Kota Kita Pontianak!
“Kenapa wajah kau sedih macam induk beruang kehilangan anak?” Aku nyengir, duduk sembarang di antara tumpukan mesin rusak, ban motor dan sebagainya.
“Memangnya kau pernah lihat induk beruang?” Andi menatapku datar—sebenarnya sebal tiba-tiba melamunnya diganggu.
“Belum, sih.” Aku menggaruk kepala.
“Nah, bagaimana kau tahu tampang beruang lagi sedih? Sok tahu.”
Aku menahan tawa, “Itu kan sekadar istilah, pemanis kalimat, Kawan. Biar asyik ngobrolnya. Jarang-jarang orang ngobrol pakai peribahasa. Coba kalau semua orang bicara seperti Pak Tua, kaya dengan perumpamaan, penuh kiasan, lebih damai rasanya. Sekarang orang malah suka disingkat-singkat, langsung pada maksud, terkadang kasar.”
“Terserah kaulah.” Andi tidak berselera, sembarang melempar kunci nomor 12.
“Bagaimana kemajuannya? Motornya sudah beres?” Aku mendekat.
Andi mengangkat bahu, “Semakin rungsing.”
Aku benaran tertawa, melihat tampang masam Andi. Sudah dua hari dia berkutat dengan motor rusak yang sama, “Itulah tabiat buruk kau. Bagaimana mungkin selesai masalahnya kalau sedikit-sedikit dibuat pusing. Sedikit-sedikit kesal, mudah menyerah. Ayolah, bergembiralah sikit, montir itu pekerjaan yang menyenangkan.”
Andi tidak menjawab, menyumpal mulut.
“Sini biar kubereskan.” Aku beranjak mengambil obeng yang terserak di sebelah Andi. “Tenang saja, aku tidak akan bilang bapak kau kalau telah membantu.”
Andi tidak membantah seperti kemarin. Bapak Andi belakangan memang sering uring-uringan padanya, motor itu sengaja diserahkan sepenuhnya pada Andi, pesannya satu: jangan dibantu, biarkan saja dia berusaha sendiri.
Lima belas menit berlalu tanpa terasa, tanganku kotor terkena oli motor.
Gang sempit tepian Kapuas sepi dari pejalan kaki atau motor yang lewat.
“Kenapa kau mau-maunya belajar jadi montir?” Andi bertanya, memecah senyap.
Aku menoleh, menyeka dahi dengan belakang telapak tangan, bukankah ini seru?
“Apanya yang seru? Tidak ada masa depan jadi montir. Lihatlah, bapakku sudah dua puluh tahun punya bengkel, hanya begini-begini saja jadinya. Dan dia terus memaksaku melanjutkan bengkel tua, jelek dan kotor macam pembuangan sampah ini.”
Aku menyeringai, “Setidaknya, lebih tidak ada masa depan kalau hanya jadi pengemudi sepit, Kawan.”
Andi terdiam. Meraih kunci nomor 12 yang dia lempar tadi.
“Aku tidak suka jadi montir.”
Aku nyengir, “Lah, lantas kau mau jadi apa?”
Andi menggaruk kepala, sedikit ragu-ragu, “Aku ingin punya toko besar seperti koh-koh China di pasar Pontianak. Luasnya tak berbilang, penuh onderdil, peralatan, semuanya, serba canggih. Karyawan toko belasan, hilir-mudik membantu pembeli, mobil box datang bergantian mengantarkan pesanan, terkenal di seluruh Pontianak.”
“Bukan main.” Aku benar-benar menghentikan gerakan tangan memperbaiki motor, menatap Andi, “Nah, kalau semua sudah dikerjakan pegawai, kau sendiri mengerjakan apa di toko itu?”
“Menghitung uang-lah. Cengklang! Sekian ratus ribu masuk laci. Cengklang! Sekian belas ribu jadi kembalian. Cengklang! Beli ini, beli itu. Cengklang! Macam Kokoh China itu-lah.”
“Haiya, Kawan, kalau begitu, siapa pula yang tidak mau?” Aku tertawa, “Kau mau cepat jadi seperti itu? Bantu saja Koh Acung di toko kelontongnya. Beli laci uang yang bisa bunyi cengklang! Cengklang! Beres.”
Andi menatapku sebal, kembali menunduk, sibuk memainkan kunci nomor 12.
