Posted by: anakmentari | September 18, 2011

Pujian dan Bersyukur

Beberapa waktu lalu seorang kawan berkunjung ke tempat tinggal saya (rumah orang tua). Dia membawa seorang kawan lama yang sudah lama pula tak jumpa. Alhamdulillah… lewat dia pertemuan bisa kembali terjadi dengan kawan lama tersebut. Tahu kabar berita dan kondisinya sekarang.

Memang kebiasaanya akhir-akhir ini, kalau sedang libur dari kerja yang dia lakukan adalah berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Mengunjungi kawan-kawan lamanya. Tapi, bukankah itu petuah agama? Memperpanjang umur dan Membuka pintu rizki katanya. Dan dari banyak kejadian dan cerita memang begitu adanya. Banyak hikmah dari silaturahim.

Seperti halnya pertemuan-pertemuan lainnya. Bila sedang kumpul dengan teman-teman. Obrolan pun mengalir begitu saja. Mulai dari bertukar kabar, menceritakan kesibukan, dan hal yang tak luput dari obrolan para bujang adalah tentang pasangan hidup. Kapan mau nikah? Kriteria? tentang rasa, dan sebangsanya.

Tapi, hal yang sedikit membuat saya berfikir adalah obrolan tentang pujian. Mungkin hampir semua kita pernah mendapatkan pujian. Entah dari siapa, tapi insyaAllah hampir semuanya pernah (saya anggap begitu). *maksa

Bagaimana respond kita ketika mendapat pujianlah mungkin yang berbeda-beda. Kebanyakan yang saya temui, atau bahkan saya sendiri alami, adalah ketika kita mendapatkan pujian, entah dari siapa, seringkali kita merendah, bilang “ah biasa aja” atau “nggak segitunya kok” atau juga “yah lumayan” dan respon-respon sejenis.

Teman saya memberikan padangan yang berbeda tentang pujian. Dia bilang, bahwa pujian itu hal positif, maka lebih baik kita serap dulu kebaikan itu (terima pujiannya). Karena pujiannya itu membawa aura positif terhadap diri. Baru setelah itu mengembalikan kepada yang Maha Terpuji, Allah Yang Maha Tinggi, dengan berucap Alhamdulillah. Jadi kita bisa menyerap energi positif dari pujian yang diberikan oleh orang-orang sekitar kita, dan kemudian merendah kepada Dzat yang pantas untuk diri kita merendah di hadapanNya.

Ya, sering kali kita lalai untuk bersyukur kepada Sang Pencipta kita, Penguasa Alam Semesta. Allah SWT. Ampunilah segala dosa hamba-hambamu ya Allah…

Posted by: anakmentari | June 30, 2011

Sup Krim

Walaupun bisa dibilang tidak sukses, tapi Sup Krim malam ini masih dalam batas kewajaran… terasa enak dimulut dan diperut (kenyang).

kekurangannya:

  1. Aroma bawang putih ternyata tidak nyaman untuk sup. Tadi pas buat dipakein bawang putih
  2. Salah pada step awal, harusnya semua bahan gak usah ditumis, maklum amatir… langsung aja dicelupin ke kuah kaldu
  3. Kuah terlalu banyak..
  4. Pengentalan kurang mantabb.. jadinya terlalu gimana gitu…

Selain ke-4 hal diatas, semuanya OK! next eksperiment kudu berhasil… #SemangatMasak

Posted by: anakmentari | June 17, 2011

Green Canyon, Kami datang!

Masih lanjut  dengan perjalan bujang, malam itu kami mendapat tempat yang nyaman untuk mengistirahatkan badan.

Rencana perjalanan sebenarnya tidak dibuat secara detail, cuma secara garis besar aja.. Depok – Tasik – Grand Canyon (Pengandaran) – Tasik – Pulang. Mobil yang kami sewa selama dua hari sebenarnya ingin dimaksimalkan oleh sang ketua perjalanan, tapi dia sendiri tak punya gambaran jelas mau kemana kita? jadi ya udah masih tetep dengan rencana garis besar tadi. Debat ba’da subuh berakhir dengan ngopi-ngopi dan sarapan pagi, terima kasih buat tuan rumah.. :)

Setelah mandi dan beres-beres, kami siap untuk menu utama, Grand Canyon… Perjalanan dari Tasik menuju Grand Canyon cukup memakan waktu lama karena memang jauh jaraknya.. :) Mengambil jalur (selatan) alternatif, kami sampai di Grand Canyon sekitar pukul 13.30 WIB

Suasana lumayan rame karena ada promo apaan gitu.. mencoba ngintip ke loket tiket dan membeli tiket untuk dua perahu (karena satu perahu hanya untuk 5 orang, sedang kami bersembilan). Harga satu perahu 75.000 jadi kami keluar 150.000 yang dibayar oleh bendahara perjalanan. Coba ngecek ke tempat antrian ternyata baru nomer 170-an (kalo nggak salah) sedang kami mendapat nomer antrian 304 dan 305 (semoga bener). Kami mencoba istirahat dulu sambil makan siang dan sholat.

