Berdakwah dengan Cinta

Cinta Allah kepada Manusia; Cinta Manusia kepada Allah; Cinta Manusia kepada Sesama



Berdakwah dengan Cinta.” Kalimat ini penulis dengar sering dinisbatkan kepada Syaikh Abbas as-Sisiy Allahuyarham, seorang tokoh dakwah dari Mesir. Ungkapan-ungkapan senada yang diambil dari pengalaman dan praktik dakwah beliau dapat kita temukan dalam buku yang beliau tulis, “Bagaimana Menyentuh Hati.”

Tapi kali ini kita tidak membahas tentang sosok dan ide-ide beliau, sekalipun mungkin ada irisan dengan apa yang dibahas kali ini. Setidaknya ungkapan yang saya tulis sebagai judul di atas adalah kesimpulan saya terhadap tulisan Dr. Said Ramadhan al-Buthi, terutama di bagian akhirnya bukunya yang berjudul “al-Hubb fil Qur`an wa Daurul Hubb fii Hayatil Insan.” Terjemahan bebasnya adalah “Cinta dalam al-Qur`an dan Peranan Cinta dalam Kehidupan Insan”, sementara di Indonesia telah diterbitkan Penerbit Hikmah dengan judul “Al-Qur`an Kitab Cinta: Menyelami Bahasa Kasih Sayang Sang Pencipta.”

Buku ini, adalah buku karya beliau yang kedua saya baca, sebelumnya saya membaca roman (kebetulan tentang cinta juga) “Pengantin Cinta,” yang konon, dan faktanya memang ditulis saat beliau masih berusia belasan. Walaupun jarak antara penerbitan keduanya jauh, aura dan wibawa tulisannya selalu terlihat, renyah dibaca, dan tidak membosankan sekalipun dibahas dengan bahasa sasterawan.

Insight yang saya tangkap dalam buku ini, sebagaimana saya tulis sebagai judul, telah saya katakan juga beririsan dengan ungkapan Syeikh Abbas as-Sisiy. Bahwa keduanya membahas cinta sebagai nilai yang harus ada dalam diri setiap kaum muslimin, terlebih lagi bagi para dai. Bedanya, jika Syeikh Abbas as-Sisiy membahas masalah ini dalam buku “Bagaimana Menyentuh Hati” dengan memaparkan pengalamannya, tips dan trik untuk aplikasinya, maka Dr al-Buthi membahasnya beranjak dari apa yang dibicarakan al-Qur`an tentang cinta.

Dalam mukaddimah, Syeikh al-Buthi mengatakan bahwa beliau masih melihat sedikitnya perhatian orang terhadap cinta, baik dalam kitab-kitab atau seminar-seminar. Padahal, menurut beliau, cinta memiliki peranan penting dalam kehidupan individu dan masyarakat. Ia memiliki kekuatan pemersatu keluarga dan hubungan rumah tangga. Sejarah cinta tidak akan pernah usang. Hari-hari percintaan tidak terlupakan. Pikiran manusia senantiasa disibukkan dengan mengenang tokoh-tokoh percintaan sepanjang zaman. Berapa banyak jiwa yang putus asa hidup kembali karena cinta dan berapa banyak jiwa yang hidup seakan-akan mati juga karena cinta.

Nah, cinta yang begitu besar peranannya ini ternyata banyak dibicarakan dalam al-Qur`an dalam berbagai derivasinya. Al-Qur`an juga mendorong tumbuhnya rasa cinta dalam hati. Al-Qur`an mengingatkan akal agar memperoleh kebenaran, sementara hati harus diarahkan untuk mencintai kebenaran itu dan mengingatkan jangan sampai hati mencintai sesuatu atau orang yang tidak layak untuk dicintai.

Penyebab apa yang membuat berpalingnya orang-orang dari cinta yang ditetapkan al-Qur`an?
Dr al-Buthi menyatakan, bahwa al-Qur`an mengarahkan hati untuk mencintai sesuatu yang tidak disukai hawa nafsu dan mencegahnya dari mencintai sesuatu yang mengekang dan memperbudaknya, maka sedikit yang tertarik untuk menulisnya dengan baik dan benar. Oleh karena itulah, beliau hendak mengungkapkan apa yang diungkapkan al-Qur`an tentang cinta, dengan kapasitas beliau sebagai cendekiawan muslim, pemimpin spiritual, aktivis dakwah, ahli syariah.

