Monthly Archives: July 2010

Tanda Kebahagiaan

Di antara tanda kebahagiaan dan keberuntungan, tatkala ilmu seorang hamba bertambah, bertambah pulalah sikap tawadhu’(rendah hati) dan kasih sayang yang dimilikinya, setiap kali bertambahamalnya, bertambah pula rasa takut dan waspada di dalam dirinya, tatkala bertambah umurnya, berkuranglah ketamakannya terhadap dunia. (Ibnul Qoyyim rahimahulloh)
Advertisements

Membina dengan CINTA

*RHENALD KASALI *
*Thursday, 15 July 2010*

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. *
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu
telah diberi Nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali.
Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya
dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan
itu buruk, logikanya sangat sederhana. *

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan
diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai?
Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi
nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes,
ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.*

*Budaya Menghukum*

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.
Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap
simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang
Anak-2nya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit
memberi nilai.
Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk
merangsang

Orang agar maju. Encouragement! ” Dia punmelanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda beda. Namun untuk anak
sebesar itu, baru tiba dari Negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris,
saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan
berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat
pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut
ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan Study Saya yang bergelimang
nilai “A”, dari Program Master hingga Doktor. Sementara di Indonesia, saya
harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman “Drop out dan Para
Penguji yang siap Menerkam”. Saat ujian program doktor saya pun dapat
melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar
siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya
dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan
jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik grafik yang
saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan.
Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “Menelan” mahasiswanya yang
duduk di bangku ujian. *
Etika seseorang Penguji atau Promotor membela atau meluruskan pertanyaan,
Penguji Marah-marah, Tersinggung, dan Menyebarkan berita tidak sedap
seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami
Frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang
maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan
“Encouragement, melainkan Discouragement” .

Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya
tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan
juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana
guru-2 di Amerika berusaha “Memajukan Anak Didiknya”. Saya berpikir pantaslah
Anak-anak di sana mampu menjadi penulis Karya-karya ilmiah yang hebat,
bahkan penerima “Hadiah Nobel”.
Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan
Karakternya sangat kuat: “Karakter yang membangun, Bukan merusak”.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah
kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di
depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk
verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun
rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang
mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah
memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah
telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak
saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di
tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia
pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi
saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang
berbeda.

*Melahirkan Kehebatan*

Bisakah kita mencetak Orang Orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan
rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah Bagian dari Generasi yang dibentuk
oleh
sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur,
dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan
seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…;
Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas
kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi
lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan
mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak
statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang
didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia
dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan,
ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.*
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan
ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan
menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

Episode 16: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

“Kau sebenarnya kemari buat menyampaikan pesan Bapak kau atau memenuhi rasa penasaran kau?” Aku menyeringai, duduk menjuntai, menatap kerlip Kapuas.
“Dua-dua-nya-lah, Kawan. Sekali dayung, dua tiga pulau terlewati.” Andi balas menyeringai. Baru pukul tujuh malam, dia sudah semangat datang ke rumah. Awalnya bilang kalau Bapaknya sudah pulang dari Entikong tadi pagi, aku memotong cerita, bertanya mana ole-ole-nya, Andi menggaruk kepala, bilang dia saja tidak dapat buah tangan, yang ada Bapaknya bawa buntut satu keluarga. Keluarga calon besan dari Kuching, Serawak itu ikut ke Pontianak, plesir, ingin melihat negeri tetangga. “Kau diminta Bapak-ku mengantar mereka berkeliling kota dengan sepit. Itu pasti lebih eksotis dibanding keliling dengan mobil.” Demikian pesan Bapak Andi tersampaikan.