Kembali lagi ke antrian kapal, ternyata main ramai. Nomor antrian kami sudah lewat, dan petugas sedang melayani pendatang yang menggunakan tiket “emas”, khusus rombongan. :(    Setelah menunggu sekitar 30 menitan akhirnya kami berhasil menyusupkan tiket kami ke petugas antri supaya bisa naik kapal..

perjalanan kapal yang sekitar 10 menit menyajikan pemandangan air yang coklat dan tebing2 di pinggiran sungai.. lumayan keren pas di ujungnya (pas kapal berhenti).. kami pun turun. menginjakan kaki dibatu-batu sungai, menyentuh dinginnya air sungai Brown Canyon.. (airnya coklat)..

Ternyata saat disana harus kita harus kembali mengeluarkan biaya untuk bersenang-senang, karena masih bujang dengan kapasitas dompet pas-pasan maka, tawar menawar menjadi agak alot.. :D

setelah sekitar 25 menitan akhirnya kami menyerah dan menyepakati harga 200.000 untuk kami semua (dua kapal). Dengan kelompok yang lain kami pun bersenang senang berenenang, body-rafting manantang arus… (biar keliatannya seru), tapi antri… hihihihi..

sekitar satu jam kami berada disana, lantas kembali pulang menuju dermaga kapal tempat awal kami berlayar tadi… berganti pakaian di WC umum bertarif 2000 (saya bayar 1000 dengan uang yang basah, karena bawanya cuma itu pas ganti baju, kirain seribuan :D )..

perjalanan Kami lanjutkan ke Pangandaran Beach.. masih dihari yang sama, sore yang syahdu.. perjalanan para bujang!

Posted by: anakmentari | June 16, 2011

Perjalan Para Bujang; Tasik

Mendapat undangan ikut perjalanan para bujang itu selalu menyenangkan. Karena ada libur panjang, maka dibuatlah agenda jalan-jalan sekalian mampir kerumah salah satu teman di Tasik. Tulisan ini adalah ringkasan memori yang masih tersimpan di otak saya, jadi kalo nggak lengkap ya di maklumi, mesin lama dan belum di upgrade.

Perjalanan saya mulai dari tempat saya numpang tinggal di bilangan pamulang, sekitaran ba’ada maghrib. Tujuannya adalah depok (masjid UI), meeteng point yang disepakati. Sudah lama tidak menempuh perjalanan pamulang-depok pake kendaraan umum, jadi nggak bisa estimasi waktu. perjalanan pamulang Lebak Bulus (LB) saja sudah memakan waktu sekitar satu jam lebih. Ba’da isya saya mampir dulu ke warung di terminal lebak bulus untuk beli minum, sekalian mecahin uang, karena saya tak sempat bawa uang kecil. Menunggu kembalian, hampir saja saya ditinggal Deborah yang masih saja ungu.

Seperti biasa deborah selalu penuh sesak, alhamdulillah saya dapat tempat duduk walau saya lebih nyaman berdiri sebenarnya, tapi kalo berdiri gak kuat di capek-nya :) . Sampe depok sekitar jam 9.00 malam, sudah di koling sama bendahara perjalanan, dan disuruh nunggu di halte UI, tapi saya sudah ada di halte Stasiun UI. Lumayan lama saya nunggu, akhirnya datang juga Avanza yang akan membawa para jejaka berpetualang.

Cek Point pertama adalah warung pecel lele depan stasiun Tanjung Barat. Mengisi perut sebelum perjalanan menuju Ciamis. Agenda utamanya makan, walaupun ternyata ada yang membawa agenda tersembunyi sebagai agenda utama saat itu. Tapi saya tak akan membahasnya, takut jadi ribut. Cukuplah saya punya bukti rekaman kejadian malam itu. Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjut kembali.

