Episode 10: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Gang Di Tepian Kapuas

“Kau tahu, Borno, kapal-kapal besar macam feri, pengangkut kontainer, kapal pesiar, tanker, kebanyakan menggunakan mesin torak, turbin uap, turbin elektrik, turbin gas, atau bahkan turbin nuklir. Nah, sepit ini hanya pakai mesin motor pembakaran dalam, bahasa sananya disebut internal combustion engine.” Pak Tua duduk di buritan, menjelaskan dengan suara kencang mengalahkan gemeretuk suara mesin dan kecipak permukaan air.

Astaga? Aku memperbaiki anak rambut melambai yang mengenai mata, sepit meluncur kencang membelah Kapuas dipenuhi penumpang berseragam rapi hendak berangkat kerja. Tadi lima menit menunggu antrian, sepit Pak Tua merapat, setengah menit mengisi penumpang, setengah menit kemudian sepit sudah meluncur. Aku duduk di buritan, di sebelah Pak Tua mendengarkan pelajaran mengemudi sepit hari ini.

“Apa tadi?” Aku berseru.
“Apanya?” Pak Tua menyeringai, tetapi karena dia pandai membaca ekspresi wajah orang, tanpa ditanya dua kali Pak Tua menjelaskan, “Nah, kau ambil buku ini. Semua kalimat hebat yang kukatakan tadi ada di sini, termasuk internal combustion engine itu. Ini buku sakti bagi pemula seperti kau, kalau kau tidak malas membacanya, kau bisa tahu banyak soal mesin.” Tangan kanannya meraih buku kecil di saku, sudah kecoklatan dimakan usia, sementara tangan kiri Pak Tua sibuk menggerakkan kemudi sepit –berbentuk tuas menyambung ke mesin perahu.

Aku menyeringai, membaca sekilas judul buku: ‘Panduan Mesin Tempel’ dengan merk Jepangnya tercetak besar-besar di bawah.

“Tenang, ada bahasa Indonesia-nya. Aku tahu kau tak pandai cas-cis-cus, apalagi bahasa kampetai.” Pak Tua tertawa menggoda, tangannya sedetik melambai, sepit kami berpapasan dengan sepit lainnya yang penuh penumpang, satu-dua penumpangnya terlihat memakai payung warna-warni, terik matahari pagi menyengat permukaan Kapuas, karena sepit tidak berpenutup kepala, banyak penumpang yang sengaja membawa payung. Elok sekali melihat sepit berlalu-lalang dengan penumpang mengembangkan payung.

“Logika mesin tempel itu sederhana, Borno. Hanya terdiri dari mesin penggerak, transmisi dan propeler, itu saja. Kau lihat, kita mengemudikan sepit hanya geser kiri-geser kanan, tambah gas, kurangi gas. Nanti setelah beberapa rit, tanpa penumpang, kau boleh coba.” Pak Tua menunjuk tuas kemudi, terlihat santai menggerak-gerakkannya, sepit melaju stabil meski permukaan Kapuas sedikit bergelombang setelah berpapasan dengan sepit lain.