Aku bertanya beberapa detail, kapan? Dijemput dimana? Mereka berapa jumlahnya? Mau kemana saja? Andi menjawab, besok pukul sembilan pagi lepas, dijemput di salah-satu lobi hotel dekat bioskop kota, jumlahnya bertujuh, terserah kau mau dibawa kemana, kau tanya sendiri, rombongan itu mau dibawa kemana. Aku terdiam sejenak, “Lantas bagaimana aku membawa mereka dari hotel ke dermaga sepit?” Andi ikut terdiam sejenak, “Mana kutahu, mungkin kita bisa minta antar mobil hotel.” Aku menepuk dahi, kenapa aku yang harus repot, kenapa tidak Bapak Andi saja yang mengantar. Andi ikut menepuk dahi, tidak bisa, Bapaknya besok mau ke Ketapang menumpang kapal cepat. “Kita harusnya tersanjung mendapat tugas negara seperti ini, Borno. Demikian petuah Bapak-ku.” Aku tertawa, tugas negara apanya? “Kata Bapak-ku kalau kita bisa membuat turis negeri jiran itu terkesan, maka kita bisa mengangkat harkat martabat bangsa, agar mereka berhenti bilang Indon, berhenti mendaku-daku budaya orang lain, dan sebagainya, dan seterusnya.” Aku menimpuk Andi dengan gumpalan kertas. Soal omong-kosong, Bapak Andi itu nomor satu, coba kalau dia yang datang langsung malam ini, aku bisa gombal diceramahi setengah jam.

Baru habis setarikan nafas dari pesan Bapaknya, Andi sudah membuka topik pembicaraan baru, “Bagaimana si sendu menawan, Kawan? Sudah tahu namanya?”
Aku menggeleng jengkel. Baru malam lalu kami membahasnya, malam sebelumnya, malam sebelumnya lagi, tidak bosan-bosan dia, atau jangan-jangan prospek malamku bulan-bulan mendatang hanya dihabiskan membahas soal ini dengan Andi.
“Kau belum tahu namanya? Ayolah, sudah seminggu tidak ada kemajuan, ibarat relay sandiwara radio di RRI, terlalu lama, bertele-tele bisa membuat pendengarnya bosan. Mereka cepat jengkel dengan pemeran utama yang pemalu, apalagi malu-maluin.”
Aku tertawa, menimpuk Andi dengan gumpalan kertas, siapa pula yang pemalu? Aku hanya belum tahu caranya, tidak pernah ada yang mengajari soal mengajak wanita berkenalan. Lagipula siapa suruh dia ikut penasaran dengan cerita ini.
“Kau hari ini melihatnya di dermaga kayu?” Andi mengganti pertanyaan—yang lebih mudah kujawab.
Aku menggeleng.
“Tidak lihat? Kemana dia?” Andi bergegas bertanya.
“Mana kutahu. Hari ini minggu, libur, hanya pengemudi sepit atau montir amatiran macam kau yang tetap kerja. Boleh jadi dia plesir ke hulu kota, berbendi-bendi.” Aku mengangkat bahu.
Andi manggut-manggut, “Berarti tidak ada cerita lanjutannya, nih?”
Aku menggeleng.
“Ya sudahlah, kalau begitu, aku pamit pulang.” Andi santai bangkit dari duduknya. Aku menyumpahinya, lihat, dia kemarin menuduhku sengaja membuat kawan dekat mati penasaran. Malam ini dia datang hanya karena perlu dengan cerita itu, tidak ada cerita, maka tidak penting lagi bertemu denganku. Macam itu disebut kawan dekat.
“Ingat besok jam sembilan lepas, Borno. Kau jemput mereka di hotel bintang tiga, tuh.” Andi santai melambaikan tangan. Aku untuk ketiga kali menimpuknya dengan gulungan kertas—ternyata kertas-kertas yang gagal kutulisi dengan puisi cinta ini ada gunanya.

Continue reading

Yusuf Qardhawi dan Buku Fikih Jihad

Yusuf Qardhawi adalah ulama par excellence! Berbeda dengan kebanyakan ulama Indonesia, Qardhawi adalah ulama yang sangat artikulatif bukan hanya secara lisan (oral),melainkan juga tulisan (literal).

Jika sekarang ini ada ulama yang dapat dikategorikan sebagai benarbenar ensiklopedis, dialah salah satunya. Betapa tidak! Karya-karyanya dalam bentuk buku sedemikian banyak dan menyeluruh sehingga hampir meliputi seluruh aspek ilmu-ilmu keislaman. Persoalan yang dibahas dalam bukubukunya sedemikian lengkapnya mulai dari persoalan-persoalan keislaman yang klasik dan klise sampai ke permasalahan-permasalahan keislaman kontemporer yang paling aktual yang dihadapi umat Islam.