Cek Point ke-dua, pom bensin KM berapa gak tau di Tol Cikampek. Agenda utamanya isi bahan bakar mobil. Saya sempatkan turun untuk beli peralatan mandi dan pakaian karena saya benar2 tak siap-siap dengan perjalanan ini. Bawa tas yang saya isi entah dengan apa? selain kamera yang memang sudah saya masukkan jauh2 hari. Keluar dari mini market tempat saya belanja, agak bingung, dimana mobilnya? entah kenapa tiba2 saya blank dengan mobil yang saya naiki, yang teringat hanya Avanza. Jadi intinya saya salah buka pintu mobil? yang saya hampiri Avanza warna silver isinya bapak-bapak seorang (sudah buka pintu tengah, karena saya duduk dibangku tengah). Saya minta maaf dan cabut dari sekitaran mobil tersebut. Ternyata mobil yang saya naiki warna hitam. :hammer:

Perjalan dilanjut dan sampailah kami ke kota Tasik. Kami akan menginap dirumah salah satu kawan. Dalam rangka mencari rumah teman kami itu kami berhenti di perempatan lampu lalin didepan toko apa gitu dan depan tukang martabak. Salah satu anggota perjalanan bahkan ada yang buang-buang samping mobil, karena memang sudah kebelet. Di telponlah teman kami yang akan kami kunjungi dan disuruh untuk mencari masjid agung Tasik. Dengan petunjuk teman kami, perjalanan dilanjutkan dan sempat nyasar-nyasar sampelah kami di depan masjid yang menjadi Petunjuk akhir dari teman kami. Setelah itu munculah teman kami dari sebuah gang. Alhamdulillah, jam setengah dua-an kami mendapat tempat untuk tidur. Setelah ngerepotin orang2 di gang untuk mindahin motor2 yang diparkir karena mobilnya gak muat untuk masuk..
Terima kasih untuk Bapak2 yang kami ganggu malam itu, Maaf sudah merepotkan.. maklum masih bujang… (lho… apa hubungannya coba!)

bersambung….

Posted by: anakmentari | January 14, 2011

Surat Izin Keliru

Makin banyak saja persoalan yang dizinkan di Indonesia, termasuk kekeliruan.  Dari kekeliruan relatif sampai superlatif. Jika sebuah terminal mangkrak karena salah perencanaan, itu sekedar kesalahan relatif. Menjengkelkan tetapi masih mungkin dimaaafkan.

Tetapi jika seorang penggelap pajak dengan  status tahanan kedapatan berkeliaran di tempat rekreasi, lalu membuat paspor palsu, lalu piknik ke luar  negeri, ini sungguh kesalahan superlatif. Super sekali kesalahan ini sehingga sulit membayangkan bisa dilakukan seorang diri.

Menjadi pengemplang pajak saja mustahil  sendirian. Kerumitannya mengepung dari  segenap jurusan: atas, bawah, kanan kiri, depan samping, jauh dekat. Semua harus dijinakkan. Padahal ini baru putaran pertama dari sebuah permainan. Untuk bisa keluar masuk tahanan jelas  butuh makin banyak teman. Makin jauh jarak yang harus ditempuh, makin rumit persoalan. Teman-teman baru harus dilibatkan. Jika jarak itu tidak cuma ke luar pulau tetapi malah luar negeri, jauh lebih banyak lagi teman yang dibutuhkan. Jangan lupa, masukkan pula di antara daftar teman-teman ini adalah peñata rambut palsu, pemilih kacamata, penambal gigi dan konsultan penampilan.

Jadi, betapa rumit jalan menuju sebuah paspor palsu. Di balik buku kecil  itu, tersimpan berderet-deret gerakan lintas elemen, lintas bubungan, lintas koneksi yang bekerja secara intens, separtan dan bahu-membahu. Kerapihannya mengalahkan  sistem kerja organiasasi, efektivitasnya mengalahkan birokrasi dan kepastiannya mengalahkan hukum resmi. Bayangkan jika energi seperti ini dipakai utnuk membangun negara. Tetapi apa jadinya jika energi ini dipakai untuk menegakkan kekeliruan.

Hasilnya jelas, banyak sekali kekeliruan di negeri ini begitu mulia kedudukannya, disokong dari sana-sini dan dipacak di tempat yang tinggi. Maju tak gentar membela yang bayar bersatu padu membela yang keliru adalah slogan yang mereka kibarkan sebagai  panji-panji. Akibatnya juga jelas, aneka kebenaran menjadi rendah diri. Ia minggir, menepi, tahu diri. Untuk melamar menjadi pegawai negeri, tidak cukup  lagi percaya hanya dengan modal prestasi. Di dalam benak banyak orang telah diajarkan untuk mempercayai, bahwa hukum yang sedang berjalan adalah kekeliruan. Maka cuma dengan menjadi keliru, engkau akan lancar berjalan.

