Category Archives: Novel Tere Liye

Novel terbaru Tere Liye, berjudul “Kau, Aku & Kota Kita”. Dipostingkan oleh Tere Liye di laman Facebook-nya. Diedarkan secara umum dan gratis…

Episode 41: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Kita Pontianak!

“Kenapa wajah kau sedih macam induk beruang kehilangan anak?” Aku nyengir, duduk sembarang di antara tumpukan mesin rusak, ban motor dan sebagainya.

“Memangnya kau pernah lihat induk beruang?” Andi menatapku datar—sebenarnya sebal tiba-tiba melamunnya diganggu.

“Belum, sih.” Aku menggaruk kepala.

“Nah, bagaimana kau tahu tampang beruang lagi sedih? Sok tahu.”

Aku menahan tawa, “Itu kan sekadar istilah, pemanis kalimat, Kawan. Biar asyik ngobrolnya. Jarang-jarang orang ngobrol pakai peribahasa. Coba kalau semua orang bicara seperti Pak Tua, kaya dengan perumpamaan, penuh kiasan, lebih damai rasanya. Sekarang orang malah suka disingkat-singkat, langsung pada maksud, terkadang kasar.”

“Terserah kaulah.” Andi tidak berselera, sembarang melempar kunci nomor 12.

“Bagaimana kemajuannya? Motornya sudah beres?” Aku mendekat.

Andi mengangkat bahu, “Semakin rungsing.”

Aku benaran tertawa, melihat tampang masam Andi. Sudah dua hari dia berkutat dengan motor rusak yang sama, “Itulah tabiat buruk kau. Bagaimana mungkin selesai masalahnya kalau sedikit-sedikit dibuat pusing. Sedikit-sedikit kesal, mudah menyerah. Ayolah, bergembiralah sikit, montir itu pekerjaan yang menyenangkan.”

Andi tidak menjawab, menyumpal mulut.

“Sini biar kubereskan.” Aku beranjak mengambil obeng yang terserak di sebelah Andi. “Tenang saja, aku tidak akan bilang bapak kau kalau telah membantu.”

Andi tidak membantah seperti kemarin. Bapak Andi belakangan memang sering uring-uringan padanya, motor itu sengaja diserahkan sepenuhnya pada Andi, pesannya satu: jangan dibantu, biarkan saja dia berusaha sendiri.

Lima belas menit berlalu tanpa terasa, tanganku kotor terkena oli motor.

Gang sempit tepian Kapuas sepi dari pejalan kaki atau motor yang lewat.

“Kenapa kau mau-maunya belajar jadi montir?” Andi bertanya, memecah senyap.

Aku menoleh, menyeka dahi dengan belakang telapak tangan, bukankah ini seru?

“Apanya yang seru? Tidak ada masa depan jadi montir. Lihatlah, bapakku sudah dua puluh tahun punya bengkel, hanya begini-begini saja jadinya. Dan dia terus memaksaku melanjutkan bengkel tua, jelek dan kotor macam pembuangan sampah ini.”

Aku menyeringai, “Setidaknya, lebih tidak ada masa depan kalau hanya jadi pengemudi sepit, Kawan.”

Andi terdiam. Meraih kunci nomor 12 yang dia lempar tadi.

“Aku tidak suka jadi montir.”

Aku nyengir, “Lah, lantas kau mau jadi apa?”

Andi menggaruk kepala, sedikit ragu-ragu, “Aku ingin punya toko besar seperti koh-koh China di pasar Pontianak. Luasnya tak berbilang, penuh onderdil, peralatan, semuanya, serba canggih. Karyawan toko belasan, hilir-mudik membantu pembeli, mobil box datang bergantian mengantarkan pesanan, terkenal di seluruh Pontianak.”

“Bukan main.” Aku benar-benar menghentikan gerakan tangan memperbaiki motor, menatap Andi, “Nah, kalau semua sudah dikerjakan pegawai, kau sendiri mengerjakan apa di toko itu?”

“Menghitung uang-lah. Cengklang! Sekian ratus ribu masuk laci. Cengklang! Sekian belas ribu jadi kembalian. Cengklang! Beli ini, beli itu. Cengklang! Macam Kokoh China itu-lah.”

“Haiya, Kawan, kalau begitu, siapa pula yang tidak mau?” Aku tertawa, “Kau mau cepat jadi seperti itu? Bantu saja Koh Acung di toko kelontongnya. Beli laci uang yang bisa bunyi cengklang! Cengklang! Beres.”

Andi menatapku sebal, kembali menunduk, sibuk memainkan kunci nomor 12.

“Kau habis dimarahi bapak kau lagi?” Aku bertanya, agak menyesal telah tertawa.

Andi tidak menjawab.

“Aku paling tidak tahan melihat wajah kau macam pengungsi perang seperti ini, Andi. Kusut, terlipat empat. Ayolah, bergembiralah sedikit.”

Andi tetap menunduk, tidak menanggapi.

Aku sembarang melempar obeng, beranjak duduk di depannya, “Pak Tua selalu bilang padaku, sepanjang kau punya rencana, maka jangan pernah berkecil hati, Borno…. Aku dulu tidak suka dengan kalimat itu, itu hanya kalimat hiburan. Apalah yang diharapkan dari kita ini? Hanya lulus SMA. Modal tak punya, keahlian tak ada, kesempatan minus, jaringan nol, yang tersisa cuma mimpi, cita-cita…. Dulu aku bermimpi bisa kuliah sambil bekerja, lihat, sudah tiga tahun sejak lulus SMA, hanya itu-itu saja kemajuan mimpiku. Jadi pengemudi sepit, penghasilan pas-pasan. Sementara lihat teman-teman SMA kita dulu, sibuk dengan kuliah mereka, sibuk dengan masa depan. Ada yang hendak jadi PNS, ada yang mau jadi karyawan swasta necis.”

