Dimanakah Posisi Kita?

Sejak pagi tadi aku membolak-balik koleksi buku ku di lemari. Ah, ya. Buku pertama yang memberikan kesan mendalam terhadapku. Bukunya Salim A. Fillah (Jazakallah Akh), judulnya “Gue Never Die”. Inti buku tersebut sih sebenarnya panduan untuk jadi orang islam yang lebih baik, nggak cuma islam ngakunya aja atau islam KTP istilahnya. Jadi orang Islam juga ada konsekuensinya. Bagus deh bukunya, yang belum punya coba beli, terbitan Pro-U Media.

Sampai pada sebuah halaman yang menceritakan tentang pegangan hidup seorang tukang becak. Untuk lebih jelasnya aku tuliskan penggalan ceritanya di sini;

………

Ya, kita ini siapa? Suatu malam, Ustadz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang seorang tukang becak di sebuah kota, di Jawa Timur. Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu:

  1. Jangan pernah menyakiti
  2. Hati-hati memberi makan (anak) isteri

Kalian pasti tanya, tukang becak macam apakah ini sehingga punya mission statment segala? Saya juga tertakjub dan berulang kali berseru “SubhanAllah!” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini. Beliau ini Hafizh Qiraat Sab’ah!!! Beliau menghafal Al-Quran lengkap dengan tujuh lagu qiraat seperti saat ia diturunkan; qiraat Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.

Dua kalimat beliau itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita. Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau diantarannya adalah soal tarif becaknya. Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukan ketidakrelaan dan ketersakitan. Misalnya ada yang berkata, “Pak terminal 5000 ya..”, terus dijawab, “Waduh nggak bisa, 7000 Mbak..”, ini namanya sudah menyakiti. Makanya beliau tidak pernah pasang tarif. “Pak terminal 5000 ya..”, jawabannya pasti OK. “Pak terminal 3000 ya…”, jawabannya juga OK. Bahkan kalau, “Pak terminal 1000 ya…”, jawabnya juga sama: OK.

Gusti Allah! Manusia macam apa ini. Kalimat kedua, hati-hati memberi makan (anak) isteri, artinya sang (anak dan) isteri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedheg. Isterinya berjualan gorengan. Stop. Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafizh Al-Quran semua. Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal PTN terkemukan di Jakarta. Adiknya tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintahan baru sekarang.

Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan ‘wah’. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesoris diri: arloji, handphone dilucuti. Bahkan baju perlente diganti kaos oblong dan celana sederhana. Ini adab, tatakrama. Sudah berulangkali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu hanya bisa menangis. Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilahkan putra-putranya untuk menikmati kebahaggiaan mereka sendiri.

………

Ya, itu sepenggalan kisah tentang kehidupan ini, nyata dan tak dibuat-buat. Dan disekitar kita masih banyak contoh-contoh nyata yang hidup dengan penuh rasa syukur, lalu dimanakah posisi kita saat ini?

Teringat sebuah ceramah di sebuah Masjid Kantor ternama di Jakarta, tentang penjual buah dukuh keliling. Bahwa terkadang untuk membeli buah dukuh saja kita masih tega menawar, bahkan terkadang nilai tawaran kita lebih sadis dari penawaran yang diberikan oleh penjual dukuh tersebut. Dengan harga awal 7000 misalnya terkadang kita menawar 4000, kemudian si abang penjual dukuh memberikan penawaran 6000, tapi kita masih tetep ngotot nawar 4500. Jadi masih lebih besar hati sang penjual dukuh dibanding dengan kita, sang penjual dukuh menurunkan harga jualnya 1000 rupiah, tapi kita menaikan tawaran kira sebesar 500 rupaih.

Jadi sekali lagi dimanakah posisi kita saat ini dalah kehidupan ini?

Semoga kisah-kisah tersebut membawa hikmah buat kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s