Di sebuah negara, tempat kekeliruan mendapat  begitu banyak dukungan, tak sulit membayangkan jumlah ironi dan penderitaan. Itulah tempat di mana sepak bola jauh lebih seru keributannya katimbang prestasinya. Itulah negara pengimpor garam sementara tujupuluh persen wilayahnya adalah lautan. Itulah negara dengan biaya pendidikan begitu tinggi sementara kebodohan tetap berserak di sana-sini.  Terminologi pendidikan setiap kali berganti-ganti, dari murid yang simpel, menjadi peserta didik yang ribet. Dari SMA yang klasik berganti SLTA yang spekuklatif. Dari SLTA berganti SMU yang terdengar ganjil. Apaboleh buat dari SMU terpaksa kembali ke SMA karena meskipun telah berganti-ganti nama persoalan pendidikan toh tetap ada di sana, tak berubah juga. Ketika kekeliruan memiliki banyak pemuja, masyarakat yang sakit akan merasa baik-baik saja.

#Parodi Prie GS (Kolom Suara Merdeka) di ambil dari laman facebook beliau.

Posted by: anakmentari | October 27, 2010

INDOCOMTECH 2010

Kunjungi IndoComtech 2010 Pameran IT terbesar tgl 3-7 November 2010 di Jakarta Convention Center – Senayan

Ikuti juga berbagai acara menarik seperti :

“COMPUTER MUSIC PRODUCTION WORKSHOP” season 1 : Digital Recording For Beginner By Agus Hardiman from Musiktekr, Season 2: Dance Music Production For Beginner by DJ Romy from 1945MF, Wednesday, 3 November 2010 @INDOCOMTECH 2010

Seminar & Workshop “The Basic Principles of Animation” with Wahyu Aditya from Hello;Motion, 4 November 2010 @INDOCOMTECh 2010

NVIDIA 3D GAME COMPETITION akan hadir di INDOCOMTECH dari 3-7 November 2010 bertempat di Plenary Hall, JCC

Posted by: anakmentari | October 27, 2010

Selamat datang di Pesta Blogger+ 2010

Tahun ini memang tahun serba plus (+) untuk Pesta Blogger+! Untuk pertama kalinya Pesta Blogger menggunakan tambahan plus di namanya, karena Pesta Blogger+ bukan hanya tentang blogger, tapi juga tentang Tweeps, Facebookers, Multipliers, Kaskusers, Flickr users… intinya, tentang semua yang bergiat di ranah online, apapun platform yang digunakan!

Dan, yang jadi istimewa adalah: tahun ini PestaBlogger+mendapatkan dukungan yang luar biasa dari Acer! Setelah sempat menjadi sponsor pada Pesta Blogger 2009, tahun ini, Acer resmi berkomitmen menjadi title sponsor dari Pesta Blogger+ 2010!. Dengan dukungan Acer tahun ini, maka Pesta Blogger+ 2010 resmi dipersembahkan oleh Acer!

“Acer merasa terhormat mendapat kesempatan untuk terlibat dalam acara tahunan para blogger dan komunitas online di Indonesia. Acer dan Pesta Blogger memiliki kesamaan visi yakni berbagi pengetahuan (knowledge-sharing), yang disampaikan melalui blog maupun platform media sosial lainnya, yang menjadi salah satu upaya pemberdayaan masyarakat lewat teknologi,” papar Jason Lim, Presiden Direktur Acer Group Indonesia.

Semua ini tentunya tidak terlepas dari dukungan dan kepercayaan teman- teman blogger dan onliners juga! Kawan-kawanlah yang terus berjalan bersama Pesta Blogger sampai tahun keempat pelaksanaannya, sehingga menjadi sebuah ajang gathering yang besar dan selalu ditunggu, sampai Acer kemudian memutuskan memberikan dukungan besar terhadap PestaBlogger+ tahun ini. Oleh karena itu, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua blogger dan onliners yang sudah mendampingi Pesta Blogger Terima kasih banyak!

Tentunya, kemajuan dan perkembangan Pesta Blogger sejak tahun 2007 hingga sekarang juga tidak terlepas dari dukungan Kedutaan Besar Amerika Serikat yang sudah mendukung penyelenggaraan Pesta Blogger sejak tahun 2008 hingga kini sebagai sponsor utama setiap tahunnya. Kedubes AS juga turut mendorong berkembangnya rangkaian acara Pesta Blogger. Lewat blogshop (blogging workshop), Pesta Blogger dapat juga menjangkau kawan-kawan di berbagai daerah di Indonesia: memberikan pelatihan blog, sekaligus menyelenggarakan Mini Pesta Blogger di berbagai daerah!