“Bukan hanya kau, Andi, aku juga sering berpikir, sepuluh tahun lagi, jangan-jangan mereka semakin jauh di depan, sedangkan kita semakin jauh tertinggal. Terus-terang saja, aku tidak mencemaskan soal mereka punya rumah, punya mobil, hidup hebat, tidak. Tetapi aku lebih mencemaskan jangan-jangan sepuluh tahun lagi Borno tetap jadi seorang pengemudi sepit. Nasibku sama seperti Bang Jau, Jupri, dan yang lain. Dari kecil sudah jadi pengemudi sepit. Bang Togar masih lumayan, dia pernah bertualang ke hulu Kapuas, punya masa muda yang berbeda. Pak Tua apalagi, menjadi pengemudi sepit hanya hobi, bahkan kupikir dia amat menikmatinya setelah berpuluh-puluh tahun berkeliling dunia, kaya meski hidupnya sederhana. Sedangkan aku? Tidak ada hal hebat yang pernah kulakukan.

Andi perlahan mengangkat kepala.

“Sepanjang kau punya rencana, maka jangan pernah berkecil hati…. Kau tahu, aku dulu tidak mengerti maksud kalimat itu. Hari ini aku paham benar maksudnya. Nah, tadi kau bertanya, kenapa aku mau-maunya jadi montir? Aku punya rencana, Kawan. Tidak besar, juga tidak hebat, tapi rencana ini lebih dari cukup untuk mengusir jauh-jauh perasaan rendah diri, kecil hati itu. Aku memang tidak kuliah, dan mungkin tidak akan pernah berkesempatan kuliah, tetapi enam bulan terakhir aku membaca lebih banyak buku tentang mesin dibanding mahasiswa tahun terakhir. Kita memang tidak punya modal, tapi itu gampang, pasti ada jalan keluarnya. Kita juga tidak punya jaringan, kenalan, tapi itu bisa dibangun perlahan-lahan. Jangan bilang bengkel ini tidak ada masa depannya, Andi. Tentu Bapak kau marah besar, tersinggung, bengkelnya dibilang tempat sampah. Bukankah nafkah keluarga kau dari bengkel ini, selain jualan jengkol dan sebagainya itu. Aku pun tersinggung mendengarnya.

Andi diam, menatapku lamat-lamat.

“Percayalah,” Aku menepuk bahu Andi, “Sepanjang kita punya mimpi, cita-cita yang lantas dikongkritkan dengan sebuah rencana yang walau kecil tapi masuk akal, maka tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datang menganggu pikiran. Dan ingat ini, seandainya kau tidak punya rencana itu, kau gagal melaksanakan rencana kau itu, kau tenang saja, rencanaku cukup besar untuk kita berdua. Masa depan yang lebih baik. Masa depan kita yang lebih cerah.”

Aku membalas tatapan Andi dengan ekspresi wajah mantap, meyakinkan.

Andi menelan ludah, “Ini horor, Borno.”

“Horor apanya?” Dahiku terlipat, bingung.

“Lama-lama kau mirip Pak Tua. Ini menakutkan.”

***

Continue reading

Episode 40: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Kita Pontianak!

Amboi, aku kehabisan kata. Jangan tanya sepitku, langsung meliuk kembali ke bibir steher, tidak peduli seruan kaget dan protes sebal penumpang yang hampir jatuh ke air. Aku mendongak menatap Mei, yang walau ngos-ngosan tetap tersenyum manis bukan kepalang.

“Nah, akhirnya kutemukan kau di sini, Borno.”

Eh? Kenapa suara Mei jadi berat?

Aku menutupkan telapak tangan di dahi, berusaha melihat lebih baik, matahari membuat silau.

Itu bukan suara Mei, itu suara Bang Togar, dia tertawa lebar, wajahnya macam menang lotere berhadiah sebuah jembatan Kapuas, tiba-tiba sudah berdiri di sebelah petugas timer, dan di depan Mei.

“Aku cari kau kemana-mana, Borno.” Bang Togar loncat ke atas perahu—sebelum Mei melakukannya. Bang Togar tidak segera duduk, dia jongkok, lantas menarik lenganku agar berdiri.

Sial, aku yang masih kaget, terkejut, terkesima, terpana, terpukau, mematung (menilik permainanku dengan Andi dulu, entah ada berapa belas sinonim kata untuk menunjukkan perasaanku saat ini), tidak sensitif, tidak cepat bereaksi atas apa yang akan dilakukan Bang Togar. Tubuh besar itu sudah memelukku erat sekali, macam pasangan kekasih yang lama tidak berjumpa. Bang Togar mencium pipiku, mencium keningku, mengacak-acak rambutku, menepuk-nepuk bahuku, tidak peduli sepit jadi oleng kiri-kanan. Membuat penumpang tambah berseru-seru sebal.

“Aku minta maaf, Borno.” Bang Togar mengatakan kalimat itu dengan suara bergetar, menyeka ujung mata, berkaca-kaca, “Aku minta maaf atas semua perangai burukku selama ini. Kau tahu, selain pada Unai dan dua anak-anakku, kau berada di urutan pertama orang yang paling sering kuzalimi. Lihat, jamban itu, tega sekali aku setahun lalu menyuruh kau menge-catnya. Menyuruh kau menyiramnya pagi, siang dan sore. Membentak-bentak macam sedang memarahi romusha, padahal Ibu kau sendiri tidak pernah membentak dan menyuruh kau membersihkan kakus. Tak kurang pula kuhina kau bagai anak tidak tahu diri, anak tidak tahu untung. Maafkan abang kau ini, Togar.”

Dan, astaga, sekali lagi Bang Togar memeluk badanku, mencium pipi, kening, mengacak-acak rambut, menepuk-nepuk bahu, tidak peduli dua penumpang sudah turun dari sepit—sambil mengomel panjang lebar, bilang mau pindah ke sepit lain saja. Petugas timer tidak bisa mencegah, dia sendiri sibuk, setengah menahan tawa, setengah bingung, menonton kejadian di atas perahuku. Apalagi Mei, yang keduluan sepersekian detik menyapa dan loncat ke perahu, mata sipitnya membesar, dahinya terlipat (masih ngos-ngosan). Entah apa yang ada di pikiran Mei melihatku dicium-cium Bang Togar, tangannya terjulur, hendak memisahkan, wajahnya bingung.