“Logika mengemudi sepit itu sama persis dengan mengemudi oplet, ah ya, kudengar kau pernah belajar mengemudi mobil dengan si Jaya? Bagaimana, mudah, kan?”
Aku mendengus, itu bukan belajar, itu penipuan.
Pak Tua tidak memperhatikan, melanjutkan, “Bahkan logika mengemudi sepit sama dengan mengemudikan kereta api atau pesawat terbang.”
Aku kali ini tertawa.
“Kenapa kau tertawa, hah?” Pak Tua menyeringai bingung.
“Dari mana Bapak tahu soal kereta api? Tidak ada rel kereta di seluruh Kalimantan, apalagi Pontianak?” Aku masih tertawa, kali ini terlepas dari fakta Pak Tua tahu banyak hal, sepertinya dia berlebihan.
“Kau keliru, Borno. Aku memang tidak pernah melihat kereta api, apalagi naik pesawat terbang, tetapi aku bisa membayangkannya, berimajinasi, pastilah sama logika mengemudikan benda-benda itu. Ah, kau seperti tidak tahu kata bijak itu: imajinasi jauh lebih penting dibanding pengetahuan.”
“Apanya yang sama? Satu di air, satu di darat, satu lagi di udara.” Mana aku tahu soal kata bijak itu, segera kalimat memotong Pak Tua.
“Lah? Tambah gas, kurangi gas, belok kiri, belok kanan, itu saja, bukan? Semua kendaraan hanya punya logika itu, kecuali pesawat, bisa naik-turun, selebihnya sama.” Pak Tua ikut tertawa, dia mulai mengurangai kecepatan sepit, dermaga kayu seberang Kapuas tinggal tiga puluh meter. “Percaya atau tidak, jika kau sesederhana itu membayangkan logika mengemudi, kau bahkan bisa menerbangkan pesawat tanpa perlu belajar, dan bukankah ada banyak kasus orang yang bisa seperti itu. Kebanyakan orang justeru sebaliknya, Borno, dibuat rumit, lebih banyak takut, ragu-ragu, jadilah dia hanya untuk belajar belok kiri, belok kanan butuh berminggu-minggu. Belajarlah mengemudi sepit atau hal lain seperti kau dulu belajar naik sepeda, tidak takut jatuh, tertawa riang.”

Aku menggaruk rambut, tidak berkomentar lagi, Pak Tua lembut menggerakkan tuas kemudi, membuat sepit seperti seekor angsa, merapat anggun ke dermaga. Petugas timer membantu penumpang yang berloncatan.

“Terima-kasih, Pak Tua. Dan kau, semoga lancar belajarnya, Borno.” Salah-satu ibu-ibu berseragam PNS pemkot Pontianak mengedipkan mata sebelum melangkah.
“Eh?” Aku mengangguk salah-tingkah. Bagaimana dia tahu namaku?
“Semua penumpang sepit kenal kau, Borno.” Pak Tua tertawa menggoda, mengarahkan sepit ke antrian, sepit lain bergegas merapat mengambil penumpang, “Ingat surat keputusan si Togar? Wajah kau terpampang besar-besar di kertas berlaminating.”

Aku merutuk dalam hati, sial. Pak Tua sekarang asyik meraih gumpalan uang di dasar perahu, melurusukannya, me-reken. Dan ternyata, panjang umur, orang yang kubenci itu tiba-tiba sudah berdiri di tepian dermaga kayu.

“Hah, apa yang kau kerjakan di sini, anak tak tahu diuntung?” Bang Togar tanpa tedeng aling-aling berseru galak.
Aku meneguk ludah, “Belajar nyetir sepit, Bang.”
“Nenek-nenek pikun juga tahu kau sedang belajar nyetir. Semua orang sibuk membicarakannya, di warung kopi, di gang, di jalanan, di dermaga ini, di mana-mana. Borno mau jadi pengemudi sepit, mereka bilang. Borno mau belajar mengemudi sepit, bisik mereka.” Bang Togar tidak berkedip, dengan gaya sok-berkuasanya menatapku, “Maksud aku, kenapa kau masih di perahu, segera naik.”

Aku menoleh pada Pak Tua, yang ditoleh mengangkat bahu, menunjuk dermaga dengan ujung bibir, kau naiklah, Borno, demikian maksud Pak Tua.

“Enak saja kau langsung belajar, duduk di buritan macam turis plesir. Tidak ada belajar-belajar hari ini sebelum kau membersihkan kakus. Lihat itu, kau siram bau pesingnya.” Bang Togar menunjuk jamban di dermaga kayu.