Jason juga menambahkan, sejalan dengan Kampanye Acer Guru Era Baru dalam gelaran Pesta Blogger 2010 Acer akan menganugerahkan Guru Era Baru Award kepada guru yang aktif nge-blog dan menggunakan media sosial dalam proses belajar-mengajar. Guru yang mendapat penghargaan tersebut akan menjadi pembicara di berbagai seminar Acer Guru Era Baru di seluruh Indonesia, termasuk mendapat kesempatan pelatihan ICT.

“Kami mengucapkan selamat kepada panitia Pesta Blogger dan terima kasih telah menjadikan Acer sebagai bagian dari keluarga Pesta Bloggert” tutup Lim.

Di 2010, dengan semangat yang + (plus), kami berharap bisa menjadi + baik dan bisa terus mendukung perkembangan dunia online di Indonesia.

Sampai jumpa tanggal 30 Oktober, di Pesta Blogger+ 2010 empowered by Acer!

===================

Sayang, sepertinya kali ini saya tak bisa dateng kesana, hiks.. :(

Tanggal Acara:

Lokasi Acara:
Epicentrum Walk
di kawasan Rasuna Epicentrum
Jl. H R Rasuna Said kav. C22
Kuningan, Jakarta Selatan
INDONESIA

Untuk link, bisa klik webnya langsung: http://pestablogger.com/, atau gabung di facebooknya: http://www.facebook.com/pestablogger

Posted by: anakmentari | October 25, 2010

1 Juta Buku Untuk Anak Indonesia

Adalah buku, salah-satu cara untuk mendidik generasi berikutnya. Menanamkan kepribadian, etos kerjas dan integritas. Kami memanggil siapa saja yang ingin terlibat dalam kampanye pembagian ’1 juta buku untuk anak-anak Indonesia’. Relawan, donatur, pendukung, penonton, siapa saja yang bermimpi melihat generasi berikutnya yang lebih baik.

Bagaimana kampanye ini bekerja?

Kami akan menjadi ‘perantara’ profesional donasi kalian. Bpk Bambang, misalnya, berniat menyumbangkan 10 buah buku ‘Serial Anak2 Mamak’, maka Bpk Bambang men-transfer ke rekening kami senilai 10 buku tersebut. Kami akan membelikannya buku, memilih salah-satu sekolah (SMP & SMA) di seluruh Indonesia yang akan menerima sumbangan tersebut. Buku itu akan ditandai ‘Sumbangan Bpk Bambang’–atau sesuai permintaan donatur.

Buy One, Get One?

Benar, inilah poin penting dari program ini. Kami akan menggandakan buku sumbangan kalian. Bpk Bambang, misalnya, kami tidak hanya mengirimkan 10 buku ‘Serial Anak2 Mamak’, tapi kami akan mengirimkan 20 buku tersebut. Kami akan melibatkan penerbit, perusahaan sponsor untuk memungkinkan itu terjadi. Termasuk menanggung biaya operasional dan pengiriman buku-buku program ini. Jadi kalian sumbang 1 buku, maka kami tambahkan 1 buku lagi yang sama atas buku tersebut.

Sekolah apa saja yang menjadi sasaran?

Seluruh perpustakaan sekolah di Indonesia, swasta, negeri, terutama sekolah-sekolah yang amat terbatas dana-nya untuk membeli buku (daftar dan alamat sekolah tersedia). Juga termasuk taman bacaan, perpustakaan desa, komunitas, klub baca, organisasi apa saja yang membutuhkan buku. Setiap perpustakaan akan memperoleh 5-10 buku.

Buku apa saja yang bisa disumbangkan?

Donatur bisa memilih sendiri buku yang akan disumbangkan (sementara baru Penerbit Republika, penerbit lain menyusul), atau kami yang akan memilihkannya. Buku2 yang cocok dan menginspirasi anak-anak. Buku2 yang menumbuhkan kepribadian, kerja keras serta integritas. Donatur juga bisa menentukan sendiri akan menyumbang berapa buku. Daftar judul dengan harga buku yang ingin disumbangkan bisa dilihat di toko buku Gramedia, atau untuk memudahkan dalam daftar di website/group fb kami.

Mekanisme Pelaporan?