“Tak kurang di warung makan Tulani, Acung, rumah Pak Tua, dermaga ini, rumah sakit, polres, di mana-mana, aku selalu menganggap kau remeh, Borno. Tak sekalipun aku membanggakan kau. Dan lihatlah, apa balasannya? Kau justeru orang yang paling sering membezukku di penjara setelah Unai dan anak-anakku. Kau ringan kaki mengantar Pak Tua, Ibu kau, siapa saja di sepanjang gang kita yang ingin membezukku. Kau bahkan menemaniku saat bertemu bapak Unai yang sakti itu…. Maafkan abang kau ini, Borno. Sungguh maafkan.”

Dan, sekali lagi Bang Togar seperti hendak menangis memeluk badanku.

Kali ini aku bereaksi, aku menahan dada Bang Togar, buru-buru mengangguk, memasang wajah serius, “Iya, Bang, aku maafkan. Sudah kumaafkan jauh-jauh hari malah.”

Gerakan tangan Bang Togar terhenti, dia memegang bahuku, terpana, menatapku sejenak, “Ya Tuhan, dengarlah.” Bang Togar menoleh ke petugas timer, “Dia bahkan sudah memaafkanku jauh-jauh hari. Dia…. Aku merasa amat bersalah, Borno. Kau benar-benar anak yang baik.” Suara Bang Togar semakin serak, lantas tanpa bisa kulawan, tubuh tinggi-besar itu sudah memelukku erat-erat ketiga-kalinya.

Aduh, rumit nian masalah ini. Aku mengutuk dalam hati, bagaimana aku menghentikan kelakuan aneh Bang Togar, menggeliat berusaha melepaskan pelukan Bang Togar. Pengemudi lain sibuk tertawa—apalagi Jauhari, dia memukul-mukul pinggir perahunya, terpingkal-pingkal. Penumpang lain menoleh, berbisik satu sama-lain, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

“Cukup, Bang Togar. Cukup!” Petugas timer akhirnya melibatkan diri, berusaha menarik tangan Bang Togar.

Yang ditarik menoleh, akhirnya melepas pelukan, sibuk menyeka mata, “Kau tahu, Sambas, anak ini, Borno, adalah anak paling berhati mulia sepanjang tepian Kapuas. Anak yang paling kubanggakan, bukan karena bapaknya mati mendonorkan jantung, tapi karena dia mewarisi seluruh kebaikan itu. Hulu Kapuas, hilir Kapuas, tak ada yang sebaik anak muda ini.”

“Iya, Bang. Iya.” Petugas timer masih dengan sisa tawanya, berusaha serius, “Tetapi anak paling berhati mulia sepanjang tepias Kapuas ini harus narik sepit. Lihat, penumpangnya kabur semua.”

Bang Togar seperti baru siuman dari pingsan, melihat sekitar, terkaget-kaget, menepuk jidat, “Ah iya, astaga, apa yang telah kuperbuat, aku sekali lagi menganggu kau, Borno. Alangkah kurang ajar abang kau ini, membuat sepit kau kosong-melompong. Maafkan aku—“

“Aku maafkan, Bang. SUNGGUH!” Aku bergegas berkata tegas, “Tetapi aku harus narik, Bang. Bisa dilanjut nanti-nanti?”

Bang Togar mengangguk-angguk, menyeringai, “Iya, iya, baiklah. Kalau begitu, aku kembali ke steher. Terima-kasih banyak, Borno.” Tubuh tinggi besar itu loncat ke dermaga kayu.

Tinggallah aku yang berdiri salah-tingkah membalas tatapan penumpang dan pengemudi lain, mengangkat bahu, menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Boleh aku naik sekarang?” Mei bertanya ragu-ragu pada petugas timer.

“Silahkan. Silahkan.” Petugas timer buru-buru menyingkir, memberi jalan.

Mei gesit loncat ke atas sepit, duduk di papan melintang dekat buritan, tersenyum kepadaku (yang sudah duduk kembali dan bersiap memegang tuas kemudi).

“Woi!! Separuh ke sini, naik ke sepit Borno.” Petugas timer segera berteriak, membuyarkan kerumunan penumpang yang menonton, “Ayo, semua naik. Bergegas, terlambat sekolah, telat ngantor jangan salahkan sepit.”

Perahu tempelku segera penuh.

“Nah, silahkan berangkat, Borno.” Petugas menepuk ujung perahuku, mengedipkan mat, “Hati-hati, Kawan, penumpang spesial kau sudah duduk rapi.”

Aku balas menyeringai, perlahan menarik pedal gas.

***

Continue reading

Episode 39: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Bertemu Kembali

Kami pulang ke Pontianak dua hari kemudian, menumpang bus, duduk bersempit-sempit dua-tiga. Andi jatuh tertidur bahkan sebelum bus bergerak dan angin semilir nina-bobo masuk lewat jendela buram, dia lelah, tidak berselera menggangguku (dan kuganggu). Pak Tua juga santai bersandar, meletakkan topi pandan di tangan, meminjam istilah Ijong si penjaga SPBU yang asli Jawa, status mata Pak Tua adalah ‘merem melek’. Bus bergerak cepat meninggalkan gerbang kota, aku menatap jejeran rumah yang mulai merenggang, pepohonan yang mulai merapat. Selamat tinggal Singkawang, kota dengan penduduk dua pertiga orang China. Di kota ini, wajah Melayu-ku justeru terlihat berbeda. Sepert saat acara pernikahan si kembar kemarin, tidak banyak tamu yang berkulit gelap.