Lima belas menit bersitegang dengan Bang Togar, aku baru sadar kalau aku tidak punya amunisi untuk membantah penghinaannya. Ini ospek, masa orientasi, dan karena dia adalah ketua PPSKT, tidak ada tawar-menawar. Aku menatap ke pengemudi sepit lain, mereka nyengir, sibuk menonton dari atas buritan perahu masing-masing. Pak Tua hanya mengusap dahi, tidak berkomentar. Maka dengan hati mengkal, aku meraih ember dan sikat di ujung kaki Bang Togar. Baiklah, tidak mengapa, hanya disuruh membersihkan jamban.

Jadi begini, jamban di dermaga sepit dan juga di tepian Kapuas rata-rata super praktis. Bentuknya sih sama dengan jamban kebanyakan, kotak 1x2x2 meter, terbuat dari papan, bedanya kalau di rumah kalian ada mekanisme leher angsa, kakus model duduk, pipa-pipa ke septic tank, jamban di tepian Kapuas ya hanya lubang menganga ke bawah. Brol. Demikian nasib kotoran, langsung jatuh ke permukaan air—segera dikerubuti ikan-ikan kecil. Samanya dengan jamban umum lain, meski air melimpah, tinggal ciduk, tetap saja bau karena yang menggunakannya pemalas, tidak tahu tata-krama. Malas menyiram cipratan buang air kecil, lama-lama bau pesing juga.

Inilah yang sedang kubersihkan. Bang Togar sengaja benar menunggui aku, tangan bersidekap, menunjuk ini-itu, bilang kurang bersih, kurang lama, kurang kinclong, pengemudi lain menahan tawa. Aku terbungkuk-bungkuk terus menyikat. Adalah lima belas menit penghinaan Bang Togar, hingga dia puas, lantas balik kanan meninggalkanku yang menyeka keringat. Sial.

***
Hari ketiga belajar sepit.
“Sebaiknya kau tidak narik sepit kalau hati sedang gundah, Borno.” Pak Tua menggodaku sambil memperhatikan gerakan tanganku di tuas kemudi mengendalikan sepit.
“Apa?”
“Tampang kau memperlihatkannya, Borno. Kusut. Kau terlihat tidak bersemangat dengan pelajaran hari ini, mengemudikan sepit langsung untuk pertama kalinya.” Pak Tua mengangkat bahu.
Pagi ini kemajuan belajarku memang menyenangkan, Pak Tua memberikan kesempatan membawa sepitnya tanpa penumpang. Jadilah sejak setengah jam lalu aku membawa perahu tempel itu berhuluan, berhiliran, mondar-mandir, merasakan sensasi gerakan tuas kemudi, getaran mesin, aliran permukaan Kapuas, berputar, berbelok, bahkan tadi Pak Tua menyuruhku mendekati pelampung, riak air yang timbul dari kapal feri membuat sepit yang ku-kemudikan sedikit oleng. Hanya saja sejak setengah jam lalu aku berdiam diri, masygul berkonsentrasi atas tiga hal, kemudi sepit, permukaan Kapuas, dan orang yang kubenci itu.

“Kau jangan ambil hati soal Togar, dia memang biasa menyebalkan.” Pak Tua menghibur.
Apanya yang biasa, sudah tiga hari ini aku disuruh membersihkan jamban, tidak hanya satu, tapi dua jamban, di dua dermaga seberang-seberangan, tidak hanya pagi, tetapi juga siang dan sore hari. “Minum obat saja tiga kali, hah. Membersihkan jamban juga harus tiga kali sehari.” Bang Togar seperti biasa sok pintar, mencoba berlogika di atas logika. Mulutku bungkam, tidak bisa melawan.
“Kau tahu apa yang bisa dengan segera membuat tampang kusutmu mencair macam mentega lumer di penggorengan, sebal di hati pergi seperti kotoran disapu air?” Pak Tua bersidekap takjim, menikmati laju sepit membelah Kapuas—aku belum berani melajukan sepit dengan kecepatan, sepit sejak tadi melaju sedang dan konstan.
“Apa?” Aku menoleh.
“Sederhana, Borno. Kau bolak-balik sedikit saja hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika, wajah kau tak kusut lagi. Dijamin berhasil. Bahkan Togar malah mencak-mencak lihat kau tersenyum tulus saat dia meneriaki kau bergegas menyikat kakus.”
Sayangnya itu lebih mudah dikatakan, teori. Prakteknya susah. Persis saat sepit Pak Tua merapat—aku sekaligus belajar merapat ke dermaga, belum genap motor tempel kumatikan, Bang Togar sudah berseru kencang.