Semua donatur akan memperoleh laporan di sekolah mana saja buku mereka berada. Kami memastikan semua laporan berjalan transparan dan akuntabel.

Rekrutmen Relawan.Kami butuh banyak relawan untuk menjalankan kampanye ini, dengan spesifikasi sbb:

Relawan kampanye, bisa siapa saja yang tertarik mendukung kampanye ini, tugasnya sederhana, mengajak sebanyak mungkin orang untuk bergabung dalam group ’1 Juta Buku Untuk Indonesia’, mengirimkan email, message, dsbgnya. Menjadi ujung tombak untuk menarik donasi dari pihak-pihak yang tertarik.

Relawan basecamp, kami butuh tempat sbg basecamp. Terusterang, saat ini sy berdomisili di Bandung, kampanye ini harus dijalankan dari Jakarta (agar biaya kirim buku2 lebih efisien), jadi sy akan sangat menghargai siapa saja yg ingin menyediakan rumah/kantor sebagai basecamp kampanye.

Relawan operasional, kami butuh banyak orang untuk menjalankan oeprasional kampanye. Tugasnya mulai dari menerima transfer dana, mengontak penerbit, menerima kiriman dari penerbit, memilih sekolah-sekolah tujuan, melakukan packing, mengirimkannya lewat kurir, hingga monitor buku tersebut dan memberikan pelaporan pada donatur. Relawan ini juga akan membuat proposal, materi kampanye, bertemu dengan staf CSR perusahaan2 untuk mendapatkan sponsorship dalam skala massif. Pekerjaan ini tidak harus dilakukan setiap hari, dalam prakteknya nanti, bisa dikelola lewat online–kecuali packing, meeting relawan, dll. Hanya saja karena kita baru mulai, maka rekening bank, logo, group fb, website dll pun harus dibuat, dan jadi pekerjaan paling dini untuk relawan operasional.

Karena kampanye ini masih tahap awal, sy tidak tahu akan seberapa besar skalanya, tp sy yakin, kita bisa membagikan 100 buku enam bulan ke depan saja sudah progress yang baik. Bayangkan anak2 kampung sana bisa membaca buku2 yg kalian juga baca. Itu akan memberikan mimpi pada mereka.

Relawan tidak akan memperoleh manfaat/honor/nama/apapun dari proses ‘perantara’, buku-buku itu bahkan hanya dikenali dari donatur-nya saja. Jika kalian berminat bergabung dengan kampanye ini, punya cita-cita yang sama, maka kirimkan message ke akun saya darwis tere-liye, atau mulailah bergabung dengan group fb ’1 Juta Buku Untuk Anak Indonesia’–group masih sederhana dan untuk keperluan diskusi lebih dahulu.

***notes ini diambil dari sang pencetus, Tere Liye di laman Facebook-nya. Silahkan di Repost sebanyak-banyaknya, jangan lupa untuk bergabung dalam kampanye dan gerakan ini. Terima Kasih.

***gabung juga ke groupnya disini!

Posted by: anakmentari | October 5, 2010

Seminar Parenting

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya…

Bagaimana mengatasi anak yang hiperaktif, tidak mau diam, atau sebaliknya pendiam/pemalu. Bagaimana dengan kesibukan bekerja bisa tetap mengasuh dan mendidik anak dengan baik. Bagaimana membentuk anak menjadi anak yang mandiri dan kreatif. Bagaimana membentuk anak agar disiplin. Bagaimana agar anak patuh. Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Temukan jawabannya dalam Seminar Parenting ini..

Seminar Parenting

Teknik Pengasuhan Anak

“The Secret of Miracles at Home”

Nara Sumber :
dr. Zulaehah Hidayati (Penulis buku “Miracles at Home”)

Waktu :
Sabtu, 30 Oktober 2010
Jam 09.00-12.00

Tempat :
Aula Dinas Peternakan DKI Departemen Pertanian
Jl. Harsono RM No. 28 Ragunan Pasar Minggu Jakarta Selatan

Investasi Rp. 75.000 (Sudah termasuk :Snack, Sertifikat, Seminar Kit, Makalah)

(Early Bird: Pembayaran sebelum 15 Oktober 2010 Investasi Rp 65.000 )

 

TEMPAT TERBATAS

Pendaftaran:

Ellin : 0812 11160 1553

Roro : 021 – 3340 1746

021- 91405907

Pembayaran via transfer ke:

BCA 7330-186792 an Harry Santosa

atau

BNI 010-828-5553 an Roro Dwi D.

konfirmasi pembayaran hub/sms 0812 11160 1553

bawa bukti pembayaran pada saat acara

 

Presenterd By:

Learning Centre Rumah Peradaban Jakarta

Posted by: anakmentari | September 20, 2010

Episode 41: ‘Kau, Aku & Kota Kita’

Kota Kita Pontianak!

