Episode 1: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Prolog

Waktu kecil, enam tahun, aku suka memikirkan banyak hal yang aneh, yang boleh jadi menjelaskan tabiatku kelak saat dewasa, salah-satunya aku pernah sibuk memikirkan, jika kita buang air besar di hulu sungai Kapuas, kira-kira butuh berapa hari kotoran itu untuk tiba di muaranya, melintas di depan rumah papan terapung kami?

Aku bertanya pada Bapak, Bapak yang sedang membereskan jaring hanya tergelak, ‘Kau ada-ada saja Borno, urusan kotoran saja kau lamunkan’. Bapak bukannya menjawab, malah mentertawakan. Aku melipat ekspresi rasa ingin tahu, berganti kecewa, lantas bertanya pada Ibu. Ibu yang sedang memilah-milah hasil tangkapan semalam melotot, menyuruhku segera mengantar pesanan ikan tetangga, ‘Borno! Jangan tanya macam-macam, melihat tingkah kau satu macam saja ibu sudah pusing. Sana antar tiga pesanan!’ Sebelum Ibu meneriakiku dua kali, aku bergegas lari membawa tampuk tali bambu yang ikannya kait-mengkait seperti setangkai buah rambai, atau buah anggur (meski aku belum pernah sekalipun lihat buah anggur).

Tiba di rumah Koh Acung, pemilik toko kelontong yang menghadap persis sungai Kapuas, pemesan ikan pertama pagi ini, aku bertanya sambil menjulurkan setampuk ikan segar.
“Koh, berapa panjang Kapuas?”
“Mana aku tahu.” Koh Acung yang lagi sibuk melayani salah dua perahu merapat, nelayan yang berbelanja keperluan rumah setelah pulang melaut, tidak memedulikan.
“Koh pernah ke hulu Kapuas?” Aku mendesak.
“Haiya, kau tidak lihat aku sedang sibuk? Berapa liter tadi gulanya? Satu setengah? Kau jadi ambil karung goni berapa? Tiga? Ahiya, semuanya jadi….” Koh Acung menceracau rincian belanja dan harga, soal berhitung cepat, mencongak, tak ada yang mengalahkan Koh Acung. Kalkulator besar milik pedagang di perempatan kota saja kalah cepat. Terkenal sekali, misalnya kalian bawa selembar kertas belanjaan, jangan yang mudah, bawa saja yang rumit sekalian, misalnya tiga perempat bungkus kopi, satu tujuh perdua liter minyak tanah, enam butir baterei senter, tiga besar, dua kecil, satu sedang, enam per delapan liter gula, satu setengah botol spiritus, dua kotak korek api, sepuluh dua pertiga belas liter beras…. Haiya, tunggu sekejap, dan Koh Acung macam dukun Dayak sakti merapal mantera, menyebut angka tanpa salah. Sekian. Jangan protes dia salah hitung, atau perahu kalian tidak boleh merapat ke toko kelontongnya.

“Ayolah, Koh, bagaimana mungkin Koh tidak tahu.” Mendesak untuk dua hal, satu untuk pertanyaanku, satu lagi untuk setampuk ikan yang tidak dipedulikannya.
“Kau menganggu saja, Borno, bawa sana ikannya ke belakang, jangan ditaruh di atas etalase kaca mahalku.” Koh Acung melotot sambil mereken uang kembalian, mana peduli dua-dua urusanku pagi ini.
Transaksi usai. Beberapa awak nelayan melempar karung belanjaan ke perahu, mereka hitam legam nan kekar, khas nelayan dari pedalaman. Aku bersungut-sungut membawa ikan ke bagian belakang toko kelontong Koh Acung, istrinya sedang sibuk meniup-niup tungku, tertawa senang melihatku membawa ikan segar, menyerahkan uang. Masih sisa dua tampuk, aku harus bergegas.