Aku (malu-malu) dan Andi (malu-maluin) diajak Pak Tua menyalami Sie Sie. Aku sungguh sungkan, gugup, malu, perasaan semacam itulah bertemu dengan seseorang yang kisah hidupnya begitu menakjubkan. Kupikir apa yang dilakukan almarhum bapak dulu sudah hebat, ternyata ada yang lebih keren. Wajah tua Sie Sie terlihat riang, bisik Pak Tua, sejak Wong Lan berubah seratus delapan puluh derajat, wajah Sie Sie memang nampak lebih muda sepuluh tahun dibanding umur sebenarnya. Sedangkan Andi, malu-maluin, justeru sejak tiba di tempat acara membujuk-bujuk Pak Tua agar segera merapat ke kursi depan, menyapa keluarga mereka, “Siapa tahu ada amoy cantik, Pak. Ayolah, bergegas.” Aku menyikut Andi, melotot, tidak bisakah dia punya sopan-santun sedikit, “Apa salahnya?” Andi mengangkat bahu, “Kau tahu, jangan-jangan malah ada amoy dari Taiwan. Si sendu menawan kau itu bisa putus tak berbilang dibanding artis sana.” Aku menatap Andi jengkel. Pak Tua tersenyum menengahi, akhirnya melangkah mendekati keluarga besar itu—enam adik Sie Sie datang bersama keluarga lengkap, belum terhitung kerabat dekat.

“Kalian tidak diceritakan cerita yang tidak-tidak dari Pak Hidir, bukan?” Sie Sie tersenyum, selintas sisa kecantikan masa lalunya terlihat.

Aku menggeleng, sopan membalas senyum. Andi di belakangku sibuk melirik pendamping mempelai wanita, hampir terpintal jatuh di karpet, nyengir menepuk-nepuk celana.

“Ah, kuceritakan separuh saja, itu sudah berlebihan untuk nalar mereka yang masih hijau sekali, Sie.” Pak Tua terkekeh, bergerak menyalami Wong Lan, “Bagaimana kabar kau, Wong Lan? Kudengar kalian membeli kembali pabrik tekstil dan rumah besar itu?”

“Kabar baik, Pak Hidir,” Wong Lan tersenyum, mengangguk, “Pabrik dan rumah itu penuh kenangan, Sie yang memutuskan membelinya.”

Aku menelan ludah, ikut menyalami Wong Lan. Ragu-ragu bersitatap dengannya, astaga, kisah kejahatan dia masih mengiang-ngiang di kepalaku, laki-laki inilah yang dulu melempar asbak, menjambak, menginjak, menghinakan seorang gadis belasan tahun. Aku berusaha bertingkah sama ramahnya seperti Pak Tua yang bersalaman hangat dengan Wong Lan—bahkan aku tidak mudah memaafkan Wong Lan hanya karena satu jam mendengar cerita tabiat buruknya, lihatlah Sie Sie yang lima belas tahun hidup dengan cerita itu.

“Dua anak muda keren ini cucu, Pak Tua?” Wong Lan bertanya.

“Benar, Oom.” Andi yang menjawab, semangat mendekat, “Kami nih bujangan, belum menikah, Oom. Terima-kasih sudah bilang keren.”

“Si-a-pa?” Aku mendesis pelan, mencengkeram lengan Andi.

“Siapa apa?” Andi melotot, balas berbisik.

“Siapa yang bertanya kau sudah menikah atau belum?”

“Mereka bukan cucuku, Wong Lan.” Suara Pak Tua meningkahi bisik-bisik kami, “Mereka teman-temanku di Pontianak.”

“Alangkah menyenangkan, kalau begitu,” Wong Lan tersenyum, ramah memegang lenganku, “Ada banyak ilmu dari Pak Hidir, Nak. Kau bisa belajar kebijakan hidup, rasa sakit, rasa kehilangan, banyak hal seperti itu dari beliau tanpa perlu mengalaminya sendiri. Jangan sia-siakan. Ah, sayangnya waktu aku muda dulu, aku tidak seberuntung kau, punya teman sebijak dia.”

Aku mengangguk, tersenyum lebih lebar (dan lebih tulus) pada Wong Lan.

Prosesi pernikahan si kembar dilaksanakan dengan tradisi lengkap penduduk China Singkawang. Sama megah, khidmat dan lamanya seperti kebiasaan orang-orang Melayu, Bugis, Jawa dan sebagainya. Warna merah dan keemasan ada di mana-mana. Makanan tradisional terhampar di meja-meja, Andi sudah sibuk makan tahu Singkawang (yang kebetulan mejanya dijaga dua amoy). Aku enggan mendekat, memilih berdiri di pojok, sendirian menatap keramaian. Kepalaku memperhatikan sekaligus berpikir banyak hal: menatap Sie Sie, menatap Wong Lan, usia mereka enam puluh lebih, menatap pasangan pengantin, barongsai, amplop merah angpao, anak-anak berlarian, pakaian cerah para undangan, anak-anak menangis, pertunjukan seni, suara tepuk-tangan, prosesi pernikahan, gelak-tawa, cerita Pak Tua tadi malam, pelayan yang sibuk hilir mudik, anak-anak menangis, lampu kristal, dan…. Mei.

Aku mengusap peluh di pelipis, hanya soal waktu pikiranku bermuara ke Mei. Apa kabar dia? Sedang apa? Wajah Mei yang riang menaiki sepit terbayang, disusul tawanya saat belajar mengemudi sepit, senyumnya, cara bicaranya di rumah makan Pasar Ampel, gerakan memperbaiki anak rambut di dahi, menyeka percik air hujan saat berdiri di depan rumah Fulan-Fulani. Aku mendesah, tidak mengapa mengenang sedikit, tidak mengapa teringat sebentar. Itu sehat dan tidak berbahaya, apalagi di tengah keramaian macam ini, gadis berwajah China ada di mana-mana. Ah, sudahlah, aku menghela nafas perlahan, sejak sembuh dari sakit aku telah memutuskan melupakannya.

“Woi, kau tidak makan?” Andi tiba-tiba berdiri di depanku.

Aku menggeleng, tidak berselera.

“Ayolah, Kawan. Tampang kusut kau ini tidak pantas berada di ruangan penuh suka-cita, nanti kau membawa feng shui buruk bagi pengantin baru, tahu.” Andi tertawa, “Nah, aku tadi berkenalan dengan dua amoy, cantik-cantik, kupikir kacik sedikitlah dengan si sendu menawan kau.”

Aku tetap menggeleng, tidak tertarik.