Beliau membagi bukunya dengan 4 Bab, dan satu Penutup. Bab pertama membahas tentang “Cinta Allah kepada Manusia.” Dibahas di dalamnya tentang definisi cinta dan muara cinta dari Allah kepada manusia. Beliau menyatakan bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya tidak dapat dipahami dengan definisi biasa yaitu kebergantungan hati kepada sesuatu yang dicintai, karena bagaimana mungkin Allah sebagai Khaliq bergantung kepada makhluq-Nya?

Definisi itu juga tidak muncul karena alasan “sebab-akibat” seperti definisi bahwa jika Allah cinta kepada manusia berarti ridha, atau cinta berarti penghormatan yang Allah berikan kepada semua jenis manusia. Kedua makna cinta di atas bertentangan dengan pendapat salaf karena pendapat yang pertama adalah takwil dan makna kedua adalah ta’thil (meniadakan sifat Allah) yang dihindari oleh para ulama tafsir.

Tentang muara cinta Allah, itu bergantung pada cara penyikapan seseorang terhadap ajaran dan syariat Allah kepada-Nya. Bagi mereka yang taat kepada-Nya dan menjalankan semua perintah, menjauhi semua larangan-Nya, cinta Allah kepada hamba-Nya kian bertambah. Begitu sebaliknya. Ini sesuai dengan surat al-Baqarah ayat 38 – 39.

Dalam bab dua, Dr al-Buthi membahas tentang cinta manusia kepada Allah. Cinta ini sejatinya dimulai sejak ruh manusia masih berupa satu hakikat yang utuh di alam rahim, sebagaimana Allah merekam dialog-Nya dengan manusia dalam surat al-A’raaf ayat 172. Itulah awal cinta manusia kepada Allah.

Walaupun kita tidak ingat betul bagaimana dialog itu terjadi, Dr al-Buthi menyatakan bahwa hal itu dapat dibuktikan. Tidakkah kita merasa ada kerinduan terhadap sesuatu yang tak tampak di depan mata? Tidakkah kita merasakan kerinduan terhadap sesuatu yang jauh? Apakah tidak ada keinginan untuk tunduk kepada sesuatu? Pernahkan kita merasa lemah, butuh pertolongan, lalu merasakan bahwa Allah Mahakuat dan tempat bergantungnya seluruh alam? Itu semua tak lain karena bisikan ruh kepada kita. Ruh menceritakan kepada kita tentang kepenatannya, mengembalikan daya ingat kita, dan menceritakan kepada kita tentang kesedihan masa lalunya dan janji-janjinya yang dilakukan saat dialog dahulu.

Cinta kepada Allah itu dalam perjalanan kehidupan manusia mengalami pasang surut. Untuk menumbuhkan terus rasa ini, Dr al-Buthi memberikan setidaknya 3 tips: 1) memperbanyak muraqabatullah (merasa diawasi oleh Allah), berdzikir kepadanya dengan menafakuri dan mengingat-ingat nikmat-Nya yang begitu banyak diberikan kepada diri kita; 2) menjaga diri secara maksimal untuk menjauhi makanan haram; 3) duduk bersama orang-orang shalih, menjauhi tempat orang fasik dan tempat kemaksiatan. Tentu saja masing-masing tips ini disertai dengan penjelasan yang renyah oleh Syeikh al-Buthi.

Dalam bab ketiga, Dr al-Buthi membahas tentang cinta kepada sesama manusia dan dunia. Beliau menyatakan, bahwa penjelasan al-Qur`an tentang cinta manusia kepada sesamanya mengambil bentuk informasi dan evaluasi, tidak dalam bentuk perintah atau seruan. Hal tersebut karena cinta adalah watak dasar, tidak perlu adanya ajakan ataupun perintah.