Tiba di warung makan Cik Tulani, pertanyaan itu tetap memenuhi kepala. Kutanyakan pada Cik Tulani, dia yang sedang berpeluh membuka tutup panci gulainya menyeringai.
“Kau tanya apa tadi, hah?”
“Cik pernah ke hulu kapuas?”
“Belum pernah.”
“Cik tahu di mana hulu kapuas?”
“Tidak tahu.”
“Cik tahu, berapa lama naik kapal ke sana?”
“Hah, kalau kau bertanya soal racikan pindang ikan yang mantap, atau bagaimana membuat jengkol santan yang lezat aku tahu. Mana urusan dengan hulu Kapuas…. Mana ikannya? Ah, alangkah sedikitnya ikan yang kau bawa ini? Mana cukup untuk sehari?”
“Bapak bilang tangkapan lagi dikit-dikitnya, Cik.”
“Ah, macam mana ini, kalau setiap pagi hanya setampuk ini, tidak cukup. Kemarin siang saja warungku kedatangan rombongan turis dari Jakarta. Habis semuanya, rakus mereka makan, sampai kelelahan bersandar kursi, melapas kancing baju, memperlihatkan buncit perut. Kalau selalu dikit seperti ini, lama-lama aku beli ikan ke nelayan yang lalu-lalang depan warungku saja.” Cik mana peduli pertanyaanku, dia sibuk mengoceh protesnya yang setiap kali aku mengantar ikan selalu saja diulang-ulang. ‘Jangan dengarkan,’ itu kata Ibu mengingatkan, ‘Dia selalu mengomel.’ Aku mengangguk, semua orang di sepanjang tepian Kapuas ini juga tahu kalau Cik Tulani memang suka mengomel, pernah aku membawa ikan satu ember besar, sampai tersengal menyeretnya, masih saja dia bilang sedikit, bilang nanti siang ada Gubernur Kalimantan Barat dan rombongan yang hendak makan di warungnya. ‘Ah itu alasannya saja, agar bisa menawar ikan lebih murah. Kalau dia mau, dari dulu dia bisa beli dari nelayan yang sering makan di warungnya.’ Itu penjelasan Bapak, dan aku pikir masuk akal, lihatlah, Cik Tulani butuh bermenit-menit menghitung uang, menyerahkannya padaku, lantas bilang, ‘Kau bilang bapak kau, Borno, besok kalau tetap sedikit ini harganya dipotong seperempat’.

Aku sebal, salah tempat bertanya, bukan dijawab malah diomeli, bergegas membawa tampuk ikan terakhir ke tujuan berikutnya.

Pak Tua itu sedang duduk takjim menunggu. Perahu kayu sederhana ukuran panjang delapan meter, lebar dua meter, dengan tempat duduk melintang, bermesin tempel (yang lebih sering disebut ‘perahu tempel’), berjejer di dermaga kayu. Satu perahu tertambat di tonggak, beberapa penumpang yang hendak menyeberangi Kapuas hati-hati loncat, mengetem sejenak, petugas timer sibuk mengarahkan penumpang, barang lima belas menit, perahu baru tiga perempat penuh, pemilik perahu yang mengantri sudah sibuk menyuruh jalan, yang lain juga butuh penumpang.

“Selamat pagi, Borno.” Pak Tua tersenyum melihatku.
Aku menjawab salamnya, meletakkan tampuk ikan di atas perahu tempelnya.
“Wah, besar-besar.”
“Iya, Pak, tetapi sedikit.”
“Tidak masalah.” Pak Tua melambaikan tangannya ringan, menyerahkan dua lembar uang, “Hanya untuk makanku, dua hari juga tidak akan habis. Terima-kasih, Borno.”

Aku memperhatikan sedikit keributan di dermaga kayu. Kota kami memang kota air, dibelah dua oleh aliran sungai Kapuas yang menuju muaranya di Laut Cina Selatan. Lebar Kapuas tidak kurang dua kali panjang lapangan bola, penduduk kota yang memiliki keperluan di seberang sana-sini, selalu menuju ke dermaga ini (dan beberapa dermaga kayu lainnya), untuk menyeberang. Lebih cepat menumpang perahu tempel. Naik bus, angkot, akan memutar jauh sekali, sudah mahal, tidak praktis pula. Pemerintah tercinta hanya membangun satu jembatan besar jauh menjorok di dalam kota sana agar tidak mengganggu lalu-lalang kapal besar. Pagi seperti ini, dermaga kayu ramai oleh anak sekolah yang menyeberang, pekerja kantoran, orang-orang berbaju rapi. Ada rombongan besar datang, petugas timer perahu tempel berseru-seru menyuruh mereka naik ke perahu yang gilirannya merapat, berisi separuh, rombongan itu menolak, tidak muat, beberapa orang harus naik perahu berikutnya.

“Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu, Borno.” Pak Tua menyeringai, memutus lamunanku memperhatikan pertengkaran.
Selain memang menyenangkan dan berpengetahuan luas, inilah yang aku suka dengan Pak Tua, dia pandai membaca raut wajah.
“Iya,” aku menggangguk, “Pak Tua pernah ke hulu Kapuas?”
“Sering. Waktu aku masih muda.” Tidak perlu sedetik, Pak Tua sudah menjawab mantap.
Aku bersorak senang.
“Berapa jauh?”
“Jauh sekali, Borno.”
“Berapa panjang?”
“Panjang sekali. Berkelok-kelok, beratus-ratus cabang anak sungai, terus masuk ke pedalaman Kalimantan. Tidak terbayangkan betapa eloknya.”
“Berapa hari perjalanan dengan perahu?” Aku makin antusias.
“Tergantung perahu kau. Dengan mesin tempel tercepat, papan terkuat, buatan tukang terbaik akan lebih cepat. Sebaliknya, kalau hanya perahu macam ini, hanya tinggal papannya saja yang sampai ke sana.” Pak Tua terkekeh menunjuk perahu-perahu tempel kapasitas sepuluh orang di sekitarnya.
Aku menyibak anak rambut yang mengganggu ujung mata, “Anggap saja pakai perahu tercepat. Berapa hari?” Memperbaiki pertanyaan.
“Itu juga tergantung, Borno. Apakah pengemudinya tangguh atau tidak?”
“Apa pentingnya?” Aku menyeringai.
“Tentu saja penting, Borno. Untuk menuju hulu Kapuas, kau harus melintasi rimba lebat, hutan dipenuhi binatang buas, lubuk-lubuk besar dalam, buaya buas, ular raksasa. Belum lagi melewati perkampungan suku Dayak pedalaman. Orang-orang rimba, salah pongah, kau ditombak dari atas pohon besar, atau diteluh macam jadi burung jatuh menggelepar. Kalau hanya seorang nelayan biasa, tidak akan tahan dua hari, sudah terkencing-kencing ingin pulang.”
“Pengemudinya tangguh.” Aku memperbaiki lagi variabel pertanyaan.
“Nah, itu juga tergantung, kau pergi awal tahun, tengah tahun atau akhir tahun?”
“Itu tidak penting, Pak Tua.” Aku protes tidak sabaran, poin utama pertanyaanku bukan itu, apa pula hubungannya kapan pergi dengan sampai ke sana.
“Tidak penting? Ini penting, karena aliran sungai Kapuas, kebiasaan di sekitarnya mengikuti siklus musim. Setiap musim penghujan, airnya deras dan be-riam. Setiap kemarau, lebih banyak buaya dan binatang buas merapat ke tepian.” Dahi tua Pak Tua menyembul lipatan, berusaha menjelaskan.

Aku mendengus, bergegas menjelaskan muasal kenapa aku bertanya. Aku hanya ingin tahu berapa panjang Kapuas, berapa hari perjalanan, sekadar untuk menghitung butuh berapa lama waktu yang dibutuhkan kotoran itu tiba di depan rumah. Tidak ada hubungannya dengan semua cerita seram perjalanan menuju hulu Kapuas, tidak ada juga hubungannya dengan banjir, musim penghujan dan sebagainya itu.
“Astaga?” Pak Tua terbahak, menepuk dahinya, menatapku ganjil.
Aku menyeringai, apa salahnya dengan rasa ingin tahuku?
“Kau bertanya hanya ingin tahu soal itu?”
Aku mengangkat bahu.

Petugas timer meneriaki Pak Tua, giliran perahu tempelnya mengisi penumpang. Pak Tua sambil tertawa segera menyalakan mesih motor ber-merk Jepang itu, buih mengebul di permukaan sungai, suara gemeretuk mesin tempel memenuhi langit-langit, “Kau ada-ada saja, Borno. Ini sungai paling besar, paling panjang seluruh Kalimantan, bahkan termasuk salah-satu sungai paling hebat di seluruh dunia. Dan kau hanya bertanya untuk itu? Salam buat Bapak dan Ibu kau, terima-kasih untuk ikannya.”

Aku hanya bisa menatap perahu tempel itu bergerak, kemudian merapat anggun ke dermaga kayu. Sebal mau bilang apalagi. Beberapa penumpang berloncatan, tertib duduk di papan melintang tiga-tiga enam baris, satu menit penuh, dermaga sedang ramai-ramainya. Pak Tua menggerakan mesin tempel, sekejap perahu itu sudah membelah aliran sungai Kapuas, menuju seberang.

Matahari pagi cerah. Langit biru tersaput sedikit awan. Dari tepian Kapuas tempatku berdiri, kota Pontianak terlihat elok. Deretan bangunan dua-tiga tingkat berbaris. Burung walet terbang melenguh, kapal ferry tak kalah penuh penumpang melintas, asap dari pabrik pengolahan karet mentah, mobil, motor, sepeda melintas. Kota ini mulai tenggelam dengan kesibukannya.

Aku bergegas kembali ke rumah. Ah, tetapi dari semua hal aneh yang sibuk kupikirkan sejak kecil, bergudang pertanyaan tentang hal unik, menarik dan ganjil, yang terkadang membuat orang di sekitarku kehabisan kata, sebal, jengkel karena ditanya-tanya, tidak ada yang bisa mengalahkanku memikirkan hal itu, menanyakan tentang itu… apalagi kalau bukan, soal cinta… cinta sejati.

Itu pertanyaan terbesar dalam hidupku.

***bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s