Lihatlah bukunya Hadyu ‘l- Islam Fatawa Mu’ashirah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Fatwa-Fatwa Kontemporer (Penerbit Gema Insani Pers,Jakarta) sebanyak empat jilid yang masing-masing jilidnya hampir setebal 1000 halaman itu. Buku ini disusun dalam bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kontemporer yang diajukan oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia dari soal fikih sampai soal-soal politik atau pemerintahan.

Dia juga menulis buku yang sangat banyak dari soal wudu sampai soal politik kenegaraan, bahkan soal partai politik! Dari soal salat sampai soal ekonomi (lihat Daurul Qiyam wal Akhlak fi Iqtishodi ‘lislamy) sampai soal Teologi Kemiskinan (lihat Musykilatu ‘l-Faqr wa Kaifa Alajaha l-islam). Di samping itu,dia juga menulis buku Al-Siyasah Al-Syar’iyah, persis seperti judul magnum opus-nya Ibn Taimiyah yang klasik itu.

Dalam buku ini dia menanggapi pandangan- pandangan politik kaum liberalisme Islam seperti misalnya Al-Islam wa Ushulu ‘l- Hukm karya Ali Abdurraziq dan buku Kholid Mohammad Kholid, Min Huna Nabda’, yang sangat kontroversial itu. Qardhawi seperti tercermin dalam karyanya Tsaqofuna Baina ‘l-Infitah wa ‘l-Inqilab (Peradaban Islam: Eksklusif atau Inklusif),juga mengkritik pandangan-pandangan Ibn Rusyd dan Ibn Hazm,filosof dan ulama besar dari Andalusia yang secara filosofis cukup liberal pada zamannya. Benar-benar ensiklopedis keulamaannya!

Continue reading

Episode 15: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Perpisahan Pertama