“Ye lah, ye lah…. Tetap lebih cantik gadis kau itu. Aku pergi lagi, Kawan.” Andi nyengir, menghilang di antara tamu undangan.

Aku akhirnya jatuh tertidur di bus yang melaju kencang menuju kota kami, Pontianak.

*** Continue reading

Episode 38: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Bertemu Kembali

“Wong Lan tak sabaran, memaksa Sie Sie berangkat ke Taiwan esok sore, lebih cepat lebih baik. Kepergian yang menyedihkan, karena tidak seperti pengantin baru yang dilepas dengan perasaan suka-cita, doa-doa dan pengharapan, tidak ada satu pun kerabat yang mengantar Sie ke terminal bus menuju Pontianak, kemudian menumpang pesawat ke Jakarta, singgah dua jam, pindah ke pesawat berikutnya transit di Singapura lantas Taiwan. Sie Sie bahkan tidak sempat pamit pada Ayahnya, menyedihkan.

“Dia sudah berdiri di depan pintu ruang bezuk, kakinya gemetar, matanya basah, dan saat sipir penjara berteriak memanggil, “Siapa yang bernama Sie Sie? Bapak Han sudah menunggu di dalam.” Sie justeru sedang membujuk mati-matian agar dirinya berdiri tegar, “Siapa yang bernama Sie Sie? Waktu bezuk hanya setengah jam?” Petugas berteriak, kepalanya melongok. Sie menggigit bibir sampai terasa asin, dia ingin bertemu Ayahnya sebelum pergi jauh, ingin mengabarkan keputusan itu, meminta doa restu. “Woi, mana yang namanya Sie Sie? Aku tidak akan menunggu seharian di sini, ada banyak urusan lebih penting.” Petugas mendengus marah, keluar dari ruang bezuk. Sie sudah menangis, berlarian sepanjang lorong, kakinya berkhianat, menyuruh menyingkir sejauh mungkin.

“Kalian tahu, dari ketinggian langit, tidak macam penumpang yang pertama kali naik pesawat terbang, antusias melihat cakrawala luas, awan-awan putih, Sie hanya menatap kosong untuk terakhir kalinya batas pulau Kalimantan, garis tanah kelahirannya dengan lautan luas. Entah di mana Singkawang, di mana Pontianak, di mana kotanya, yang terlihat hanya kontras warna biru gelap dan biru muda yang semakin memudar. Dia sudah ratusan kilometer meninggalkan tanah kelahiran. Sie Sie menyeka ujung mata, dia berjanji, ini untuk terakhir kalinya dia menangis, tidak, dia tidak akan lagi menangis apapun yang terjadi. Dia berjanji sungguh-sungguh, menyeka ingus. Sementara suaminya, Wong Lan, sejak pesawat lepas landas mendengkur tidak peduli di kursi sebelah.”

Pak Tua diam sebentar, menghela nafas.

Aku dan Andi ikut menghela nafas.

“Mereka tidak banyak bicara sepanjang perjalanan dua belas jam Singkawang-Taiwan, juga tidak banyak bicara saat tiba di rumah keluarga Wong. Tidak ada acara menyambut menantu, tidak ada kerabat, kolega, tetangga bahkan pembantu yang tahu mereka datang. Rasa peduli Wong Lan hanya satu, mengundang pengacara sesegera mungkin, memperlihatkan Sie Sie, surat menyurat dan bukti dokumen pernikahan sah. Syarat telah dipenuhi, harta warisan keluarga resmi menjadi milik Wong Lan. Senang bukan kepalang pemuda Taiwan itu, hingga tidak peduli mau apa, hendak apa, dan siapa Sie Sie baginya. Cuma pada pengacara itu Wong Lan mengaku Sie Sie istrinya, sedangkan pada tamu yang berkunjung, teman yang datang, Wong bilang Sie adalah pembantu impor dari Indonesia, “Gajinya murah, cukup diberi makan tiga kali sehari. Sudah senang dia. Kau mau kucarikan satu?” Bergaya Wong Lan menunjuk-nunjuk jidat Sie Sie.

“Tidak ada di keluarga itu yang menghargai Sie, termasuk pembantu asli di rumah sekalipun. Sopir, tukang kebun, tukang pel, di belakang Sie sibuk memonyongkan bibir tanda tidak suka, “Istri belian, wanita murahan, statusnya lebih rendah dibanding kita.” Membiarkan gadis usia enam belas itu berjuang sendirian melakukan penyesuaian. Negeri baru, iklim baru, musim panas, musim dingin, musim semi, mana ada salju di Singkawang? Aksen dan kosakata mandarin yang berbeda, racikan bumbu masakan yang berbeda, cara berpakaian yang berbeda, semuanya berbeda.

“Dua tahun berlalu, dengan pengalaman mengasuh enam adik dan ibu selama ini, setidaknya Sie cukup tangguh. Wong Lan juga sejauh ini tidak menyakiti Sie secara fisik, orang-orang di rumah meski tidak respek, tidak berani menunjukkan rasa benci secara terbuka. Dua tahun itu, Sie menyibukkan diri, belajar menjadi istri yang baik, melakukan apa saja yang bisa dia kerjakan, melayani suami sebaik mungkin, menyiapkan baju kerja, memasangkan dasi, menyemir sepatu, melepas sepatu, berlarian membawa tas kerja, menyiapkan makanan, merapikan tempat tidur. Memasang wajah riang, tersenyum, tidak peduli meski Wong Lan melempar piring, mencaci masakannya, tidak peduli walau Wong Lan merenggut dasi yang dipasangkan, menginjak tangannya saat melepas sepatu. Sie sudah berjanji pada Ibu, dia akan mencintai suaminya apa-adanya.

