaran menyantroni rumahnya malam ini, bukankah aku ingin cerita kejadian tadi siang padanya.

Kumulai dengan pengalaman membawa penumpang pertama kali, “Aku gugup, kawan.” Ceritaku semangat. Andi hanya mengangkat kepala sejenak, tidak peduli. Aku mendengus kecewa. Kulanjutkan dengan surprise dari Bang Togar, musuh besarku, juga orang yang dibenci Andi, “Sepit itu indah sekali, Kawan. Suda diberi nama BORNEO.” Ceritaku menggebu-gebu. Andi hanya menyeringai, mengangguk-angguk ikut senang, sisa perhatiannya kembali ke motor besar. Aku mendengus sebal. Nah, kututup dengan cerita soal gadis berbaju kurung berwarna kuning, mengembangkan payung berwarna merah, rambut tergerai panjang, tinggi semampai, wajah sendu menawan, belum genap aku membagi deskripsi, kepala Andi sudah terdongak, matanya menyala seratus watt, tidak sabaran, “Apa kau bilang tadi, Borno? Sendu menawan?”

Aku tertawa, begitulah nasib bujang berumur dua puluh tahun macam kami ini. Sambil memetik gitar, sering berbincang tentang gadis-gadis, rupa seperti apa yang cantik dan diidam-idamkan. Dulu Andi pernah berpendapat, gadis yang cantik itu terlihat seperti menatap purnama, lembut-sendu nan menawan, seperti penyanyi top negeri Jiran. Sepertinya deskripsi sendu menawan membetot seluruh antusiasme Andi. Singkat cerita, setelah lebih banyak Andi yang bertanya dibanding aku menjawab, sampailah pada soal surat bersampul merah, di-lem rapat, tanpa tertera nama itu.
“Mana, sini kulihat.” Andi mengacungkan tangannya yang sudah bersih.
Aku menyuruhnya mengeringkan tangan.
“Ye lah, ye lah, banyak sekali mau kau.” Andi menggunakan ujung kaos.
Aku akhirnya menjulurkan surat itu.
Andi meraihnya tidak sabaran, memeriksa tepi-tepinya, ditimbang-timbang, di raba, diperiksa, diterawang, lantas tiba-tiba dicium sama dia.
“Buat apa kau cium?” Aku mendelik.
“Ya biar tahu aromanya, lah.” Andi sama sekali tidak merasa ganjil. “Ternyata tidak ada baunya.”
Aku tertawa, menimpuknya dengan baut kecil, dasar aneh, memangnya akan wangi sedap malam atau mawar begitu?
“Ini pastilah surat milik gadis sendu menawan berbaju kurung kuning itu.” Andi mematut-matut, “Dia duduk di haluan depan, bukan?”
“Ada dua gadis lain duduk di sana.” Aku mengingatkan—meski dua gadis berpakaian mahasiswa itu bergegas turun saat tahu aku yang mengemudikan sepit, boleh jadi karena bergegas, ada benda terjatuh dari tas mereka.
“Ah, pasti milik gadis berbaju kurung kuning itu, Kawan.” Andi mengotot, dia terlihat sekali seperti pencinta cerita pangeran membebaskan puteri dari menara sang naga, girang tidak kepalang jika bisa menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, apalagi kalau itu terkait bagian cinta antara pangeran dan puterinya.
“Entahlah.” Aku mengangkat bahu.
“Bukankah gadis itu membawa payung merah? Nah, cocok bukan dengan warna sampul surat ini?” Lihat, Andi tertawa senang dengan ide-nya. Aku ikut tertawa, baru saja kutebak perangainya, ternyata benar. Suka menghubungkan hal yang boleh jadi tidak masuk akal.
“Sepertinya, bukan surat dia.” Aku menggeleng.
“Pasti.” Sebaliknya, Andi yakin.
“Baiklah, kita lihat saja besok. Boleh jadi yang merasa kehilangan surat ini mencari ke dermaga kayu.” Aku mengulang kalimat Bang Togar tadi siang kepadaku, saat dia ikut memeriksa surat tertinggal itu.
Andi manggut-manggut sejenak, lantas tangannya bergerak.
“Hoi, apa yang mau kau lakukan?” Aku mencegah.
“Melihat isi surat lah? Biar tahu ini punya siapa.” Andi mengangkat bahu.
“Dasar tidak sopan.” Aku merampas surat itu, “Kau tidak boleh merobek bahkan mengintip dalamnya. Ini surat milik orang lain.”
“Apa salahnya, sekadar ingin tahu?”
“Jelas salah. Karena rasa ingin tahu kau itu tidak pada tempatnya. Berlebihan.” Aku menghardik, bergegas memasukkan surat itu ke saku baju. Baiklah, sebelum Andi memaksa—karena dia suka penasaran atas hal-hal seperti ini—lebih baik aku pamit pulang.
“Kau mau kemana?” Andi sekarang panik.
“Pulang, sudah larut, kau sibuk dengan motor, lebih baik aku tidur, besok pagi-pagi aku harus narik.”
“Tega kali kau, Borno.” Wajah Andi nelangsa.
“Tega apanya?”
“Hanya datang untuk mengganggu konsentrasiku memperbaiki motor. Sekarang setelah berhasil, kau pulang ke rumah, membiarkanku merana dirundung ingin tahu. Sinikan surat merah itu. Aku harus melihat isinya.” Andi berseru galak—nah, apa kubilang, benar kan. Aku bergegas keluar dari depan rumah sempit bengkel motornya, melambaikan tangan.

Andi berusaha mengejar. Aku lebih dulu menutup pintu pagar, kukunci dari luar, kuncinya kulempar sembarang ke bengkel, tertawa.

Surat ini bukan apa-apa. Andi saja yang rusuh. Tidak lebih tidak kurang barang yang tertinggal, apa yang Bang Togar katakan, “Lazimlah itu, semua pengemudi sepit pasti pernah menemukan barang tertinggal. Aku bahkan pernah ketinggalan satu kantong bubuk haram. Sial, hendak melapor malah ditangkap polisi, diperiksa semalaman. Untung seluruh pengemudi memberikan jaminan badan.”

Tadi siang aku juga sempat berpikir aneh seperti Andi, tapi lama-lama malu sendiri. Setelah dipikir-pikir, karena dua puluh tahun aku belum pernah jatuh cinta, bagian pertanyaan cinta sejati itu juga masih tetap menjadi misteri besar, boleh jadi aku serupa tak beda dengan Andi: pencinta cerita pangeran membebaskan puteri dari menara sang naga. Absurd. Ah, atau jangan-jangan, semua orang di dunia ini, sebenarnya pencinta cerita yang sama? Entahlah.

Bulan sabit terlihat elok di langit pontianak.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s