Al-Qur`an ketika berbicara tentang cinta manusia kepada sesamanya, hanya bersifat “mewanti-wanti” agar cintanya kepada yang lain tidak menyaingi cintanya kepada Allah Swt. Al-Qur`an “mewanti-wanti” manusia agar ia tidak menjadikan cintanya kepada yang lain melebihi atau sepadan dengan cintanya kepada Allah. Inilah yang diisyaratkan dalam al-Baqarah ayat 165, jika kita melakukan hal yang sebaliknya, berarti kita telah menduakan cintaNya dengan menjadikan tandingan-tandingan cinta kepada Allah, dan Allah tidak suka, bahkan akan mengazabnya. Perhatikan pula at-Taubah: 24.

Pengaruh Cinta dalam Perjalanan Dakwah

Dalam bab 4, Dr al-Buthi memaparkan peranan cinta dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Beliau membukanya dengan menjelaskan dua dimensi dalam diri manusia: yaitu akal dan hati. Yang keduanya memiliki peran dalam mendorong sesuatu perilaku manusia. Dalam kehidupan keimanan, akal adalah sumber keimanan yang bertugas mencari kebenaran, sementara cinta adalah sumber konsistensi terhadap kebenaran tersebut.

Keduanya tidak boleh berlebihan, karena jika masing-masing melampaui batas, akan menyebabkan bahaya pada kehidupan. Berpegang pada akal semata dapat menimbulkan bahaya karena ia akan memperdaya sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan dengan pembenaran ilmiah, melencengkan motivasi dan tujuan untuk kepentingan sesaat karena tidak dikendalikan oleh perasaan cinta yang selalu mengarahkan kepada kebaikan. Sementara, berpegangan kepada cinta semata hanya dapat memotivasi atau menggerakkan diri sendiri, tetapi tidak bisa sampai kepada kebenaran, dapat menjalankan sesuatu, tapi tidak sesuai dengan petunjuk.

Dan sampailah Dr al-Buthi menjelaskan tentang pengaruh cinta dalam perjalanan dakwah. Mengapa aktivitas dakwah membutuhkan cinta?

Pertama, mestinya diketahui bahwa kata-kata indah dan kuat yang dimiliki oleh seorang dai memiliki daya pengaruh yang dapat meyakinkan orang lain, yang dengan itu hidayah dapat masuk ke relung hati orang fasik dan ateis. Dan tentu, kata-kata itu harus lahir dari rasa cinta dan perasaan yang hangat. Sekalipun kita tidak boleh menafikan dalil dan argumentasi ilmiah, tetapi jiwa yang diseru adalah sekumpulan perasaan, yang hanya bisa ditembus dengan perasaan pula.

Yang kedua, seorang dai membutuhkan benteng cinta yang dengan ini Allah menjaganya dari muslihat orang-orang yang dihadapi, termasuk argumentasi ilmiah yang mereka kemukakan. Jika dai tidak dibekali cinta yang mendalam kepada Allah, maka jiwa mereka akan dikuasai cinta dunia, kesenangan, hawa nafsu, dan harta, dan dengan demikian mudah saja para dai menjadi tawanan para orientalis.

Dengan cinta itulah, maka para dai akan mendapat manfaat yang besar dalam menjalankan misinya.
Pertama, hilangnya sikap egoime dari dirinya. Cinta kepada Allah akan menuntunnya mengerahkan seluruh kemampuan terbaik yang ia miliki: harta, tenaga, dan lain-lain untuk objek yang dikasihi. Orang yang melakukan sesuatu karena cinta maka seluruh upayanya dilakukan dengan kerinduan kepada sang kekasih, sehingga yang sulit terasa mudah, yang jauh terasa dekat, dan ia tidak pernah merasa puas terhadap apa yang dilakukannya terhadap sang kekasih.

Kedua, lahirnya etika terhadap sesama hamba Allah. Mereka menjadi satu bagian yang sama-sama berjuang untuk mencintai dan menggapai cinta Allah. Perihal maksiat, kita wajib membenci dan menghindarinya, sementara kepada para pelakunya mestinya kita menaruh simpati dan kasihan lantaran ia sedang lemah dan terjerat.