“Nah, bicara tentang Ibu, persis di penghujung tahun kedua, sepucuk telegram terkirim dari Singkawang, isinya pendek: Tadi malam kma senin kma tanggal dua satu bulan lima kma pukul delapan ttk tiga puluh kma Ibu meninggal di RSU ttk tidak perlu dicemaskan kma Ibu akan segera dikebumikan esok pagi kma peluk sayang dari adik adikmu ttk hbs

Continue reading

Episode 37: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Bertemu Kembali

“Apakah itu perasaan? Apakah itu cinta? Semakin lama memperhatikan sekitar, mendengar, mencatat, berpikir, maka semakin banyak definisi, versi, pengorbanan dan kisah cinta yang kita ketahui. Cinta mengambil bentuk yang amat beragam, dan di satu titik paling mencolok, apakah kau bisa memaksa perasaan se-istimewa itu tumbuh di hati? Jawabannya: bisa. Tentu saja bisa. Kau bisa memaksa seseorang mencintai kau meski dia tak cinta, bahkan benci sebelumnya.” Pak Tua takjim memulai kisah amoy Singkawang. Aku dan Andi macam anak SD, duduk rapi mendengarkan.

“Sebut sajalah keluarga Han, punya tujuh anak, bekerja serabutan, terakhir dia jadi kuli kasar di pabrik tahu. Istrinya ibu rumah tangga yang repot mengurus anak-anak sekaligus repot bekerja sebagai babu separuh hari di rumah orang kaya. Keluarga Han tinggal di pinggiran Singkawang, daerah kumuh lazimnya di kota-kota yang sedang berkembang, timpang sana, gusur sini. Tidak sedap dilihat, tidak enak dicium. Jauh lebih baik gang sempit tepian Kapuas milik kita.

“Dari tujuh anak mereka, adalah Sie Sie anak tertua, gadis remaja usia enam belas. Mekar menjadi kembang daerah kumuh itu, rambutnya panjang, tinggi semampai, berkulit putih, berlesung pipit dan amboi manis sekali senyumnya. Kalau kau bertemu dengan Sie Sie di oplet, tidak akan menyangka dia amoy dari keluarga miskin, atau gadis remaja tangguh yang setiap hari bekerja keras, mengurus enam adik sejak shubuh buta sampai larut malam saat adiknya yang masih bayi jatuh tertidur.

“Kalau saja Sie ditakdirkan lahir di keluarga berada, lemari di rumah mereka pasti penuh dengan piala-piala, gadis itu pintar, supel, rajin dan tidak suka mengeluh. Sejak kecil sudah terbiasa membantu orang-tuanya mengurus apa saja. Lihatlah, dia bisa ditemukan di rumah sedang menggendong adiknya yang paling kecil, sekaligus menyuapi dua adiknya yang lain, meneriaki adiknya yang cukup besar agar berhenti bertengkar, sambil menjahit pakaian dengan singer tua berkarat. Sayangnya Sie tidak sekolah, tidak berpendidikan. Satu-satunya keahlian dia adalah membuat baju pesanan yang dipelajarinya sendiri, itupun untuk membantu beban orang-tuanya.

“Keluarga Han bertahan hidup dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga cobaan besar itu datang. Semua baik-baik saja hingga suatu ketika Ibu Sie Sie jatuh sakit. Apalagi yang diharapkan dari pemukiman kumuh, air bersih terbatas, ventilasi rumah buruk, lantai lembab? Semua mengundang banyak penyakit, Ibu Sie kena paru-paru basah, penumonia. Kondisinya dengan cepat memburuk, parah karena tidak segera mendapat pengobatan yang baik.

“Sejak Ibu mereka sakit, separuh penghasilan keluarga hilang, sialnya harus ditambah dengan pengeluaran baru, uang untuk membeli berbagai obat tradisional yang tidak kunjung menyembuhkan. Semua beban itu jatuh pada Sie Sie, selain mengurus enam adik-adiknya, dia juga harus merawat Ibunya, ditambah masih harus bekerja hingga larut malam menyelesaikan pesanan baju yang bayarannya tidak seberapa. Tidak terbayangkan, gadis usia enam belas harus memikul beban fisik dan pikiran sebanyak itu. Dan situasi semakin rumit saat Ayah mereka dipecat dari pabrik tahu, ketahuan mencuri brankas uang—tidak tahan dengan kesulitan yang ada, Ayah mereka mengambil jalan pintas.” Pak Tua berhenti sejenak, meneguk teh aroma melati di atas meja. Andi melihat gelas teh tidak sabaran.

Continue reading

Episode 36: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Bertemu Kembali

“Kau mau teh dingin?” Andi menyikut lenganku.

“Boleh.” Aku mengangguk.

Terminal Pontianak gerah, sopir bus yang tega tetap nge-tem meski penumpang sudah hampir penuh membuat langit-langit bus tambah gerah. Apalagi melihat kelakuan kondekturnya, “Singkawang! Singkawang berangkat!” Kondektur berteriak, jamak menipu calon penumpang, bilang ‘berangkat’ atau ‘langsung’, tapi tetap saja roda bus tidak bergerak.

Andi menyerahkan teh botol dingin-berembun, ditarik dari ember berisi bongkahan es tukang asong. Aku menyeringai, bilang terima-kasih, lantas menghirup pipet putih, kerongkongan terasa segar.

“Harusnya petugas timer di terminal ini belajar dengan Om petugas di dermaga sepit. Tidak penuh, kalau waktunya habis, sepit tetap harus jalan.” Aku menyeka peluh di pelipis.

Andi mengangguk-angguk setuju.

“Kursi sebelah kau kosong, hah?” Kondektur yang sepertinya berhari-hari tidak mandi itu mendekat, di belakangnya berdiri bapak-bapak gendut, membawa koper besar, mencari bangku nganggur.

“Ada orangnya.” Andi yang menjawab.

“Mana orangnya? Kosong ini, geser, kasih tempat yang lain, dua-tiga, dua-tiga!” Kondektur melotot, dari tadi sibuk dia bilang dua-tiga, dua-tiga. Dua penumpang di kursi sebelah kiri, tiga di sebelah kanan. Anak kecil harus dipangku, tidak dipangku dianggap bayar. Alamak, mana ada aturan macam ini di sepitku, lebih satu penumpang saja Bang Togar mengirimkan surat peringatan, melanggar standar keselamatan.

