Monthly Archives: June 2010

Berdakwah dengan Cinta

Cinta Allah kepada Manusia; Cinta Manusia kepada Allah; Cinta Manusia kepada Sesama



Berdakwah dengan Cinta.” Kalimat ini penulis dengar sering dinisbatkan kepada Syaikh Abbas as-Sisiy Allahuyarham, seorang tokoh dakwah dari Mesir. Ungkapan-ungkapan senada yang diambil dari pengalaman dan praktik dakwah beliau dapat kita temukan dalam buku yang beliau tulis, “Bagaimana Menyentuh Hati.”

Tapi kali ini kita tidak membahas tentang sosok dan ide-ide beliau, sekalipun mungkin ada irisan dengan apa yang dibahas kali ini. Setidaknya ungkapan yang saya tulis sebagai judul di atas adalah kesimpulan saya terhadap tulisan Dr. Said Ramadhan al-Buthi, terutama di bagian akhirnya bukunya yang berjudul “al-Hubb fil Qur`an wa Daurul Hubb fii Hayatil Insan.” Terjemahan bebasnya adalah “Cinta dalam al-Qur`an dan Peranan Cinta dalam Kehidupan Insan”, sementara di Indonesia telah diterbitkan Penerbit Hikmah dengan judul “Al-Qur`an Kitab Cinta: Menyelami Bahasa Kasih Sayang Sang Pencipta.”

Buku ini, adalah buku karya beliau yang kedua saya baca, sebelumnya saya membaca roman (kebetulan tentang cinta juga) “Pengantin Cinta,” yang konon, dan faktanya memang ditulis saat beliau masih berusia belasan. Walaupun jarak antara penerbitan keduanya jauh, aura dan wibawa tulisannya selalu terlihat, renyah dibaca, dan tidak membosankan sekalipun dibahas dengan bahasa sasterawan.

Insight yang saya tangkap dalam buku ini, sebagaimana saya tulis sebagai judul, telah saya katakan juga beririsan dengan ungkapan Syeikh Abbas as-Sisiy. Bahwa keduanya membahas cinta sebagai nilai yang harus ada dalam diri setiap kaum muslimin, terlebih lagi bagi para dai. Bedanya, jika Syeikh Abbas as-Sisiy membahas masalah ini dalam buku “Bagaimana Menyentuh Hati” dengan memaparkan pengalamannya, tips dan trik untuk aplikasinya, maka Dr al-Buthi membahasnya beranjak dari apa yang dibicarakan al-Qur`an tentang cinta.

Dalam mukaddimah, Syeikh al-Buthi mengatakan bahwa beliau masih melihat sedikitnya perhatian orang terhadap cinta, baik dalam kitab-kitab atau seminar-seminar. Padahal, menurut beliau, cinta memiliki peranan penting dalam kehidupan individu dan masyarakat. Ia memiliki kekuatan pemersatu keluarga dan hubungan rumah tangga. Sejarah cinta tidak akan pernah usang. Hari-hari percintaan tidak terlupakan. Pikiran manusia senantiasa disibukkan dengan mengenang tokoh-tokoh percintaan sepanjang zaman. Berapa banyak jiwa yang putus asa hidup kembali karena cinta dan berapa banyak jiwa yang hidup seakan-akan mati juga karena cinta.

Nah, cinta yang begitu besar peranannya ini ternyata banyak dibicarakan dalam al-Qur`an dalam berbagai derivasinya. Al-Qur`an juga mendorong tumbuhnya rasa cinta dalam hati. Al-Qur`an mengingatkan akal agar memperoleh kebenaran, sementara hati harus diarahkan untuk mencintai kebenaran itu dan mengingatkan jangan sampai hati mencintai sesuatu atau orang yang tidak layak untuk dicintai.

Penyebab apa yang membuat berpalingnya orang-orang dari cinta yang ditetapkan al-Qur`an?
Dr al-Buthi menyatakan, bahwa al-Qur`an mengarahkan hati untuk mencintai sesuatu yang tidak disukai hawa nafsu dan mencegahnya dari mencintai sesuatu yang mengekang dan memperbudaknya, maka sedikit yang tertarik untuk menulisnya dengan baik dan benar. Oleh karena itulah, beliau hendak mengungkapkan apa yang diungkapkan al-Qur`an tentang cinta, dengan kapasitas beliau sebagai cendekiawan muslim, pemimpin spiritual, aktivis dakwah, ahli syariah.

Beliau membagi bukunya dengan 4 Bab, dan satu Penutup. Bab pertama membahas tentang “Cinta Allah kepada Manusia.” Dibahas di dalamnya tentang definisi cinta dan muara cinta dari Allah kepada manusia. Beliau menyatakan bahwa cinta Allah kepada hamba-Nya tidak dapat dipahami dengan definisi biasa yaitu kebergantungan hati kepada sesuatu yang dicintai, karena bagaimana mungkin Allah sebagai Khaliq bergantung kepada makhluq-Nya?

Definisi itu juga tidak muncul karena alasan “sebab-akibat” seperti definisi bahwa jika Allah cinta kepada manusia berarti ridha, atau cinta berarti penghormatan yang Allah berikan kepada semua jenis manusia. Kedua makna cinta di atas bertentangan dengan pendapat salaf karena pendapat yang pertama adalah takwil dan makna kedua adalah ta’thil (meniadakan sifat Allah) yang dihindari oleh para ulama tafsir.

Tentang muara cinta Allah, itu bergantung pada cara penyikapan seseorang terhadap ajaran dan syariat Allah kepada-Nya. Bagi mereka yang taat kepada-Nya dan menjalankan semua perintah, menjauhi semua larangan-Nya, cinta Allah kepada hamba-Nya kian bertambah. Begitu sebaliknya. Ini sesuai dengan surat al-Baqarah ayat 38 – 39.

Dalam bab dua, Dr al-Buthi membahas tentang cinta manusia kepada Allah. Cinta ini sejatinya dimulai sejak ruh manusia masih berupa satu hakikat yang utuh di alam rahim, sebagaimana Allah merekam dialog-Nya dengan manusia dalam surat al-A’raaf ayat 172. Itulah awal cinta manusia kepada Allah.

Walaupun kita tidak ingat betul bagaimana dialog itu terjadi, Dr al-Buthi menyatakan bahwa hal itu dapat dibuktikan. Tidakkah kita merasa ada kerinduan terhadap sesuatu yang tak tampak di depan mata? Tidakkah kita merasakan kerinduan terhadap sesuatu yang jauh? Apakah tidak ada keinginan untuk tunduk kepada sesuatu? Pernahkan kita merasa lemah, butuh pertolongan, lalu merasakan bahwa Allah Mahakuat dan tempat bergantungnya seluruh alam? Itu semua tak lain karena bisikan ruh kepada kita. Ruh menceritakan kepada kita tentang kepenatannya, mengembalikan daya ingat kita, dan menceritakan kepada kita tentang kesedihan masa lalunya dan janji-janjinya yang dilakukan saat dialog dahulu.

Continue reading

Advertisements