“Kau habis dimarahi bapak kau lagi?” Aku bertanya, agak menyesal telah tertawa.
Andi tidak menjawab.
“Aku paling tidak tahan melihat wajah kau macam pengungsi perang seperti ini, Andi. Kusut, terlipat empat. Ayolah, bergembiralah sedikit.”
Andi tetap menunduk, tidak menanggapi.
Aku sembarang melempar obeng, beranjak duduk di depannya, “Pak Tua selalu bilang padaku, sepanjang kau punya rencana, maka jangan pernah berkecil hati, Borno…. Aku dulu tidak suka dengan kalimat itu, itu hanya kalimat hiburan. Apalah yang diharapkan dari kita ini? Hanya lulus SMA. Modal tak punya, keahlian tak ada, kesempatan minus, jaringan nol, yang tersisa cuma mimpi, cita-cita…. Dulu aku bermimpi bisa kuliah sambil bekerja, lihat, sudah tiga tahun sejak lulus SMA, hanya itu-itu saja kemajuan mimpiku. Jadi pengemudi sepit, penghasilan pas-pasan. Sementara lihat teman-teman SMA kita dulu, sibuk dengan kuliah mereka, sibuk dengan masa depan. Ada yang hendak jadi PNS, ada yang mau jadi karyawan swasta necis.”
“Bukan hanya kau, Andi, aku juga sering berpikir, sepuluh tahun lagi, jangan-jangan mereka semakin jauh di depan, sedangkan kita semakin jauh tertinggal. Terus-terang saja, aku tidak mencemaskan soal mereka punya rumah, punya mobil, hidup hebat, tidak. Tetapi aku lebih mencemaskan jangan-jangan sepuluh tahun lagi Borno tetap jadi seorang pengemudi sepit. Nasibku sama seperti Bang Jau, Jupri, dan yang lain. Dari kecil sudah jadi pengemudi sepit. Bang Togar masih lumayan, dia pernah bertualang ke hulu Kapuas, punya masa muda yang berbeda. Pak Tua apalagi, menjadi pengemudi sepit hanya hobi, bahkan kupikir dia amat menikmatinya setelah berpuluh-puluh tahun berkeliling dunia, kaya meski hidupnya sederhana. Sedangkan aku? Tidak ada hal hebat yang pernah kulakukan.
Andi perlahan mengangkat kepala.
“Sepanjang kau punya rencana, maka jangan pernah berkecil hati…. Kau tahu, aku dulu tidak mengerti maksud kalimat itu. Hari ini aku paham benar maksudnya. Nah, tadi kau bertanya, kenapa aku mau-maunya jadi montir? Aku punya rencana, Kawan. Tidak besar, juga tidak hebat, tapi rencana ini lebih dari cukup untuk mengusir jauh-jauh perasaan rendah diri, kecil hati itu. Aku memang tidak kuliah, dan mungkin tidak akan pernah berkesempatan kuliah, tetapi enam bulan terakhir aku membaca lebih banyak buku tentang mesin dibanding mahasiswa tahun terakhir. Kita memang tidak punya modal, tapi itu gampang, pasti ada jalan keluarnya. Kita juga tidak punya jaringan, kenalan, tapi itu bisa dibangun perlahan-lahan. Jangan bilang bengkel ini tidak ada masa depannya, Andi. Tentu Bapak kau marah besar, tersinggung, bengkelnya dibilang tempat sampah. Bukankah nafkah keluarga kau dari bengkel ini, selain jualan jengkol dan sebagainya itu. Aku pun tersinggung mendengarnya.
Andi diam, menatapku lamat-lamat.
“Percayalah,” Aku menepuk bahu Andi, “Sepanjang kita punya mimpi, cita-cita yang lantas dikongkritkan dengan sebuah rencana yang walau kecil tapi masuk akal, maka tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datang menganggu pikiran. Dan ingat ini, seandainya kau tidak punya rencana itu, kau gagal melaksanakan rencana kau itu, kau tenang saja, rencanaku cukup besar untuk kita berdua. Masa depan yang lebih baik. Masa depan kita yang lebih cerah.”
Aku membalas tatapan Andi dengan ekspresi wajah mantap, meyakinkan.
Andi menelan ludah, “Ini horor, Borno.”
“Horor apanya?” Dahiku terlipat, bingung.
“Lama-lama kau mirip Pak Tua. Ini menakutkan.”
***