Sebelum aku bersitegang dengan kondektur itu, dia tetap ngotot nyuruh bergeser, sementara aku tetap meletakkan tas ransel di kursi kosong, Pak Tua naik, berjalan di sepanjang lorong bus.

“Nah, itu ada penumpangnya.” Andi mengacungkan telunjuk.

Kondektur bersungut-sungut berlalu ke belakang.

“Ah, ternyata kalian sudah beli minuman dingin juga.” Pak Tua mengambil posisi, duduk. Mengangkat kantong plastik di tangan, tertawa kecil. Tadi Pak Tua pamit sebentar ke toilet terminal, “Ya sudahlah, buat bekal di jalan.”

Adalah setengah jam lagi menunggu ketika akhirnya bus itu benar-benar bergerak. Itu pun setelah sepuluh menit pakai acara maju-mundur dulu, biasalah, lagi-lagi trik menipu calon penumpang agar bergegas naik—kalau kalian suka naik bus, oplet atau angkutan umum pasti tahu maksudnya.

“Sebenarnya Pak Tua ada keperluan apa di Singkawang?” Andi memecah lengang, pukul sepuluh pagi, bus melesat cepat di jalan raya, semilir angin melewati jendela kaca kusam, membuat penumpang terkantuk-kantuk.

“Nah, terima-kasih akhirnya ada yang bertanya.” Pak Tua terkekeh, “Kupikir kalian terlalu asyik dengan perjalanan ini, jadi tidak ingat untuk bertanya apa pasal kita ke sana.”

Aku dan Andi saling lirik, nyengir, merasa disindir.

“Kita berplesir, Andi. Hitung-hitung agar kalian berdua lebih damai, tambah akrab lepas kejadian vespa orisinil ‘62 itu.” Pak Tua melepas topi pandan, mengusap uban, tertawa lagi.

Aku dan Andi saling lirik lagi, nyengir kaku.

Pak Tua hanya bergurau, tentu saja, kejadian heboh itu sudah hampir sebulan lalu.

Heboh? Dua malam Andi mengungsi ke rumah Pak Tua karena amuk bapaknya. Bayangkan, saat kembali dari dermaga ferry, saat bersiap mengembalikan vespa itu, yang ada justeru hamparan onderdil dan bodi motor. Belum ditambah Andi dengan tampang polos malah bertanya balik pada bapaknya, “Bukankah bapak yang nyuruh bongkar, ya?”

Aku juga ketiban pulung, dua hari penuh bapak Andi menungguiku merakit ulang vespa itu. Tidak boleh meleset satu baut pun, tidak boleh lecet se-mili pun. Di mana seni-nya jadi montir kalau ada mandor monster dengan wajah masam duduk mengawasi, berdehem-dehem galak setiap aku sedikit kasar meraih plat bodi motor. Semua memang bisa diperbaiki, pemilik vespa juga reda marahnya setelah melihat motornya kembali utuh tanpa lecet, tetapi aku menyadari, gurauanku berlebihan, maka dua malam berturut-turut berangkat dengan wajah memelas ke rumah Pak Tua, meminta pengampunan dari Andi, membujuknya pulang ke rumah.

Continue reading

Episode 35: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kembali Membumi

Tidak sesuai harapan.

Bukannya berempati, Pak Tua malah terpingkal-pingkal mendengar ceritaku, “Kau benar-benar dikerjai Andi, Borno. Telak macam petinju kena pukul dagunya, langsung terkapar KO.”

“Dan apa yang kau lakukan? Sebentar, jangan dijawab, biarkan orang tua ini menebaknya… kau, kau hanya bisa berdiri termangu di steher, amat kecewa?” Pak Tua menepuk-nepuk meja, tertawa lagi, tidak peduli dengan wajah terlipatku.

Aku merengut sebal, agak menyesal telah bercerita.

“Tapi, tapi….” Tawa Pak Tua mereda, mungkin akhirnya kasihan melihatku, mengusap ujung-matanya yang berair, “Menurutku Andi telah mengajarkan sesuatu yang amat berharga, Borno. Tips hebat yang sering dilupakan oleh orang-orang sedang patah-hati, gulana menganyam rindu, gelisah dengan pengharapan, atau orang-orang macam kau inilah, Borno….” Pak Tua sejenak mengusap-usap ubannya,”Astaga, berarti selama ini aku keliru menilai sebelah mata Andi, meremehkan dia sebagai si banyak omong, tukang maksa dan agak lambat mengerti. Ternyata dia cerdas dan bernas, Borno. Dan di atas segalanya, yang paling penting, Andi membuktikan dia adalah teman sejati kau.”

Aku mendengus, apanya yang teman sejati? Apa pula yang disebut tips hebat orang-orang patah-hati? Kalau saja Pak Tua melihat bagaimana ekspresi wajah tak-berdosa Andi tadi pagi di dermaga, mungkin Pak Tua akan setuju denganku, Andi keterlaluan, sungguh tega, tidak termaafkan meski Kapuas kering.

Bagaimana tidak?

Tadi pagi, saat mendengar dia bilang Mei telah kembali, aku sontak loncat, sial sarungku terpintal kursi, jatuh terguling, tidak mengapa, tidak mengapa lututku terasa nyilu, air teh berhamburan mengenai baju, berusaha bangun, bergegas lari.

“Eh, kau mau kemana?” Andi menahanku.

“Menghidupkan sepit-lah, apalagi.” Aku tidak mempedulikan Andi.

“Sebentar, Kawan. Sebentar….” Andi memegang tanganku, masih berusaha mengatur nafas, “Tak elok kau hanya sarungan macam ini ke dermaga kayu.”

“Memangnya kenapa?” Aku berusaha mengibaskan tangannya. Aku harus bergegas.

“Nanti ke-tampan-an kau ini hilang sesenti, Borno. Berganti pakaianlah, yang rapi, si sendu menawan tidak akan kemana-mana lagi, Surabaya jauh dari Pontianak, tidak macam ke Singkawang atau Entikong.”