Lantas? Kemudian? Lalu? Apalagi? Lanjutkan? Teruskan? Ayolah? Selanjutnya? Andi, sohib kentalku, macam kami waktu kecil dulu yang suka main sinonim kata, merubungku dengan kata yang bermakna sama: buruan teruskan ceritanya. Dulu salah-satu dari kami akan memulai dengan celetukan, misalnya kata ‘benci’, setelah itu sambil mandi, bertelanjang dada, mengambang di dekat rumah papan, aku dan Andi bergantian menyebut sinonim kata benci, semisal: sebal, marah, mual, jijik, dan sebagainya. Namanya juga permainan anak-anak, tidak ber-sinonim benar tidak masalah—sejatinya kami malah tidak tahu permainan itu disebut ‘sinonim’ kata. Asal jangan sebut ‘tidak suka’, itu jelas bukan sinonim, syarat utamanya harus satu kata. Siapa yang kehabisan ide, maka dia sambil berenang harus menggendong yang menang berhuluan ke toko kelontong Koh Acung, membelikan gula-gula atau minuman karton.
“Lah, die malah asyik melamun menatap kerlip sampan.” Andi sebal memukul bahuku, “Lantas bagaimana urusan ang pao itu tadi? Kau terima amplopnya, tidak? Gadis China itu kenal kau?”
“Sudah selesai.” Aku menguap.
“Sudah selesai apanya?” Andi melipat dahi.
“Ya, sudah selesai ceritanya.”
Bualnye, kau baru saja mulai bercerita, di mana selesainya?” Wajah Andi macam nangka mengkal robek kulitnya, tak sedap dipandang mata, “Bagaimana dengan gadis sendu menawan itu? Kau sempat berkenalan, tidak? Siapa namanya?”
Berkenalan? Aku tertawa prihatin, menggeleng.
“Kau tidak berkenalan dengannya? Lantas bagaimana dia tahu nama kau?” Andi macam investigator atau wartawan gosip kelas berat terus bertanya, tidak sabaran.
Aku menggeleng lagi, mengusap dahi. Memang sudah selesai ceritanya—atau tepatnya aku kesulitan memindahkan kejadian tadi sore dalam bentuk kata-kata pada Andi. Rasa-rasanya itu momen paling berbeda dua puluh tahun hidupku. Lepas terperangah karena gadis itu menegurku, wajahnya yang sumringah ditimpa cahaya senja, rambut panjangnya mengkilat berpadan serasi dengan syal kuning itu, Ibu, anakmu mati kutu, hanya bisa gelagapan, eh, eh.
“Oh, Abang Borno sudah dapat, ya?” Gadis itu masih tersenyum, menyimpul lesung pipi, melihat tanganku yang memegang amplop merah, dilem rapat dan tanpa tertera nama.
Aku menyeringai—boleh jadi mirip seringai kuda, mengangguk, bukan, maksudku menggeleng, tetapi ini memang amplop ang-pao, mengangguk lagi salah-tingkah. “Baiklah, semoga bermanfaat ang pao-nya, Bang.” Dan gadis itu sudah berpindah ke tempat lain.
“Se-ben-tar.” Aku meneguk ludah—takjub pada diri sendiri akhirnya bisa mengeluarkan suara.
“Ya, ada apa Bang?” Gadis itu menoleh.
“Eh, dari mana kau tahu namaku?” Aku ragu-ragu bertanya.
“Tahulah, Bang.” Gadis itu tertawa renyah, “Tak ada penumpang sepit yang sering bolak-balik di steher nih tidak kenal Abang Borno.”
Mukaku bersemu merah, wah, apakah aku seterkenal itu?
“Masih ingat kertas berfoto besar dan berlaminating itu? Nah, aku kenal nama abang dari sana.” Gadis itu menjelaskan, mengangguk sekali lagi tanda permisi, lantas wassalam melangkah ke arah anak-anak berseragam SD, meninggalkanku yang sekarang merutuki Bang Togar, urung berjumawa diri.
“Woi?” Beralih ke balai bambu gang tepian Kapuas, Andi sudah mencengkeram kaosku, “Kau ini sejak beberapa hari lalu sengaja benar membuat kawan dekat mati penasaran, hah? Itu lebih kejam dari pembunuhan sungguhan, tahu!”
Aku menoleh, tersadarkan dari lamunan. Malam semakin larut, perahu yang melintasi Kapuas tinggal satu-dua, lampu-lampu rumah mulai dipadamkan, penghuninya berangkat tidur. Langit mendung, menutup bintang dan sabit bulan. Aku menguap lebar lagi, mengantuk.
“Ayolah, lantas bagaimana dengan gadis sendu menawan itu? Kau berkenalan dengannya, tidak? Apa namanya secantik wajahnya?” Andi merengek—dengan tampang mengancam.

Continue reading

Tentang Hasan Al Banna

“…..seandainya Syaikh Hasan Al Banna –rahimahullah- tidak memiliki jasa dan keutamaan terhadap para pemuda muslim selain bahwa beliau menjadi sebab yang mengeluarkan mereka dari tempat-tempat hiburan, bioskop dan kafe-kafe yang melalaikan, lalu mengumpulkan dan mengajak mereka di atas dakwah yang satu, yakni dakwah Islam, -seandainya beliau tidak memiliki lagi keutamaan kecuali hanya perkara ini-, maka ia sudah cukup sebagai satu keutamaan dan kemuliaan. Ini saya katakan bersumber dari sebuah keyakinan, dan bukan untuk mencari muka dan tidak pula sekedar basa-basi”. (Lihat Mudzakarah Al Watsaiq Al Jaliyyah, Hal. 50)…..” (Syaikh Al Albani Rahimahullah)

Episode 14: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Pertemuan Pertama

Kupikir adegan kejar-kejaran dalam film eksen itu bohongan, ternyata dalam dunia nyataku itu terjadi. Malah lebih seru, aku melakukannya dengan sepit, bukan mobil, di atas sungai, bukan di jalanan kota. Lepas mendengar kabar kalau petugas timer seberang mencariku terkait gadis berbaju kurung kuning itu, ku-tambah gas motor tempel hingga pol, perahu kayuku meluncur cepat di atas permukaan Kapuas. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan gadis berbaju kurung kuning itu, lantas bilang, apakah surat bersampul merah ini miliknya yang tertinggal di sepit—mana sempat aku berpikir sejatinya apa yang kupikirkan itu berlebihan, hanya surat tertinggal, tidak lebih tidak kurang. Kalaupun milik dia, lantas kenapa? Dia boleh jadi sekedar bilang terima-kasih, the end, cerita selesai.