“Kenapa wajah kau sedih macam induk beruang kehilangan anak?” Aku nyengir, duduk sembarang di antara tumpukan mesin rusak, ban motor dan sebagainya.

“Memangnya kau pernah lihat induk beruang?” Andi menatapku datar—sebenarnya sebal tiba-tiba melamunnya diganggu.

“Belum, sih.” Aku menggaruk kepala.

“Nah, bagaimana kau tahu tampang beruang lagi sedih? Sok tahu.”

Aku menahan tawa, “Itu kan sekadar istilah, pemanis kalimat, Kawan. Biar asyik ngobrolnya. Jarang-jarang orang ngobrol pakai peribahasa. Coba kalau semua orang bicara seperti Pak Tua, kaya dengan perumpamaan, penuh kiasan, lebih damai rasanya. Sekarang orang malah suka disingkat-singkat, langsung pada maksud, terkadang kasar.”

“Terserah kaulah.” Andi tidak berselera, sembarang melempar kunci nomor 12.

“Bagaimana kemajuannya? Motornya sudah beres?” Aku mendekat.

Andi mengangkat bahu, “Semakin rungsing.”

Aku benaran tertawa, melihat tampang masam Andi. Sudah dua hari dia berkutat dengan motor rusak yang sama, “Itulah tabiat buruk kau. Bagaimana mungkin selesai masalahnya kalau sedikit-sedikit dibuat pusing. Sedikit-sedikit kesal, mudah menyerah. Ayolah, bergembiralah sikit, montir itu pekerjaan yang menyenangkan.”

Andi tidak menjawab, menyumpal mulut.

“Sini biar kubereskan.” Aku beranjak mengambil obeng yang terserak di sebelah Andi. “Tenang saja, aku tidak akan bilang bapak kau kalau telah membantu.”

Andi tidak membantah seperti kemarin. Bapak Andi belakangan memang sering uring-uringan padanya, motor itu sengaja diserahkan sepenuhnya pada Andi, pesannya satu: jangan dibantu, biarkan saja dia berusaha sendiri.

Lima belas menit berlalu tanpa terasa, tanganku kotor terkena oli motor.

Gang sempit tepian Kapuas sepi dari pejalan kaki atau motor yang lewat.

“Kenapa kau mau-maunya belajar jadi montir?” Andi bertanya, memecah senyap.

Aku menoleh, menyeka dahi dengan belakang telapak tangan, bukankah ini seru?

“Apanya yang seru? Tidak ada masa depan jadi montir. Lihatlah, bapakku sudah dua puluh tahun punya bengkel, hanya begini-begini saja jadinya. Dan dia terus memaksaku melanjutkan bengkel tua, jelek dan kotor macam pembuangan sampah ini.”

Aku menyeringai, “Setidaknya, lebih tidak ada masa depan kalau hanya jadi pengemudi sepit, Kawan.”

Andi terdiam. Meraih kunci nomor 12 yang dia lempar tadi.

“Aku tidak suka jadi montir.”

Aku nyengir, “Lah, lantas kau mau jadi apa?”

Andi menggaruk kepala, sedikit ragu-ragu, “Aku ingin punya toko besar seperti koh-koh China di pasar Pontianak. Luasnya tak berbilang, penuh onderdil, peralatan, semuanya, serba canggih. Karyawan toko belasan, hilir-mudik membantu pembeli, mobil box datang bergantian mengantarkan pesanan, terkenal di seluruh Pontianak.”

“Bukan main.” Aku benar-benar menghentikan gerakan tangan memperbaiki motor, menatap Andi, “Nah, kalau semua sudah dikerjakan pegawai, kau sendiri mengerjakan apa di toko itu?”

“Menghitung uang-lah. Cengklang! Sekian ratus ribu masuk laci. Cengklang! Sekian belas ribu jadi kembalian. Cengklang! Beli ini, beli itu. Cengklang! Macam Kokoh China itu-lah.”

“Haiya, Kawan, kalau begitu, siapa pula yang tidak mau?” Aku tertawa, “Kau mau cepat jadi seperti itu? Bantu saja Koh Acung di toko kelontongnya. Beli laci uang yang bisa bunyi cengklang! Cengklang! Beres.”