Ketiga, cinta yang tulus kepada Allah menuntut adanya cinta pada segala sesuatu yang dinisbatkan pada-Nya dalam hal ibadah. Ketahuilah, bila seseorang mencintai orang lain dengan sebenarnya, ia akan melakukannya dengan segenap jiwa, mencintai apa dan siapa pun yang berkaitan dengannya.

Sampai pembahasan di atas, Dr al-Buthi kemudian menyelesaikannya dengan penutup. Beliau menyampaikan beberapa penekanan yang sangat mendalam dan penuh kasih sayang, beberapa saya kutipkan langsung.

Saya ingatkan Anda dan diri saya sendiri, bahwa mestinya kita jadikan cinta kita kepada Allah sebagai jaringan cinta kepada hamba-hamba Allah. Bagi hamba yang taat, jaringan itu berupa penghormatan kepadanya. Sementara bagi pelaku dosa, jaringan itu berupa kasih sayang. Dalam hal ini, mestinya kita mencontoh perilaku Rasulullah Saw.

Saya juga ingatkan Anda dan diri saya sendiri bahwa semestinya kita jadikan ibadah kita yang tulus kepada Allah sebagai sayap kedua selain cinta guna menggapai tingkat yang lebih tinggi dalam menjalankan syariat agama, tidak mempersempit sesuatu yang luas, tidak menakwil dalil yang sudah jelas, tidak menyimpang dari tuntunan dengan cara memperturutkan hawa nafsu, dan tidak dipengaruhi oleh kemaslahatan yang lemah. Selain itu, kita tidak boleh menyimpangkan dakwah kita dengan sekulerisme.. Demi Allah, hukum Allah tak berubah pada sebuah masyarakat dengan hukum lainnya.

Saya ingatkan Anda bahwa kita, selemah apapun kita dalam menjalankan perintah dan hukum-hukum Allah, mesti menyelami kelemahan-kelemahan kita dan menyadari nafsu dan faktor eksternal yang membuat kita lemah, sebab hal itu akan mempermudah ampunan Allah kepada kita. Hendaknya kita menghindari pembenaran terhadap kesalahan kita dengan cara mencari-cari alasan dan argumentasi sebab menumpuk-numpuk maksiat dengan cara mencari-cari pembenaran atasnya, karena itu lebih buruk dari maksiat itu sendiri.”

Berikan cintamu pada Zat yang mengajarimu cinta dan memberimu kenikmatan di dalamnya. Ketahuilah, bahwa kenikmatan terbesar saat ini adalah makrifatullah (mengenal Allah) dan beribadah kepada-Nya. Kenikmatan besar kelak adalah pertemuan dengan-Nya. Oleh karena itu, jangan batasi dirimu untuk mencintai-Nya saat ini dan melihat-Nya kelak. Ketahuilah, esok hari akan segera menjelang, tak lama lagi!

Subhanallah…

Menuliskan sedikit pembahasan ini tidaklah cukup, saya yakinkan pembaca untuk membaca bukunya langsung. Ungkapan-ungkapan yang ada dalam ikhtisar buku yang saya tulis ini sungguh belum ada apa-apanya. Saya sendiri bingung memilih mana kalimat yang harus dikutip, karena semuanya berbobot, karena dari sisi metodologi, Syeikh al-Buthi adalah seorang doktor, dari sisi pemaparan, jiwa sasterawannya kental, dan sisi pengaruh, bahkan tulisannya terasa berwibawa.

Tak heran, pengajian yang menghadirkan beliau sebagai narasumber selalu penuh. Masjid Jami Maulana ar-Rifa’i contohnya, yang merupakan salah satu masjid terbesar di Damaskus selalu dihadiri ribuan manusia yang menyemut setiap Rabu malam, padahal durasinya hanya selepas maghrib hingga waktu adzan isya’ dikumandangkan saja.

Ya Allah, bisakah saya bertemu dengan beliau sebagai rasa ta’zhim kepada hamba-Mu yang shaleh dan bentuk syukur kepadaMu yang telah menciptakan orang-orang shalih dan inspiratif??

(Zulfadhli Nasution: http://www.facebook.com/profile.php?id=100000375567027)

One thought on “Berdakwah dengan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s