“Nah, akhirnya muncul juga kau, Pengkhianat.”
Aku meneguk ludah. Musnah sudah skenarioku untuk tersenyum.
“Dari mana saja kau, hah?”
“Belajar mengemudi sepit, Bang.” Aku menelan ludah.
“Astaga, lagi-lagi jawaban bodoh. Semua orang juga tahu. Yang aku tidak tahu kenapa kau tidak di sana.” Bang Togar menunjuk jamban.
“Sudah kubersihkan tadi, Bang.” Aku menyeringai.
“Tetapi belum kau cat. Lihat, kuas dan kaleng catnya.” Sudut mata Bang Togar menunjuk ujung kakinya, “Sana kau cat jamban itu jadi meriah, macam payung yang dipakai amoy saat menyeberang.”

Untuk kesekian kali aku seperti kerbau dicucuk hidung, terbungkuk membawa kaleng cat besar. Nasib, ternyata bukan hanya membersihkan jamban tiga kali sehari. Juga tidak hanya mengecat jamban. Selepas pekerjaan itu, dengan sisa cat di kaleng masih separuh, Bang Togar meneriakiku agar mengecat perahu tempelnya. Selepas itu, hari-hari berikutnya, dia malah menyuruhku menyikat perahunya. Membantu memperbaiki motor tempelnya, berlumuran oli. Dia benar-benar telak mem-plonco-ku, dan Pak Tua, Cik Tulani, Koh Acung, serta pengemudi lain tidak ada yang berdiri di belakangku membela.

“Kenapa kau tidak berhenti saja belajar mengemudi sepit?” Hanya Andi, teman sejawatku yang selalu membela. “Tidak penting juga kau pandai mengemudikan motor tempel.”

Aku menggeleng, aku sudah mengangguk pada permintaan Ibu, tidak mungkin aku mundur hanya gara-gara ulah Bang Togar. Malam temaram membungkus langit kota, bintang menghiasi. Dari jauh terdengar anak-anak yang bermain pistol-pistolan ruas bambu berpeluru buah jambu.

“Sebenarnya siapa sih dia? Mengurus istrinya saja tak becus. Kenapa kau tidak berani melawan? Bilang tidak, kau lemparkan kuasnya, kau banting kunci inggris, kau banting ember, apa saja.”

Aku tetap diam, menguap, entahlah, sepertinya aku memang membiarkan diri sendiri dizalimi Bang Togar. “Aku mengantuk, Kawan. Kita sambung besok malam saja. Sudahlah, kau tak usah ikut leteh memikirkan urusan ini. Toh besok sore aku selesai belajar mengemudi, Pak Tua besok mengijinkanku membawa sepit dengan penumpang. Jadi si Togar bukan masalah lagi.”

Andi hanya mendengus, “Kadang kau terlalu naif, Borno, terlalu menerima. Kalau aku, sudah sejak seminggu lalu kudorong dia jatuh ke Kapuas.”

Aku melambaikan tangan, beranjak pulang.

Apa kata Pak Tua dulu? Banyak urusan bisa diselesaikan hanya dengan membolak-balik sedikit saja hati kita. Sedikit saja, maka pengaruhnya bisa besar sekali. Itu benar, esoknya, tidak terbayangkan, aku justeru memeluk Bang Togar, bilang beribu terima-kasih.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s