Andi menatapku sebal, kembali menunduk, sibuk memainkan kunci nomor 12.

“Kau habis dimarahi bapak kau lagi?” Aku bertanya, agak menyesal telah tertawa.

Andi tidak menjawab.

“Aku paling tidak tahan melihat wajah kau macam pengungsi perang seperti ini, Andi. Kusut, terlipat empat. Ayolah, bergembiralah sedikit.”

Andi tetap menunduk, tidak menanggapi.

Aku sembarang melempar obeng, beranjak duduk di depannya, “Pak Tua selalu bilang padaku, sepanjang kau punya rencana, maka jangan pernah berkecil hati, Borno…. Aku dulu tidak suka dengan kalimat itu, itu hanya kalimat hiburan. Apalah yang diharapkan dari kita ini? Hanya lulus SMA. Modal tak punya, keahlian tak ada, kesempatan minus, jaringan nol, yang tersisa cuma mimpi, cita-cita…. Dulu aku bermimpi bisa kuliah sambil bekerja, lihat, sudah tiga tahun sejak lulus SMA, hanya itu-itu saja kemajuan mimpiku. Jadi pengemudi sepit, penghasilan pas-pasan. Sementara lihat teman-teman SMA kita dulu, sibuk dengan kuliah mereka, sibuk dengan masa depan. Ada yang hendak jadi PNS, ada yang mau jadi karyawan swasta necis.”

“Bukan hanya kau, Andi, aku juga sering berpikir, sepuluh tahun lagi, jangan-jangan mereka semakin jauh di depan, sedangkan kita semakin jauh tertinggal. Terus-terang saja, aku tidak mencemaskan soal mereka punya rumah, punya mobil, hidup hebat, tidak. Tetapi aku lebih mencemaskan jangan-jangan sepuluh tahun lagi Borno tetap jadi seorang pengemudi sepit. Nasibku sama seperti Bang Jau, Jupri, dan yang lain. Dari kecil sudah jadi pengemudi sepit. Bang Togar masih lumayan, dia pernah bertualang ke hulu Kapuas, punya masa muda yang berbeda. Pak Tua apalagi, menjadi pengemudi sepit hanya hobi, bahkan kupikir dia amat menikmatinya setelah berpuluh-puluh tahun berkeliling dunia, kaya meski hidupnya sederhana. Sedangkan aku? Tidak ada hal hebat yang pernah kulakukan.

Andi perlahan mengangkat kepala.

“Sepanjang kau punya rencana, maka jangan pernah berkecil hati…. Kau tahu, aku dulu tidak mengerti maksud kalimat itu. Hari ini aku paham benar maksudnya. Nah, tadi kau bertanya, kenapa aku mau-maunya jadi montir? Aku punya rencana, Kawan. Tidak besar, juga tidak hebat, tapi rencana ini lebih dari cukup untuk mengusir jauh-jauh perasaan rendah diri, kecil hati itu. Aku memang tidak kuliah, dan mungkin tidak akan pernah berkesempatan kuliah, tetapi enam bulan terakhir aku membaca lebih banyak buku tentang mesin dibanding mahasiswa tahun terakhir. Kita memang tidak punya modal, tapi itu gampang, pasti ada jalan keluarnya. Kita juga tidak punya jaringan, kenalan, tapi itu bisa dibangun perlahan-lahan. Jangan bilang bengkel ini tidak ada masa depannya, Andi. Tentu Bapak kau marah besar, tersinggung, bengkelnya dibilang tempat sampah. Bukankah nafkah keluarga kau dari bengkel ini, selain jualan jengkol dan sebagainya itu. Aku pun tersinggung mendengarnya.

Andi diam, menatapku lamat-lamat.

“Percayalah,” Aku menepuk bahu Andi, “Sepanjang kita punya mimpi, cita-cita yang lantas dikongkritkan dengan sebuah rencana yang walau kecil tapi masuk akal, maka tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datang menganggu pikiran. Dan ingat ini, seandainya kau tidak punya rencana itu, kau gagal melaksanakan rencana kau itu, kau tenang saja, rencanaku cukup besar untuk kita berdua. Masa depan yang lebih baik. Masa depan kita yang lebih cerah.”

Aku membalas tatapan Andi dengan ekspresi wajah mantap, meyakinkan.

Andi menelan ludah, “Ini horor, Borno.”

“Horor apanya?” Dahiku terlipat, bingung.

“Lama-lama kau mirip Pak Tua. Ini menakutkan.”

***

Read More…

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.