Merah Putih untuk 14 Februari

Mengenang 14 Februari
Oleh Awidya Santika Jaya

Jika semua orang mengenang 14 Februari dengan bendera merah muda,
maka aku mengenangnya dengan bendera MERAH PUTIH

Gemerlap cinta akan kuganti dengan duka sekaligus bangga
Duka karena telah banyak yang melupakan 14 Februari
Bangga karena pada tanggal itu, tepat 65 tahun lalu
Puluhan pemuda Pembela Tanah Air (PETA) memberontak di Blitar

14 Februari 1945 dini hari
Sumpah telah ditepati
Janji dengan cap jempol darah tak teringkari
Penderitaan rakyat tidak dikhianati

14 Februari 1945
Sang saka berkibar
Semangat memancar
Penjajah berdebar

Pasti ada ragu dan takut
Apalagi kalian masih muda, masih 20-an tahun, sama seperti aku sekarang
Kalian masih bisa jadi dokter, bupati, camat, atau tuan tanah setelah merdeka
Bukankah banyak pula perawan yang ingin diperistri tentara PETA ?

Kenapakah kalian memberontak ?
Bukankah Nippon sudah berjanji membentuk BPUPKI ?
Bukankah PUTERA dan Jawa Hokokai sudah setuju dengan politik kooperatif ?
Bukankah Bung Karno, Gatot Mangkupraja, dan Ahmad Subarjo
sudah mendapat kepastian bahwa Indonesia akan segera merdeka ?

Bukankah pemberontakan adalah hal yang mustahil dimenangkan ?
Lihatlah berapa buah pucuk senjata yang kalian miliki
Tidak sebanding dengan yang dimiliki tentara satu Daidan pun

Biarkan aku menebak
Pasti kalian memberontak karena yakin bahwa
kemerdekaan, kebebasan, dan keadilan adalah buah perjuangan ikhlas
dan pantang menyerah
Karena kalian sudah muak dengan romusha di bendungan Tulung Agung
atau terowongan Gunung Kelud
Karena kalian sudah tidak tahan melihat tekanan demi tekanan
yang telah men-dis-empower rakyat dengan sistematis

Berbanggalah kalian,
Karena kalianlah satu-satunya pemberontak di Asia Tenggara
Di saat Raja Muangthai, pemimpin Saigon, dan sultan Malaya pro-penjajah,
kalian menunjukkan semangat dan keberanian sebagai bangsa bermartabat

Berbanggalah kalian,
Wahai Supriyadi, Muradi, Suparyono, Sunarto, Sudarno, Halir, dr. Ismangil,
dan puluhan nama yang aku pun tidak tahu
Meski nama kalian tidak menjadi nama jalan raya atau gedung bertingkat di Jakarta
dan hanya menjadi nama gang kecil di dekat rumahku
Meski jenazah kalian pun mungkin sudah menjadi abu di Ancol, Tangerang, atau Cipinang
Atau di tempat lain yang aku pun tidak tahu
Kalian adalah pahlawanku

Aku, generasi setelahmu,
Telah melihat kemerdekaan yang ada
Hanya kadang (atau sering) aku alpa
Amanat pun aku lupa

Wahai Supriyadi dan kawan-kawan,
Mungkin aku tidak akan bisa sepertimu
Yang ikhlas menebus kejayaan bangsa ini
Dengan segala yang kaumiliki

Saat ini, aku hanya ingin bangsa ini tahu bahwa
Jika semua orang mengenang 14 Februari dengan bendera merah muda,
Maka aku mengenangnya dengan bendera MERAH PUTIH

(Awidya Santikajaya, Silver Spring, Maryland, 12 Februari 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s