Aku menatap wajah Andi, dia mengangguk, nyengir meyakinkan. Aku berpikir sejenak, baiklah, benar juga, tidak pantas aku menemui Mei dengan sarungan, apa salahnya berganti pakaian. Rusuh dua menit membuka lemari, mengaduk-aduk, memakai celana, mengganti kaos yang basah. Lari ke kolong rumah. Andi sudah duduk takjim di sepit, menyilahkanku mengambil posisi di buritan.

Aku terburu-buru menghidupkan mesin. Motor tempel meraung kencang saat kutekan pol gas-nya, sepitku meluncur cepat meninggalkan rumah papan Ibu.

“Seharusnya kau cuci wajah dulu, Kawan.” Andi menatapku, nyengir, “Tapi tak apalah, mau cuci wajah atau tidak, sama saja hasilnya.”

Kalau saja situasinya berbeda, sudah kutimpuk Andi dengan propeler sepit untuk gurauan tidak lucunya itu.

Lima menit melaju kencang.

“Eh? Kita mau kemana?” Andi menoleh, dahinya terlipat.

“Dermaga dekat yayasan sekolah Mei.” Aku menjawab.

“Eh, buat apa ke sana?” Andi sedikit panik.

“Menyusul dia-lah. Apalagi?” Bukankah kalau benar Andi melihat Mei berangkat naik sepit, itu berarti Mei pergi ke sekolahnya. Kami sudah terlambat lima belas menit, Mei tidak akan ada lagi di steher kayu, lebih baik aku langsung ke sekolahnya.

Andi menggaruk kepala yang tidak gatal, menoleh ke arah steher sepit yang tertinggal dibelakang, menoleh ke seberang tempat sepit terarah, menoleh lagi ke steher, berpikir cepat.

“Tidak usah, Kawan. Tidak usah kesana.” Kalau saja aku sedikit awas, suara Andi sebenarnya terdengar licik, tidak meyakinkan.

“Tidak usah?” Aku menyeringai bingung.

“Eh, si sendu menawan itu justeru ada di dermaga kayu kita, Borno. Ya, ya, benar, dia ada di dermaga sepit sekarang.” Andi menyeringai, mencari-cari alasan.

“Apa pula yang dikerjakan Mei di dermaga?” Aku bertanya.

“Eh, dia sedang membagikan amplop merah, ya, ya, dia membagikan angpao.” Andi berusaha memasang wajah serius.

Aku melambankan sepit yang terlanjur ke arah lain, menatap Andi,”Angpao? Mana ada pembagian angpao bulan-bulan ini? Imlek lewat, Cap Gomeh jauh. Merayakan apa?” Otakku bekerja—sayangnya cuma bekerja sedikit dan tidak segera curiga.

“Mana kutahu,” Andi mengangkat bahu, “Mungkin perayaan karena kembali ke Pontianak, atau karena mau bertemu bujang Melayu tampan macam kau.” Andi menahan tawa.

Baiklah, aku tidak panjang mendebat, menurut, menggerakkan tuas kemudi, sepitku membelok cepat, membentuk kibasan macam kipas di permukaan Kapuas. Maka melajulah perahu kayu ke steher kayu. Wajah Andi terlihat senang, mengangguk-angguk. Aku menelan ludah tidak sabaran. Apa kabar Mei? Akankah dia senang melihatku lagi? Pakai baju apa dia pagi ini? Melajulah cepat BORNEO, bawa aku segera menemui Mei.

Empat menit, tiga belas detik, sepit merapat, aku loncat tak sabaran keatas dermaga kayu, dan…. Dan aku termangu bingung, justeru rombongan ramai tujuh-delapan orang segera mengerubungiku.

“Nah, ini Borno. Akhirnya datang juga. Borno akan mengantar Cik dan Ncik sekalian berkeliling kota Pontianak, plesir seharian.” Bapak Andi membentangkan tangan, memperkenalkanku.

“Ah, aku ingat siape dielah. Die nih yang dulu meninggalkan rombongan kami di Istana Kadariah, bukan? Tak mau aku kalau die pegi-pegi tak karuan lagi.” Salah seorang anggota rombongan tertawa, bergurau.

Aku menoleh pada Andi, mana Mei? Tidak peduli rombongan yang hendak menyalamiku itu. Andi nyengir, mengusap rambut, berusaha menjauh. Mana Mei-nya? Aku toleh kiri, toleh kanan, menjulurkan kepala. Woi, Mana Mei? Dermaga kayu ramai oleh penumpang, ibu-ibu, anak-anak, gadis tanggung, berseragam, tidak beseragam, tetapi tidak ada Mei. Mana Mei yang membagikan angpao?

“Nah, Borno. Tolong kau antar keluarga besanku ini. Kali ini bahkan ada yang datang dari Kuala Lumpur, mereka benar-benar terpesona dengan Pontianak, datang dengan sanak-kerabat. Ingat, Borno, tugas negara, kau pahamlah maksudnya, layani saudara satu rumpun ini dengan baik. Pariwisata adalah masa depan Pontianak.” Bapak Andi sibuk berceloteh.

Aku mematung, wajahku menggelembung, mulai mengerti apa yang telah terjadi. Astaga? Andi menjebakku. Andi tahu, mengingat kejadian lalu itu, aku pasti menolak mentah-mentah mengantar keluarga besan dari Serawak ini. Nah, daripada dia diomeli bapaknya (karena gagal membawaku ke dermaga kayu), dengan licik dia men-skenario-kan ada Mei di steher, membuatku terbirit-birit hanya untuk menjemput kenyataan palsu.

“Ayo, Borno, jangan bengong macam bekantan, kau tolong bawa bekal mereka ke atas perahu.” Bapak Andi mendesak, sudah selesai dengan ceramahnya.

Apa yang harus kulakukan? Berteriak marah? Loncat memiting Andi? Ibu, itu sungguh tidak bisa kulakukan, rombongan turis negeri Jiran sudah asyik mengajakku berfoto-foto, tertawa riang. Malah ada yang memeluk bahuku, “Senyumlah sikit, Borno. Nah, senyum. Aku nak foto bersama guide hari nih, biar kupamer dengan temanku di KL lah. Ayo, foto macam Upin-Ipin-lah.”

Andi sialannn!!

Continue reading