Aku menyalip sepit Jupri yang penuh penumpang, payung-payung penumpangnya terkembang, matahari terik membakar ubun-ubun. “Woi, Borno, kau dapat carteran? Kosong melompong sepit kau?” Jupri berteriak, aku hanya melambaikan tangan, tidak menjawab, berkonsentrasi pada tuas kemudi. Hitungan menit saja, sepitku sudah merapat di antrian dermaga kayu. Menambatkan sepit, loncat ke dermaga, berlari-lari kecil menemui petugas timer yang sibuk membantu menggotong sofa rotan.
“Di mana?” Aku bertanya, sedikit tersengal.
“Di mana apanya?” Petugas yang mengedan mengangkat sofa menoleh, tidak cepat paham.
“Gadis berbaju kurung kuning itu.” Aku menyeka dahi.
“Oh, si cantik itu. Sabar sebentar, Kawan. Berat kali sofa ini, macam ada yang lagi duduk di atasnya. Atau jangan-jangan memang ada jin yang lagi duduk. Katanya kalau mindahin kursi suka begitu.” Petugas timer yang suka kisah-kisah usang nan gombal itu dengan wajah memerah karena ke-berat-an berkata santai—menganggap sama sekali tidak penting dan mendesak urusanku. Satu kursi, dua kursi, tiga kursi, tiga kali bolak-balik mengangkut kursi rotan, dia tidak memedulikanku yang berdiri tak sabaran.
“Di mana gadis itu, Bang?” Aku menggaruk kepala, sebal.
“Ah kau ini, bantu aku bawa sofa dululah.” Petugas melotot, menunjuk sisa dua kursi.
Baiklah, aku melangkah ke tumpukan sofa, patah-patah ikut memindahkan sofa terakhir ke atas sepit. Pengemudi sepit merapikan posisi sofa rotan agar seimbang. Perahu penuh, petugas timer menepuk-nepuk ujung perahu, “Kau jalanlah, Cik. Pemilik sofa menyusul dengan sepit berikutnya. Kalau dia tak bayar sesuai kesepakatan, kau ambil saja salah-satu sofa-nya.” Tertawa.
“Di mana gadis itu?” Aku mensejajari langkah petugas, lima detik berikutnya.
“Kau nih, macam pembaca cerbung roman di koran saja, merengut tak sabaran. Tunggu aku membersihkan celana dulu lah.” Dia menepuk-nepuk debu sisa mengangkat kursi yang menempel. “Nah, beres sudah. Kau tanya apa tadi? Ahiya, si cantik berpayung merah itu. Aku tadi lihat dia di dermaga ini. Lantas ada boat putih merapat di steher nih, gadis itu naik bersama beberapa anak kecil berseragam putih-merah, pergi, wassalam.”
Boat putih?”
“Ye, bagus sekali kapal itu, macam kapal pesiar kecik saja.”
“Abang tak tanya kemana perginya gadis itu?”
“Astaga, Borno, macam kau sendiri saja punya nyali menyapa gadis secantik itu.” Petugas timer tertawa, “Kau tahu, kebanyakan bujang lapuk kota Pontianak nih, bukan sekadar sungkan dan malu memulai tegur sapa, bahkan sekadar melirik dan menatap gadis secantik itu saja sudah kebat-kebit hati. Lagipula, hanya sebentar saja gadis itu dan kerumunan anak sekolahan menunggu, langsung naik ke boat. Mana sempat bertanya, dan mana aku tahu dia hendak pergi kemana, arahnya berhuluan Kapuas.”

Continue reading